Category Archives: sejarah

Makna Status Pahlawan

Dalam moment hari pahlawan tahun ini pemerintah menggangkat Bung Tomo dan Pak Natsir sebagai Pahlawan Nasional. Apa makna pengangkatan Bung Tomo sebagai pahlawan bagi masyarakat? Saya rasa tidak terlalu besar. Sebagian masyarakat malah heran, bukannya Bung Tomo memang sudah pahlawan?

Untuk sebuah pertempuran dahsyat selama 21 hari yang memakan korban hingga 15 ribu jiwa yang sebagian besar adalah rakyat dan terjadi secara frontal dan bukan gerilya, menunjukan keberanian dan tekad rakyat Soerabaja untuk mempertahankan kemerdekaan, maka tokoh sentral dalam kejadian tersebut telah terbingkai dihati rakyat sebagai Pahlawan sejati.

Inggris terpaksa harus menerima kecaman keras dari dunia International. Kehilangan besar dan malu buat Inggris yang selama perang dunia kedua tak pernah kehilangan seorang jendralpun, kini harus kehilangan dua orang Jendralnya.

Sejak awal dan sampai kapanpun Bung Tomo telah berstatus pahlawan di hati rakyat.

Beda dengan Pak Natsir. Kecuali orang Sumatra Barat mungkin mengenal Pak Natsir hanya dari pelajaran sejarah yang tidak akurat. Nama Pak Natsir juga banyak dikenal dikalangan Ummat Islam karena peran beliau sebagai pendiri Dewan Dakwah Islamiyah dan tentu saja sebagai tokoh Masyumi.

Peran beliau dalam sejarah Indonesia sangat erat dengan pandangan ke-Islamannya. Kemudian menjadi landasan pandangan pada perjuangan Islam Indonesia kedepan. Beliau pernah dituduh melakukan pemberontakan dengan terlibat pada pergerakan PRRI.

Menurut Yusril Ihza Mahendra keterlibatan beliau sebenarnya sebagai protes pada Kabinet Djuanda yang dianggap inkonstitusional tapi stigmatisasi sejarah telah menghalangi masyarakat untuk mengetahui sosok Natsir yang sebenarnya.

Beberapa kalangan menilai Natsir ingin mendirikan negara Islam padahal komitmen Natsir pada Pancasila sudah terbukti sejak Mosi Integral yang menyatukan negara negara boneka buatan Belanda menjadi NKRI. Beliau bukan oportunis yang pada saat itu bisa saja membelot dan mendirikan negara sendiri. Mosi Integral merupakan capaian gemilang seorang politisi-negarawan yang akhirnya mengantarnya menjadi Perdana Menteri Indonesia.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah- daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral” dan disampaikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan.

Sumber: Wikipedia

Jaman itu Natsir telah berani kritis pada pemerintahan, sesuatu yang baru akan lumrah terjadi sekarang di era reformasi. Namun akibat yang mesti ditanggung juga tidak kecil, sebuah stigmatisasi sejarah yang membuat para siswa di sekolah mengenal PRRI sebagai gerakan pemberontakan yang mesti ditumpas dengan angkatan bersenjata.

Pak Natsir sangat prihatian melihat negara yang semakin bergerak ke arah kiri dan prihatin pula akan munculnya kediktatoran di bawah Presiden Soekarno. Keprihatinan itu makin bertambah ketika Presiden Soekarno membentuk Kabinet Darurat Ekstra Parlementer di bawah pimpinan Ir. Djuanda. Beliau melihat semua ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap konstitusi dan demokrasi. Sementara di daerah-daerah terus-menerus terjadi berbagai pergolakan yang berpotensi pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada awal Pebruari 1958, Pak Natsir memutuskan untuk bergabung dengan tokoh-tokoh di daerah yang menentang pemerintah pusat yang mereka yakini bersifat inkonstitusional itu. Dari pertemuan Sungai Dareh lahirlah ultimatum untuk membubarkan pemerintah Djuanda dan membentuk pemerintahan baru yang dipimpin Mohammad Hatta.

Kalau lima kali dua puluh empat jam ultimatum tidak dipenuhi, maka mereka akan menempuh jalan sendiri dan tidak mengakui keberadaan dan keabsahan pemerintah pusat. Inilah awal lahirnya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Tengah, sebagai pemerintahan tandingan. Pak Natsir ingin agar persoalan ketidaksahan pemerintah pusat itu segera diakhiri, dan dengan begitu setiap saat mereka dengan sukarela akan mengakhiri keberadaan PRRI.

Sumber: Yusril Ihza Mahendra

PRRI adalah sebuah gerakan koreksi atas tidak seimbangnya pembangunan di Pusat dan di Daerah. Semangat dari gerakan koreksi ini menjadi inspirasi untuk mencari solusi atas ketimpangan pembangunan Pusat-Daerah yang kini dikenal dengan istilah Otonomi Daerah. Sebuah perjuangan yang visioner untuk NKRI.

Makna status Pahlawan Nasional bagi Pak Natsir adalah pelurusan atas sebuah stigma sejarah yang telah terjadi puluhan tahun. Kini Pak Natsir telah menempati tempatnya yang seharusnya.

Tidak demikian dengan tokoh yang lain yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional tahun lalu (2007). Beliau adalah Anak Agung Gde Agung yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya dalam hal diplomasi dari negara boneka Belanda menuju Republik Indonesia Serikat (RIS)

Beliau adalah salah satu Perdana Menteri negara boneka Negara Indonesia Timur (NIT) yang mendukung RIS dan masuk Irian Barat ke RI. Dari perannya inilah mungkin pemerintah mempertimbangkannya masuk sebagai Pahlawan Nasional.

Padahal apa yang terjadi sebelumya pada tahun 45-46 adalah sebuah pengkhianatan yang tak mungkin bisa dilupakan oleh rakyat Bali.

Betapa tidak, AA Gde Agung adalah seorang Raja dari Puri Gianyar Bali yang pada masa perjuangan secara tegas dan frontal berpihak kepada Belanda. Puri Gianyar memiliki sebuah kesatuan tempur lokal yang bernama PPN (Pemuda Pembela Negara).

PPN ini bersekutu dengan NICA dan bergerak secara aktif langsung di bawah komando AA Gde Agung menjadi pelopor serdadu NICA dalam menggempur gerakan para pejuang.

Setelah mendapat bantuan senjata lengkap dari NICA, PPN menggempur gerakan organisasi pemuda PRI (Pemuda Republik Indonesia). Dengan persenjataan yang lebih lengkap dan modern PPN berhasil mematahkan perlawanan PRI dan menangkap pimpinan PRI; Wayan Dipta, kemudian membunuhnya dengan cara yang keji.

Menurut kesaksian seorang pejuang Nyoman S Pendit yang ditulisnya dalam buku Bali Berjuang hal 145: PPN menangkap Wayan Dipta lalu mengkuliti kepalanya dan anggota badannya diiris-iris sebelum kemudian ditembak mati. Suatu perlakuan keji yang sangat menyakitkan hati para pejuang.

