Arsip Kategori: tokoh

Eko Juniarto vs Roy Suryo

Isu isu yang muncul dimedia masa sebelum dialog terbuka adalah isu tentang Blogger Negatif (Enda, Priyadi dan Eko), Hacker=Blogger, dll. Headline dimedia antara lain:

Foto dari KompasSebelum dialog berlangsung Roy sempat bertemu dengan Enda Nasution dan kelihatannya terjadi semacam saling pengertian. Dari pertemuan itu tercium jurus Roy selanjutnya yaitu PERS salah mengutip pernyataannya. Kemudian Enda tak disebut sebut lagi sebagai Blogger Negatif.

Kemudian dialog berlangsung dan seperti dugaan sebelumnya Roy mengatakan semua itu adalah pelintiran PERS alias tidak benar dia mengatakan demikian.

Kemudian pemberitaan dimedia masa adalah:”Roy Suryo: Hak Saya untuk Tidak Ngeblog“.

Saya sebagai pribadi ingin sekali memaafkan yang telah lalu. Baiklah kalau memang itu dilimpahkan pada kesalahan PERS (mungkin para wartawan gak bisa terima ini), tapi saya ingin berprasangka baik pada Mas Roy untuk menerima itu sebagai alasan untuk memulai babak baru.

Saya hargai kebesaran hati Mas Roy dengan mengatakan tak usah kutip saya, kutip saja Blog. Sayapun akan beranggapan itu bukan suatu arogansi tapi memang sebuah niat yang tulus.

Waktu dialog berlangsung ada kutipan dari postingan belumnya:

Kemudian Roy mengatakan semua itu berawal dari dua orang Blogger yang tidak ia ketahui sebabnya selalu saja menyerang dirinya secara pribadi, dua orang Blogger tersebut adalah Priyadi dan Eko Juniarto.

Kemudian bertanya pada penonton apakah Priyadi dan Eko ada diantara penonton. Memang sangat disayangkan mereka tidak bisa hadir karena harinya tidak mendukung, mereka harus bekerja hari jumat.

Setelah dialog usai kemudian muncul headline di DetikInet.com: “Roy Suryo esalkan Hanya Sedikit Blogger Vokal Datang Berdialog“.

Baiklah Mas Roy, itu semua saya artikan sebagai niat yang tulus untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas. Kelihatannya Mas Eko juga memiliki niat yang sama melalui komentarnya pada postingan saya terdahulu. Mas Eko mengatakan:

kalau memang berniat mengajak saya diskusi, silakan beliau buat janji, nanti saya sesuaikan dengan jadwal saya.

Saya anggap ini sebuah langkah maju. Kita tahu akar permasalahan ada disini. Setelah Mas Enda bertemu Mas Roy, mas Enda tak lagi disebut sebagai Blogger Negatif. Sekarang diharapkan jika memang pertemuan antara Mas Roy dan Mas Eko bisa berlangsung maka banyak sekali perubahan persepsi dari sisi Mas Roy bisa diubah.

Mas Roy bilang tidak tahu alasannya kenapa Mas Eko selalu menyerang pribadi Mas Roy. Mas Eko punya argumentasi sendiri bahwa apa yang dikomentari oleh Mas Eko bukan hal hal pribadi tapi hal hal yang bersifat teknis dari pernyataan Mas Roy ke media yang dianggap tidak akurat.

Sekarang, daripada nanti dikemudian hari Mas Roy kumat lagi menyerang Blogger dan bikin heboh maka sebaiknya Mas Roy selesaikan dulu masalah Mas Roy dengan Mas Eko.

Undangan dari Mas Eko dan penyesalan dari Mas Roy tak bisa bertemu Mas Eko didialog kemarin bisa ditindak lanjuti dengan dialog antara Roy Suryo dan Eko Juniarto.

Kali ini tak usah dibesar-besarkan, nanti orang bosan baca berita tentang Mas Roy. Kali ini sifatnya lebih intern walaupun isu isu yang dibahas nanti mungkin saja isu yang sudah melegenda itu.

Seperti kata Mas Eko, silahkan Mas Roy atur waktunya, tempat kami sediakan. Tetap dengan semangat membangun IT lebih maju. Bagaimana Mas Roy? Saya tak mau lihat dikemudian hari Mas Roy bikin blunder lagi soal Blog dan Blogger ini Mas, capek…

34 Komentar

Filed under sosial, tokoh

Roy Suryo: Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia

Dialog terbuka antara Blogger dan Roy Suryo akhirnya digelar di ruang teater Budi Luhur dengan kapasitas 250 orang penuh. Kebanyakan penonton rupanya dari kalangan mahasiswa BL sendiri. Tidak banyak wajah wajah familiar yang bisa saya kenali.

Salah satunya adalah Wazeen dan Caplang yang pernah komen di Blog saya. Semula saya pikir Caplang itu nama minyak angin tapi ternyata memang kupingnya caplang… hehe.. hush.

AbimanyuRiyogartaAbimanyu Panca Kusuma seorang praktisi IT dan juga Blogger bertindak sebagai moderator. Riyogarta sebagai pembicara Blogger sejak awal memberitahu bahwa dia hanya mewakili pribadi dirinya dan tidak mengatasnamakan komunitas Blogger. Setuju.

Sebelum acara dibuka panitia mempersilakan Rektor Universitas Budi Luhur, Prof Ronny Nitibaskara, untuk memberi sambutan yang panjang dan membosankan. Maklum Pak Rektor ini Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, jadi sambutannya panjang lebar seperti kuliah saja.

Beliau juga menyampaikan pesan salah satu mahasiswa bimbinganya yang katanya musuhnya Roy Suryo dan sedang menyelesaikan program doktornya untuk bidang Cyber Crime. Roy bilang kenal betul siapa Petrus dan mereka katanya berteman sekaligus bermusuhan (kok bisa yah?)

Setelah Pak Rektor selesai memberi sambutan, kemudian moderator Abimanyu memulai acara dengan perkenalan yang bertele-tele. Memang ada humor sedikit disana sini yang membuat penonton tertawa tapi sesunguhnya kami sudah tidak sabar menunggu acara dialog dimulai.

Roy Suryo dipersilahkan oleh moderator untuk memulai dan Roy menceritakan kenapa ia bersedia hadir, tak usah saya ceritakan detailnya karena rada retorik, terkecuali cerita tentang peran Mas Wicaksono sebagai penghubung diawal awal antara dirinya dan Riyogarta.

Dia juga maunya Mas Wicak ini yang jadi moderator tapi rupanya Ndoro Kakung ini jam 9 pagi belum bangun katanya. Roy bilang Mas Wicak itu guyon, tapi kalo orang yang gak ngerti guyonnya maka akan dibilang sombong, “kok untuk acara penting gini jam 9 belum bangun”, ungkap Roy memberi contoh ekspresi orang yang gak ngerti guyonnya Mas Wicak. Mungkin Roy mau protes sama Mas Wicak tapi dengan cara seperti itu.

Kemudian dialog dimulai dengan penjelasan dari Riyogarta tentang topik dialog semula bukanlah “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia”, judul topik tersebut adalah pilihan dari Roy Suryo. Kemudian Riyo melanjutkan dengan membuka slide situs detikINET yang memuat:

Siapa ‘mereka‘ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008).

Riyo kemudian mempertanyakan apa masuk dari pernyataan tersebut, siapa yang dimaksud dengan “mereka”, kata Riyo.

