Monthly Archives: Juli 2006

Nasihat dari Om Putu

Membaca suratmu terasa ada perbedaan besar yang tidak akan memungkinkan ada keseimbangan. Kalau kau paksa meneruskan, saya khawatir kau akan bertemu dengan kehidupan yang tidak tenang. Suasana yang mungkin akan sangat asing dan berbeda dengan keadaan keluargamu kini dengan seorang ibu yang begitu banyak pengertian/pengabdian seperti ibu kamu (kesimpulan yang saya tarik dari pengetahuan saya yang sedikit tentang keluargamu lewat bapak).

Saran saya, kamu kembali pada kehidupanmu sebelum bertemu dengan dia. Pekerjaan, karir, hubungan dengan teman-teman, keluarga, hobi dan sebagainya ditelateni lagi. Bangun masa depanmu dengan sebaik-baiknya. Kau sudah mendapat sebuah pelajaran yang bagus sekali bahwa uang itu perlu. Mungkin kau tak begitu memerlukannya sekarang, tapi apa salahnya memiliki. Carilah sebanyak-banyaknya dengan jalan yang jujur dan halal.

Kalau nanti kamu bertemu orang lain yang dapat kau cintai dan mencintai, jangan ragu-ragu menjalin hubungan, sebagai orang yang merdeka dan punya hak untuk memilih. Dan orang lain itu, bisa saja seseorang yang sama sekali tak kau kenal sebelumnya, atau bisa saja dia sendiri yang kembali kepadamu.

Kawin dengan orang yang kau cintai akan menjadi sebuah siksaan panjang. Kawin dengan orang yang mencintaimu, mungkin akan memuakkan. Menggabungkan kedua itu bukan saja tak mudah tetapi sering kau bukan orang yang bernasib baik, sehingga belum tentu bisa mendapatnya walau sudah kerja-keras. Tetapi dengan mengetahuinya, minimal kau memahami masalahnya, sehingga mudah menerima resikonya.

Sekarang kau banyak tahu tentang ilmu yang kau pelajari, tetapi tentang cinta, hubungan suami istri, baru teori-teori yang bisa menyesatkan, karena prakteknya tak punya pakem. Lupakan saja apa yang sudah terjadi. Anggap itu semua sebagai pembayaran pengalaman. Dan itu tidak mudah. Perokok lebih mudah mati daripada berhenti merokok. Kamu sudah jatuh cinta dan sekarang tertindih oleh cinta. Terlalu sulit untuk membebaskan diri, walau pun kalau kamu coba dengan keras, pasti akan bisa juga.

Hidup memang tidak mudah. Tetapi alangkah akan membosankannya hidup kalau begitu mudahnya. Cinta tak bisa diperjuangkan oleh satu pihak, mesti bersama-sama dalam keseimbangan. Kalau dipaksakan bisa jadi berhasil, tetapi “bill”nya mungkin tak akan kuat ditanggung. Kalau kau berpikir tentang sebuah pernikahan yang damai, mungkin kau bisa tiru bapak dan banyak ngelmu pada dia. Tapi kalau kau menyukai pergolakan, kau sudah hampir memasukinya. Hanya saja aku merasa kau bukan tipe yang suka pada petualangan dan benturan-benturan yang tak ada habis-habisnya.

Kau lebih cenderung nampaknya pada sebuah perlindungan yang ramah di mana rumah dan keluarga adalah tempat yang sejuk tanpa pergolakan yang tak perlu. Saya kira kau membutuhkan orang yang menyayangimu. Tidak dengan kata-kata tetapi tindakan. Dan itu bisa siapa saja.

Dalam soal cinta, kau harus percaya kepada nalurimu dan bukan akalmu. Karena akal gampang bisa diakali. Walhasil biarkan orang lain terutama pacarmu membuktikan kalau itu ternyata keliru. Kalau dia mencintaimu beri dia waktu dan kesempatan untuk membuktikannya, karena kau sendiri sudah membuktikan cinta dan sayangmu terhadapnya. Jangan memakai rumus, dalil, ilmu pasti untuk menyimpulkan sesuatu yang berhubungan dengan rasa (baca: cinta), pakai rasa saja. Kalau kau mencintai seseorang atau tidak mencintai, seseorang, kalau tidak dicintai seseorang atau tidak dicintai seseorang, jangan percayakan pada sebuah pernyataan, percayakan semuanya pada rasa.