Pengkhianatan beliau tersebut menjadi faktor penting penolakan rakyat Bali atas diangkatnya AA Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional. Makna status Pahlawan Nasional pada AA Gde Agung adalah penghinaan atas perjuangan I Gusti Ngurah Rai, rakyat Bali dan seluruh pejuang kemerdekaan pada umumnya.

Pelurusan sejarah akan selalu menemukan jalannya…

Petisi Online: http://www.petitiononline.com/gdeagung/petition.html

1 Komentar

Filed under sejarah

Misteri Andaryoko vs Supriyadi

Sumber: Naskah milik Teguh Budi Santoso. Foto milik Detik.

Kebetulan kemaren saya mendapat pinjaman buku Mencari Supriyadi karangan sejarawan Sanata Dharma, Baskara T Wardaya yang isinya ternyata hanya transkrip wawancara Baskara dengan Andaryoko yang mengaku dirinya sebagai Supriyadi, pahlawan PETA Blitar – Terus terang, sebenarnya saya berharap buku telaah yang lebih cerdas. – Saya punya kebiasaan membaca cepat, dan demikianlah, sejam kemudian buku itu sudah khatam.

Dalam sepertiga isi buku, sudah gugur harapan saya akan hadirnya sebuah terobosan penting dalam penulisan sejarah Indonesia modern. Andaryoko bukanlah Supriyadi. Semula kemunculannya saya pikir bisa menjelaskan beberapa celah yang belum tertulis dalam sejarah kenegaraan kita, tapi ternyata tidak. Justru, ia membuka jalur sejarah baru yang sama sekali berbeda dengan mainstream yang sudah ada. Sesuatu yang nyaris muskil.

Ada 3 poin paling penting mengapa saya yakin Andaryoko bukanlah Supriyadi.

1) Pengakuannya bahwa setelah ditunjuk sebagai Menteri TKR dalam pengumuman Kabinet I, ia tidak serta merta menghilang. Saat itu, Andaryoko (sebagai Supriyadi) berada di sekitar Bung Karno. Ia bahkan ikut dalam sidang-sidang kabinet pertama.

Termasuk mengusulkan perubahan nama TKR ke TRI (saat saya cek, perubahan dilakukan 25 Januari 1946). Ia juga sempat ‘cuti’ ke Semarang dan ambil bagian dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang.

Ia baru menghilang dari panggung setelah merasa tidak sreg menjadi pejabat publik dan merasa lebih cocok di balik layar. Sementara mundur dari menteri, ia masih mempergunakan nama Supriyadi.

Barulah setelah KMB 1949, ia benar-benar menenggelamkan diri dari panggung politik negara dan mengubah namanya menjadi Andaryoko seperti yang sekarang.

Nah pertanyaan, betapa banyak orang yang mesti terlibat konspirasi menyembunyikan identitas Supriyadi untuk sebuah alasan yang bahkan tidak jelas hingga saar ini. Coba cek seluruh cerita atau biografi para pelaku sejarah di jaman dimana Supriyadi eh Andaryoko mengaku berkiprah, tidak ada satu pun yang menyebut kemunculan Supriyadi.

Apa iya satu kabinet plus orang-orang di ring I presiden ketika itu harus berbohong semua sampai sekarang? Kalau iya, tentu harus ada alasan yang sangat hebat sehingga kerahasiaan kehadiran Supriyadi bener-benar patut dijaga.

2) Andaryoko menyebut Panglima TKR Jenderal Sudirman (yang notabene pengganti dirinya) dipilih oleh Presiden Soekarno langsung. Mulanya, Soekarno menawarkan posisi itu pada Oerip Sumohardjo yang merintis pengorganisasian TKR di masa awal berdirinya.

Namun, Oerip tahu diri. Selaku bekas mayor KNIL, ia merasa bila ia menjadi panglima TKR justru dialah titik terlemah tentara Indonesia. TKR hanya akan dipandang boneka Belanda, mengingat masa lalunya. Ini berbahaya untuk soliditas tentara. Itu tadi kata Andaryoko.

Namun sejarah menulis tidak begitu. AH Nasution, Sudirman, TB Simatupang dan banyak pelaku sejarah lainnya, tak pernah menerbitkan versi seperti yang dikemukakan Andaryoko.

Yang ada adalah, Oerip yang jengkel karena panglimanya (Supriyadi) tak pernah muncul, berinisiatif mengumpulkan para komandan divisi dan resimen se Jawa dan Sumatera (Juga setelah sosok Soeljadikoesoemo yang diangkat sebagai menteri keamanan ad interim ditolak tentara). Konperensi diadakan 12 November 1945.

Agendanya, selain soliditas TKR juga untuk memilih panglima TKR yang baru, yang akhirnya memilih Sudirman, Panglima Divisi 5 Banyumas. Ingat, pertemuan ini ada risalahnya dan dokumentasinya, sebagaimana yang dikutip dalam biografi Tjokropranolo, bukan sekadar statemen lisan.

3) Andaryoko mengaku baru pertama kali bertemu dengan Soekarno, pada Mei 1945 di rumah Soekarno di Jakarta. Saat itu, ia sudah 3 bulan dalam pelarian selepas pemberontakan PETA Blitar.

Soekarno dalam bukunya Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams, nyata-nyata menyebut Supriyadi dan rekan-rekannya beberapa hari sebelum pecahnya pemberontakan PETA Blitar mendatanginya di Ndalem Gebang, Blitar.

Kala itu, Soekarno sedang pulang kampung menengok ibunya yang baru ditinggal mati ayahnya. Supriyadi bermaksud minta dukungan Soekarno selaku pemimpin PUTERA, organisasi propaganda pribumi resmi bentukan Jepang untuk melakukan perlawanan besenjata. Sebuah upaya yang ditampik Soekarno.

Di luar 3 hal pokok tersebut masih ada detail-detail yang lain, yang saya nilai pengakuannya kurang meyakinkan namun masih bisalah diperdebatkan;

  • Pengakuannya bahwa ia lari ke selatan Blitar. Sementara dalam buku seorang shodanco PETA (saya lupa) yang ikut terlibat pemberontakan Blitar dan terbit 1959, Supriyadi cs lari ke utara. Hanya Shodanco Dasrip yang terpisah.
  • Pengakuannya, bahwa dialah sosok bercelana pendek dalam foto pengibaran bendera pusaka usai proklamasi 1945. Sedikitnya ada 3 orang yang diakui/mengakui sebagai sosok tersebut. Sejarah resmi menyebut Suhud. Sementara pengakuan mutakhir, selain Andaryoko ada Letkol Ilyas Karim (masih hidup).
  • Pengakuannya bahwa dialah yang memperkenalkan Ny Hartini Soewondo pada Soekarno saat kunjungan ke Salatiga. Rosihan Anwar justru memperoleh cerita lain dari Hartini. Hartini bilang saat itu ia berusia 28 tahun dan sudah menjanda dari Soewondo. Sebelumnya ia sudah mengenal Kolonel Gatot Subroto, pangdam Diponegoro. Dari Gatot lah ia dikenalkan oleh Soekarno dalam sebuah peresmian masjid di Salatiga.

