Seinendan: Tokyo Notes

Pada tanggal 7 Juli kemarin di Goethe Institute Jakarta digelar sebuah pementasan teater Seinendan dari Jepang berjudul “Tokyo Notes” yang naskah dan skenarionya ditulis oleh Sang pendirinya yaitu Oriza Hirata.Teater papan atas Jepang ini punya pengaruh kuat pada perkembangan teater kontemporer di Jepang sejak berdirinya tahun 1983 hingga sekarang.

“Tokyo Notes” adalah karya Oriza yang meraih penghargaan ‘the 39th Kishida Kunio Drama Award’ di tahun 1995, sebuah penghargaan paling bergengsi untuk penulisan naskah teater. Saya beruntung mendapat kesempatan untuk menonton pementasan tersebut.Dengan predikat yang sedahsyat itu, saya sangat ingin tahu apa sih yang disuguhkan dalam “Tokyo Notes”. Dari sinopsis yang saya baca “Tokyo Notes” mengisahkan berbagai orang yang datang mengunjungi sebuah museum seni kecil di Tokyo tahun 2014.

Dengan seting panggung yang sederhana dan terang benderang pertunjukan dimulai.Semula saya pikir lampu akan meredup begitu pertunjukan dimulai tapi ternyata tidak, sebelum saya sadar bahwa pertunjukan sudah dimulai ada beberapa orang Jepang yang mondar mandir diatas panggung sambil melihat melihat seting panggung.Saya pikir itu kru tapi ternyata itu para aktor yang sudah berakting.Sepanjang pertunjukan saya menantikan adegan adegan teatrikal yang biasa saya lihat di pementasan teater, entah itu teater realisme, kontemporer atau aliran teater apapun itu. Tapi sampai hampir frustasi saya menunggu tidak ada semua itu, yang ada hanyalah orang berdialog.

Sepintas mirip aliran teater realis tapi banyak aspek teater realis yang tidak bisa saya temukan dipementasan itu, tidak seperti pementasan teater realis yang lain yang masih menampilkan ekspresi teatrikal, tapi ini hampir tidak ada. Semula saya hampir bingung, kenapa banyak aspek teater diabaikan, bloking pemain tidak diperhatikan (ada pemain yang berdialog membelakangi penonton), dialog tidak jelas dan tumpang tindih (ada yang berbisik dan tertawa secara bersamaan), tidak ada sound, lighting dan yang lebih menyedihkan lagi miskin ekspresi. Sekilas mirip talk show, tapi talk showpun masih ada topik dan bahkan ada cerita, tapi “Tokyo Notes” ini tidak memiliki jalan cerita.

Saya mulai takut apakah hanya saya seorang yang mengalami kesulitan memahami pementasan ini. Kemudian saya perhatikan penonton lain yang ternyata banyak yang tertidur, kalaupun tidak tertidur posisi duduknya sudah melorot seperti kehilangan antusias. Dalam sinopsis dikatakan bahwa teater Seinendan ini adalah teater kontemporer genre baru yang mengusung teori “contemporarry colloquial theatre” (teater kontemporer dengan bahasa sehari hari).

Penasaran, kemudian saya mencoba mencari perbandingan dengan teater kontemporer Indonesia yang sekelas atau paling tidak memiliki reputasi International seperti teater Seinendan ini. Satu satunya teater di Indonesia yang menurut saya memiliki spesifikasi diatas adalah teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya. Teater Mandiri bagi saya tidak asing lagi karena sudah lama saya kenal dan merupakan teater kontemporer juga sama seperti teater Seinendan, walaupun bagi kebanyakan penonton Indonesia teater Mandiri sulit untuk dipahami.

Penonton Indonesia juga memiliki kesulitan memahami teater Seinendan tapi teater Seinendan dan teater Mandiri ketika dipentaskan ditingkat International mendapat apresiasi yang luar biasa. Timbul pertanyaan apa sebenarnya konsep yang dianut oleh kedua teater ini, sungguh sangat menarik kalau dilihat dari sisi konsep. Pemahaman tentang teater Mandiri membantu saya memahami konsep teater Seinendan. Ada sebuah dialog dipementasan itu yang menggambarkan tentang konsep, berikut dialognya “Kenapa manusia suka melihat lukisan? Bukankah melihat obyek aslinya lebih indah di banding obyek yang dipindahkan ke kanvas sebagai lukisan?”.

Saya merenungkan apa jawabannya… Kemudian menemukan sesuatu dalam pikiran saya.Pikiran manusia bekerja dengan simbol-simbol dan bukan dengan obyek real.Ketika manusia melihat obyek yang merepresentasikan simbol maka obyek itu akan diperlakukan terbalik untuk mencari bentuk obyek realnya.Dalam proses pencarian itulah otak manusia bisa mencerna keindahan.Misalnya ketika melihat sebuah obyek gambar wajah maka otak manusia akan mengenali bagian bagian gambar yang ia kenali sebagai bagian dari obyek real wajah seperti mata, hidung, bibir dst.