Segetir mana pun, atau semustahil apa pun, pertama yang harus kamu lakukan adalah menerimanya. Perkara sanggup atau tidak, itu ada banyak cara untuk mengupayakan yang terbaik.

Selamat berjuang.
PW

5 Komentar

Filed under curhat

Samuel Beckett

Sebuah monolog rasanya hampir sama saja, seorang seniman berdiri di depan microphone sambil ngomong sendiri, kadang sang seniman mengubah nada suaranya untuk memerankan tokoh lain dalam cerita monolognya. Tapi sering juga tidak ada ceritanya hanya mengekspresikan penggalan emosi.

Daya tarik monolog bisa datang dari berbagai faktor, seniman yang handal akan bisa menampilkan monolog yang sangat menarik walaupun naskahnya tidak menarik. Sebagai contoh Butet Kertarajasa ketika membawakan monolog Pak Harto atau Habibie. Orang senang melihat tiruan Pak Harto tanpa harus menyimak apa yang dimonologkan. Monolog Pak Harto itu tidak akan menarik lagi jika dibawakan oleh orang yang tidak punya kemampuan meniru gerak gerik Pak Harto dalam berbicara dan Butet sangat piawai dalam masalah ini.

Tapi ada juga monolog yang menarik untuk disimak apa yang disampaikan secara verbal. Contohnya monolog yang dibawakan oleh Taufik Ismail. Tidaklah mungkin menikmati monolog Taufik Ismail tanpa menyimak isi naskahnya. Adalah kepiawaian sang seniman dalam membawakan naskah itu yang membuat monolog menjadi lebih hidup. Coba kita bayangkan bagaimana jika kita tukar naskah Butet dibawakan Taufik dan naskah Taufik dibawakan Butet, saya tidak perlu mengomentarinya.

Tapi yang jelas akan lebih sulit untuk membawakan monolog yang naskahnya dibuat oleh orang lain. Dituntut kemampuan seni peran yang tinggi untuk bisa menghidupkan sebuah monolog, apalagi jika monolog tersebut adalah karya yang sudah dikenal luas dari seniman termasyur seperti Samuel Beckett misalnya.

Kebetulan sebuah karya Samuel Beckett dipentaskan di TUK (Teater Utan Kayu) dan saya ingin lihat apakah seniman kita mampu membawakan karya seniman kaliber dunia itu. Saya sengaja tidak membaca sinopsis apapun tentang karya ini untuk bisa lebih merasakan bagaimana sang seniman membawakan perannya tanpa dibantu persepsi awal dari sinopsis.
Pertunjukan akan segera dimulai, lampu telah dipadamkan penonton hening menunggu kemunculan sang aktor. Kemudian lampu sorot kecil menyala semakin terang dan terlihat sosok seseorang sedang duduk didepan sebuah meja kerja. Semakin lama semakin terang hingga terlihat sosok seorang tua renta berumur 70an, pak tua itu terlihat tidak terurus, rambut acak acakan pakaian lusuh janggut dan kumis berantakan.

Duduk tenang dengan wajahnya menyiratkan kelelahan dan pikiran yang kosong menerawang, untuk orang setua dia tak mungkinlah dia memikirkan masa depan, masa lalu adalah hal yang paling sering menjadi pikiran para orang tua setua dia. Sejurus kemudian dia terlihat mengalami kesulitan untuk berjalan, makan pisang dan sempat terpeleset jatuh akibat kulit pisang yang ia buang sendiri secara sembarangan.

Hidupnya terasa sulit dan tak menyenangkan, dia duduk termenung memikirkan sesuatu hingga mimik wajahnya berubah dan terlihat gerakan tubuhnya yang gelisah. Rupanya ia teringat sesuatu dan kemudian bangkit melakukan gerakan yang gesit. Apa kiranya yang membuat ia menjadi begitu bersemangat melakukannya.

Rupanya ia mengeluarkan sesuatu dari dalam gudangnya berupa buku katalog dan satu set tape recorder usang lengkap dengan pita rekamanya. Mungkin pak tua ini dulu bekerja sebagai wartawan atau penyiar radio. Ada banyak koleksi pita rekaman yang ia punya, sibuk mencari pita rekaman membuat nafasnya yang pendek itu terengah-engah.