Lalu siapa Andaryoko? Saya tidak tahu pasti. Tapi dokumen yang dimilikinya, pengetahuannya (dalam beberapa hhal) yang cukup bagus soal detail sejarah dan pengakuan orang yang mengenalnya (paling penting dari Wilardjito), jelas menunjukkan ia orang dekat Soekarno di masa lalu. Mungkin nama masa lalunya adalah Supriyadi, tapi bukan Supriyadi yang dikenal sebagai tokoh pemberontakan PETA.

Meski begitu, misteri memang belum terjawab tuntas. Hal yang paling mendasar adalah mengapa Soekarno dan Hatta mencantumkan nama Supriyadi sebagai menteri keamanan rakyat pada 6 Oktober 1945? Peristiwa Blitar terjadi Februari 1945. Ada jeda waktu 8 bulan untuk memastikan apakah Supriyadi benar-benar sudah meninggal ataukah memang masih hidup.

Kalau Soekarno-Hatta akhirnya memutuskan menyebut nama Supriyadi sebagai menteri, hanya ada 2 kemungkinannya. 1) Presiden-Wapres mengetahui secara pasti bahwa Supriyadi memang masih hidup. 2) Presiden-Wapres mendengar isu Supriyadi masih hidup namun tak bisa memastikannya. Namanya ditetapkan sebagai menteri dengan pertimbangan efek psikologis perjuangan, mengingat Supriyadi telah populer sebagai tokoh yang berani melawan penjajah Jepang.

Kalau Andaryoko bukan. lantas siapa dan dimanakah Supriyadi?

30 Komentar

Filed under sejarah

When Made Meet Astri

Roland dan ayahnya berdebat. Propaganda Jerman yang mengatakan pendudukan Jerman bukan untuk menaklukan Belanda tapi hanya untuk membuka jalan pasukan Jerman menyerbu Inggris, didebat habis habisan oleh Roland.

Tentara Jerman yang tidak terlalu menghiraukan kegiatan sipil dan hanya fokus pada kegiatan mobilisasi militer membuat orang orang tua seperti ayahnya Roland mulai percaya propaganda tersebut.

Mahasiswa kedokteran seperti Roland yang cerdas dan realistis melihat pemboman terhadap Rotterdam beberapa waktu yang lalu telah membuktikan kebohongan NAZI.

Made berusaha menengahi dengan mengatakan orang tua tak usah terlalu didebat, mereka hanya ingin hidup tenang. Tapi kelihatannya Roland telah terbawa emosi dan berpendapat dengan membiarkan pandangan yang seperti itu berarti telah membuat propaganda Jerman semakin dipercaya.

Made tak mau berdebat dengan kakak kelasnya itu. Ibunya Roland kemudian datang menyejukan suasana yang memanas dengan menghidangkan teh dan kue. Roland kemudian mengambil biola dan ayahnya mengangkat Celo untuk memainkan quartet Schurbet dan Beethoven, melupakan perang untuk sesaat.

Waktu berlalu. Invasi ke Inggris tak membawa hasil seperti yang diharapkan Jerman. Di timur: Rusia gagal diduduki dan justru memakan banyak korban prajurit dan peralatan dipihak Jerman. Di selatan: Perancis memang berhasil ditaklukan tapi gagal masuk ke Mesir.

Kasak kusuk perlawanan clandestine mulai muncul. Terutama di kampus kampus. Gestapo (polisi rahasia NAZI) semakin represif. Pengejaran terhadap warga Yahudi semakin gencar. Bahkan sudah masuk ke kampus kampus untuk pemeriksaan.

***

Pada perkuliahan Public Health oleh Prof Charlotte Ruys yang membosankan terdapat jeda istirahat untuk kemudian dilanjutkan pada 2 jam berikutnya. Ketika jeda istirahat tiba tiba Made menyadari kalau ia belum mengambil ration card nya yang baru.

Semula Made ingin mengambilnya setelah 2 jam perkuliahan Prof Charlotte berikutnya namun ia tak mau ketinggalan kuliah Parasitology Prof Swellengrebel yang menyenangkan.

Ditambah hari itu adalah hari Sabtu dimana kantor Rationing akan tutup siang hari maka Made memutuskan untuk pergi mengambil ration card pagi itu juga ke pusat kota Amsterdam.

Bolos satu jam tak apalah pikirnya. Setelah antri beberapa lama Made segera tancap sepedanya kembali ke kampus supaya tidak telat.

Sekitar 300 meter sebelum sampai auditorium Tropical Institute, Made dicegat oleh seseorang yang ia tak tahu namanya tapi kenal wajahnya sebagai kakak kelas.

Kakak kelas itu memberi tahu jangan mendekati ruang auditorium. Walaupun ia mengatakannya dengan santai dan pelan tapi dari wajahnya terlihat ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Dia memberi kode Made untuk mendekat. Setelah cukup depat kemudian orang itu berbisik, “Gestapo telah menangkapi temen teman kita. Mereka mengangkut para mahasiswa ke dalam truk, lihatlah…”.

Terlihat truk menghilang dibalik tikungan dengan bak belakang yang tertutup terpal. Made dengan polos bertanya, “Apa salah mereka?”. “Tak ada, kamu beruntung tak sedang berada disana”, jawabnya.

“Mungkin mereka mencari prof Charlotte Ruys”, katanya lagi. Made teringat, prof Charlotte Ruys pernah terdengar mengorganisir perlawanan terhadap pendudukan Jerman.

Made masih penasaran dan bertanya lagi, “Apa kira kira yang akan mereka lakukan pada teman teman kita?”. Orang itu menjawab, “Tak ada yang tahu, mungkin dipaksa jadi pekerja pabrik di Jerman atau Polandia, saya sangsi mereka akan selamat”.

Perasaan takut mulai menjalar keseluruh tubuh Made sementara mahasiswa lain yang tak tertangkap berkumpul disekitarnya ikut mendengarkan.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”, tanya Made dengan gusar. Kakak kelasnya itu menarik nafas panjang lalu berkata, “Untuk sementara tak ada yang bisa dilakukan. Shh… mendekatlah kalian semua, dengar baik baik. Mulai saat ini tak usah kuliah lagi, mungkin juga tak akan ada perkuliahan. Semalam beberapa profesor telah ditangkapi, mungkin hari ini mereka mencari prof Charlotte Ruys. Sekarang tak usah banyak tanya, menghilanglah dari sini secepatnya. Jangan bergerombol, hati hati kalau bicara.”

