Monthly Archives: Juni 2007

Cipoa

Hari sabtu tanggal 23 juni pementasan teater Mandiri yang berjudul Cipoa di TIM berlangsung sukses. Sejak pementasan Jangan Menangis Indonesia teater Mandiri punya konsep baru yang membuatnya menjadi berbeda dari pementasan sebelumnya. Pementasan selanjutnya memberi ruang lebih banyak pada dialog tanpa membunuh sisi visual teater Mandiri yang sudah mendarah mendaging.

Teror mental Putu Wijaya yang bila pada pementasan visual ditampilkan dengan wujud abstrak dan suara yang menggelegar dan bila pada monolog disajikan dengan penjungkirbalikan norma yang berlaku di masyarakat. Tapi pada pementasan Cipoa ini, teror itu dikemas dalam dialog komedi satire tentang hal hal yang sedang melanda masyarakat dan negara kita sekarang ini.

Pementasan Cipoa ini kalau saya lihat terdiri dari praktis 2 babak, babak pertama dibuka dengan semacam monolog Putu Wijaya yang berperan sebagai tokoh pewayangan Semar yang memberi restu pada para raksasa yang menyamar sebagai manusia untuk dapat kembali mengunakan jati dirinya sebagai rakasa guna memakan daging manusia. Isi monolognya seperti memberi pengantar tentang apa yang akan terjadi di babak selanjutnya. Babak selanjutnya dikemas dalam drama komedi satire yang mengambil setting di sebuah pertambangan.

Cerita yang diusung tentang sebuah eksplorasi pertambangan untuk mencari harta karun memberikan kemungkinan dimasukkannya peran peran yang bisa mewakili berbagai macam elemen di masyarakat seperti penguasa (peran Juragan, diperankan oleh Putu Wijaya sendiri), birokrat (peran anak buah Juragan, diperankan oleh Alung dan Kribo), kaum wanita (peran para istri, diperankan oleh Rieke Dyah Pitaloka dan Fien Herman), rakyat jelata (peran para pekerja tambang, diperankan oleh Ucok,Kardi,Kleng,Bei,Dyas,Agung dkk) dan investor asing (peran Meneer Belanda, diperankan oleh Arswendy Nasution).

Dengan komposisi peran seperti itu dan format komedi satire yang sudah dikuasai dengan sangat baik oleh teater Mandiri membuat pementasan benar benar bisa mendramatisasi berbagai macam persoalan bangsa.

Sebagai contoh ketika adegan Juragan menekan anak buahnya yang lugu untuk mau menjadi corong penguasa dan menipu rakyat terasa sangat membumi karena kita bisa dapati pada kehidupan sehari hari. Saya teringat sebuah dialog di TV swasta dimana tampil seorang juru bicara Presiden RI membela mati matian keputusan pemerintah tentang dukungan Indonesia terhadap resolusi PBB tentang nuklir Iran.

Kemudian ketika adegan harta karun berupa bongkahan emas yang dijual oleh Juragan ke Meneer Belanda dengan harga bongkahan batu saja. Saya teringat bagaimana BUMN BUMN kita dijual dengan harga obral ke investor asing melalui restu IMF, teringat bagaimana kayu gelondongan kita dicuri oleh rakyat kita sendiri untuk dijual ke Malaysia, teringat bagaimana hak pengelolaan berbagai lahan tambang dan pengeboran minyak kita jatuh ke tangan asing.

Semua itu digambarkan penuh dengan aksi tipu menipu untuk kepentingan sendiri yang di justifikasi dengan semboyan bohong itu benar untuk kebaikan. Tentunya kebaikan yang menipu. Adegan tipu menipu ini mengundang tawa penonton tiada henti hingga akhir pementasan.

Para pemain kali ini bermain dengan sangat baik. Sebagai catatan setiap celetukan Rieke Dyah Pitaloka selalu saja dapat diasosiasikan dengan kritikan atas kondisi masyarakat sekarang. Kemudian Kardi yang memerankan rakyat jelata yang lugu tapi skeptis ini sangat lihai menghidupkan suasana kocak. Kemudian Yanto Kribo berperan sebagai birokrat yang masih memiliki nilai moral kejujuran digambarkan sering mendapat sial dan malu, celananya sering dibikin melorot hingga hanya tampak celana dalamnya yang dekil itu membuat penonton tertawa terpingkal pingkal.