Dimulai dengan cengar cengir yang khas, Roy kemudian menjawab bahwa sebuah media sering kali membutuhkan headline yang Eye Catching. Sehingga apa yang dia lakukan itu semata mata adalah sebuah teknik komunikasi. Itu intinya, kemudian ia melanjutkan dengan penjelasan yang panjang lebar dan berputar putar tentang hal hal yang menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan pertanyaanya.

Demikian seterusnya pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan dijawab dengan teknik yang sama, berputar putar yang sering kali diakhir putaran tidak menjawab pertanyaannya. Saya jadi geretan. Diperparah lagi oleh moderator yang menurut saya terlalu banyak mengambil waktu untuk menjelaskan sejarah media di Internet. Mohon maaf Mas Abim tapi ini suatu perasaan subyektif saja, siapa tahu yang lain malah seneng :-)

Ada satu poin penting yang disampaikan oleh Abimanyu disini yaitu ketika paparannya sampai pada Blog dimana Abimanyu mempertanyakan seberapa besar jumlah Blogger Negatif tersebut. Tapi itu bukan untuk dijawab Roy. Abim melanjutkan kembali paparannya hingga selesai.

Diskusi berlanjut lagi. Secara umum argumentasi dasar Roy adalah pers yang salah dalam mengutip pernyataanya. Salah satu contohnya pernyataan tentang Blogger tukang tipu. Penjelasan Roy sebenarnya panjang lebar tentang Blogger dan tidak semuanya jelek, cuma diakhir pernyataan dia memang bilang ada Blogger yang jadi tukang tipu. Nah lantas media mengutip hanya bagian akhirnya saja, sehingga mengundang reaksi dari para Blogger.

Ketika disanggah oleh Riyo bahwa wartawan sekelas Kompas dan Tempo kecil kemungkinannya untuk salah mengutip. Roy mengatakan bahwa ia orang yang apa adanya, jika A dia katakan A, jika B dia katakan B, dan dia bertanggung jawab dengan semua pernyataanya itu.

Riyo menyanggah lagi dengan mengatakan, aneh kalau salah kutip terjadi secara massal, biasanya kalau cuma satu media salah dan yang lain benar ada kemungkinan salah kutip yang satu itu.

Seperti biasa Roy melanjutkan dengan panjang lebar tentang sulitnya membuat pernyataan didepan wartawan agar mudah dikutip dan jelas. Dia tak bisa berbuat apa apa kalau memang wartawannya salah mengutip, contohnya dia diwawancara tentang teknik Flagging yang oleh wartawan keliru di kutip menjadi tenik Flaring. Kalau sudah begitu salah siapa katanya?

Dalam penjelasannya yang panjang lebar tersebut kemudian Roy sampai pada pembahasan mengenai keberadaan Blogger Negatif. Roy mengatakan adalah benar Blog itu sebuah media yang sangat bermanfaat tapi juga bisa berbahaya bila penulis Blognya tidak bertanggung jawab dengan tulisannya yang menjelek jelekan orang lain.

Kemudian Riyo mempertanyakan apakah Roy alergi dengan yang namanya Anonymous. Roy tersenyum manis lantas bilang itu kan menurut Mas Riyo saja. Seperti biasa Roy tak menjawab pertanyaan itu.

Sebelum sesi tanya jawab Riyo mempersembahkan hadiah berupa sebuah account blog dengan domain roy.suryo.info. Riyo kemudian membujuk Roy untuk mau menggunakan account blog itu untuk nulis bagaimana menjadi Blogger Positif atau paling tidak membuat klarifikasi atas semua pelintiran media atas dirinya.

Roy yang sejak tadi sudah memberi wejangan falsafah tentang menghargai pilihan orang lain dalam memilih media, kini berdiplomasi dengan mengatakan bahwa bagaimana dia memutuskan, itu soal pilihan tanpa mengatakan ya atau tidak.

Riyo kemudian menyergah dengan mengatakan Roy tidak usah banyak alasan, Roy telah memberi label Blogger Negatif sekarang tolong beri kami contoh bagaimana menjadi Blogger yang Positif. Diskusi menjadi memanas yang ujung ujungnya dilerai oleh moderator.

Kemudian sesi dilanjutkan dengan pertanyaan dari penonton. Pertanyaan demi pertanyaan dari anak Binus yang teleconference dan dari anak Budi Luhur. Kemudian ada satu pertanyaan yang membuat Roy mulai bernada suara agak tinggi.

BannerPertanyaan dari seorang Blogger bernama Syam yang mempertanyakan sikap Roy yang seolah olah kini mengkambing hitamkan PERS. Disaat yang sama Riyo membuka slide yang berisi postingan Blognya Ndoro Kakung yang ada Banner dengan tulisan “Jangan Kutip Roy Suryo Daripada Dibilang Salah Kutip“.

Roy mengatakan no problem buat dia wartawan gak mau ngutip dia. Roy malah bilang kalau memang begitu para wartawan sebaiknya mengutip Blog. Saya gak usah dikutip gak papa katanya. “Biarlah masyarakat yang mengakreditasi Blog Blog itu mana yang layak dikutip dan mana yang tidak”, lanjut Roy.

Menanggapi pertanyaan JaFF seorang wartawan yang menyampaikan keluhan Mas Koencoro di pertemuan Depkominfo kemarin bahwa label Blog itu negatif telah merusak citra Blogger sehingga ketika Mas Koen masuk kede desa, dipesantren pesantren mereka menolak materi Blogging karena menurut Roy Suryo, Blog itu adalah hal yang negatif.

Roy kemudian menjawab bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita memperkenalkan IT kepada para penduduk di desa desa, seperti biasa dia kemudian cerita panjang lebar tentang pengalamannya masuk pesantren, gereja dan wihara memperkenalkan IT.

***

Pertanyaan demi pertanyaan oleh penonton, jawaban demi jawaban oleh Roy, celetukan demi celetukan oleh Riyo dan paparan tentang Blog adalah sebuah pohon dari Abimanyu membuat saya mulai bosan dan merasa dialog ini tidak mengraha ke arahyang diinginkan semula.

Waktu mulai mendekati setengah dua belas, mau jumatan tapi Roy bilang mau sampai Adzan jug agak papa katanay dia mau ladeni terus dan senang bisa bertemu seperti sekarang ini. Dia juga cerita bahwa pernah bac di Blog ada orang yang rela potong kepala kalau Roy mau hadir dicara ini. Dengan bangga Roy bilang buktinya sekarang saya hadir.

Dialog Terbuka

Kemudian acara selesai, Riyo dam Roy bersalaman, penonton berfoto foto ria, wartawan mewawancarai. Roy keluar ruangan dengan senyum lebar diwajah, Riyo terlihat agak murung walaupun banyak yang memberi selamat atas terselenggaranya acara itu. Kata kunci yang sempat dilontarkan Roy adalah marilah sama sama kita mencerdaskan masyarakat.

Saya ingin sekali mengajukan pertanyaan sendiri tapi tidak ada kesempatan. Beruntung setelah sholat jumat saya diajak Riyo untuk makan siang di Rektorat. Ternyata Roy Suryo juga ikut makan disana sebelum berangkat ke KPPU.

Karena makan satu meja saya mengambil kesempatan itu untuk mengajukan pertanyaan pertanyaan yang tadi ingin saya sampaikan. Tapi memang momentnya tidak tepat karena kami semua sedang menyantap makan siang.