Made kembali ke tempatnya indekos di selatan Amsterdam dengan gundah gulana, tak memahami situasi dan penuh pertanyaan dikepalanya. Tempat kostnya di rumah seorang janda tua yang sangat baik dan Made tinggal dalam sebuah kamar yang nyaman.

Made memutuskan tak usah makan siang di kantin kampus. Perasaan takut masih menyelimutinya. Ketika hendak keluar makan siang, ibu kost memberinya sepucuk surat. Katanya dari temannya tapi tak menyebut nama dan ciri ciri yang disebut ibu kost tak dapat dikenali Made.

Surat itu berbunyi, “Jangan tidur di rumah malam ini. Hancurkan surat ini segera!”

Setelah membakar surat itu Made duduk terduduk dikamarnya. Pikirannya melayang, memikirkan hubungannya antara kejadian tadi pagi di kampus dan nasihat kakak kelasnya. Tapi kenapa dirinya, dan bagaimana mereka tahu alamatnya.

Made kemudian pergi ke UNICA house. Dalam perjalanan yang terlintas dalam pikiran Made pastilah sudah ada yang mengorganisir dari para mahasiswa sehingga mereka tahu semua data tentang mahasiswa. Mungkin juga ada hubungannya dengan daftar mahasiswa yang menolak menandatangani “Declaration of Loyalty” kepada Jerman.

Di UNICA house Made bertemu mahasiswa mahasiswa yang lain yang juga mendapat surat yang serupa. Oleh tukang bersih bersih di UNICA house yang biasa dipanggil Mevrouwtje, Made ditawari tempat menginap.

Made tidur diruang tamu Mevrouwtje. Keesokan harinya Made ingin balik ke kost untuk ambil barang-baranganya. Mevrouwtje khawatir dan menyarankan tak usah ke kost, berbahaya katanya.

Made nekat balik ke kost dan janji tak akan lama. Setelah sampai di kost betapa kagetnya dia melihat kamarnya sudah diacak-acak. Ibu kost yang sudah tua renta itu menangis ketakutan dan mengatakan semalam ada orang mencari mahasiswa mahasiswa yang kost.

Made berpikir apa yang salah. Ia tak pernah ikut kegiatan terlarang atau perlawanan terhadap Jerman. Apakah karena namanya yang aneh bagi orang Eropa sehingga namanya masuk daftar orang yang dicari Gestapo.

***

Made segera kembali rumah Mevrouwtje dan mendapati adik kelasnya Was. Ia membawa seseorang bernama Henk yang akan bersembunyi ke pedalaman karena Henk seorang Yahudi.

Merasa senasib Made ikut. Dalam perjalanan di kereta api tiba tiba ada dua orang berseragam duduk didepan mereka bertiga dan kedua orang tersebut mirip agen Gestapo.

Si Henk yang Yahudi itu pucat pasi tapi tertutup koran karena ia pura pura baca koran. Made berusaha santai tapi tak berani melihat ke arah dua orang itu. Sepuluh menit hingga pemberhentian berikutnya terasa sangat lama. Menjelang tiba di pemberhentian berikutnya tanpa menunggu kereta benar benar berhenti mereka bertiga segera loncat turun dari kereta.

Made ke desa Oud Bussem untuk bersembunyi di rumah teman lamanya Tamme sedangkan Was dan Henk melanjutkan perjalanan menuju ke persembunyiannya di tempat antah berantah yang tak seorangpun tahu.

Beberapa lama di Oud Bussem Made pindah tempat persembunyian ke Boeschoten, tempat yang lebih tidak terpencil agar ia bisa sambil belajar. Dalam perjalanan dari desa Oud Bussem ke desa Boeschoten melalui jalan setapak memang aman dari tentara Jerman tapi tidak dari banteng liar yang sempat mengejarnya hingga Made jumpalitan dari sepeda ontelnya.

***

Beberapa lama di Boeschoten dan Made sangat menikmati harinya karena dianggap keluarga sendiri orang keluarga Van der Walls, pemilik rumah tempatnya bersembunyi.

Pada suatu pagi Made menerima surat dari Hans Rhodius. Made sempat heran dari mana Hans tahu tempat persembunyiannya. Hans adalah seorang pengacara terkenal yang sempat mengunjungi Bali dan Jawa sebelum perang.

Jatuh cinta dengan keindahan Bali, dimana Hans terpesona oleh lukisan pelukis Jerman, Walter Spies. Sekembalinya ke Amsterdam, Hans mengorganisir pertemuan budaya dan mengundang mahasiswa Indonesia di Amsterdam untuk menjadi pembicara atau untuk tampil.

Hans diberitahu bahwa ada mahasiswa Bali yang kuliah di Amsterdam. Made dikenalkan ke Hans dan pernah tampil sekali sebagai pembicara tentang budaya Bali pada acara malam budaya di kastil Hans yang mewah. Hubungan yang sangat berkesan. Setelah perang mereka lepas kontak.

Karena itu Made sangat kaget menerima surat Hans. Isi surat itu lebih mengagetkan lagi, “Made, saya telah mencari tempat yang lebih baik untukmu. Sebuah tempat yang bisa buat bekerja sekaligus melanjutkan studi. Pergilah ke Rumah Sakit Umum di Almelo. Temui temanku Dr Rethmeyer disana, dia sudah kuberi tahu tentang dirimu. Hancurkan surat ini setelah membaca”.

Sepeda ontel kembali menghantarnya ke Almelo. Satu hari perjalan tak membuatnya lelah. Di pinggiran kota Almelo suasana perang mulai terasa. Serdadu Jerman berbaris di jalanan sambil menyanyikan lagu lagu mars.

Sore menjelang malam Made sampai di RSU Almelo. Rupanya Dr Rethmeyer sudah pulang. Oleh perawat di RS, Made disuruh datang kerumahnya saja. Dr Rethmeyer segera mengenali Made ketika melihatnya celingukan di depan rumah. Made diminta kembali lagi ke RS besok pagi saja. Dr Rethmeyer janji besok akan memperkenalkannya dengan direktur Rumah Sakit yang akan menjadi penyelianya.

***

Senang sudah bertemu Dr Rethmeyer, kini Made tinggal mencari tempat menginap. Hari mulai gelap, Made segera melihat lihat di sepanjang jalan jika ada papan reklame rumah kost yang ada kamar kosongnya.

Ada sebuah toko dipinggir jalan yang ada papan reklamenya. Made ingin coba, siapa tahu bisa buat tempat kost seterusnya kalau cocok.

Setelah pintu diketuk beberapa kali lalu pintu terbuka dan tampak tiga orang berpakaian seragam dengan tulisan N.S.B (Dutch Nazi). Hal yang paling dihindari untuk ditemui.

Terdengar suara, “Kamu mau apa?”.

Made benar benar kaget dan grogi tapi cepat improvisasi dengan menjawab, “Oh maaf, apakah ini rumah Tuan Boon?”.

Pertanyaan yang berisiko karena bisa saja itu memang benar rumahnya Tuan Boon.