Penasaran apa sih yang ada di dalam pita rekaman tersebut, semula saya kira isinya lagu tapi ternyata itu rekaman suaranya sendiri yang ia rekam 30 tahun yang lalu. Lalu kejadian penting apa yang ia ingin dengar dari rekaman suaranya itu.

Terlihat dengan jelas betapa orang tua itu sangat dikendalikan oleh emosinya, tiap tiap rekaman suara tertentu didalam pita rekaman itu memicu tawa, tangis dan amarah. Ada satu rekaman yang ia ulang berkali-kali, rekaman itu berisi kesaksian erotis masa lalunya. Saya jadi bergidik, akankah saya seperti orang tua itu nanti dikemudian hari, sungguh menyedihkan, menonton monolog ini membuat saya merenung introspeksi diri tentang kehidupan saya saat ini dan yang akan datang.

Ditengah lamunan dan renungan tanpa saya sadari pertunjukan sudah usai, lampu terang benderang dan sosok orang tua renta yang emosional tadi berdiri tegak dan tersenyum lalu sosok orang tua tadi berubah menghilang menjadi seorang seniman yang saya kenal, Putu Wijaya. Rupanya Putu Wijaya yang memerankan tokoh orang tua tadi.

Wartawan senior Gunawan Muhamad berkomentar “Saya bahagia dengan pertunjukan ini, Putu mengingatkan bahwa seni peran belum mati disini. Tak boleh mati, para penonton yang berjubel itu tahu”. Bagi saya monolog kali ini tidak sekedar hiburan tapi sebuah renungan.

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Mas Jenderal

Menjelang sebuah operasi militer di markas besar sebuah batalion infantri tampak tentara tentara sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Hari mulai gelap dan para perwira mulai mengkristal, kelihatannya akan ada briefing tak resmi dari Mas Jendral. Hanya ada satu perwira tinggi berpangkat Mayjen yaitu orang nomor satu di batalion itu yang akrab di panggil Mas Jendral. Kemudian ada beberapa orang perwira menengah berpangkat kolonel, sisanya adalah perwira muda dan para prajurit.

Sebenarnya operasi ini adalah operasi rutin dan tidak terlalu menegangkan, terlihat dari gerak gerik para perwira menengah yang cukup santai dan tidak ada kesan genting diwajah mereka. Apalagi melihat pembawaan Mas Jendral orang nomor satu yang tenang dan berwibawa seolah menjadi jaminan keberhasilan operasi rutin kali ini. Namun tidak demikian bagi sebagian perwira muda dan prajurit karena ini adalah operasi pertama mereka.

Mas Jendral tahu betul psikologi perwira muda dan prajurit yang masih hijau ini, mereka perlu support mental untuk menghadapi semua ketegangan yang akan mereka hadapi sebentar lagi. Seorang perwira muda yang baru lulus akademi mendapat tugas untuk melaporkan semua kegiatan akhir dari persiapan operasi. Dengan cekatan perwira muda berpangkat Letnan ini berlari ke arah Mas Jendral yang sedang duduk bersama perwira menengah lainnya membahas startegi operasi kali ini.

Derap kaki Letnan menghentikan pembicaraan dan segera terdengar suara Mas Jendral,

“Bagaimana…?”

Letnan menjawab:

“Lapor… semua persiapan telah rampung, siap menunggu perintah untuk diberangkatkan”

Mas Jendral: “OK, berangkatkan satu persatu seperti biasa”

Letnan: “Siap… laksanakan”

Kemudian Letnan balik badan dan berlari kembali ke tempatnya disusul oleh deru suara mobil truk pengangkut peralatan tempur dan logistik yang sedang diberangkatkan. Dari gazebo markas besar Mas Jendral dan perwira lainnya memperhatikan satu persatu truk tersebut berlalu. Sampai truk terakhir yang mengangkut ransum makanan akan segera berlalu tiba tiba seorang Kolonel berteriak, “STOP…, ini truk ransum kan?”

Letnan menjawab: “Siap… benar ini truk ransum.”

Kolonel:

“OK kalau begitu keluarkan beberapa bungkus makanan buat makan terakhir sebelum berangkat”.

Mas Jendral: “Ah benar… kau tahu saja kalo aku lapar”, celetuk Mas Jendral.

Letnan: “Siap… berapa bungkus Pak?”

Kolonel: “Siapa yang mau?”

Kemudian Kolonel menghitung perwira yang duduk di gazebo itu.

Para perwirapun sibuk memilih menu ransum.

