Samuel Beckett

Sebuah monolog rasanya hampir sama saja, seorang seniman berdiri di depan microphone sambil ngomong sendiri, kadang sang seniman mengubah nada suaranya untuk memerankan tokoh lain dalam cerita monolognya. Tapi sering juga tidak ada ceritanya hanya mengekspresikan penggalan emosi.

Daya tarik monolog bisa datang dari berbagai faktor, seniman yang handal akan bisa menampilkan monolog yang sangat menarik walaupun naskahnya tidak menarik. Sebagai contoh Butet Kertarajasa ketika membawakan monolog Pak Harto atau Habibie. Orang senang melihat tiruan Pak Harto tanpa harus menyimak apa yang dimonologkan. Monolog Pak Harto itu tidak akan menarik lagi jika dibawakan oleh orang yang tidak punya kemampuan meniru gerak gerik Pak Harto dalam berbicara dan Butet sangat piawai dalam masalah ini.

Tapi ada juga monolog yang menarik untuk disimak apa yang disampaikan secara verbal. Contohnya monolog yang dibawakan oleh Taufik Ismail. Tidaklah mungkin menikmati monolog Taufik Ismail tanpa menyimak isi naskahnya. Adalah kepiawaian sang seniman dalam membawakan naskah itu yang membuat monolog menjadi lebih hidup. Coba kita bayangkan bagaimana jika kita tukar naskah Butet dibawakan Taufik dan naskah Taufik dibawakan Butet, saya tidak perlu mengomentarinya.

Tapi yang jelas akan lebih sulit untuk membawakan monolog yang naskahnya dibuat oleh orang lain. Dituntut kemampuan seni peran yang tinggi untuk bisa menghidupkan sebuah monolog, apalagi jika monolog tersebut adalah karya yang sudah dikenal luas dari seniman termasyur seperti Samuel Beckett misalnya.

Kebetulan sebuah karya Samuel Beckett dipentaskan di TUK (Teater Utan Kayu) dan saya ingin lihat apakah seniman kita mampu membawakan karya seniman kaliber dunia itu. Saya sengaja tidak membaca sinopsis apapun tentang karya ini untuk bisa lebih merasakan bagaimana sang seniman membawakan perannya tanpa dibantu persepsi awal dari sinopsis.
Pertunjukan akan segera dimulai, lampu telah dipadamkan penonton hening menunggu kemunculan sang aktor. Kemudian lampu sorot kecil menyala semakin terang dan terlihat sosok seseorang sedang duduk didepan sebuah meja kerja. Semakin lama semakin terang hingga terlihat sosok seorang tua renta berumur 70an, pak tua itu terlihat tidak terurus, rambut acak acakan pakaian lusuh janggut dan kumis berantakan.

Duduk tenang dengan wajahnya menyiratkan kelelahan dan pikiran yang kosong menerawang, untuk orang setua dia tak mungkinlah dia memikirkan masa depan, masa lalu adalah hal yang paling sering menjadi pikiran para orang tua setua dia. Sejurus kemudian dia terlihat mengalami kesulitan untuk berjalan, makan pisang dan sempat terpeleset jatuh akibat kulit pisang yang ia buang sendiri secara sembarangan.

Hidupnya terasa sulit dan tak menyenangkan, dia duduk termenung memikirkan sesuatu hingga mimik wajahnya berubah dan terlihat gerakan tubuhnya yang gelisah. Rupanya ia teringat sesuatu dan kemudian bangkit melakukan gerakan yang gesit. Apa kiranya yang membuat ia menjadi begitu bersemangat melakukannya.

Rupanya ia mengeluarkan sesuatu dari dalam gudangnya berupa buku katalog dan satu set tape recorder usang lengkap dengan pita rekamanya. Mungkin pak tua ini dulu bekerja sebagai wartawan atau penyiar radio. Ada banyak koleksi pita rekaman yang ia punya, sibuk mencari pita rekaman membuat nafasnya yang pendek itu terengah-engah.

Penasaran apa sih yang ada di dalam pita rekaman tersebut, semula saya kira isinya lagu tapi ternyata itu rekaman suaranya sendiri yang ia rekam 30 tahun yang lalu. Lalu kejadian penting apa yang ia ingin dengar dari rekaman suaranya itu.

Terlihat dengan jelas betapa orang tua itu sangat dikendalikan oleh emosinya, tiap tiap rekaman suara tertentu didalam pita rekaman itu memicu tawa, tangis dan amarah. Ada satu rekaman yang ia ulang berkali-kali, rekaman itu berisi kesaksian erotis masa lalunya. Saya jadi bergidik, akankah saya seperti orang tua itu nanti dikemudian hari, sungguh menyedihkan, menonton monolog ini membuat saya merenung introspeksi diri tentang kehidupan saya saat ini dan yang akan datang.

Ditengah lamunan dan renungan tanpa saya sadari pertunjukan sudah usai, lampu terang benderang dan sosok orang tua renta yang emosional tadi berdiri tegak dan tersenyum lalu sosok orang tua tadi berubah menghilang menjadi seorang seniman yang saya kenal, Putu Wijaya. Rupanya Putu Wijaya yang memerankan tokoh orang tua tadi.

Wartawan senior Gunawan Muhamad berkomentar “Saya bahagia dengan pertunjukan ini, Putu mengingatkan bahwa seni peran belum mati disini. Tak boleh mati, para penonton yang berjubel itu tahu”. Bagi saya monolog kali ini tidak sekedar hiburan tapi sebuah renungan.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s