Nasihat dari Om Putu

Membaca suratmu terasa ada perbedaan besar yang tidak akan memungkinkan ada keseimbangan. Kalau kau paksa meneruskan, saya khawatir kau akan bertemu dengan kehidupan yang tidak tenang. Suasana yang mungkin akan sangat asing dan berbeda dengan keadaan keluargamu kini dengan seorang ibu yang begitu banyak pengertian/pengabdian seperti ibu kamu (kesimpulan yang saya tarik dari pengetahuan saya yang sedikit tentang keluargamu lewat bapak).

Saran saya, kamu kembali pada kehidupanmu sebelum bertemu dengan dia. Pekerjaan, karir, hubungan dengan teman-teman, keluarga, hobi dan sebagainya ditelateni lagi. Bangun masa depanmu dengan sebaik-baiknya. Kau sudah mendapat sebuah pelajaran yang bagus sekali bahwa uang itu perlu. Mungkin kau tak begitu memerlukannya sekarang, tapi apa salahnya memiliki. Carilah sebanyak-banyaknya dengan jalan yang jujur dan halal.

Kalau nanti kamu bertemu orang lain yang dapat kau cintai dan mencintai, jangan ragu-ragu menjalin hubungan, sebagai orang yang merdeka dan punya hak untuk memilih. Dan orang lain itu, bisa saja seseorang yang sama sekali tak kau kenal sebelumnya, atau bisa saja dia sendiri yang kembali kepadamu.

Kawin dengan orang yang kau cintai akan menjadi sebuah siksaan panjang. Kawin dengan orang yang mencintaimu, mungkin akan memuakkan. Menggabungkan kedua itu bukan saja tak mudah tetapi sering kau bukan orang yang bernasib baik, sehingga belum tentu bisa mendapatnya walau sudah kerja-keras. Tetapi dengan mengetahuinya, minimal kau memahami masalahnya, sehingga mudah menerima resikonya.

Sekarang kau banyak tahu tentang ilmu yang kau pelajari, tetapi tentang cinta, hubungan suami istri, baru teori-teori yang bisa menyesatkan, karena prakteknya tak punya pakem. Lupakan saja apa yang sudah terjadi. Anggap itu semua sebagai pembayaran pengalaman. Dan itu tidak mudah. Perokok lebih mudah mati daripada berhenti merokok. Kamu sudah jatuh cinta dan sekarang tertindih oleh cinta. Terlalu sulit untuk membebaskan diri, walau pun kalau kamu coba dengan keras, pasti akan bisa juga.

Hidup memang tidak mudah. Tetapi alangkah akan membosankannya hidup kalau begitu mudahnya. Cinta tak bisa diperjuangkan oleh satu pihak, mesti bersama-sama dalam keseimbangan. Kalau dipaksakan bisa jadi berhasil, tetapi “bill”nya mungkin tak akan kuat ditanggung. Kalau kau berpikir tentang sebuah pernikahan yang damai, mungkin kau bisa tiru bapak dan banyak ngelmu pada dia. Tapi kalau kau menyukai pergolakan, kau sudah hampir memasukinya. Hanya saja aku merasa kau bukan tipe yang suka pada petualangan dan benturan-benturan yang tak ada habis-habisnya.

Kau lebih cenderung nampaknya pada sebuah perlindungan yang ramah di mana rumah dan keluarga adalah tempat yang sejuk tanpa pergolakan yang tak perlu. Saya kira kau membutuhkan orang yang menyayangimu. Tidak dengan kata-kata tetapi tindakan. Dan itu bisa siapa saja.