Tapi kelihatannya Roy mau meladeni setiap ada pertanyaan yang diajukan kepada dirinya oleh siapa saja yang hadir sambil makan. Disela sela itulah saya coba mengklarifikasi beberapa persoalan, antara lain:

Apakah Mas Roy akan menggunakan account dari Riyo untuk menjadikan Blog sebagai media klarifikasi pada media yang suka memelintir atau salah kutip?

Roy menjawab bahwa itu adalah pilihan, dia telah menyediakan media lain yaitu email dan sms. Roy bilang bahwa ia senantiasa membalas sms dari berbagai pihak yang ingin klarifikasi.

Apakah Mas Roy tidak merasa repot harus menjawab berkali kali suatu permasalahan yang sama dengan cara itu, sebab jika Mas Roy punya Blog maka itu cukup dilakukan sekali saja.

Kembali lagi ini soal pilihan, kemudian Roy menyantap nasinya dengan lahap.

Pada saat digedung tadi Roy sempat cerita tentang Blogger Negatif sebagai reaksi dari postingan di Blog yang mencerca dirinya sedemikian hingga para komentator ikut mencerca dengan kata kata kasar. Kemudian Roy mengatakan semua itu berawal dari dua orang Blogger yang tidak ia ketahui sebabnya selalu saja menyerang dirinya secara pribadi, dua orang Blogger tersebut adalah Priyadi dan Eko Juniarto.

Tapi saya tidak ingin frontal dan ingin memulai dari soal cerita Mas Koen yang mengalami kesulitan memasyarakatkan Blog karena ada stigma negatif yang disebarluaskan oleh Roy. Roy menjawab singkat bahwa itu aneh.

Kemudian saya ajukan pertanyaan:

Apakah Mas Roy menganggap cerita dari Mas Koen sebagai suatu yang tidak akurat, artinya Mas Roy mempertanyakan akurasi dari cerita Mas Koen itu?

Roy lalu menelan nasi yang sedang dikunyahnya lalu menerangkanb bahwa tidak demikian maksudnya dan menjawab yang persis sama seperti digedung tadi yang mengatakan bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita menjelaskan soal IT. Saya pikir permasalahan yang dialami oleh Mas Koen agak beda, yaitu soal stigma negatif Blogger dan bukan soal IT. Lantas saya kejar dengan pertanyaan,

…tapi kan citra Blog adalah negatif itu datang dari Mas Roy…

Belum selesai saya tanya, sudah dijawab, tapi itu kan pelintiran media. Kemudian Roy menjelaskan tentang kalau media memang tidak mau kutip dia yah gak papa, silahkan kutip yang lain. Lantas saya jawab:

Wah itu kok kesannya ingin menunjukan power bahwa bagaimanapun media nanti pasti akan balik kepada Mas Roy lagi…

Roy cuma tersenyum lalu bilang, ” itu kan menurut Mas aja toh?”.

Saya ingin sekali masuk ke pembahasan Priyadi dan Eko tapi ada wartawan yang kebetulan sedang ikut makan di ruang itu dan mengajuakn pertanyaan. Roy sambil makan menjawab pertanyaan wartawan itu.

Ada hal menarik dari Roy yang dikemukakan oleh Prof Ronny yang guru besar Kriminologi itu sebelum meninggalkan ruangan. Beliau mengatakan suatu fenomena dengan bahasa akademis, “Labeling Theori: Stigmanisasi”, (bener gak sih nulisnya?)

Teori itu punya premis bahwa seseorang yang terstigma dimata masyarakat akan cenderung menjadi begitu seterusnya. Jadi kadung sudah kepalang basah maka itu akan diteruskan. Saya gak tahu soal itu tapi ini menarik.

Semua kekisruhan ini berawal dari perseteruan antara Roy dengan (Eko dan Priyadi). Karena Eko dan Priyadi adalah Blogger dan dalam komunitas Blogger ada pengikut maka tercipta sebuah komunitas yang sepaham. Kesaksian Roy yang bilang bahwa banyak Blogger lantas ikut ikutan mencerca dirinya tanpa tahu bahwa apa yang dibacanya itu belum tentu benar, karena perlu klarifikasi.

Karena itulah Roy menuduh Priyadi dan Eko sebagai biang Blogger Negatif, karena menyebarkan paham yang mencerca dirinya. Kalau demikian maka persoalannya mulai bisa diisolasi. Akarnya adalah Blogger yang dianggap mencerca dirinya yang lantas diikuti oleh yang lain yang tidak minta klarifikasi tentang kebenarannya kepada dirinya.

Roy lantas mengangkat isu Blogger Negatif ini ke permukaan, tak sadar akan dampaknya secara luas. Jadi ini persoalan dirinya dengan beberapa orang Blogger yang tidak sepaham dengan dirinya. Dengan memilih judul topik “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia“, dapat dengan mudah dibaca.

Judul itu ingin mengesankan ada apa dengan Blogger Indonesia sehinga perlu dibuat menjadi Positif. Saya rasa Roy Suryo harus memaparkan data yang lebih masuk akal untuk dapat meyakinkan publik bahwa Blogger Indonesia sudah sedemikian negatifnya sehingga memang harus dibuat Positif. Memang ada Blog yang tidak berkualitas dan hanya omong kosong tapi apa perlu dibuat dikotomi Positif Negatif.

Terus terang cara cara seperti ini adalah metode politik yang dalam sejarahnya terbukti dipakai untuk melakukan pembersihan lawan politik. Dulu ada cap PKI untuk memberantas orang orang yang tidak bersesuaian dengan Orde Baru, orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan PKI bisa saja diberi cap PKI untuk dapat punya alasan menyingkirkannya.

Mungkin Roy tidak sadar telah melakukannya, karena itu saya meminta kepada Mas Roy untuk tidak lagi melakukan dikotomi Positif Negatif. Juga buat teman teman PERS untuk tidak mengutip istilah istilah yang membuat dikotomi itu menjadi termasyarakatkan.

Saya berpandangan akar masalahnya adalah perseteruan antara Roy vs Priyadi dan Eko. Karena itu dialog yang baru saja terjadi itu seperti tidak efektif untuk waktu yang lama. Nanti dikemudian hari akan ada friksi lagi, karena akar permasalahnya tidak dituntaskan.

Karena akar permasalahan adalah Roy vs Priyadi dan Eko maka saya mengusulkan untuk diadakan dialog yang diantara mereka. Riyogarta telah melakukan perannya semaksimal mungkin yang bisa ia lakukan. Tapi karena Riyo bukan bagian dari akar masalah maka sasaran yang bisa dicapai masih dipermukaan.

Klarifikasi tentang Blogger=Hacker, Blogger Negatif, Pelintiran Media dll, itu semua hanyalah akibat, bukan sebab. Mungkin dengan dialog hari ini bisa sedikit diredam tapi lain waktu akan muncul lagi masalah yang lain. Kalau bisa terselenggara dialog diantara mereka (Roy vs Priyadi dan Eko) maka saya rasa banyak masalah yang bisa terselesaikan.

Saya yakin Roy bersedia membuka diri untuk berdialog dengan Priyadi dan Eko. Saya yakin itu setelah bertemu dengannya. Saya juga yakin banyak pihak yang ingin melihat itu terjadi dan bersedia membantu.

Setelah menyelesaikan makan siangnya dengan lahap Roy Suryo lantas berangkat dengan senyum lebar diwajahnya. Tinggal saya, Riyo dan Mas Abimanyu yang melanjutkan obrolan seputar e-Commerce.