“Aku tongkol saja yah…, Mas tongkol yah? ya yaaa aku tongkol…, aku ayam ajalah”

Kolonel: “OK semua 5 orang, 3 tongkol dan 2 ayam.”

Letnan: “Siap, 5 bungkus.”

Mas Jendral: “Tunggu dulu.. kau sendiri bagaimana”, sergah Mas Jendral sambil menunjuk Letnan.

Letnan: “Siap, saya sudah makan tadi di Mess”

Mas Jendral: “Ohhh… makan di Mess? …baiklah”, sambil tersenyum dan melanjutkan gumamanya, “Makan itu tak harus pada saat lapar Letnan…”

Kolonel: “Ah biar saja Mas dia sedang belajar disiplin”.

Sambil tersenyum simpul Mas Jendral menanggapi “Yah boleh boleh saja tapi makan yang paling nikmat itu adalah makan di medan operasi seperti sekarang ini.”

Sambil menghidangkan 5 bungkus ransum, dalam hati Letnan menyesal menolak ajakan Mas Jendral.

Terlihat para perwira itu sibuk membuka bungkusan ransum dengan nafsu makan yang kian menjadi-jadi. Kolonel bahkan tidak mencuci tangannya dan langsung saja melahap makanan yang memang nikmat karena masih hangat itu. Tapi rupanya Mas Jendral menanti sendok yang sedang diambil oleh ajudannya. Melihat Kolonel sudah menikmati ransum dengan nikmatnya Mas Jendral menjadi gelisah dan tak sabar menunggu sendoknya.

“Sendoknya mana nih…”, teriaknya sambil memegang bungkusan ransum.

Tiba tiba terjadi sesuatu dan terdengar teriakan Mas Jendral yang cukup keras

“WHADUUHHH…..”, teriakan itu menghentak semua orang yang ada di dekat situ. Bahkan ada seorang prajurit yang ditugaskan mengamankan secara reflek mengokang senapan M-16 yang disandangnya. Si Letnan bahkan sempat meraih pistol genggamnya walaupun tak sampai di cabut dari sarungnya setelah sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Rupanya Mas Jendral begitu mendapat sendok dari ajudannya langsung ingin segera menyantap ikan tongkol kesukaanya tapi karena lapar dan grasa-grusu ikan tongkol yang sangat diminatinya itu terjatuh dari bungkus ransum yang ia pegang. Sementara ia sadar bahwa ia tak akan dapat gantinya karena truk pembawa ransum sudah diberangkatkan.

Dengan wajah yang sangat gusar dan penuh harap Mas Jendral berkata “Wadhhuhh.. gimana ini.. gak ada lagi yah???”. Melihat keadaan ini reaksi para perwira yang lainpun beragam, si Mayor segera dengan buru buru melahap tongkolnya supaya tidak diminta oleh Mas Jendral, walaupun tentu saja Mas Jendral tidak akan sampai hati memintanya.

Tapi wajahnya sangat memelas dan ingin diberi solusi sampai akhirnya Kolonel yang cuek itu dengan spontan mengatakan “Tukar punyamu dengan punyaku”.

Mas Jendral: “haahhh..? maksudmu? tapi yang ini sudah jatuh…”

Kolonel: “ga papa, aku memang suka makan yang sudah jatuh..”

Mas Jendral: “ahhh.. kau bisa ajahhh, tak usahlah”.

Disini harga diri Mas Jendral dipertaruhkan, mau ambil gak enak sama perwira yang lain, mau tidak diambil harus memakan tongkol yang sudah jatuh dan kotor kena tanah.

Dalam hati Mas Jendral berkata “Aku kan tentara yang mau perang masa tongkol jatuh ajah gusar, tapi kenapa perwira yang lain tidak ada yang spontan memberi tongkolnya kepadaku? bagaimana kalau nanti di medan perang? wadhuuhh gawat nih…, mereka memang harus di gembleng lagi rupanya…”

Si Letnan yang tadinya menyesal menolak ajakan Mas Jendral sekarang malah mensukurinya karena jika ia menerima tawaran Mas Jendral untuk ikut makan maka dia juga akan terjebak dalam dilema tadi, sebab dia bayangkan jika dia juga memegang bungkusan ransum itu maka dia juga tak akan rela menyerahkan satu satunya tongkol yang siap di santap itu.

Akhirnya Mas Jendral tetap melahap tongkol yang sudah jatuh tadi dan segera memimpin operasi dengan sukses. Hidup Jendral.