Mereka menjawab, “Tidak, kamu salah alamat”.

Lega rasanya dan langsung saja Made menancap sepedanya ngebut meninggalkan rumah itu. Made tiba di RS yang sudah tutup dan hanya bertemu satpam penjaga pintu gerbang. Oleh pak satpam Made ditunjukan tempat kost terdekat dari RS, yaitu tempat keluarga Vermeulens.

Setiba didepan rumah keluarga Vermeulens, Made mengetok pintu rumah tua itu. Terlihat dari jendela ada orang yang mengintip. Seorang gadis dengan wajah pucat. Gadis itu menghilang cepat. Terdengar langkah kaki di balik pintu. Kemudian terlihat wajah orang tua memperhatikannya dengan curiga dari balik jendela.

Khawatir jendela itu ditutup lagi, Made segera bicara, “Saya mau cari tempat kost”. Tiba tiba wajah orang tua itu menjadi ramah, membuka pintu dan mempersilakan Made masuk ke rumah.

Di dalam rumah Made bertemu lagi gadis tadi yang sekarang memandangnya dengan takjub. Made memberi senyum yang lebar tapi tak dibalasnya. Rupanya Made adalah orang berkulit sawo matang dan berambut hitam pertama yang dilihat gadis itu.

Orang tua itu adalah Pak Vermeulens dan gadis itu adalah putrinya yang bernama Tille. Setelah masuk ke kamar dan meletakkan barang-barangnya, Made turun kembali ke bawah untuk makan malam bersama keluarga besar Vermeulens.

“Kau pasti mahasiswa dari jauh. Siapa namamu tadi nak?”, tanya Pak Vermeulens dengan ramah. Made memperkenalkan dirinya dan bercerita panjang lebar tentang Bali yang didengarkan dengan sangat antusias oleh keluarga Vermeulens.

Made merasa nyaman dengan keluarga yang sederhana ini dan akan menjadi tempat tinggalnya selama 8 bulan. Bersama keluarga Vermeulens adalah masa masa paling indah sepanjang Made menyelesaikan studinya di Holland. Di sini pula kelak ia akan mengalami hal tak terduga yang akan merubah total jalan hidupnya.

***

Dr Pannekoek, kepala Rumah Sakit Umum Almelo yang juga seorang internis melakukan test pada Made berdasarkan ujian terakhir yang telah diikuti oleh Made di kampus.

“Okelah, kamu cocok di bagian laboratorium”, kata Dr Pannekoek. Kemudian sambil berjalan menuju laboratorium untuk diperkenalkan pada suster kepala lab, Dr Pannekoek mengatakan, “Kelemahan banyak dokter muda adalah kurang pengalaman di lab, atau sebaliknya terlalu antusias pada hasil lab, sehingga mereka sering kali melakukan test lab yang tidak perlu terhadap pasien.”

Sampai di lab, Made diperkenalkan dengan suster kepala lab yang namanya adalah “Dokter”. Aneh memang tapi “Dokter” adalah nama fam sehingga suster tersebut di panggil suster Dokter.

Suster Dokter kemudian memperkenal semua kru dan peralatan di lab. Sejak saat itu Made tenggelam dalam kesibukan laboratorium yang sangat dinikmatinya.

Made sangat tekun di lab, segala yang diajarkan suster Dokter dapat dikuasainya dengan cepat. Ini membuat Dr Pannekoek benar benar senang mendapat seorang asisten yang cekatan dan cerdas. Made kemudian dipercaya untuk terlibat dalam beberapa proyek penelitian medis Dr Pannekoek dengan jabatan Medical Analyst dan mendapat gaji bulanan. Sementara suasana tinggal bersama keluarga Vermeulens juga sangat hangat dan menyenangkan.

***

Pada suatu pagi ketika Made hendak berangkat ke RS, Pak Vermeulens meminta bantuan untuk nitip sesuatu pada Made.

“Made, saya boleh nitip gak?”, tanya Pak Vermeulens.

“Oh boleh Pak…”, balas Made, “…dengan senang hati”.

“Ini untuk teman kami suster Astri, dia sedang sakit demam, sudah tiga hari dia dirawat”, lanjut Pak Vermeulens.

Pak Vermeulens menyerahkan sebuah toples yang berisi semacam manisan.

“Apa ini Pak, kalo boleh tahu?”, tanya Made.

“Ini cuma manisan cherry yang dibuat istriku”, jawab Pak Vermeulens.

Made berangkat ke RS. Semula Made ingin menitipkannya pada salah seorang suster untuk diserahkan pada suster Astri tapi setibanya di RS para suster sedang sibuk semua dan suster kepala meminta Made untuk menyerahkannya sendiri ke ruang rawat inap tempat suster Astri dirawat.

“Jalan terus dilorong ini, ketemu tangga naik sampe mentok, disana tempatnya”, begitu suster kepala menjelaskan lokasinya. Made naik sampai ke lantai 4, ngos-ngosan sampai didepan pintu masuk ruang kamar.

Di depan pintu kamar ada tulisan, “Do Not Disturb“, membuat Made ragu untuk mengetok pintu. Tapi tak mungkin ia tinggalkan toples itu dibawah pintu begitu saja. Akhirnya Made memutuskan untuk mengetok pintu dengan pelan.

Terdengar suara lemah dari dalam menjawab, ” Yah..? “.

Made membuka pintu dan masuk. Terlihat seorang suster yang sedang sakit duduk di atas ranjang rawat inap. Wajahnya pucat tampak tak sehat. Matanya yang tajam memandang ke arah Made dengan pandangan heran.

Made yang masih ngos-ngosan entah kenapa menjadi salah tingkah dan lupa memperkenalkan diri. Toples yang ia bawa pun tidak diserahkan tapi cuma diletakkan di meja pasien yang sudah penuh dengan makanan.

Made seperti linglung tak tahu harus bersikap apa. Maklum, walaupun pucat karena sedang sakit suster itu cantik. Sementara mata suster tak beranjak memperhatikan tingkah Made.

Karena sudah kepalang basah bertingkah aneh, Made lantas berimprovisasi, pura pura menjadi asisten dokter yang akan memeriksa pasien. Ia lupa kalau pasiennya adalah seorang perawat RS itu juga.

“Jadi bagaimana keadaanmu sekarang? sudah mendingan?”, tanya Made sambil berlagak jadi asisten dokter yang bertugas memeriksa pasien.

Suster Astri tidak menjawab dan wajahnya yang cantik tampak bertambah heran. Made sadar sepenuhnya bahwa ia sudah jadi orang aneh di depan suster Astri. Saking malunya Made lantas ngeloyor tanpa pamit .

Sepanjang hari itu Made terdiam dan tak habis pikir kenapa dia bisa bertingkah aneh seperti itu. Sejak saat itu Made selalu terbayang bayang wajah suster Astri nan ayu rupawan. Tak mau hilang dari pikirannya dan membuat Made menjadi pendiam dan menenggelamkan diri pada kesibukan bekerja.