Dalam soal cinta, kau harus percaya kepada nalurimu dan bukan akalmu. Karena akal gampang bisa diakali. Walhasil biarkan orang lain terutama pacarmu membuktikan kalau itu ternyata keliru. Kalau dia mencintaimu beri dia waktu dan kesempatan untuk membuktikannya, karena kau sendiri sudah membuktikan cinta dan sayangmu terhadapnya. Jangan memakai rumus, dalil, ilmu pasti untuk menyimpulkan sesuatu yang berhubungan dengan rasa (baca: cinta), pakai rasa saja. Kalau kau mencintai seseorang atau tidak mencintai, seseorang, kalau tidak dicintai seseorang atau tidak dicintai seseorang, jangan percayakan pada sebuah pernyataan, percayakan semuanya pada rasa.

Segetir mana pun, atau semustahil apa pun, pertama yang harus kamu lakukan adalah menerimanya. Perkara sanggup atau tidak, itu ada banyak cara untuk mengupayakan yang terbaik.

Selamat berjuang.
PW

5 Komentar

Filed under curhat

5 responses to “Nasihat dari Om Putu

  1. Sugi Lanus

    Bagian ini yang paling kusenang dari blog-mu! Ada nasehat yang kunikmati. Tentang cinta dan rasa.

    Soal debat tentang Dr. Djelantik, wah menyesakkan hati mikir penyerangan di Marga; yang memang terjadi tak lama berselang setelah surat-suratan Djelantik dan Ngurah Rai. Ini memang tanda tanya besar yang menyesakkan hati. Kita memang tak usah berpikir buruk, menduga-duga; berprasangka buruk memang dilarang semua agama. Apalagi, bagaimanapun juga, “yang terhormat ” IGN Rai telah tiada, juga Dr. Djelantik. Mereka dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, punya ayah yang berbeda sikap, juga pergaulan (satu Indonesia, satu Belanda) sangat berbeda. Pilihan mereka pastilah berbeda. Membaca surat IGN Rai untuk Dr. Djelantik, saya semakin mencintai IGN Rai.

    Surat IGN Rai, yang kemungkinan memang dihancurkan Dr. Djelantik setelah membacanya itu, mengatakan bahwa sekalipun berbeda jalan: mereka masih saudara (we remain brother), dan disana muncul istilah puputan (I have vowed that I will continue our armed struggle until my last drop of blood!), masing-masing punya jalannya/pilihannya (Let us fight together, each in his own way).

    IGN Rai menjadi besar (dibenak saya) karena dia mampu memobilisasi kampung-kampung untuk tak gentar berontak, tak gentar menolak. Anggotanya yang gugur dalam Puputan Marga, juga masyarakat umum; bandingkan dengan Puputan Denpasar yang terbatas pada keluarga raja.

    Ngomong-ngomong, blog dalam bahasa Bali artinya bodo. Blog juga sepadan dengan lengeh. Semakin banyak orang punya blog, semakin banyak kelihatan b(e)log kita. Kitapun bisa membaca, merenungi, dan menyadari blog kita. Kita kadang sering terlantar karena blog-ajum.

    Rgrds, SL

  2. @Sugi Lanus,

    hehehe.. mas Sugi yang pertama comment di artikel yang ini. Orang lain tak ada yang hirau. Mungkin karena kenal dengan penulisnya🙂 Thanks for coming…

  3. aku juga pernah dinasehatin tante,
    kalo bisa nikah dengan yang sama sama cinta bagus, tapi jangan nikah sama yang kamu lebih cintai, karena menyiksa, sakit hati melulu.

    dulu aku nggak ngerti, namanya juga bary 24 tahun (WEKS, telat banget ngerti cinta gue)

    tapi sekarang alhamdulillah ngerti.

  4. @mulia, oh sekarang dah nikah dong? 24 tahun mah masih muda atuh. Gw kepala 3 baru ngerti. Tapi tiap tiap individu punya jalannya sendiri bukan. Ada yang udah tua baru ngerti, itupun setelah kejeblos berkali kali. Kalo gw mah cukup sekali…🙂

  5. sekarang udah ngerti, tapi karena udah ngerti jadi mau maju, mundur lagi..hahaha…emang proses manusia beda, y penting kita nikmati saja proses bercinta masing2. huehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s