Tag Archives: sanglah

Visi Kebangsaan Dr AAM Djelantik

Dr AAM DjelantikDr Djelantik yang lebih dikenal sebagai budayawan dan dokter tidak menyurutkan minat dan perhatian masyarakat tentang visi kebangsaannya. Peran apa yang beliau mainkan dimasa perjuangan? Apa pandangan politiknya? Benarkah beliau pernah menerima surat dari Pahlawan Kemerdekaan IG Ngurah Rai? Pertanyaan pertanyaan yang menjadi penting setelah kepergiannya.

Terlebih lagi setelah adanya rencana perubahan nama RSUP Sanglah Denpasar menjadi RSUP Dr Djelantik. Dalam obituari-obituari dimedia digital banyak disebut jasa jasa beliau. Seiring dengan dimuatnya tulisan tulisan tersebut juga menuai tanggapan yang mempertanyakan visi kebangsaannya.

Bahkan ada yang secara lugas mengatakan bahwa visi kebangsaan Dr Djelantik sama dengan AA Gde Agung yang secara terang terangan memihak Belanda. Ini sangat mengejutkan. Saya tahu siapa AA Gde Agung dari Soegianto Sastrodiwiryo yang mendapat cerita dari ayahnya yang kebetulan seorang pejuang menceritakan bagaimana para pejuang melempari batu Puri Gianyar karena menolak kemerdekaan RI.

Berikut catatan yang pernah dibuat sekitar tahun 1983.

Catatan Alip Soemioto Sastrodiwiryo

Berikut textnya jika gambar tak terlihat:

Kira-kira dalam bulan oktober 1945 sekembali Mr Puja dari Jakarta menghadiri sidang P.P Kemerdekaan dan diangkat sebagai Gubernur I propinsi Sunda Kecil, atas perintah ketua KNI Bali (Ida Bagus Indra – masih hidup sekarang), Saya berserta I Made Alit diutus keliling Bali menemui para Raja di Bali menyerahkan salinan teks Proklamasi dan perintah Gubernur kepada beliau beliau bersangkutan.

Hanya di Gianyar, kami tidak bersedia diterima oleh AA Gde Agung, sedang di Klungkung penerimaan sangat demonstratif oleh raja Klungkung, dimana kami diharuskan berdiri dilapangan terbuka berjarak kurang lebih 10 meter dengan Raja Klungkung.

Kedudukan sebagai anggota Angkatan Muda Indonesia.

*** 

Sikap para bangsawan diantaranya Dr Djelantik dan AA Gde Agung sangat terkait erat dengan sikap Puri tempat asal mereka. Menurut Prof Geoffrey Robinson keadaan politik di Bali waktu itu sangat kacau dan susah ditebak membuat Puri Puri di Bali terjebak kedalam sikap wait and see.

Berikut kutipan dari makalah Geoffrey Robinson yang berjudul “State, Society and Political Conflict in Bali, 1945-1946″.


The reactions of the Raja to the transfer of civilian authority from the Japanese to Bali’s Republicans on October 8, 1945 had been mixed.

Two Raja, Cokorda Ngurah Gde of Tabanan and Anak Agung Ngurah Ketut of Karangasem, were said to have addressed large gatherings (of roughly 5,000 people) and declared themselves “to be in support of the Government of the Republic of Indonesia.”

It soon became clear, however, that these declarations sprang from a sense of insecurity in the face of Republican mobilization, rather than a strong or principled commitment to the Republic.

 

More clearly opposed to the transfer of authority were the Raja of Klungkung, Dewa Agung Oka Geg (who refused to allow the Republican flag to fly over government offices in his kingdom) and the Raja of Gianyar, Anak Agung Gde Agung.

 

The Raja of Buleleng was regarded as having pro—Republican sympathies, but he apparently took no public position in support of the transfer. He seems to have been concerned to put an end to the more violent actions of the pemuda, and hoped that the establishment of a moderate Republican administration would do this.

In Jembrana the Raja was known to have been a moderate nationalist even before the war, but his stance at this juncture was not clear. There is a good chance that his position was influenced by the opinions of his son Suteja, who was an important pemuda leader.

 

The Raja of Bangli was apparently also sympathetic to the Republic, but chose not to express this in an open or public forum.