Suster Dokter memperhatikan perubahan sikap itu dan mencoba mengajaknya ngobrol beberapa kali. Made melayaninya seperlunya lalu lanjut bekerja dengan tekun. Suster Dokter akhirnya tahu dari suster kepala bahwa Made pernah bertemu suster Astri di bangsal lantai 4 untuk mengantar manisan cherry.

Akhirnya suatu pagi suster Dokter sambil bercanda mengatakan, “Aha.. aku tahu sekarang, kau naksir suster Astri yah…?”.

Made kaget setengah mati, “Ah kata siapa? masa sih?”.

Made jadi tambah tidak karuan, mau jenguk lagi, malu, grogi, takut, was-was, tidak PD, segala macam perasaan aneh muncul campur aduk jadi satu.

Setelah suster Astri sembuh, ia ambil cuti beberapa hari untuk pulang ke rumah. Made tak pernah bicara lagi padanya. Tapi pada saat keberangkatan Astri pulang, Made memaksakan diri untuk bilang, “Kirimi aku kartu pos yah?”.

Tentu saja tak ada kartu pos yang Made terima dari Astri. Kenyataan ini membuat Made tak ingin bertemu lagi dengan Astri. Bahkan tak ingin memikirkannya. Astri jarang main ke rumah keluarga Vermeulens. Kalau Astri sedang berkunjung ke rumah Pak Vermeulens maka Made menjadi sangat kikuk, tak tahu harus bersikap apa.

Tak ingin bertemu tapi selalu bertemu jika Astri berkunjung ke keluarga Vermeulens. Made tak tahu apa yang ada di hati Astri. Apakah ia punya perasaan yang sama atau menganggapnya orang asing yang aneh.

Jika Astri berkunjung, Made coba untuk ngobrol tapi lidahnya kelu. Dan ketika Made telah berhasil mengatasi rasa malu dan groginya Made berubah menjadi overacting dan terlalu semangat membahas masalah kedokteran.

Made sangat ingin tahu apa kesan Astri pada dirinya. Tapi Astri semakin jarang datang ke rumah Vermeulens. Ini membuat Made seperti orang gila. Made hanya butuh sedikit kepastian apakah Astri suka pada dirinya atau tidak.

Tak mendapat kepastian yang ia butuhkan, Made mencoba untuk melupakan Astri dengan mencoba mendekati gadis gadis lain di lingkungan kerjanya. Made pernah dekat dengan seorang gadis asisten lab RS Katolik yang punya sebuah perahu layar. Tiap Sabtu mereka naik perahu layar di Twente Rhine Canal. Made jadi lebih sering mengunjungi rumah Dr Rethmeyer dan Dr Pannekoek. Semua itu atas usaha untuk melupakan obsesinya pada Astri.

Semua usaha itu sia sia. Malam hari susah tidur, mimpi buruk, siang hari menghayal, kurang tidur, membuat Made tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Siksaan ini berlangsung selama tiga bulan.

***

Hingga suatu hari pada hari ulang tahunnya, Astri dan suster Dokter datang membawa karangan bunga dan menyanyikan lagu “Happy Birthday“.

Made punya firasat, “inilah akhir dari segalanya…”, tapi segala apa itu Made tak tahu.

Ada event sepeda tandem dan Astri bertanya apakah Made bisa menjadi pasangnya naik sepeda tandem. Tapi sepeda tandem harus di pinjam dari desa Ootmarsum yang tidak terlalu jauh dari Almelo.

Perjalanan menuju desa Ootmarsum sungguh sangat indah pemandangannya. Pagi yang dingin terasa hangat, sinar mentari pagi menerpa pucuk pohon Oak diatas bukit dan langit yang biru dihiasi awan berbaris baris. Tapi tak seindah perasaan hati Made yang berbunga bunga.

Astri lebih menikmati pemandangan ketimbang Made yang menemaninya. Made lebih menikmati wajah Astri ketimbang pemandangan alam disekitarnya.

Sepanjang perjalanan Made selalu berpikir, “punyakah dia perasaan suka seperti aku? sedikit saja tak apalah”. Tiba di Ootmarsum mereka sempat mengunjungi museum arkeologi. Diskusi tentang spesimen langka koleksi museum. Mereka melepas lelah rebahan di rumput dengan kepala keatas hingga yang tampak hanya langit biru dibingkai untaian helai rumput yang tertiup angin.

Dalam perjalanan pulang ke Almelo ditemani langit ungu, “Romance” karya Beethoven menyanyi-nyanyi di kepala Made. Hari demi hari, pertemuan demi pertemuan, hiking dan bersepeda.

Ketika cinta bergelora, Made merasa mampu melakukan apapun. Cinta memompa vitalitas baru dalam hidupnya. Dalam suasana seperti ini Made teringat akan cintanya pada tanah asalnya, pulau Bali.

Hingga suatu hari dipuncak bukit Holter Hill, ketika menikmati pemandangan di bawah bukit.

Astri akhirnya bertanya, “Jadi apa rencanamu tentang kita?”

Made menjawab dengan cepat, “tidak ada…”, dengan cepat pula ia sadar bahwa ia telah berbohong.

Jelas Made punya rencana, tapi apa rencana itu tidak jelas.

Made belum benar benar memikirkan dampak sosial yang harus ia hadapi ketika bersama Astri. Walaupun ia belum mendapat kepastian tentang perasaan Astri kepada dirinya tapi Made merasa yakin dan mampu untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin akan dihadapi.

***

Tiba saatnya Astri harus melanjutkan sekolah kebidanan ke Rotterdam selama 2 tahun. Sebuah sekolah yang sangat ketat dengan jadwal.

Sore hari sebelum keberangkatan Astri ke Rotterdam, mereka menaiki bukit untuk menyaksikan matahari ditelan bumi. Tertawan kedamaian yang dalam ditengah berkecamuknya perang dunia ke II.

Hari telah dipeluk malam ketika untuk pertama kalinya Astri dan Made mengakui cinta telah bersemi dihati mereka. Kenyataan bahwa mereka akan berpisah dan mungkin tak bisa saling bertemu selama dua tahun menyesakkan dada.

Made sadar tengah berada di persimpangan jalan. Ia bisa mengatakan pada Astri bahwa kisah kita telah usai dan menganggap semua ini adalah sebuah kenangan indah yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Astripun mengatakan bahwa ia menerima segala keputusan yang akan diambil oleh Made.

Astri memiliki karir, pendidikan, usia muda, paras yang cantik dan kesempatan untuk memulai pengalaman baru di tempat yang baru bersama yang lain.

Tapi Astri sempat berujar bahwa ia tak akan bersama yang lain. Pengalaman indah bersama Made akan selalu menghiasi hatinya. Sementara Made masih memikirkan, apakah Astri bisa tahan mendampingi dirinya menghadapi ribuan tantangan asing dari dunia timur.