Tinggalkan komentar

Filed under sastra

Seinendan: Tokyo Notes

Pada tanggal 7 Juli kemarin di Goethe Institute Jakarta digelar sebuah pementasan teater Seinendan dari Jepang berjudul “Tokyo Notes” yang naskah dan skenarionya ditulis oleh Sang pendirinya yaitu Oriza Hirata.Teater papan atas Jepang ini punya pengaruh kuat pada perkembangan teater kontemporer di Jepang sejak berdirinya tahun 1983 hingga sekarang.

“Tokyo Notes” adalah karya Oriza yang meraih penghargaan ‘the 39th Kishida Kunio Drama Award’ di tahun 1995, sebuah penghargaan paling bergengsi untuk penulisan naskah teater. Saya beruntung mendapat kesempatan untuk menonton pementasan tersebut.Dengan predikat yang sedahsyat itu, saya sangat ingin tahu apa sih yang disuguhkan dalam “Tokyo Notes”. Dari sinopsis yang saya baca “Tokyo Notes” mengisahkan berbagai orang yang datang mengunjungi sebuah museum seni kecil di Tokyo tahun 2014.

Dengan seting panggung yang sederhana dan terang benderang pertunjukan dimulai.Semula saya pikir lampu akan meredup begitu pertunjukan dimulai tapi ternyata tidak, sebelum saya sadar bahwa pertunjukan sudah dimulai ada beberapa orang Jepang yang mondar mandir diatas panggung sambil melihat melihat seting panggung.Saya pikir itu kru tapi ternyata itu para aktor yang sudah berakting.Sepanjang pertunjukan saya menantikan adegan adegan teatrikal yang biasa saya lihat di pementasan teater, entah itu teater realisme, kontemporer atau aliran teater apapun itu. Tapi sampai hampir frustasi saya menunggu tidak ada semua itu, yang ada hanyalah orang berdialog.

Sepintas mirip aliran teater realis tapi banyak aspek teater realis yang tidak bisa saya temukan dipementasan itu, tidak seperti pementasan teater realis yang lain yang masih menampilkan ekspresi teatrikal, tapi ini hampir tidak ada. Semula saya hampir bingung, kenapa banyak aspek teater diabaikan, bloking pemain tidak diperhatikan (ada pemain yang berdialog membelakangi penonton), dialog tidak jelas dan tumpang tindih (ada yang berbisik dan tertawa secara bersamaan), tidak ada sound, lighting dan yang lebih menyedihkan lagi miskin ekspresi. Sekilas mirip talk show, tapi talk showpun masih ada topik dan bahkan ada cerita, tapi “Tokyo Notes” ini tidak memiliki jalan cerita.

Saya mulai takut apakah hanya saya seorang yang mengalami kesulitan memahami pementasan ini. Kemudian saya perhatikan penonton lain yang ternyata banyak yang tertidur, kalaupun tidak tertidur posisi duduknya sudah melorot seperti kehilangan antusias. Dalam sinopsis dikatakan bahwa teater Seinendan ini adalah teater kontemporer genre baru yang mengusung teori “contemporarry colloquial theatre” (teater kontemporer dengan bahasa sehari hari).

Penasaran, kemudian saya mencoba mencari perbandingan dengan teater kontemporer Indonesia yang sekelas atau paling tidak memiliki reputasi International seperti teater Seinendan ini. Satu satunya teater di Indonesia yang menurut saya memiliki spesifikasi diatas adalah teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya. Teater Mandiri bagi saya tidak asing lagi karena sudah lama saya kenal dan merupakan teater kontemporer juga sama seperti teater Seinendan, walaupun bagi kebanyakan penonton Indonesia teater Mandiri sulit untuk dipahami.

Penonton Indonesia juga memiliki kesulitan memahami teater Seinendan tapi teater Seinendan dan teater Mandiri ketika dipentaskan ditingkat International mendapat apresiasi yang luar biasa. Timbul pertanyaan apa sebenarnya konsep yang dianut oleh kedua teater ini, sungguh sangat menarik kalau dilihat dari sisi konsep. Pemahaman tentang teater Mandiri membantu saya memahami konsep teater Seinendan. Ada sebuah dialog dipementasan itu yang menggambarkan tentang konsep, berikut dialognya “Kenapa manusia suka melihat lukisan? Bukankah melihat obyek aslinya lebih indah di banding obyek yang dipindahkan ke kanvas sebagai lukisan?”.

