In Memoriam Om Hussein Umar

KH Hussein UmarBang Hussein, demikianlah ayah saya memanggil beliau. Nama itu pertama kali saya dengar waktu masih dibangku kuliah tahun 90an. Ketika itu saya dan ayah sedang menyusuri jalan Kramat Raya dan tiba tiba ayah menunjuk ke sebuah gedung seraya berkata “Itu, disitu dulu kakekmu berkantor, sekarang ada Bang Hussein disitu”. Ramainya lalu lintas membuat perhatian kami teralihkan, saya tidak sempat bertanya tentang apa yang dikatakan ayah.

Rupanya gedung yang dimaksud adalah gedung DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). Saya baru tahu setelah ayah mengajak sholat jum’at disana. Siapa sebenarnya Hussein Umar saya tidak terlalu hirau, maklum waktu itu perhatian saya hanya kepada bidang yang berkenaan dengan IT. Karena itu saya tidak banyak tanya tentang beliau.

Yang saya tahu Om Hussein itu orang yang kalau sedang bicara ditelpon dengan ayah selalu membicarakan masalah politik, agama dan berbagai macam masalah kenegaraan lainnya.

Beberapa topik yang saya masih ingat pernah didiskusikan antara lain tentang partai Masyumi, tentang strategi para misionaris, tentang perpustakaan, tentang strategi dakwah dan masih banyak lagi. Pernah juga Om Hussein menanyakan sebuah buku milik kakek saya yang merupakan pemberian dari Pak Natsir untuk kakek yang berjudul “Islam Sebagai Dasar Negara”. Ayah berencana untuk memfotocopy buku tersebut dan memberiakannya kepada Om Hussein.

Walaupun saya tidak terlalu tertarik tapi ayah selalu menceritakan topik yang sedang didiskusikan dengan beliau. Mungkin ayah berkeinginan supaya saya bisa memiliki perhatian dengan masalah selain IT.

Sibuk dengan perkuliahan dan akhirnya selesai tahun 1998 pada saat reformasi bergulir, dapat saya gambarkan suasana pada saat itu menegangkan dan masyarakat bingung mencari kepastian politik.

Waktu itu terjadi tarik ulur kekuatan antara kaum status-quo dan kaum reformis. Hampir semua pihak mengidentifikasi diri sebagai kaum reformis, mulai dari MPR, DPR dan bahkan Kabinet Pembangunan VI waktu itu.

Ditelevisi terlihat Pak Amin Rais dan teman teman mahasiswa memberi support mental kepada MPR untuk berani mengeluarkan pernyataan mundur kepada Presiden Soeharto. Setelah pernyatan mundur dari MPR keluar lantas ABRI mengeluarkan statement bahwa pernyataan MPR tersebut tidak sah yang membuat suasana menjadi sangat tegang dan bahkan mencekam.

Berbagai lembaga dan dewan kemasyarakatan kemudian silih berganti tampil ditelevisi untuk memberi arahan kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus dilakukan. Pernyataan demi pernyataan menjadi wacana tarik ulur kekuatan politik. Ada yang tegas tapi ada juga yang masih abu abu dalam bersikap.

Kami sekeluarga sangat menanti pernyataan resmi dari DDII dan berharap suatu pernyataan yang tentu saja pro gerakan reformasi. Sampai akhirnya Pak Anwar Harjono ketua umum DDII pada waktu itu tampil ditelevisi dengan pernyataan bahwa gerakan Reformasi harus dilakukan dan dipimpim oleh Presiden sendiri.

Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengecewakan, ayah terlihat sangat gusar dan berusaha menghubungi Om Hussein untuk meminta konfirmasi tentang statement tersebut. Tapi apa daya Om Hussein susah sekali dihubungi lewat telephone. Kami berniat berangkat ke Kramat Raya tapi melihat kondisi dijalan yang tidak aman waktu itu kami urungkan niat.

Saya tidak ingat lagi bagaimana sikap DDII setelah itu karena kami kecewa dan sibuk menggalang dukungan pro reformasi dari berbagai pihak. Bahkan saya sempat dengan bahasa pemrograman PERL membuat sebuah forum di web dengan judul Pro-Reformasi yang cukup ramai dikunjungi waktu itu.

Lama berselang setelah itu tepatnya tahun 1999, saya sudah bekerja di sebuah perusahaan ISP dan sedang ada proyek pembuatan aplikasi Web yang dikerjakan onsite di gedung DPR untuk fraksi PPP atau fraksi Karya Pembangunan kalau tidak salah, saya harus menscan foto ketika mendapati foto Om Hussein.

Sejak saat itu saya kembali tertarik menanyakan pribadi Om Hussein kepada ayah, karena beberapa kali saya melihat beliau di TV maupun artikel di web dengan pikiran dan perhatiannya pada dunia dakwah Islam. Terlebih lagi karena beliau memiliki kesamaan historisitas dengan keluarga kami. Sama sama memiliki darah Bali (ibunda Om Hussein adalah wanita asli Bali dari Karangasem) dan juga kesamaan visi tentang Islam sejak perkenalan beliau dengan keluarga kami pada tahun 50an ketika kakek saya menjadi ketua GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) untuk wilayah Sunda Ketjil.