Walhasil di akhir pementasan semua menjadi sadar bahwa bohong dan tipu menipu itu hanya akan membawa sengsara dan memberi keuntungan pada pihak asing saja. Butet Kertaradjasa muncul di penutup pementasan sebagai pemanis dengan gaya Pak Harto membawakan pidato yang isinya tidak penting.

Yah.. itulah teater yang bisa dibikin happy ending atas skenario sutradaranya. Pementasan teater sudah berakhir tapi masalah yang dihadapi bangsa ini belum lagi mau berakhir. Malah makin menggila. Banyak pihak dan cara yang dilakukan anak bangsa untuk mengingatkan penguasa akan bahaya cipoa atau tipu menipu atau korupsi atau apapun yang merugikan bangsa ini.

Ada yang tajam seperti Kwik Kian Gie yang menghitung ada 28 miliar US dolar (atau sekitar 280 trilyun Rupiah) uang negara hilang akibat korupsi tiap tahunnya yang membuat banyak orang kaget dan prihatin. Ada yang blak blakan seperti Amien Rais dengan pengakuan kasus DKP yang membuat berbagai pihak beringsut memasang kuda kuda. Tapi Putu Wijaya dengan teater Mandirinya menyampaikan peringatan itu dengan cara yang sangat halus sehingga bila sang koruptor ikut menontonpun akan masih bisa tertawa karena memang sudah tidak punya hati nurani lagi.

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Hendry vs Virus

Keluarga lengkapDalam sebuah pertarungan antara hidup dan mati. Hendry, suami adik perempuanku, ayah dua orang keponakan buah hatiku, sambil mengerang kesakitan, dia beradu argumentasi dengan sang Virus yang telah bersemayam didalam tubuhnya selama hampir 9 tahun.

Hendry: “Kini, telah hampir lengkap sudah penguasaanmu akan tubuhku, apalagi yang kau inginkan?”

Virus: “Nyawamu!” sergah sang Virus bernafsu sambil memperlihatkan seringai wajah setannya yang jahat.

Hendry: “Benarkah hanya itu yang kau inginkan? atau kau hanya berpura pura untuk memenangkan nyawaku”

Virus memicingkan matanya dan mulai mengeram sambil berbisik lirih.

Virus: “Kau memang pertarung yang tangguh, 9 tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan, angkatanmu rata rata hanya bertahan 7 tahun. Tapi tidak hanya itu, kau juga cerdas. Kau tawari aku dengan nyawamu, sebenarnya aku belum lagi puas mengerogoti tubuhmu yang atletis itu. Tapi tawaranmu tak mungkin kutolak karena itulah tujuan akhirku”

Hendry: “Demi Allah, aku tak pernah menawarkan nyawaku kepada siapapun, tidak ada yang sepadan ditukar dengan nyawaku…”

Belum lagi Hendry menyelesaikan kalimatnya sang Virus memotong dengan gusar.

Virus: “Arrgghhh… bullshit semuanya…. aku bisa mengambil nyawamu kapan saja, kau sudah sangat lemah dan jangan kau sebut sebut Nama itu lagi, aku sudah muak, DIA tak akan pernah bisa menolongmu, walaupun istrimu dengan setia membisikkan nama Nya dikupingmu, percayalah itu useless.”

Dengan tersenyum mengejek Hendry menjawab: “Useless atau tidak itu bukan urusanmu”, kemudian dia melanjutkan “Urusi saja nafsumu sebab aku tak mau menyerah walaupun Encephalopathy yang kau lancarkan sangat menyakitkan.”

Dengan wajah pura-pura prihatin Virus mengejek: “Oh sakit yaahhh, duh kacian… mau lagi?”

Mendengar ejekan Virus, Hendry membenahi posisi tidurnya lalu menjawab: “Bukan sakit tubuhku yang aku perdulikan tapi sakit keluargaku yang harus menyaksikan aku menjerit, kejang, merem melek, aku tak sanggup melihat mereka menangis.”