254 Komentar

Filed under sosial, tokoh

Maya Estianty

Maya EstiantySiapa yang tak kenal Maya. Bahkan saking terkenalnya banyak juga yang sudah bosan melihat liputan tentang prahara rumah tangganya di TV dan bukan salah Maya tentunya.

Saya bukan mau ikut ikutan gosip tapi ada yang menarik dari semua itu sejak Maya memutuskan untuk ngeblog. Statement Ahmad Dhani sang suami yang mengingatkan kita pada Roy Suryo dan pandangannya tentang para Blogger.

Mereka punya pandangan yang sama:

Roy Suryo:

Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu.

Ahmad Dhani:

Orang yang membuat blog di Internet adalah orang yang kurang kerjaan. Orang yang membaca blog di Internet adalah orang-orang bodo!

Lucunya sebagai orang yang memiliki pandangan yang sama harusnya mereka bisa berteman tapi kenyataanya tidak, karena Roy pernah mengomentari foto ciuman diantara Dhani-Mulan yang menurut Dhani tidak benar. Bahkan Dhani pernah bilang di TV kalau ketemu Roy mau disobek sobek mulutnya…

Apapun itu kedua orang ini punya pandangan negatif tentang Blog. Roy sebagai orang yang didaulat media sebagai seorang pakar ternyata menujukan sikap jauh dari seorang akademisi yang dituntut obyektif dalam melihat masalah.

Blog hanya sebuah media, sama saja dengan media yang lain seperti media cetak atau elektronis. Sikap Roy dipicu oleh perpaduan antara keangkuhan dan ketidaktahuan (baca: kebodohan) yang terjadi pada media mailing list.

Para anggota milis yang menjadi seteru Roy itu rata rata adalah Blogger sehingga ketika Roy ditanya tentang Blog kontan sikap Roy adalah negatif. Suatu sikap yang kekanak kanakan.

enough with Roy…

Begitu juga dengan Dhani, sikapnya dipicu karena Maya yang menjadi lawannya di media media karena kasus perceraiannya merasa kehilangan asa menghadapi jurus baru Maya. Walau pada prinsipnya Blog adalah media yang sama dengan media yang lain tapi Blog memiliki karakteristik yang berbeda dengan media lain (Citizen Journalism).

Blog di Indonesia memang sedang booming terutama pasca Pesta Blogger 2007. Kalau sebelumnya banyak blogger dalam negeri yang menggunakan layanan luar negeri seperti WordPress tapi sekarang mulai lahir penyedia layanan Blog berbasis WordPress yang beroperasi di wilayah Indonesia, antara lain: DagDigDug.com dan BlogDetik.com

MaiaMaya adalah pengguna layanan BlogDetik. Selain Maya sudah ada beberapa seleb lain juga ngeblog dan bahkan dengan domain-name nama mereka sendiri seperti Dian Sastro.

Walaupun ada yang berpendapat bahwa Blog para seleb itu membosankan tapi bukan berarti apa yang mereka tulis itu adalah kebohongan seperti kesan dua orang diatas tadi.
Tulisan tulisan Maya yang memang sebagian besar adalah diary tapi tetap banyak diminati pembaca, bisa dilihat dari komentar komentar yang masuk pada tiap postingan rata rata diatas 300 komentar, bahkan pernah mencapai 700 komentar.

Kakak kandung Maya (Astri Merianty) adalah seorang Blogger senior yang sudah mulai ngeblog sejak tahun 2003 dan memiliki pembaca yang tak kurang banyaknya dengan adiknya ini. Niche blognya Astri juga diary, niche diary memang banyak dicibir orang orang sebagai blog yang membosankan tapi beda dengan blognya Astri.

Blog diary milik Astri (Keluarga Nugraha) adalah contoh Blog diary yang bagus dan tidak membosankan. Pembaca setianya selalu sabar menanti postingan selanjutnya. Bahkan ketika Astri cuti ngeblog karena harus melahirkan.

Blog diary adalah niche yang bagus sebenarnya asal ditulis dengan sepenuh hati. Saya rasa Maya juga menulis dengan sepenuh hati. Tulisan yang ditulis dari hati dampaknya sangat dahsyat.

Perlakuan keji Dhani pada Maya didepan media hanyalah akan menjadi bahan bakar bagi tulisan tulisan Maya di Blognya. Semakin Dhani blingsatan dengan berbagai statement dan aksinya semakin tulisan Maya ditunggu pembacanya. So go a head Dhani.. beri Maya trafic blog yang buanyak… hehehe

Buat Astri, keep on blogging pal…

33 Komentar

Filed under tokoh

Kekayaan Keluarga Soeharto

Pengantar:Keluarga Soeharto telah memenangkan gugatan atas majalah TIME dengan vonis majalah TIME harus membayar satu triliun rupiah kepada keluarga Soeharto. Berikut bagi yang belum pernah baca laporan majalah TIME tersebut.

Sektor Asset dan Tunai yang Diperoleh Keluarga Selama 30 Tahun Lebih

  • Minyak dan gas $ 17.000.000.000
  • Kehutanan dan perkebunan $ 10.000.000.000
  • Bunga deposito $ 9.000.000.000
  • Petrokimia $ 6.500.000.000
  • Pertambangan $ 5.800.000.000
  • Perbankan dan jasa keuangan $ 5.000.000.000
  • Properti di Indonesia $ 4.000.000.000
  • Import pangan $ 3.600.000.000
  • TV, Radio, Penerbitan $ 2.800.000.000
  • Telekomunikasi $ 2.500.000.000
  • Hotel dan turisme $ 2.200.000.000
  • Jalan tol $ 1.500.000.000
  • Perusahaan penerbangan dan jasa angkasa $ 1.000.000.000
  • Produksi dan distribusi tembakau $ 1.000.000.000
  • Kendaraan $ 460.000.000
  • Penghasil daya $ 450.000.000
  • Manufaktur $ 350.000.000
  • Properti di luar negeri $ 80.000.000

T O T A L $ 73.240.000.000
KEKAYAAN SAAT INI $ 15.000.000.000
Sumber: TIME, konsultasi dengan lima ahli independen

Laporan Majalah TIME – 24 Mei 1999 Mengenai Harta Kekayaan Keluarga Soeharto

Penyelidikan TIME ke dalam kekayaan keluarga Suharto dan anak-anaknya menemukan harta jarahan sebesar $ 15 milyar dalam bentuk uang tunai, properti, barang-barang seni, perhiasan dan pesawat-pesawat jet pribadi

Oleh: JOHN COLMEY dan DAVID LIEBHOLD Jakarta

PERUSAHAAN KELUARGA

Presiden SoehartoKetika tiba masa akhir Suharto, presiden Indonesia terlama, ia hanya nampak pasif. Sementara para mahasiwa dan massa rakyat yang marah turun ke jalan-jalan, dan disambut dengan tembakan dan gas air mata; jendral berbintang lima itu mundur ke belakang sambil mencoba menata segala sesuatunya dengan baik.

Ketika ia akhirnya turun tahun lalu, ia hanya berdiri menyingkir ke sebelah, sementara B.J Habibie mulai diambil sumpahnya. Setelah itu Suharto jarang kedengaran lagi.

Tetapi nyatanya Suharto jauh lebih sibuk dari yang disadari oleh banyak orang. Sesaat setelah Soeharto jatuh dari kekuasaan, telah tercium adanya usaha-usaha untuk menyelamatkan harta pribadinya.