Hal yang sama juga terjadi pada teater, teater Mandiri sangat intens memainkan simbol simbol sehingga memberi tugas pada otak penonton untuk mencari bentuk realnya.Sebaliknya pada teater Seinendan yang ditampilkan adalah obyek realnya.Pertanyaan pada dialog diatas seolah olah ingin “menggugat” orang orang yang suka menonton teater yang banyak bermain simbol. Kenapa mesti menonton simbol kalau bisa menikmati yang realnya, bukankah yang real lebih indah… Mungkin itu yang ingin disampaikan Oriza Hirata dalam konsep teaternya.

Lepas dari itu konsepnya menarik sekali, seolah olah teater Seinendan itu adalah bentuk klise dari teater Mandiri. Kalau foto kita punya bentuk positif sebagai hasil foto dan ada negatif sebagai klisenya. Yang satu bermain simbol simbol abstrak dan yang satu lagi bermain realis, bahkan mungkin ultra realis. Masih penasaran dengan konsep kedua teater ini saya meminta pendapat dari Putu Wijaya pendiri teater Mandiri dan mengutip Senda Akihiko dalam “Half a Century of Japanese Theatre”.

Menurut Senda, Oriza bergerak melawan arus untuk memperoleh sebuah rasa teatrikal realisme baik dalam pementasan maupun penyutradaraan. Oriza mencoba untuk memperolehnya secara utuh melalui penampilan yang melampaui (penampilan teater sebelumnya) dengan apa yang disebutnya sebagai realisme. Menurut Senda lagi, pengungkapan emosi sangat dihindarkan dan apa yang terkadang dilihat oleh orang asing sebagai kebiasaan orang Jepang tidak ekspresif, merupakan hal yang termasuk dalam metode akting realistik yang teliti. Semua itu akhirnya melahirkan suatu bentuk teater seperti Seinendan ini yang dijuliki sebagai “teater tenang”.

Sangat berbeda dengan Putu Wijaya yang dalam penyutradaraanya mengarahkan pemainnya untuk melipatgandakan ekspresi sebagai metode akting visual yang sangat kuat dan hingar bingar. Menurut Putu, di belakang setiap fenomena teater, bukan hanya bentuk-bentuk tetapi juga filsafat. Surealisme, modernisme, post modernisme, anarkhisme, eksistensialisme, absurdisme, fatalisme, terorisme, dadaisme, nihilisme dan sebagainya mendorong kelahiran bentuk-bentuk teater tertentu. Bedanya, di Barat mulai dengan konsep/filsafat dan merupakan reaksi dari keadaan sebelumnya, kita di Timur mengalir merupakan kelanjutan dan terselip campur-aduk dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Putu lagi, ketika dunia merapat, banyak orang Timur berpikir secara Barat dan sebaliknya orang Barat mempergunakan kebijakan Timur. Beda Mandiri dengan Seinendan menurut Putu, Hirata berpikir seperti orang Barat, lalu menontonkan ketimurannya (hal yang sama dilakukan oleh Kurosawa dalam film) dan Mandiri memaksakan bertolak dari Timur untuk menerobos dominasi Barat (di dalam film Jepang dilakukan oleh sutradara Osu).

Karena itu tidak heran teater Mandiri memainkan simbol-simbol abstrak yang merupakan ciri khas ketimuran dan teater Seinendan menggunakan landasan filsafat realisme sebagai konsep teaternya yang merupakan ciri khas cara berpikir barat. Apapun itu, dua-duanya memiliki kalibrasi International dan kita khalayak teater Indonesia selayaknya perlu meningkatkan apresiasi terhadap seni teater demi kemajuan Indonesia.

5 Komentar

Filed under teater

5 responses to “Seinendan: Tokyo Notes

  1. Aby

    Mas makasih atas artikel. Wawasan saya brtmbh ktka mbaca artikel ini. Saya mengharapkn Mas dpt mberi ket.2 lain ttg teater. Saya sdg mencari informasi ttg lower depth krya maxim gorky. Klo mas berkenan, ini alamat sy. Aby_grass@yahoo.com. Trimaksh.

  2. @Aby, terimakasih Aby, ada juga yang baca artikel teater ini. Sekarang ini saya lagi gak concern ke teater, saya ini angin anginan. Ayah saya punya beberapa buku tentang Maxim tapi belum sempat saya baca. thx, email sudah tercatat.

  3. diyas

    aduuh mas wibi, ternyata kita ketemu di sini.nulis lagi dooooong

  4. @diyas:

    oalah… Diaz toh… hehehe met datang di Blog ku.
    Duh sorry yah kemarin itu aku gak bisa hadir dipernikahanmu, sampaikan salamku buat mas Bei. Dah nikah cepet dapet momongan yah!

    Loh kok aku yang mesti nulis, sampeyan kan dari jurusan sastra, mbok ya nulis…

    Udah gitu pemain teater Mandiri pula, nulis atuh…

  5. Ping-balik: Seputar FTI Award 2007 « Budayawan Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s