Hendry vs Virus

Keluarga lengkapDalam sebuah pertarungan antara hidup dan mati. Hendry, suami adik perempuanku, ayah dua orang keponakan buah hatiku, sambil mengerang kesakitan, dia beradu argumentasi dengan sang Virus yang telah bersemayam didalam tubuhnya selama hampir 9 tahun.

Hendry: “Kini, telah hampir lengkap sudah penguasaanmu akan tubuhku, apalagi yang kau inginkan?”

Virus: “Nyawamu!” sergah sang Virus bernafsu sambil memperlihatkan seringai wajah setannya yang jahat.

Hendry: “Benarkah hanya itu yang kau inginkan? atau kau hanya berpura pura untuk memenangkan nyawaku”

Virus memicingkan matanya dan mulai mengeram sambil berbisik lirih.

Virus: “Kau memang pertarung yang tangguh, 9 tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan, angkatanmu rata rata hanya bertahan 7 tahun. Tapi tidak hanya itu, kau juga cerdas. Kau tawari aku dengan nyawamu, sebenarnya aku belum lagi puas mengerogoti tubuhmu yang atletis itu. Tapi tawaranmu tak mungkin kutolak karena itulah tujuan akhirku”

Hendry: “Demi Allah, aku tak pernah menawarkan nyawaku kepada siapapun, tidak ada yang sepadan ditukar dengan nyawaku…”

Belum lagi Hendry menyelesaikan kalimatnya sang Virus memotong dengan gusar.

Virus: “Arrgghhh… bullshit semuanya…. aku bisa mengambil nyawamu kapan saja, kau sudah sangat lemah dan jangan kau sebut sebut Nama itu lagi, aku sudah muak, DIA tak akan pernah bisa menolongmu, walaupun istrimu dengan setia membisikkan nama Nya dikupingmu, percayalah itu useless.”

Dengan tersenyum mengejek Hendry menjawab: “Useless atau tidak itu bukan urusanmu”, kemudian dia melanjutkan “Urusi saja nafsumu sebab aku tak mau menyerah walaupun Encephalopathy yang kau lancarkan sangat menyakitkan.”

Dengan wajah pura-pura prihatin Virus mengejek: “Oh sakit yaahhh, duh kacian… mau lagi?”

Mendengar ejekan Virus, Hendry membenahi posisi tidurnya lalu menjawab: “Bukan sakit tubuhku yang aku perdulikan tapi sakit keluargaku yang harus menyaksikan aku menjerit, kejang, merem melek, aku tak sanggup melihat mereka menangis.”

Virus: “Hmm… aku ingin berterus terang bahwa aku sangat menikmatinya, semakin lama semakin nikmat, kau adalah korban yang sangat lezat, teman teman kantormu satu persatu datang dan menangis, sungguh indah… indah sekali… aku ingin lebih lama lagi menikmatinya, sebab kamu masih segar, bobotmu hanya menyusut sekitar 25% saja, padahal korban yang lain bobot badannya bisa ku gerogoti hingga 60%”.

Virus menarik nafas panjang dan berkata lagi “Kenapa kau tidak pasrah saja dan biarkan aku menikmati penderitaanmu hingga 2 atau 3 bulan kedepan, kan tidak harus buru buru menyerahkan nyawa.”

Hendry meringis menahan perih seraya berkata: “Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan sebab aku tahu dibalik wajahmu yang jahat ada maksud yang lebih jahat lagi.”

Virus, pura pura bingung: “Maksudmu? bukankah aku sudah menjawab pertanyaanmu tentang keinginanku untuk mengambil nyawamu.”

Dengan suara parau menahan sakit Hendry menjawab: “Aku tahu kau mengincar nyawa istriku dan nyawa dua orang anakku.”

Merasa kecele Virus tertawa: “Ha ha ha ha ha ha….. kenapa kau masih memikirkan mereka? pikirkan saja dirimu, soal anak dan istri itu schedule selanjutnya dan tak ada urusanya denganmu, lagipula kan kau sendiri yang mengundang aku masuk kedalam tubuhmu, ingat itu…”

Hendry: “Iya itu memang kesalahanku tapi kau tak akan mendapatkan lebih dari apa yang ada dalam tubuhku.”

Virus: “Kenapa kau begitu yakin…”

Hendry: “Sebab Allah SWT memberiku cinta yang sudah kuwariskan kepada istri dan anak anakku sebagai perlindungan.”

Muka Sang Virus menjadi merah padam karena emosi.

Virus: “Cinta? … kau pikir cintamu bisa melindungi mereka? huh.. jijik aku mendengarnya.. sudahlah aku muak dengan percakapan ini, lagi pula aku sudah peringatkan kau untuk tidak menyebut Nama NYA”

Hendry memotong: “Kenapa memangnya? kau takut? dasar setan busuk penghuni Neraka, tunggu hingga hari akhir nanti kau akan…”

Mendengar makian Hendry sang Virus menjadi murka dan berteriak: “KURANG AJAR, tak cukupkah Encephalopathy menyiksamu, kini aku terpaksa menyerangmu dengan infeksi selanjutnya…”

Dengan suara sengau karena selang alat bantu pernafasan yang dimasukkan kehidungnya Hendry mencounter psywar itu: “Silahkan, itu tak membuatku bergidik, serangan apalagi yang akan kau lancarkan?”

Nafas sang Virus memburu, wajah mengeluarkan api, dengan suara tinggi Virus membalas: “Aku masih punya segudang infeksi yang bisa aku lancarkan, mau kau aku kenai Retinopathy, Aspergillosis, Mucormycosis, Microsporidiosis, Cytomegalovirus…”.

Hendry hanya menjawab dengan: “Allahuakbar, Allahuakbar… Laaailahailalllahhh…”

Virus meradang dan berubah menjadi wujud yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya, sangat seram dan menjijikan, dengan suara mengelegar Virus menjerit: “Kau memang tak mudah menyerah, kini rasakanlah seranganku…”

Hendry dengan Bala tentara kekebalan tubuhnya yang tinggal sedikit dan lemah itu melawan sekuat tenaga. Pertempuran yang sudah terjadi sejak satu minggu ini akhirnya berakhir tadi pagi, jam 7:23, hari minggu, tanggal 3 juni 2007 dengan kekalahan total dipihak Hendry.

Sang Virus dengan terengah engah dan babak belur pergi mencari korbannya yang lain. Virus telah memenangkan pertempuran secara fisik tapi secara pribadi Hendrylah pemenangnya.

Sungguhpun demikian Virus ini sangat berbahaya karena akan menjadi ancaman wabah seluruh dunia.

Selamat jalan Hendry, perjuanganmu telah menghasilkan sebuah rumah mungil yang akan memberi arti besar pada kehidupan anak dan istrimu, merekalah yang senantiasa mendoakan kesejahteraanmu di alam Baka karena cintamu mensejahterakan mereka di alam fana.

Inalillahi wainaillaihi rojiun.

3 Komentar

Filed under curhat

3 responses to “Hendry vs Virus

  1. Adjie

    Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun…semoga mendiang diampuni segala dosanya dan diberi tempat yang paling baik di Sisi Allah Swt…dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi segala cobaan…amiinn…

  2. Arum

    innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un..turut berbelasungkawa..semoga almarhum diberi tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan..amiin..

  3. Ping-balik: Surat Untuk Bapak « Budayawan Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s