Di bulan Juli 1998, serangkaian laporan mengindikasikan bahwa uang dalam jumlah luar biasa yang berhubungan dengan Indonesia telah dipindahkan dari sebuah Bank di Switzerland ke Bank lain di Austria, yang dipertimbangkan sebagai tempat berlindung yang lebih aman untuk deposito-deposito rahasia.

Pemindahan tersebut memperoleh perhatian dari kementerian keuangan Amerika, yang mengikutinya secara seksama, dan menggerakkan penyelidikan-penyelidikan diplomatik di Wina.

Sekarang, sebagai bagian dari penelitian empat bulan yang meliputi 11 negara, TIME telah menemukan bahwa $ 9 milyar dari uang Soeharto dipindahkan dari Switzerland ke sebuah account Bank di Austria. Nilai yang tidak jelek untuk seseorang yang gaji kepresidenannya sebesar $ 1.764 per bulan.

Baca lebih lanjut

26 Komentar

Filed under tokoh

Komentar Najwa Shihab

Foto dari metrotvnews.comKetika menonton Today’s Dialog di Metro TV edisi khusus awal tahun dengan tema “Meretas Jalan Reformasi” tak terpikirkan oleh saya untuk menulisnya. Saya hanya menikmati.

Baru terpikirkan untuk menulis ketika keesokan harinya. Perlu waktu empat hari untuk menyelesaikan tulisanya karena disamping beberapa kesibukan juga karena saya harus mengingat-ingat detil dialog dan alurnya.

Bahkan sempat diinterupsi oleh sebuah tulisan tentang peradilan Pak Harto karena saya lihat di TV Pak Harto masuk RSPP lagi. Juga disibukkan sedikit oleh seorang komentator yang mengaku alumni ITS tapi tak mau menunjukan identitasnya.

Akhirnya tanggal enam tulisan itu rampung juga dan saya posting. Dalam tulisan tersebut saya berusaha menampilkan berdasarkan ingatan saya. Mulai dari dialog Amien Rais, Wiranto, Jusuf Kalla dan tentu saja pemandu acara tersebut Najwa Shihab.

Terus terang agak sulit mengingat ingat kembali. Lain kali untuk menulis reportase memang harus ada persiapan minimal membawa catatan. Tapi yang paling baik memang adalah merekam dalam media kaset maupun digital.

Saya bukan jurnalis jadi tidak punya insting seperti itu. Saya hanya mengandalkan ingatan. Untuk esensi saya pasti ingat tapi alurnya kadang suka tertukar. Saya pikir tak apalah karena toh pembaca tidak disuguhi dengan data yang tidak benar tapi hanya alurnya yang tidak berurutan selama tidak mengubah esensi.

Dan juga saya pikir siapa yang bakal begitu teliti mengingat urutan dialog yang saking panjangnya itu harus ditayangkan dalam dua episode (tanggal 1 dan 2 Januari). Bahkan untuk penonton yang hadir di studio MetroTV sekalipun mungkin tidak terlalu hirau dengan urutan dialog.

Beberapa komentar mulai masuk dan terkesan tulisan saya sangat membantu bagi yang tidak menonton acara tersebut secara langsung. Saya merasa cukup senang dengan hal itu.

Tak pernah terbayangkan Najwa Shihab sendiri melakukan blogwalking dan menemukan Blog saya lalu berkomentar sampai muncul satu buah komentar:

Dear Mas Wibisono,
Terima kasih atas ulasan dan komentarnya. Lengkap dan sangat detail. Ada bbrp bagian dialog yang alurnya tertukar, tapi esensi talk show-nya tidak berubah kok. Again, really appreciated it…:) itu siaran terakhir saya sebelum cuti panjang setahun ini, jadi senang sekali bisa di-review dan diapresiasi oleh teman2.

salam,

najwa

Ini mirip dengan kejadian waktu Yusril Ihza Mahendra berkomentar di Blognya Julian Firdaus yang bikin heboh karena para Blogger menyangsikan keabsahannya. Kemudian rame rame membahas dan malah sampai kopdar untuk membuktikannya karena banyak yang penasaraan.

Untuk soal Najwa saya sama sekali tak meragukan keabsahaannya sejak awal. Kemudian saya analisa lagi komentarnya.

Kalau informasi tentang cuti panjang selama setahun mungkin sudah jadi informasi umum tapi yang membuat saya yakin adalah dia tahu alur dialog yang tertukar.

Sebagai host acara tersebut tentu tanpa dihafalpun sudah ingat dengan sendirinya semua detil dan alurnya. Ini mungkin akan sulit dilakukan oleh orang selain kru acara tersebut terutama Hostnya.

Belakangan saya cari di Google dan nemu di Wiki tentang keberangkatan Najwa ke Australia untuk menimba ilmu di bidang hukum media selama setahun. Najwa mendapat beasiswa (Full Scholarship) dari Australian Leadership Awards karena prestasinya dibidang jurnalistik.

Kemudian saya check lagi menggunakan alamat emailnya untuk mendapatkan account Friensternya. Ketemu. Tambah yakin lagi saya.

Well, selamat yah Najwa, penonton MetroTV khususnya program Today’s Dialog yang menjadi acara favorite banyak orang akan kehilangan sosok Najwa. Paling tidak selama studi.

Tentang siapa penggantinya tentu urusan manajemen MetroTV tapi semoga bisa sehebat Najwa. Bagi pembaca Blog ini yang punya kandidat mungkin bisa disebutkan.  Kemungkinan menurut saya Fifi Aleyda Yahya atau Meutia Hafidz.

Saya harap Najwa mau tetap minimal blogwalking dan maunya saya sih Najwa dan para jurnalis lainya punya Blog. Kalo presenter infotaintmen sih bisa punya account Friendster saja sudah bagus :-)

Selamat menempuh studi Najwa.

16 Komentar

Filed under televisi, tokoh

In Memoriam Prof Dr A Sartono Kartodirdjo

Oleh: M Nursam *

Sudah sejak setahun terakhir kondisi kesehatan Prof Dr Aloysius Sartono Kartodirdjo kian menurun. Akhirnya, pada Jumat, 7 Desember 2007, pukul 00.45 WIB, guru utama sejarawan Indonesia itu mengembuskan napas terakhir. Bangsa Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya.

Sepanjang usianya yang hampir 87 tahun, Prof Sartono tidak saja memberi contoh di wilayah publik sebagai guru utama sejarawan Indonesia, tetapi juga memberi teladan dan inspirasi dari sosok pribadinya: Memilih hidup asketis.

Generasi awal

Sartono merupakan wakil pertama generasi baru sejarawan Indonesia yang menerapkan metode penelitian modern pada lapangan studi sejarah. Puluhan buku dan ratusan artikel telah lahir dari tangannya.

Kariernya sebagai sejarawan bermula ketika pada tahun 1950, ia memilih melanjutkan studi di Jurusan Sejarah UI dan menyelesaikannya enam tahun kemudian, 1956. Sepuluh tahun kemudian, 1966, ia mendapat gelar doktor di Universitas Amsterdam dengan disertasi, “The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in Indonesia”. Disertasi ini menjadi batu loncatan dalam studi sejarah Indonesia.

Menurutnya, penulisan disertasinya didorong oleh hasrat melancarkan protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosentris.