 

The Raja of Badung did nothing to interfere with the growth or actions of pemuda organizations in his area, and appeared to welcome the transfer of sovereignty.

 

A good number of Rajas, then, had some sympathy for the Republic, but most took no public position; their approach was to wait and see.

Dari referensi diatas maka jelas Puri Gianyar (dalam hal ini AA Gde Agung) berada pada Sharp Area. AA Gde Agung menyatakan sikapnya dengan jelas yang pro Belanda. Sedangkan Dr Djelantik berasal dari Puri Karangasem yang berada pada Grey Area.

*** 

Banyak yang belum mengenal sosok Dr Djelantik hingga salah mengartikan arti kata “pejuang” sebagai semata mata pejuang kemerdekaan. Djelantik memang tidak termasuk dalam pejuang yang berjuang secara fisik dimasa perjuangan kemerdekaan seperti halnya Ngurah Rai.

Perjuangan dimasa kemerdekaan tidak semata mata dilakukan secara fisik seperti Ngurah Rai dan pasukanya, tapi juga secara diplomasi. Diplomasi hanya efektif dipusat yang dilakukan oleh tokoh tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Di daerah, diplomasi boleh dibilang tidak memiliki pengaruh secara Nasional karena itu yang muncul kepermukaan adalah Ngurah Rai.

Sekarang dimana posisi Djelantik? Djelantik seperti kebanyakan sikap Puri di Bali bersimpati dengan perjuangan namun tidak secara terang terangan memberi dukungan kepada pemuda. Mereka tidak berani bersikap frontal kepada Belanda karena khawatir Puri akan dihancurkan dengan kekuatan militer. Banyak diantara Puri yang bersimpati kepada pejuang lalu memberi dukungan secara sembunyi sembunyi.

Bentuk dukungan itu bermacam-macam. Raja Buleleng AA Panji Tisna yang oleh Nyoman S Pendit dalam bukunya Bali Berjuang dikecam sebagai bangsawan yang tidak pro pejuang namun oleh Dr AAM Udayana putra beliau pernah memberi kesaksian bahwa AA Panji Tisna membiarkan para pejuang bersembunyi di dalam Puri ketika terdesak oleh kepungan Belanda.

Oleh karena Belanda percaya pada AA Panji Tisna maka pencarian didalam Puri tidak ditekankan dan para pejuang yang bersembunyi didalamnya bisa lolos dari pencarian Belanda. Tentu kesaksian semacam itu hanya bisa diberi oleh orang yang dekat dan mengalami sendiri kejadian tersebut. Sebab aksi dukungan semacam itu harus dilakukan secara diam diam yang konsekuensinya adalah tidak terekspos luas ke masyarakat.

Bentuk dukungan lain adalah dari sumber daya manusia. Pada masa awal perjuangan kasta triwangsa (Brahmana, Satria dan Wesya) bangsawan mengisi 75% personel aktivis kemerdekaan. Padahal populasi triwangsa bangsawan dari keseluruhan rakyat Bali hanyalah 10%. Sisanya 90% berasal dari kasta Jaba non-bangsawan. Walaupun demikian pemimpin perjuangan dalam perjalanan Revolusi kemudian tidak didominasi oleh kaum triwangsa bangsawan karena kaum Jaba non-bangsawan juga banyak mengambil peran kepemimpinan dalam proses perjuangan.

Banyak bangsawan Puri yang secara diam diam pada malam hari turun ke lapangan ikut bergerak dengan pemuda dan pada siang hari kembali ke Puri untuk bermanis manis muka pada Belanda. Orang semacam inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Belanda. Belanda akan mengawasi dengan ketat orang orang yang mereka curigai. Dr Djelantik sendiri pernah mengalami perlakuan semacam ini ketika melakukan safari ke Puri Puri dan penjara.

Selain yang memberi dukungan secara diam diam ada juga yang melakukannya secara terang terangan. Salah satu contohnya adalah kerabat Dr Djelantik dari Puri Karangasem yaitu AA Made Karang yang menjabat sebagai komandan TKR anak buah Ngurah Rai untuk wilayah kerajaan Karangasem.