Menyaksikan kereta yang ditumpangi Astri menghilang menuju Rotterdam membuat Made bergetar seperti kehilangan nyawa. Lama Made dan Pak Vermeulens berdiri memandang ke arah kereta yang menghilang itu seolah olah kereta itu akan kembali lagi.

Kesedihan mendalam membuatnya muram dan Pak Vermeulens menghiburnya dengan mengatakan, “kalian masih bisa bertemu dua minggu sekali ketika kamu off”.

Perkataan Pak Vermeulens justru membangkitkan emosi Made. Disekanya air mata yang keluar sambil menghambur ke kamar menghayati perasaanya. Dalam hati Made semakin yakin, “Astri… hanya Astri seorang… iya.. Astrilah orangnya.. yang akan mampu mendampingi hidupku yang berat ini untuk selamanya”.

***

Rindu tak tertahankan membuat Made nekat ke Rotterdam pada saat off pertama sejak ditinggal Astri. Sesampainya di RS Rotterdam Made bertemu dengan satpam penjaga pintu gerbang yang simpatik.

Asrama suster tak menerima tamu pria tapi satpam itu kelihatannya baik dan bersedia membantu. Made janji tak akan datang dua kali karena satpam sudah berkali kali mengingatkan bahwa tamu pria dilarang masuk.

Ketika Made menanyakan nama suster Astri, pak satpam langsung tahu, “oh tahu… siswa baru sekolah kebidanan yang imut-imut itu kan?”, kata pak satpam.

Dengan berjalan berjingkat-jingkat mereka masuk menuju asrama lewat jalan belakang melalui semacam labirin lalu tembus ke sebuah koridor dimana terdapat beberapa siswi sedang mengobrol.

Obrolan terhenti ketika melihat pak satpam dan seorang laki-laki yang masuk ke asrama. Pak satpam lalu memberitahu ke siswi itu untuk memanggil suster Astri. Para siswi itu berlari keatas dengan girang dan heboh memanggil Astri untuk turun.

Astri sangat senang melihat Made datang. Walaupun pertemuan sangat singkat tapi rasanya sangat membesarkan hati. Astri lalu mengatakan lain kali kalau mau datang sebaiknya disinkronkan waktunya dengan off sekolah kebidanan sehingga ia bisa membawa Made ke rumah orangtuanya di Wassenaar.

***

Empat minggu kemudian Made mendapati dirinya telah duduk diruang tamu Pak Piet, ayah Astri di Wassenaar. Orang tua Astri telah bercerai waktu Astri berumur 7 tahun, semua anak anak ikut sang Ibu. Untuk menghidupi keluarga Astri bekerja disebuah toko buku hingga usiannya cukup dewasa untuk bekerja sebagai suster. Namun Astri tetap dekat dengan ayahnya walaupun ayahnya menikah lagi dan punya anak lagi yang masih kecil kecil.

Made penasaran sejauh mana Astri telah cerita tentang dirinya pada ayahnya. Made merasa ayah Astri pasti memandang dirinya dengan penilaian penilaian khusus calon menantu. Tapi kekakuan suasana cepat cair dengan selera humor Pak Piet dan obrolan yang seru. Weekend yang menyenangkan dirumah Pak Piet.

Made tidur diatas kasur tenda untuk camping di sebuah kamar kayu sebelah belakang rumah. Keesokan harinya, pagi pagi Astri datang dengan menggunakan kimono dan membawa secangkir kopi.

Astri membungkuk untuk memberi sebuah ciuman selayaknya selamat pagi. Pada saat membungkuk itu, kimono bagian atas Astri terlepas dan terlihatlah pemandangan indah yang ada didalam kimono Astri oleh Made.

Begitu indahnya… hingga Made tak kuasa menahan tangannya untuk diam. Astripun merah merona di pagi hari yang senyap itu. Made mencicipi indahnya surga dunia.

***

Pada Sabtu berikutnya, mereka janjian untuk bertemu di Hertogenbosch. Dari sana mereka menuju sebuah obyek wisata di desa kecil bernama Oisterwijk. Tempat yang sangat ideal untuk hiking.

Selayaknya orang pacaran mereka jalan jalan sesuka hati, tak memperhatikan arah dan waktu, hingga hari mulai gelap. Mereka baru sadar ketika ingin kembali. Tapi hati mereka lagi senang, tak terlalu khawatir dengan situasi dan justru menikmati petualangannya.

Hingga mereka dikejutkan oleh suara keras, “WERDA“. Mereka terdiam, serius mendengarkan suara apa dan siapa itu. Kemudian terdengar lagi, “WERDA“, diikuti oleh derap kaki teratur sejumlah orang, mirip seperti serdadu yang tengah berbaris.

Mereka mendekati sumber suara dengan mengendap-endap. Terlihat tentara Jerman sedang patroli hilir mudik. Rupanya dekat situ terdapat pos penjagaan perbatasan.

Made mulai panik tapi Astri tetap tenang. Ketenangan Astri menentramkan Made. Mereka menjauh perlahan lahan dan memutuskan untuk menunggu hingga besok pagi untuk mencari jalan pulang.

Tak berani menyalakan api unggun dan untuk mengusir dingin mereka saling berpelukan. Dalam suasana yang gelap, dingin, sunyi dan menegangkan tapi perasaan romantis menghalau semuanya.

Fajar menyingsing, mereka mengandalkan naluri pramuka dalam menemukan jalan pulang. Berkat bantuan sepasang kakek nenek yang rumahnya tak jauh dari perbatasan mereka bisa menemukan stasiun kereta api terdekat menuju pulang. Ikatan diantara mereka semakin kuat.

***

Akhir 1943, fakultas kedokteran Universitas Amsterdam telah menyelesaikan persiapan sidang untuk sarjana kedokteran. Tapi karena kampus ditutup untuk beberapa lama maka dikhawatirkan jika tak ada mahasiswa yang siap maka akan terjadi gap pada angkatan kelulusan.

Untuk itu dipilih secara hati hati mahasiswa yang akan mengikuti persiapan sidang. Dr Pannekoek memberitahu bahwa Made adalah salah satu mahasiswa yang dipilih untuk ikut serta perkuliahan lanjut.

Kembali ke Amsterdam dan terbukti ternyata semua pengalaman sebagai asisten Dr Pannekoek di lab RS Almelo sangat membantu Made dalam memahami teori perkualiahan. Lulus ujian demi ujian hingga akhirnya Made lulus sebagai sarjana kedokteran (belum dokter) dan ditugaskan di kota Nijmegen pada sebuah RS Katolik.

Beberapa minggu kemudian Roland juga lulus juga dan menyusulnya ke Nijmegen. Mereka tinggal sekamar dirumah keluarga Jansen. Masa masa bersemangat di Nijmegen bersama Roland tidak terlalu lama sebab perang semakin brutal.