Dengan menggunakan social scientific approach, Sartono memberikan cahaya terang dalam perkembangan dan arah historiografi Indonesiasentris. Petani atau orang-orang kecil yang dalam sejarah konvensional menjadi nonfaktor, dalam karya Sartono menjadi aktor sejarah.

Berbuah sekali lalu mati

Pada ulang tahunnya yang ke-80, tahun 2001, Sartono masih menerbitkan buku berjudul Indonesian Historiography. Apa yang ingin diperlihatkan Sartono adalah usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Kerja seorang ilmuwan adalah kerja tiada henti.

Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan siapa pun, khususnya kepada murid-muridnya, bahwa ilmuwan “jangan seperti pohon pisang, yang hanya berbuah sekali kemudian mati.”

Menurut Sartono, apa yang dihasilkan adalah buah dari asketisme yang dihayatinya secara terus-menerus; ketekunan, ketelitian, ketuntasan, serta kesempurnaan teknis.

Ia menjalani apa yang dalam Wedatama disebut mesu budi. Bau kertas arsip atau buku kuno akan merangsang semangatnya untuk bergulat tanpa henti. Baginya, identitas seorang profesional memuat secara inheren suatu keahlian, keterampilan, pengetahuan teknis, otonom, dan memiliki integritas tinggi.

Sikap asketis

Dalam berbagai kesempatan, Sartono selalu mengingatkan bahwa sikap asketis menjadi esensi dari keahlian seorang profesional. Sebagai sejarawan generasi pertama, Sartono telah menghasilkan banyak murid yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Murid-muridnya itulah yang menjadi benang penyambung ide dan gagasan Sartono.

Di tingkat global, jaringannya tidak diragukan lagi. Berbagai penghargaan dari berbagai universitas dan lembaga internasional telah didapatkannya.

Salah seorang koleganya, Joseph Fischer, dari University of California, mengatakan, “Bagi saya, Pak Sartono merupakan kombinasi dari tokoh Arjuna, Gatotkaca, dan Semar. Arjuna karena kehalusan sikapnya. Gatotkaca karena kejujurannya, dan Semar karena kearifannya. Pak Sartono benar-benar seorang cendekiawan profesional dan seorang guru yang baik.”

Budaya abangan

Sartono dilahirkan pada tengah malam di Wonogiri, 15 Februari 1921, dari pasangan Tjitrosarojo dan Sutiya sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara kandung. Sebagai manusia Jawa, Sartono dibesarkan dalam ruang sosial budaya abangan. Ruang inilah yang paling awal membentuk pandangan dunianya.

Melalui dunia pendidikan formal yang dijalaninya—HIS, MULO, HIK—ia menyerap nilai budaya Barat. Di HIK Muntilan, selain menyerap budaya Barat secara lebih intensif, Sartono juga menyerap nilai-nilai dan ajaran Kristiani.

Selama di HIK, nilai Kristiani semakin membentuk kepribadian Sartono karena ia mendapat pendidikan khusus sebagai (calon) bruder. Meski akhirnya memilih karier sebagai guru, nilai-nilai yang diajarkan selama di HIK tetap menjadi pemandu dalam perjalanan hidupnya.

Endapan pengalaman Sartono yang demikian beragam dan multidimensi menjadi batu-batu dalam perjalanan hidupnya, baik sebagai sejarawan maupun sebagai manusia biasa. Endapan itu dihimpun dari nilai: Jawa, Barat, dan Kristiani.

Ketetapan hati

Sebagai manusia biasa, ia pernah mengalami berbagai keraguan dan kebimbangan dalam hidupnya, baik saat merintis karier maupun mempertahankan integritasnya sebagai sejarawan.

Dalam kondisi demikian, menurut Sartono, dibutuhkan ketetapan hati berdasarkan keyakinan bahwa “setiap usaha membawa pahalanya sendiri”.

Pada titik-titik kisar seperti itu, peran istrinya, Sri Kadaryati, yang dinikahinya 60 tahun silam, memiliki peran besar.

Bagi Sartono, dalam pembangunan bangsa, sejarawan memberi sumbangan dalam merekonstruksi sejarah nasional sebagai lambang identitas nasional. Fungsionalisasi pelajaran sejarah dapat merevitalisasi nasionalisme pada generasi muda sehingga dapat dijiwai lagi etos nasionalismenya.

Dengan demikian, generasi baru dengan spirit baru dapat menghadapi tantangan masa depan dengan menengok ke belakang sesuai semboyan bahwa melupakan sejarah berarti menutup pintu bagi masa depan.

Hidup dan karya Prof A Sartono Kartodirdjo telah diabdikan untuk “membuka pintu bagi masa depan”. Untuk Sang Teladan: Selamat jalan ke pangkuan-Nya dengan damai!

* M Nursam Alumnus Ilmu Sejarah UGM; Penulis Buku Biografi Sartono Kartodirdjo yang sedang dalam Proses Penerbitan, Tinggal di Yogyakarta. Tulisan dimabil dari Kompas 8 des 2007.

2 Komentar

Filed under tokoh

In Memoriam Basuki

Basuki, mau melawak tanpa dibayarMeninggalnya pelawak senior Basuki mengingatkan saya alm Benyamin S yang wafat terkena serangan jantung sehabis main bola. Futsal dan Bola sama sama olahraga yang berat untuk orang usia diatas 50 thn.

Berat sekaligus menyenangkan karena permainan itu menuntut partisipasi aktif, kalo sudah mengebu-gebu didepan gawang maka lupa sudah kehabisan nafas, dipaksakan terus.

Akibatnya bisa fatal terutama bagi orang yang jarang melakukannya ditambah pula dengan jarang melakukan general checkup kesehatan sehingga tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit jantung. Penyakit jantung telah merenggut dua pelawak senior kita dengan pemicu yang sama.

Saya bukan dokter dan kalau ada yang tahu bagaimana sebaiknya melakukan general checkup mungkin bisa share.

Buat mas Basuki, seorang yang berasal dari keluarga seniman. Ayah beliau juga seorang pelawak Srimulat yang dikenal dengan nama Pak Pete. Adik beliau mas Ganis juga pelawak, sekarang anak keduanya juga berminat di dunia yang sama. Kalau sedang bermain Wayang Wong beliau selalu mendapat peran punakawan Gareng, sama seperti ayah beliau. Kelucuannya berasal dari spontanitas, bagi saya beliau adalah profil pelawak yang sukses secara paripurna.

Dipanggung tak usah dipertanyakan, di TV sebagai bintang sinteron siapa yang tak tahu tokoh Mas Karyo dalam sinetron Si Doel. Di Iklan, mas Basuki tidak pernah kehabisan ide untuk membuat berbagai jargon komersil yang laku. Jarang ada pelawak yang bisa tampil dibegitu banyak iklan.

Selamat jalan mas Basuki, semoga mendapat tempat yang baik disisiNYA.

3 Komentar

Filed under tokoh

Klarifikasi Yusril

Yusril Ihza MahendraKetika heboh pertama Pak Yusril ngeblog, banyak tulisan tentang beliau di berbagai Blog saat itu yang lebih banyak memberitakan tentang fenomena ngeblog itu sendiri. Atau sekedar ucapan selamat.

Kemudian saya membuat sebuah tulisan tentang kiprah beliau semasa menjadi menteri dikabinet beberapa Presiden dari sisi sikap politiknya. Semula ragu apakah tindakan saya ini terlalu jauh atau tidak, sebab kelihatannya teman teman Blogger masih berbunga bunga dengan adanya seorang tokoh yang mau menjadi Blogger meramaikan dunia kita ini.