Kebanyakan dari komandan pasukan Ngurah Rai berasal dari kesatuan Prajoda. Kesatuan Prajoda adalah laskar yang dibentuk oleh Belanda yang pada awalnya untuk kepentingan Belanda yang para komandannya dipilih kebanyakan dari kalangan bangsawan.

Jadi hubungan antara Puri dengan perjuangan pemuda sebenarnya cukup erat dengan segala dinamika pasang surutnya. Namun Puri dituntut sedemikian rupa untuk tidak terlalu terbuka dalam memberi dukungan kalau tidak mau diluluh lantahkan oleh militer Belanda. Karena sikapnya yang tidak terang terangan inilah banyak yang salah memahaminya. Bahkan ada yang menyamaratakan.

***

Dalam hubungan Dr Djelantik saya ingin mengurai beberapa sikapnya yang bisa dijadikan rujukan tentang visi kebangsaannya. Sebagai putra bangsawan Dr Djelantik mendapat segala fasilitas Puri termasuk bersekolah di Belanda. Ini hal yang biasa dan tidak bisa dijadikan alasan bahwa Dr Djelantik pro Belanda. Sebagai pembanding Sultan Hamengkubowono IX juga mengambil kesempatan untuk bersekolah di Belanda. Bung Hatta juga bersekolah di Belanda. Jadi tidak semua tokoh yang sekolah di Belanda berarti pro Belanda.

Dr Djelantik beristrikan Astri Henriette Zwart seorang wanita berdarah Belanda. Pada awalnya Astri adalah seorang yang netral. Terbukti dari beberapa sikapnya yang memberi saran kepada Dr Djelantik tentang bagaimana bersikap netral dan waspada kepada tipu muslihat dan jebakan Belanda.

Pada akhirnya Astri kemudian membuktikan keberpihakanya dan kecintaannya kepada Indonesia dengan menjadi warga negara Indonesia dan tinggal di Indonesia.

Jika Dr Djelantik tidak mencintai bangsanya maka bisa saja beliau memilih untuk tinggal di Belanda selama keadaan di Bali masih belum aman karena beliau telah memiliki pekerjaan yang mapan dan komunitas yang akrab di Belanda. Kenyataannya beliau memilih untuk pulang padahal situasi politik di Bali tahun 48 masih sangat gawat.

Adapun alasan beliau tidak ditempatkan di Bali tapi di Sulawesi adalah ulah dari AA Gde Agung seorang bangsawan pro Belanda yang pada waktu itu memegang posisi politik yang penting. AA Gde Agung menakut-nakuti Dr Djelantik dengan gerakan pemuda yang brutal sementara Ngurah Rai orang yang dikenal Dr Djelantik dan dianggap bisa memberikan perlindungan telah gugur.

Pada waktu itu Belanda mendirikan negara boneka Republik Negara Indonesia Timur dan AA Gde Agung diangkat menjadi pemimpinnya Perdana Menteri. Bali berada ditengah tengah membuatnya terpecah, sebagian besar pemuda ingin ikut RI yang meliputi Indonesia bagian barat (Jawa, Sumatra dan Kalimantan) tapi elit politik seperti AA Gde Agung jelas ingin Bali ikut Republik Negara Indonesia Timur.

Segala propaganda akan diupayakan untuk mewujudkan opini bahwa Republik Indonesia Timur lebih baik dan lebih aman untuk merekrut sebanyak mungkin tokoh kepihaknya. Dr Djelantik kembali bersikap seperti kebanyakan Puri untuk wait and see bukan untuk pro Belanda tapi sekali lagi sebuah sikap yang telah diambilnya sejak masa awal pergolakan seperti yang telah saya jelaskan diatas.

Beberapa kritikan atas sikap Dr Djelantik yang dianggap sebagai sikap yang pro Belanda adalah peristiwa di Bali Hotel ketika Dr Djelantik pertama kali memberi sambutan kepada publik untuk rangkaian safarinya. Dr Djelantik memberi sambutan dalam bahasa Belanda yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh orang Belanda.

Keadaan ini memang sungguh memalukan. Menurut pengakuanya, penguasaan bahasa Indonesianya pada saat itu tidak sebaik bahasa Belanda atau bahasa Bali. Saya rasa ini suatu hal yang manusiawi dan tidak dapat dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Dr Djelantik pro Belanda. Pada kesempatan pidato selanjutnya Dr Djelantik telah menggunakan bahasa Indonesia walaupun agak canggung.

