Diskusi Musik Indonesia

Dari diskusi dimilisnya Astrid Sartiasari.

Memang betul budaya pop berasal dari Barat begitu juga dengan science, tapi tidak terlalu akurat benar kalau kita tidak bisa setingkat mereka, saya ambil analogi dari bidang science, Jepang dalam beberapa sub-bidang science lebih unggul dari Barat.

Jangan terlalu terpaku dengan orisinalitas sebab Barat sendiri juga mengalami proses dalam menemukan orisinalitas mereka, simak sejarah genre genre musik paling muda yang merupakan senyawa dari genre sebelumnya, dimana pengusung genre baru tersebut selain memiliki kemampuan instrumen pop tapi juga memiliki orisinalitas budaya mereka sendiri.

Kita secara alamiah menuju kesana tapi jangan terlalu buru buru ingin panen sekarang, prosesnya masih perlu waktu dalam satuan dekade.

Tidak adil kalau kita bandingkan dengan Barat yang sudah berproses lebih awal. Saya masih ingat ketika Katon Bagaskara menjadi juri Asia Bagus diberi pertanyaan oleh hostnya Najib “Kenapa banyak sekali kontestan dari Indonesia yang menjadi pemenang Asia Bagus?”, dan jawaban Katon kurang lebih sbb: “Karena Indonesia memiliki banyak sekali ragam etnic yang mempengaruhi jiwa seni mereka”.

Semua ini sebenarnya adalah mudigah dari sebuah evolusi musik Indonesia, di era 70an kita punya Koesplus, 80an kita punya Iwan Fals, Fariz, Vina, Chrisye, KLa, GodBless dst, di era 90an kita punya Slank, Dewa, Kla dst… di era 2000an sebutkan sendiri… yang walaupun menurut saya tidak laku untuk dijual di Barat tapi please jangan dibikin kecil hati dengan mengatakan kita tidak akan bisa sebaik Barat dalam bermusik.

Walaupun saya sendiri punya pendapat artis kita tidak usah go international… kenapa begitu? ini bukan soal kita gak bisa bikin musik sebaik Barat tapi karena kita punya genre sendiri yang untuk kita sendiri.

Di Barat sana ada istilah Black Music untuk kalangan orang negro, komunitas negro tidak diterima masuk ke wilayah lain, sampai mereka punya wilayah sendiri mulai dari jenis musik, penikmat sampai industrinya.

Sejak awal Black Music tidak mendapat tempat dikomunitas Barat sampai suatu ketika Michael Jackson bersinar dan membuat Barat memberi apresiasi tertinggi dengan menghadiahi gelar King of Pop.

Kita juga menurut saya bisa melakukan hal yang sama dengan genre khas Indonesia. Memang rasanya kok tidak mungkin orang Barat mau dengerin musik berbahasa Indonesia, tapi jangan lupa kalau Industri memiliki peran yang sangat vital, dengan Industri yang sehat tidak ada yang tidak mungkin sekalipun bergerak dipasar yang berbeda.

Saya ingin ambil contoh industri otomotif Jepang walaupun tidak laku di Amrik tapi jelas menghantam telak industri otomotif Amerika karena mobil Jepang punya pasarnya sendiri yang nilainya mengalahkan pasar Amerika.

Jika Industri sudah bicara maka apa yang terjadi jika nilai penjualan musik Indonesia mengalahkan pasar Barat, tidak mungkin? semua itu terkait dengan kesejahteraan rakyat yang memiliki daya beli, penegakan hukum dan tentu saja talent yang sudah kita miliki.

Semakin tinggi daya beli, tertib hukum, produk musik yang bagus akan menciptakan pasar yang besar. Siti Nurlahiza menganggap pasar Indonesia lebih penting untuk karir musiknya daripada pasar Malay. Rivermaya menggarap serius pasar Indonesia. Ini bukti peran Industri yang vital.

Pasar yang besar dan Industri yang kuat akan memberi pengaruh hebat pada perkembangan komoditinya (dalam hal ini musik).

Simak testimonial dari orang Malay tentang musik kita:
http://www.haloscan.com/comments/nizamzakaria/200124609/

Memang kalo dibanding Barat pasar kita masih kecil, tertib hukum juga masih cupu, talent masih perlu diasah terus, tapi dunia berubah cepat satu dekade kedepan tidak akan sama dengan yang kita bayangkan hari ini.

Jadi saya setuju kalau musik Indonesia mesti lebih concern dengan unsur budaya sendiri seperti yag telah dilakukan oleh Guruh, Chrisye, Eros Djarot, Iwan Fals dst.. tapi jangan berkecil hati kalau apresiasi Barat tidak hangat sebab ketika Industri bicara maka suka tidak suka akan menarik perhatian.

Kita punya musik sendiri, genre sendiri, pasar sendiri dan budaya sendiri. Buat dunia kita gemerlap hingga dunia lain mau tidak mau memberi apresiasi.

Karena itu juga kok saya agak kurang setuju kalau Astrid dijuluki Bjorknya Indonesia, Bjork is Bjork and Astrid is Astrid, thats it.. thats all…

gimana yang lain (ada orang dari industri musik disini?)

Maju Terus Musik Indonesia

2 Komentar

Filed under musik

2 responses to “Diskusi Musik Indonesia

  1. Ping-balik: Julian Ciely Hanya Dia « Budayawan Muda

  2. Musik Indonesia sekarang2 ini mungkin istilahnya lebih “disederhanakan”. Dibanding legenda2 Indonesia yang lalu (yang telah disebutkan diatas, generasi sebelum 90-an) jelas jauh, kaya akan jenis/variasi musik dan punya penggemar tersendiri, sekarang2 ini musik Indonesia …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s