Saya pikir cepat atau lambat orang orang akan membahas Pak Yusril dari aspek ini. Tidak mungkin orang hanya berharap tulisan tentang Hukum Tata Negara. Karena itu saya putuskan untuk tetap menulis artikel saya itu. Apapun reaksi teman teman saya akan tanggapi dengan baik.

Benar saja tulisan saya tersebut mendapat tanggapan dari Vavai yang ikut kopdar dengan Pak Yusril dengan kesan kurang nyaman dengan tulisan saya (just a feeling).

Berikut kutipan komentar Vavai:

Sebagai blogger, kita semua tentu senang dengan ketertarikan pak Yusril pada blog ya, Den Demang.

Bukan dari sosok pak Yusril sebagai mantan menteri atau selebriti tapi dari sisi share kemampuan intelektual dan hak jawab atas isu-isu yang berkembang yang terkait dengan beliau…

Vavai punya kebenaran dan saya tidak ingin mendebatnya walaupun orang orang yang ingin membahas Pak Yusril dari sisi lain juga punya kebenaran. Saya tunggu reaksi Pak Yusril sendiri. Beberapa saat kemudian Pak Yusril angkat bicara dengan uraian yang seperti biasa rinci dan lengkap.

Saya sebenarnya tidak sedang menantang intelektualitas beliau tapi hanya sekedar ingin tahu bagaimana seorang Yusril menggunakan Blog sebagai media klarifikasi.

Kemudian saya beri pertanyaan sederhana lagi dan beliau menjawab lagi dengan panjang lebar. Bahkan beliau bolak balik ke Blog saya untuk melengkapi komentarnya. Melihat semangat beliau menjawab saya jadi optimis bakal ada satu contoh bagaimana Blog digunakan sebagai media resmi sumber informasi yang valid.

Tapi perjalanan kearah itu tidak mudah dan belum selesai. Pak Yusril pernah terlibat polemik di situs Indonesia Matters dengan beberapa orang anonymous. Sungguh menghabiskan tenaga. Tapi akhirnya memang semua itu harus dilalui. Berbagai masukan teknis diberi oleh teman teman untuk Pak Yusril yang semangat sekali dengan dunia yang baru dikenalnya ini.

Sampai pada titik ini Blog menurut saya masih dipandang sebelah mata oleh jurnalisme mainstream. Mungkin karena content yang belum berbobot. Memang ada optimisme bahwa content akan semakin baik.

Parameter saya untuk bisa dianggap baik adalah bila media mainstream sudah tidak ragu untuk menjadikan Blog sebagai rujukan. Tapi butuh waktu berapa lama kalau harus menunggu blogger biasa bisa tampil seperti itu?

Saya belum pernah lihat media mainstream di Indonesia memuat berita dengan menggunakan Blog sebagai rujukan. Yang pernah saya baca berita tentang Blog adalah fenomena Blogger atau Blogging. Paling banter berita tokoh si anu ngeblog.

Kebanyakan tokoh enggan untuk tampil di Blog apalagi sekelas Pak Yusril. Kalaupun hadir di Blog, mereka hanya menggunakan Blog sebagai media repository pikiran atau tulisan saja. Padahal kalau mau dan tahu cara menggunakannya maka Blog bisa digunakan sebagai alat yang cukup bisa diandalkan.

Pak Yusril telah memposting sebuah artikel dengan judul MASALAH “UANG TOMY” DI BANK PARIBAS. Menurut saya artikel itu bisa dijadikan rujukan resmi untuk dikutip oleh media mainstream. Kita baru akan memasuki sebuah era baru dalam dunia Blog. Jika terjadi apa yang saya harapkan maka banyak tokoh akan melihat Blog dengan cara yang berbeda.

Harapan saya adalah dengan tampilnya Pak Yusril berikut klarifikasinya bisa mempercepat proses tumbuhnya kepercayaan masyarakat akan Blog. Juga tentu saja tidak lagi dipandang sebelah mata oleh jurnalisme profesional.

17 Komentar

Filed under tokoh

Senjata Baru Yusril: Blog

Yusril Ihza MahendraYusril Ihza Mahendra mantan menteri diberbagai kabinet pemerintahan Indonesia ini sekarang memiliki Blog. Pakar ilmu Hukum Tata Negara yang masih gagah ini memutuskan untuk ngeblog setelah menjadi pengangguran alias dipecat jadi menteri pada kabinet SBY.

Harun Al Rasyid, foto dari MetroTvNews.comTidak banyak tokoh akademis yang memiliki kecakapan dalam bidang politik. Contohnya adalah Prof Harun Al Rasyid yang tone suaranya selalu mirip orang bertengkar itu. Pak Harun sebagai pakarpun dalam debat debat di TV masih belum bisa benar benar mengatasi Prof Yusril dalam hal akademis apalagi dalam hal manuver politik.

Pak Yusril ini punya naluri politik yang jitu, terbukti dari karir politiknya yang meroket dari hanya staff ahli sekertariat negara di kabinet terakhir Orde Baru kemudian jadi Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Kabinet Persatuan Nasional Tahun 1999-2001 (jaman Presiden Gusdur), kemudian menjadi Menteri Kehakiman dan HAM Kabinet Gotong Royong Tahun 2001-2004 (jaman Presiden Megawati), dan terakhir menjabat sebagai menteri Sekretaris Negara Kabinet Indonesia Bersatu 2004-8 Mei 2007 (jaman Presiden SBY).

Semua itu dia raih tidak dalam posisi politik mayoritas mutlak. Ciri manuvernya adalah masuk sebagai teman tapi keluar sebagai bukan teman. Saya rasa semua politisi harus selalu mulai masuk sebagai teman, kalau tidak maka tentu tidak akan diangkat jadi menteri. Kalau sudah masuk maka konsekuensinya adalah jadi teman sampai akhir.

Pada sebuah pergantian kekuasaan biasanya yang menang adalah selalu musuh yang kalah. Maka teman teman si kalah tentu tidak akan direkrut jadi menteri. Mantan penguasa periode yang lalu umumnya berada dikelompok si kalah ini.

Jadi kalau sudah pernah jadi menteri di kabinet si kalah maka tidak akan jadi menteri lagi di kabinet si pemenang. Kecuali jika dia seorang teknokrat-murni yang tak tergantikan. Jaman reformasi sekarang ini sudah tidak ada lagi orang model begini, yang ada adalah teknokrat-politisi.

Maka untuk menjadi menteri diberbagai kabinet secara berturut turut adalah sangat sulit. Apa yang ditunjukan oleh Pak Yusril adalah suatu manuver politik yang sangat brilian.

Beliau punya skill administrasi yang unggul yaitu pakar Hukum Tata Negara. Kemudian beliau punya partai politik (PBB) yang bisa menjadi advokatnya di parlemen. Tapi itu saja tidak cukup. Perlu manuver politik yang canggih yang bisa menzigzag kaidah klasik tentang posisi menteri di kabinet.

Kalau kita lihat manuver beliau secara outline apa yang dilakukan oleh Pak Yusril adalah masuk sebagai teman pemenang tapi tidak perlu jadi teman sampai akhir. Menjelang akhir perlu perubahan arah. Kemana arahnya?