Hal hal yang sifatnya tampak dipermukaan akan terlalu dangkal jika digunakan sebagai dasar untuk menilai visi kebangsaan seorang tokoh yang menjalani hidup yang panjang seperti Dr Djelantik. Lihat apa yang diberinya bertahun tahun kemudian lebih bisa dijadikan dasar untuk menilai kebangsaannya. Bahkan ada tokoh yang baru bisa dilihat visi kebangsaannya jauh setelah kematiannya.

***

Saya akan ambil contoh kasus tokoh nasional yang bernama Raden Saleh seorang pelukis Indonesia yang karyanya bertarafnya international. Kalau dilihat gaya hidupnya yang sejak kecil telah diasuh oleh Belanda, disekolahkan oleh Belanda di Eropa. Orang akan dengan mudah mengatakan beliau pro Belanda. Dibanding dengan tokoh perjuangan yang hidup sejaman dengannya yaitu Pangeran Diponegoro yang memberontak kepada Belanda.

Raden Saleh jelas tidak ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro. Tapi apakah hati Raden Saleh tidak bersimpati pada perjuangan Pangeran Diponegoro? Bertahun tahun lamanya dipercaya bahwa Raden Saleh adalah seorang yang pro Belanda karena dimakamnya tertulis “Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda”.

Tapi sejarawan mengungkap fakta bahwa visi kebangsaan Raden Saleh adalah kepada bangsanya Indonesia. Pada saat penangkapan Pangeran Diponegoro dengan cara licik oleh Belanda, Raden Saleh masih berada di Eropa tepatnya di Perancis, kiblat demokrasi Eropa masa itu. Belanda sangat merahasiakan kelicikannya pada dunia International untuk menghindari tekanan Eropa.

Tapi apa yang terjadi di koran koran Eropa adalah pembeberan kebusukan taktik Belanda. Belanda mendapat kecaman Eropa dan sangat gusar dengan kejadian ini tapi tidak habis pikir siapa yang telah berhasil membocorkannya ke media di Eropa. Sejarawan meyakini tidak ada orang lain yang memiliki niat, kemampuan dan kesempatan itu di Eropa selain Raden Saleh.

Diponegoro by J.W. PienemanSatu lagi tindakan Raden Saleh yang baru bisa dimengerti sebagai sebuah pembelaan kepada bangsanya adalah lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro. Sebelumnya sebuah lukisan penangkapan dibuat oleh seorang pelukis belanda J.W. Pieneman dengan penggambaran peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Diponegoro by Raden SalehRaden Saleh tahu lukisan tersebut tidak menggambarkan keadaan yang sesunguhnya lalu membuat lukisannya sendiri tentang penangkapan tersebut dengan penggambaran pengikut Pangeran Diponegoro tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tidak terlihat. Menurut kalender peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya sedang berpuasa dan datang dengan niat baik mau berunding dan bukan berperang.

Diponegoro ditangkap dengan mudah, Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

Tidak mudah mengungkap bukti visi kebangsaan Raden Saleh kalau bukan oleh orang yang mengerti benar tentang dunia yang digelutinya. Raden Saleh telah memberi identitas nasional bangsa Indonesia dikancah seni dunia.

Atas apa yang telah dilakukannya penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden Soekarno.

***

Kalau Raden Saleh baru bisa terungkap visi kebangsaanya setelah beliau wafat maka Dr Djelantik telah memperlihatkannya semasa hidupnya. Ini yang sulit dipahami diawal jika yang terekam oleh ingatan hanyalah sikapnya yang dipermukaan. Kalau tidak oleh orang terdekat maka akan butuh waktu lama dan butuh bukti yang meyakinkan untuk meyakininya.

Ngurah Rai adalah teman dekat Dr Djelantik sejak sekolah di Malang sehingga Ngurah Rai dapat memahami tindakan Dr Djelantik melakukan safari atas prakarsa Belanda. Surat yang dikirim oleh Ngurah Rai kepada Dr Djelantik ketika bersafari di Klungkung sebenarnya hanya untuk menenangkan dan meyakinkan Dr Djelantik bahwa Ngurah Rai dan pasukanya memberi ruang kepadanya untuk melakukannya misinya.