Saya merenungkan apa jawabannya… Kemudian menemukan sesuatu dalam pikiran saya.Pikiran manusia bekerja dengan simbol-simbol dan bukan dengan obyek real.Ketika manusia melihat obyek yang merepresentasikan simbol maka obyek itu akan diperlakukan terbalik untuk mencari bentuk obyek realnya.Dalam proses pencarian itulah otak manusia bisa mencerna keindahan.Misalnya ketika melihat sebuah obyek gambar wajah maka otak manusia akan mengenali bagian bagian gambar yang ia kenali sebagai bagian dari obyek real wajah seperti mata, hidung, bibir dst.

Hal yang sama juga terjadi pada teater, teater Mandiri sangat intens memainkan simbol simbol sehingga memberi tugas pada otak penonton untuk mencari bentuk realnya.Sebaliknya pada teater Seinendan yang ditampilkan adalah obyek realnya.Pertanyaan pada dialog diatas seolah olah ingin “menggugat” orang orang yang suka menonton teater yang banyak bermain simbol. Kenapa mesti menonton simbol kalau bisa menikmati yang realnya, bukankah yang real lebih indah… Mungkin itu yang ingin disampaikan Oriza Hirata dalam konsep teaternya.

Lepas dari itu konsepnya menarik sekali, seolah olah teater Seinendan itu adalah bentuk klise dari teater Mandiri. Kalau foto kita punya bentuk positif sebagai hasil foto dan ada negatif sebagai klisenya. Yang satu bermain simbol simbol abstrak dan yang satu lagi bermain realis, bahkan mungkin ultra realis. Masih penasaran dengan konsep kedua teater ini saya meminta pendapat dari Putu Wijaya pendiri teater Mandiri dan mengutip Senda Akihiko dalam “Half a Century of Japanese Theatre”.

Menurut Senda, Oriza bergerak melawan arus untuk memperoleh sebuah rasa teatrikal realisme baik dalam pementasan maupun penyutradaraan. Oriza mencoba untuk memperolehnya secara utuh melalui penampilan yang melampaui (penampilan teater sebelumnya) dengan apa yang disebutnya sebagai realisme. Menurut Senda lagi, pengungkapan emosi sangat dihindarkan dan apa yang terkadang dilihat oleh orang asing sebagai kebiasaan orang Jepang tidak ekspresif, merupakan hal yang termasuk dalam metode akting realistik yang teliti. Semua itu akhirnya melahirkan suatu bentuk teater seperti Seinendan ini yang dijuliki sebagai “teater tenang”.

Sangat berbeda dengan Putu Wijaya yang dalam penyutradaraanya mengarahkan pemainnya untuk melipatgandakan ekspresi sebagai metode akting visual yang sangat kuat dan hingar bingar. Menurut Putu, di belakang setiap fenomena teater, bukan hanya bentuk-bentuk tetapi juga filsafat. Surealisme, modernisme, post modernisme, anarkhisme, eksistensialisme, absurdisme, fatalisme, terorisme, dadaisme, nihilisme dan sebagainya mendorong kelahiran bentuk-bentuk teater tertentu. Bedanya, di Barat mulai dengan konsep/filsafat dan merupakan reaksi dari keadaan sebelumnya, kita di Timur mengalir merupakan kelanjutan dan terselip campur-aduk dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Putu lagi, ketika dunia merapat, banyak orang Timur berpikir secara Barat dan sebaliknya orang Barat mempergunakan kebijakan Timur. Beda Mandiri dengan Seinendan menurut Putu, Hirata berpikir seperti orang Barat, lalu menontonkan ketimurannya (hal yang sama dilakukan oleh Kurosawa dalam film) dan Mandiri memaksakan bertolak dari Timur untuk menerobos dominasi Barat (di dalam film Jepang dilakukan oleh sutradara Osu).

Karena itu tidak heran teater Mandiri memainkan simbol-simbol abstrak yang merupakan ciri khas ketimuran dan teater Seinendan menggunakan landasan filsafat realisme sebagai konsep teaternya yang merupakan ciri khas cara berpikir barat. Apapun itu, dua-duanya memiliki kalibrasi International dan kita khalayak teater Indonesia selayaknya perlu meningkatkan apresiasi terhadap seni teater demi kemajuan Indonesia.

5 Komentar

Filed under teater