Biasanya suatu pemerintahan menuai banyak harapan, sokongan dan dukungan dari publik bahkan dari lawan politik di masa masa awal pemerintahan. Tapi akan menuai banyak kritikan dan kecaman ditengah jalan dan apalagi diakhir masa pemerintahan, terutama dari lawan lawan politik.

Padahal para lawan lawan politik tersebut adalah para kandidat pemenang diperiode berikutnya. Maka perlu suatu investasi politik untuk menjadi teman lawan politik pemerintah (baca: calon pemenang periode berikutnya).

Tentu ada tekniknya supaya tidak terkesan pengkhianat atau oportunis. Salah satu tekniknya adalah memainkan peran sosok teraniaya. Manuver sosok teraniaya ini sangat ampuh. Sudah terbukti waktu SBY melompat pagar kabinet Megawati yang membuat Taufik Kemas menjadi geram dan memicu politisi lain untuk mencaci SBY maka serta merta simpati publik mengalir deras dan dimanfaatkan dengan baik hingga menghantar SBY ke kursi Presiden.

Pada Pak Yusril tidak sedramatis itu. Manuver peran sosok teraniaya terlihat waktu semua orang mengecam Gusdur untuk lengser. Untuk protes dengan cara mundur sebagai menteri saja kurang bisa memberi dramatisasi. Maka cara Pak Yusril adalah tetap ikut menuntut Gusdur mundur seperti layaknya lawan politiknya tapi tidak mau mundur sebagai menteri.

Gusdur jadi rikuh, mau dipecat nanti akan menimbulkan efek sosok teraniaya yang sangat bermanfaat bagi Pak Yusril. Tapi kalau dibiarkan akan merecoki rapat kabinet yang dihadiri Pak Yusril. Dimohon supaya mengundurkan diri Pak Yusril tetep tidak mau. Akhirnyakan Pak Yusril diberhentikan tapi Pak Yusril tidak mau dibilang diberhentikan, maunya dibilang dipecat. Ini untuk memperkuat kesan teraniaya. Inilah investasi politik.

Selain dari itu banyak lagi investasi politik Pak Yusril diantaranya pernah maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden di parlemen, waktu itu yang jadi presiden akhirnya Gusdur. Investasi penting lain adalah berperan penting pada pengunduran diri Pak Harto sebagai konseptor surat pengunduran diri Pak Harto.

Investasi konseptor surat pengunduran diri Pak Harto ini penting untuk bisa masuk ke kabinet Gusdur. Kemudian investasi dipecat dari kabinet Gusdur penting untuk bisa masuk ke kabinet Megawati. Apakah investasi politik itu saja sudah cukup? Belum juga, karena masih dibutuhkan naluri yang tajam untuk mengendus SBY yang bakal keluar sebagai pemenang dipilpres yang lalu.

Keadaan terakhir memang agak beda. Mungkinkah Pak Yusril terpeleset dengan KPK masa kepemimpinan Taufiequrachman Ruki? SBY tidak mau serampangan, tidak mau menjadikan Pak Yusril sebagai pendekar liar yang berbahaya di kemudian hari. Walaupun sekarang dia sudah bebas dan mulai mengelus elus sebuah Blog.

Rika Kato istri Pak YusrilSekarang kalau dilihat pola permainan politik “masuk sebagai teman dan keluar sebagai bukan teman” maka Pak Yusril sekarang sedang dalam manuver yang kita tunggu saja bagaimana beliau melakukan finishing touch 2009.

Sesunguhnya Pak Yusril ini adalah idola saya. Cemerlang didunia akademis. Beliau mengidolakan Pak Natsir yang juga idola saya. Beliau bermain “cantik” dipanggung politik hingga bisa menjabat menteri hingga tiga kali dalam atmosfer politik yang sangat dinamis. Beliau beristrikan seorang Rika Kato yang cantik (halah… gak penting juga). Dari semua itu yang paling penting adalah beliau selalu punya jawaban logis atas suatu permasalahan. Sekarang beliau seorang blogger. Ah seandainya dulu waktu masalah AFIS dan Bank Paribas London Pak Yusril sudah punya Blog maka lain ceritanya.

Bagaimana Blog berperan dalam menunjang karir politik Pak Yusril? Mari kita duduk manis dan menonton sang maestro bermain. Kalau tidak mau melihat dari sisi politik maka mari kita anggap Blog Pak Yusril sebagai Blog seorang akademisi, saya rasa Pak Yusril lebih setuju dengan yang terakhir.

Tapi kalau dianggap Blog seorang Yusril saja juga tidak apa apa kan? Melihat bagaimana Pak Yusril sudah menggunakan komentar di Blognya Vavai dan Priyadi untuk melakukan klarifikasi beberapa isu maka sesungguhnya Blog sudah berperan sebagai media penerangan (duh kaya pemerintah ajah). Sekarang Pak Yusril gak perlu risau kalau ada wartawan yang salah kutip.

Sebelumnya mohon maaf dengan analisa saya yang cablak, itu cuma gaya bahasa, peace ah…

30 Komentar

Filed under politik, tokoh

Tantangan Menkominfo

Menkominfo, diambil Flickrnya Satya WitoelarPidato Pak Menteri terasa agak bertele tele waktu membuka acara pesta blogger membuat blogger disebelah saya mulai menggerutu, “ah pake mbahas namanya mas Enda segala”

…bla bla bla pidato dan sampai pada tantangan yang membuat para blogger tertawa. Pak Menteri memberi tantangan untuk membuat lagu theme song blogger. Ide tantangan itu terasa agak organisatoris akademis klimis (halah opo toh maksute…). Semacam hymne perguruan tinggi gitulah. Maklum mantan rektor.

Waktu ide itu pertama kali disampaikan sebenarnya sudah terasa agak aneh. Banyak blogger yang tertawa tapi gak berani kenceng kenceng (takut gak diresmiin acaranya kali). Seorang yang duduk dibelakang saya bergumam “lagu bakal apaan???”.

Semakin lama semakin terasa aneh. Sewaktu saya baca diblog blog yang memuat liputan pestablogger hampir selalu memuat tantangan Pak Menteri ini. Buat saya lagu sih baik baik saja tapi secara manfaat teknis yang bisa membuat blogger Indonesia lebih terpacu apa yah?

Apa karena kalau tantangannya adalah membuat bandwidth murah atau komputer murah untuk para guru ngeblog maka yang kebagian kerja adalah justru pemerintah juga sedangkan kalau bikin lagu kan pemerintah gak usah ikut ikut.

Tapi gak usah berburuk sangkalah. Kalau memang gak mau terlibat dengan rumitnya masalah bandwidth dan komputer murah kan bisa aja tantangannya adalah membuat Blog Engine asli Indonesia misalnya.

Apa karena pak Menteri ragu bahwa orang Indonesia cuma bisa bikin lagu bagus dan belum mampu bikin Blog Engine yang bagus? Dicoba dulu atuh Pak, apalagi kalau di iming-imingi hadiah.

Jadi kalau pak Menteri sempet baca artikel ini mohon dipertimbangkan perubahan tantangan itu dari membuat lagu menjadi membuat Blog Engine. Saya rasa banyak blogger yang lebih suka melihat keberadaan Blog Engine baru buatan Indonesia daripada lagu baru buatan Indonesia.

Sebelumnya maafkanlah saya, mungkin saya ini Blogger kualat. Sudah dikasih hari Blogger nasional tapi masih mau kritisi Menkominfo.

13 Komentar

Filed under tokoh