Virus: “Hmm… aku ingin berterus terang bahwa aku sangat menikmatinya, semakin lama semakin nikmat, kau adalah korban yang sangat lezat, teman teman kantormu satu persatu datang dan menangis, sungguh indah… indah sekali… aku ingin lebih lama lagi menikmatinya, sebab kamu masih segar, bobotmu hanya menyusut sekitar 25% saja, padahal korban yang lain bobot badannya bisa ku gerogoti hingga 60%”.

Virus menarik nafas panjang dan berkata lagi “Kenapa kau tidak pasrah saja dan biarkan aku menikmati penderitaanmu hingga 2 atau 3 bulan kedepan, kan tidak harus buru buru menyerahkan nyawa.”

Hendry meringis menahan perih seraya berkata: “Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan sebab aku tahu dibalik wajahmu yang jahat ada maksud yang lebih jahat lagi.”

Virus, pura pura bingung: “Maksudmu? bukankah aku sudah menjawab pertanyaanmu tentang keinginanku untuk mengambil nyawamu.”

Dengan suara parau menahan sakit Hendry menjawab: “Aku tahu kau mengincar nyawa istriku dan nyawa dua orang anakku.”

Merasa kecele Virus tertawa: “Ha ha ha ha ha ha….. kenapa kau masih memikirkan mereka? pikirkan saja dirimu, soal anak dan istri itu schedule selanjutnya dan tak ada urusanya denganmu, lagipula kan kau sendiri yang mengundang aku masuk kedalam tubuhmu, ingat itu…”

Hendry: “Iya itu memang kesalahanku tapi kau tak akan mendapatkan lebih dari apa yang ada dalam tubuhku.”

Virus: “Kenapa kau begitu yakin…”

Hendry: “Sebab Allah SWT memberiku cinta yang sudah kuwariskan kepada istri dan anak anakku sebagai perlindungan.”

Muka Sang Virus menjadi merah padam karena emosi.

Virus: “Cinta? … kau pikir cintamu bisa melindungi mereka? huh.. jijik aku mendengarnya.. sudahlah aku muak dengan percakapan ini, lagi pula aku sudah peringatkan kau untuk tidak menyebut Nama NYA”

Hendry memotong: “Kenapa memangnya? kau takut? dasar setan busuk penghuni Neraka, tunggu hingga hari akhir nanti kau akan…”

Mendengar makian Hendry sang Virus menjadi murka dan berteriak: “KURANG AJAR, tak cukupkah Encephalopathy menyiksamu, kini aku terpaksa menyerangmu dengan infeksi selanjutnya…”

Dengan suara sengau karena selang alat bantu pernafasan yang dimasukkan kehidungnya Hendry mencounter psywar itu: “Silahkan, itu tak membuatku bergidik, serangan apalagi yang akan kau lancarkan?”

Nafas sang Virus memburu, wajah mengeluarkan api, dengan suara tinggi Virus membalas: “Aku masih punya segudang infeksi yang bisa aku lancarkan, mau kau aku kenai Retinopathy, Aspergillosis, Mucormycosis, Microsporidiosis, Cytomegalovirus…”.

Hendry hanya menjawab dengan: “Allahuakbar, Allahuakbar… Laaailahailalllahhh…”

Virus meradang dan berubah menjadi wujud yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya, sangat seram dan menjijikan, dengan suara mengelegar Virus menjerit: “Kau memang tak mudah menyerah, kini rasakanlah seranganku…”

Hendry dengan Bala tentara kekebalan tubuhnya yang tinggal sedikit dan lemah itu melawan sekuat tenaga. Pertempuran yang sudah terjadi sejak satu minggu ini akhirnya berakhir tadi pagi, jam 7:23, hari minggu, tanggal 3 juni 2007 dengan kekalahan total dipihak Hendry.

Sang Virus dengan terengah engah dan babak belur pergi mencari korbannya yang lain. Virus telah memenangkan pertempuran secara fisik tapi secara pribadi Hendrylah pemenangnya.

Sungguhpun demikian Virus ini sangat berbahaya karena akan menjadi ancaman wabah seluruh dunia.

Selamat jalan Hendry, perjuanganmu telah menghasilkan sebuah rumah mungil yang akan memberi arti besar pada kehidupan anak dan istrimu, merekalah yang senantiasa mendoakan kesejahteraanmu di alam Baka karena cintamu mensejahterakan mereka di alam fana.

Inalillahi wainaillaihi rojiun.

3 Komentar

Filed under curhat