Om Hussein kemudian menjadi sosok idola ketika mengetahui kiprahnya di Parlemen dalam usaha penghapusan Pancasila sebagai asas tunggal. Ciri khas orang Masyumi yang tidak luntur mengingatkan kenangan kami akan kakek tercinta yang dulu pernah menjadi wakil partai Masyumi di Parlemen propinsi Bali dan Sunda Ketjil.

Ciri yang khas adalah berani dan amanah tampak ketika jaman pemerintahan Gus Dur ketika Gus Dur mulai tidak disukai rakyat dan dituntut untuk mundur. Waktu itu saya trauma lagi dengan DDII dan menduga jangan jangan DDII memihak Presiden lagi. Tapi keraguan itu sirna begitu mendengar Om Hussein yang masih sekjen DDII dengan berani menyatakan bahwa Gus Dur tidak arif dan biang masalah.

Untuk ukuran sekarang sulit kita mencari tokoh yang amanah dan berani sekaligus pintar. Kalaupun ada seperti Om Hussein maka akan dianggap berbahaya oleh penguasa -mungkin karena itulah Om Hussein tidak terpilih sebagai penasihat Presiden tapi yang terpilih adalah Ma’ruf Amin (bukan orang nomor satu di DDII)-

Pertemuan terakhir saya dengan Om Hussein terjadi kalau tidak salah tahun 2006 di TMII anjungan Bali, waktu itu ada pertemuan reuni muslim Bali yang tinggal di Jakarta. Sebenarnya saya ingin sekali ngobrol panjang lebar dengan beliau tapi Om Hussein sibuk ngobrol dengan ayah dan saya tidak enak hati untuk nimbrung.

Banyak rencana yang ingin saya lakukan dengan beliau, seperti membuat web site untuk DDII, rencananya saya ingin main ke rumah beliau atau ke kantor DDII untuk sosialisasi dengan lingkungan DDII. Tapi rupannya bukan saya saja yang rindu bertemu dengan Om Hussein, rupanya Pak Natsir, Hamka, Kasman Singodimejo dan bahkan Rasulullah juga sudah rindu untuk bertemu beliau. Kepergian Om Hussein yang sangat tiba tiba begitu mengagetkan, sungguh suatu kehilangan besar untuk perjuangan dakwah Islam Indonesia.

Semoga pengganti beliau mewarisi sikap seorang Masyumi yang tidak pernah luntur.
Dan aku pun masukkan dalam daftarmu.

4 Komentar

Filed under islam, tokoh

4 responses to “In Memoriam Om Hussein Umar

  1. Ping-balik: Keluarga Muslim Bali « Budayawan Muda

  2. Salam Kenal Mas Wibi….

    Baca ulang postingan ini, ngingetin balik ke beliau.
    Terakhir ketemu almarhum, 2006. Pas Kairo lagi masuk musim panas…. Sayang banget…. terlalu banyak yang kangen beliau….

  3. ABG

    “Om Hussein kemudian menjadi sosok idola ketika mengetahui kiprahnya di Parlemen dalam usaha penghapusan Pancasila sebagai asas tunggal.”

    Hhmm, benaran nih statement di atas???? Ck ck ck…, unbelievable. Pantesan aja tulisan2xnya ttg Bali banyak aneh & miring2xnya. Rakyat di Bali itu plural bro, udah sejak ratusan tahun lalu. Hidup dalam harmoni, apapun agamanya. Walau mungkin tidak pakai istilah Pancasila, namun spirit kebersamaannya adalah Pancasila.

    A. A. Gde Agung masih jauh lebih baik dari your statement above…🙂

  4. @ABG:

    Rupanya anda tidak paham bagaimana asas tunggal itu menghambat pluralitas. Asas tunggal jaman Pak Harto telah mengebiri partai politik untuk dapat memiliki asas selain Pancasila yang telah di reentepretasi menurut Orba.

    Orba beranggapan Pancasila tidak boleh dibahas karena sakral dengan demikian Orba punya alasan untuk menyeragamkan haluan politik dan menjadikan Golkar yang paling dominan.

    Kalau anda belum tahu bagaimana kehidupan orang orang non Golkar di Bali khusus warga PDI sangat memprihatinkan, mereka dikejar, diburu, disewenang wenangi dan diberangus. Ah sudahlah nanti saya membuka luka lama.

    Mereka telah menjadi korban dari ekses asas tunggal. Mereka inilah yang jadi mudigah PDI-P sekarang.

    Om Hussein sendiri banyak menimba nilai nilai tentang pluralitas justru karena Beliau orang Bali. Bali memang kecil tapi genialitas orang orangnya luar biasa, termasuk AAGA loh.

    Anda perlu tahu bahwa dibalik harmoni ada potensi kekerasan. Itu juga yang sedang dikeluhkan oleh masyarakat bali sekarang ini, kekerasan. Baca tulisan saya Pembantaian November Kelabu

    A. A. Gde Agung masih jauh lebih baik dari your statement above…

    Hahaha… tak ada niat saya menjadi lebih baik dari beliau. Beliaupun tak jelek seperti yang anda pikir. Penyakit anda kumat lagi rupanya, tak berani pakai nama, kritik tanpa dasar dan teori tanpa argumen. Bro kalo mau diskusi itu pakai nama, itu namanya sopan santun, orang Bali ngerti sopan santun, kalau anda klaim sebagai orang Bali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s