FFI 2006

Semenjak kisruh perfilman nasional mencuat gara gara dimenangkannya film Ekskul oleh para juri FFI 2006, acara acara di TV ramai dengan pembahasan seputar perfilman nasional.

Mulai dari infotainment sampai dialog serius digelar berbagai stasiun TV. Tapi dari berbagai acara tersebut tidak semuanya menarik karena hampir selalu timpang karena tidak dihadiri oleh orang orang yang memang berkompeten dengan masalah ini.

Biasanya bila pihak penggugat (para sineas muda) hadir maka pihak tergugat (para dewan juri dan Shanker cs) tidak hadir dengan lengkap. Apakah mereka sengaja menghindar atau bagaimana, akhirnya pada suatu acara yang di pandu oleh Tika Panggabean menghadirkan salah satu juri yang saya rasa sangat berkompeten yaitu Remi Silado.

Sedangkan dari pihak penggugat salah satunya hadir Nia Dinata, saya berharap ada pembahasan yang lebih fokus ke substansi permasalahan daripada membahas soal peran LSF ataupun soal pengembalian piala Citra.

Dengan hadirnya Remi Silado pembahasan memang bergerak ke arah materi yang dipersoalkan yaitu musik dari film Ekskul yang dianggap jiplakan dari musik film lain. Saya berharap Remi yang punya reputasi dibidang musik itu akan lebih bisa aspiratif dengan pihak penggugat dan tidak defensif seperti Shanker dengan membawa pengacara segala, tapi ternyata Remi bermanuver dengan mengatakan bahwa sistem hukum di Indonesia belum bisa mengakomodasai permasalahan plagiat musik ini.

Kemudian Remi memberikan contoh beberapa lagu yang merupakan karya plagiat tapi tidak mendapat perhatian seperti lagu Burung Kakak Tua dan lagu Topi Saya Bundar. Seolah olah ingin taken for granted saja masalah plagiat musik ini. Apakah karena dia duduk di jajaran dewan juri jadi tidak mau mempermasalahkannya. Untuk lebih meyakinkan bahwa karya plagiat tidak perlu terlalu diresahkan dia memberi contoh yang menurut saya sangat sensitif, Remi mengatakan bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah karya plagiat.

Kalaupun mungkin itu benar tapi dia mengatakannya dalam konteks yang tidak tepat, kalau saya mengatakan bahwa ada kepentingan untuk mencari pembenaran atas posisinya yang sedang terdesak mungkin saya berlebihan. Tapi coba saya beri ilustrasi bagaimana jika ada orang yang mengatakan bahwa Yesus Kristus itu bukan Tuhan tapi hanya salah seorang Nabi. Walaupun mungkin bagi orang yang mengatakan itu punya argumentasi atau bahkan keyakinan tentang apa yang dikatakannya tapi jangan katakan itu di depan orang yang beriman Kristiani, sehebat apapun argumentasinya tetap hanya akan membuat masalah atau paling tidak, tidak akan mendapat simpati.

Saya tidak tertarik lagi mendengar argumentasi Remi tentang lagu Indonesia Raya yang katanya karya plagiat itu. Apalagi melihat posisi dia yang sedang terdesak, tidakkah dia menghayati bagaimana perasaan rakyat Indonesia ketika mendengar lagu Indonesia Raya di kumandangkan 17 agustus 1945, atau pada saat atlit Indonesia meraih medali emas di Olimpiade.

Jika itu semua tidak memberi kesan dan arti yang mendalam bagi Remi maka saya mempertanyakan visi kebangsaanya.

Bagi saya perfilman nasional kedepan harus lebih memiliki integritas dan kwalitas, kalau masih di gawangi oleh orang orang yang taken for granted saja maka siap siaplah menerima film film baru yang bermasalah, jauh dari kwalitas state of art.

Viva sineas muda kita yang terus berjuang untuk perfilman nasional, semoga perjuangan kalian menemukan hasil yang sepadan dikemudian hari, aku ikut dibelakang bersama kalian.

Persoalan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sudah pernah digugat tahun 50an tapi gugatanya gagal karena tidak memenuhi syarat. Mungkin penggugat gagal menghadirkan lagu aslinya yang berjudul Lekka-Lekka itu kepengadilan yang saya sendiri juga belum pernah dengar. Jadi secara hukum belum bisa dibuktikan bahwa Lagu Indonesia Raya itu adalah karya plagiat.

1 Komentar

Filed under sinema

One response to “FFI 2006

  1. sincan

    Motivasi filmmaker & sinetronmaker sekarang hampir bisnis murni daripada nyiptain karya seni. Namanya bisnis ya prinsipnya menghasilkan income sebesar2nya dengan biaya seminimal mungkin… Jadinya setting tempatnya gitu2 aja.. triknya gitu2 aja… nyari aktor/aktris yg murah2 aja… dieditnya cepet2an… kalo lama kan bayarin duit lembur dong… trus gak bisa beli ide cerita yg bagus & orisinil… bayar penata musik yg murah2 aja… Akhirnya yaaa gitu deh… jadinya film yg ga mutu, kayak gak diedit… critanya nyomot, lagunya gak orisinil….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s