Karena surat tersebut telah dimusnahkan maka kita tidak bisa melihat bukti otentik keberadaannya. Beberapa analisa bisa kita pakai untuk menguji keabsahannya:

  1. Bobot surat; Surat tersebut tidak memiliki muatan politik yang berat seperti halnya Supersemar. Semakin tinggi muatan politiknya semakin besar kemungkinan dipalsukan atau dimanipulasi. Jika Supersemar tidak dipublikasi seperti yang sekarang ini maka Suharto tidak dapat berkuasa tapi jika surat IGN Rai tidak dipublikasi maka tidak ada implikasi politik apapun yang akan menimpa Dr Djelantik.
  2. Integritas penulis; Sepanjang hidup Dr Djelantik dikenal sebagai orang yang punya integritas dan bukan orang yang suka manipulasi.
  3. Waktu publikasi kejadian; Sumber publikasi surat tersebut adalah dari buku “The Birtmark, Memoirs of a Balinese Prince” yang ditulis tahun 1997 jauh setelah kejadian 1946. Maknanya adalah tidak ada tekanan politik apapun untuk mengada-ada keberadaan surat tersebut. Dr Djelantik dalam keadaan bebas merdeka dari ancaman atau tekanan apapun.
  4. Motivasi; Dr Djelantik telah memiliki segalanya lebih dari yang ia butuhkan pada saat mempublikasi surat tersebut melalui bukunya. Nama besar, pengikut, pengakuan masyarakat, keluarga, penghargaan pemerintah, harta yang cukup, semuanya telah ia miliki.

Dari empat poin diatas maka saya memiliki keyakinan bahwa keberadaan surat tersebut adalah otentik. Tidak ada motivasi yang masuk akal secara politik/ekonomi/sosial untuk mengarang kisah tentang kejadian tahun 46 yang dipublikasi tahun 97 dimana beliau  dikenal secara luas oleh masyarakat.

***

Kemudian setelah Belanda pergi dari Indonesia barulah Dr Djelantik pulang ke Bali dan sepenuhnya mengabdikan diri untuk masyarakat dalam bidang kedokteran. Banyak yang beliau lakukan dalam bidang kedokteran yang terlalu panjang untuk dibeberkan disini semua.

Salah satu diantaranya adalah menjadi pendiri ikut mendirikan fakultas kedokteran Universitas Udayana atas perintah Bung Karno. Pada waktu itu Dr Djelantik menjabat sebagai direktur RSUP Sanglah memfasilitasi beberapa ruang untuk kegiatan fakultas yang baru berdiri. Fakultas kedokteran ini kemudian digabung dengan fakultas sastra cabang Universitas Airlangga yang sudah lebih dulu berdiri di Denpasar. Penggabungan beberapa fakultas itu lantas menjadi Universitas Udayana.

Hal hal seputar kedokteran inilah yang menjadi polemik oleh beberapa pihak dan berubah kearah penilaian visi kebangsaannya. Menurut saya apakah beliau termasuk salah satu pendiri RSUP Sanglah atau bukan itu tidak mengubah visi kebangsaanya. Beliau tetap seorang yang cinta Indonesia yang rendah hati dan tak pernah menuntut untuk ditinggikan posisinya.

Kecintaanya terhadapnya seni dan budaya menghantar beliau menjadi aktivis budaya yang memberi banyak sumbangan kepada dunia budaya. Semua itu dilakukan tidak dengan mudah tapi dengan penuh perjuangan.

Karena itu menurut pandangan saya Dr Djelantik adalah seorang pejuang dalam arti yang lebih luas. Kata pejuang punya banyak dimensi, bisa pejuang kemerdekaan, pejuang kemanusiaan, pejuang perdamaian dan bisa juga pejuang kebudayaan.

Semoga tulisan saya bisa lebih mengungkap siapa Dr Djelantik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada diawal tulisan.

Saya terbuka atas semua masukan tentang tulisan diatas dengan syarat menggunakan identitas yang valid (bukan inisial).

Tulisan terkait:

17 Komentar

Filed under budaya, sejarah, tokoh