Tentara sekutu berusaha mengusir tentara Jerman keluar Nijmegen. Tentara jerman kocar-kacir dan meninggalkan teman temen mereka yang terluka.

Tentara Jerman yang terluka dimasukan ke RS untuk diberi perawatan. RS tak boleh menolak dan harus menerima semua pasien tanpa terkecuali entah itu tentara sekutu maupun Jerman.

Pernah suatu kali ada tentara Jerman yang butuh transfusi darah karena luka lukanya. Made mendapat tugas untuk melakukannya.

Dengan wajah tegang tentara Jerman itu bertanya, “Apa itu? mau kau apa aku?”.

Made menjawab, “Tenang, ini sekantong darah, bagus untukmu.”.

Tiba tiba tentara Jerman itu berteriak, “Oh.. darah? jangan jangan, aku tak mau, bisa saja itu darah Yahudi, aku lebih baik mati daripada tercemar darah Yahudi.”

Made tak habis, bagaimana mungkin orang Eropa percaya takhyul seperti itu.

Kemudian tiba giliran tentara Amerika yang dirawat. Ketika tiba waktu besuk, teman teman tentara Amerika yang juga tentara itu datang menjenguk dengan membawa rokok dan minuman. Mereka merokok di dalam ruang perawatan hingga asapnya kemana mana sambil bercanda tertawa tawa seperti orang berpesta.

***

Musim semi 1945, tentara Jerman berhasil dihalau keluar. Kehidupan berangsur normal kembali. Komunikasi dengan Rotterdam telah pulih. Surat surat Astri datang dengan lancar dan sebentar lagi ia akan ujian akhir kebidanan.

Universitas dibuka kembali, seluruh mahasiswa yang sebelumnya sembunyi kini keluar dari persembunyiannya untuk melanjutkan studinya. Made telah diangkat menjadi co-as di Amsterdam. Astripun kerja paruh waktu sebagai bidan di Amsterdam selatan dan memungkinkan bertemu dengan Made lebih sering.

Made benar benar berusaha menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin karena ada Astri yang telah menunggu dan situasi telah membaik seiring perginya Jerman.

Made berlajar dengan tekun untuk ikut ujian akhir. Pada suatu kuliah yang penting sang profesor baru saja memulai kuliah, Made datang telat dan berjingkat masuk ruangan agar tak menarik perhatian. Namun dosen memergokinya dan memintanya maju kedepan.

Made mulai tegang. Para mahasiswapun memperhatikan dengen seksama. Semula dosen akan mempraktikan teknik memeriksa pasien yang terbaring di depan kelas. Tapi kemudian dosen meminta Made untuk melakukanya.

“Kapan ujian akhirmu”, tanya dosen.
“Bulan depan pak”, jawab Made.
“Periksalah, pasien ini sakit apa.”, lanjut pak dosen profesor itu.

Made memeriksa pasien itu lalu melaporkan hasilnya kepada dosen dengan suara keras agar didengar oleh seluruh mahasiswa.

“Selamat, anda telah lulus, tak usah ikut ujian lagi.”, sambut pak dosen.

Made tak percaya tapi tepuk tangan riuh para mahasiswa meyakinkannya bahwa apa yang ia dengar itu nyata.

Made gembira luar biasa dan mengabarkan berita gembira itu pada Astri. Dua minggu kemudian mereka melaporkan jadwal pernikahan mereka ke kantor catatan sipil pada tanggal 31 Mei 1946.

Malam hari setelah mencatatkan diri pada kantor catatan sipil mereka berdua merayakannya dengan menonton pagelaran musik “Figaro’s Hochzeit“, karya Mozart di Opera House.

***

Made dan Astri tak memiliki cukup uang untuk membeli gaun pernikahan. Astri kemudian dengan jarum dan benang merombak pakaian pengantin milik ibunya yang wafat ketika perang masih berkecamuk. Gaun itu sudah berumur 30 tahun tapi terbuat dari bahan yang bagus. Astri merombaknya menjadi gaun yang cocok dan serasi untuk mereka berdua.

Untuk urusan rias pengantin dilakukan oleh keluarga Roland, khususnya ibunya Roland. Kemudian resepsi makan siang disiapkan oleh Tamme dari Oud-Bussum, tempatnya bersembuyi semasa perang.

Dalam perjalan menuju rumah pengantin, Made menyempatkan diri singgah ke toko bunga untuk membeli bunga aster. Sesampainya dirumah pengantin, Astri mengambil setangkai bunga itu lalu menyematkannya di rambut seperti layaknya gadis Bali. Astri tampak sangat istimewa.

Kejutan lain, teman teman Made dari UNICA menyiapkan kereta kuda dengan empat ekor kuda penariknya yang gagah. Perjalanan berkeliling kota Amsterdam dengan kereta kuda dan mendapat sambutan senyum dan lambaian tangan dari setiap orang yang melihatnya adalah suatu pengalaman bagai mimpi.

Enam minggu bulan madu dipulau Vlieland adalah akhir dari prosesi pernikahan Made dan Astri. Suatu akhir yang merupakan awal dari seribu tantangan kedepan yang akan dihadapi oleh Made dan Astri dikemudian hari. Malam ini adalah peringatan kisah mereka berdua.

18 Komentar

Filed under sastra, sejarah

Tim Gabungan Pencari Fakta 13-15 Mei 1998

Ringkasan Laporan TGPF 13-15 Mei 1998

Sumber: http://semanggipeduli.com/tgpf/laporan.html

BAB 1: PENGANTAR
BAB 2: ORGANISASI DAN TATA KERJA
BAB 3: PELAKSANAAN KEGIATAN
BAB 4: TEMUAN
BAB 5: ANALISA
BAB 6: KESIMPULAN
BAB 7: REKOMENDASI
BAB 8: STATUS HUKUM
BAB 9: PENUTUP

Peristiwa kerusuhan 13-15 Mei 1998 adalah tragedi nasional yang sangat menyedihkan dan merupakan satu aib terhadap martabat dan kehormatan manusia, bangsa dan negara secara keseluruhan. Pemerintah maupun masyarakat harus secara sungguh-sungguh mengambil segala tindakan untuk mencegah terulangnya peristiwa semacam kerusuhan tersebut.

Adalah mendesak bahwa perhatian dan solidaritas semua pihak diwujudkan secara nyata kepada para korban dan keluarga korban, sehingga pemulihan hak-hak sebagai satu bangsa yang beradab juga ditentukan sejauh mana bangsa kita dapat mengkoreksi kelemahan dan kekurangannya, secepat apa kita menghilangkan rasa takut dan mewujudkan rasa tenteram dan aman untuk setiap orang tanpa terkecuali.

Tim Gabungan Pencari Fakta 13-15 Mei 1998

1 Komentar

Filed under sejarah

Pendudukan Gedung DPR/MPR oleh Mahasiswa

Sumber: http://semanggipeduli.com/Sejarah/frame/pendudukan.html

Dalam keadaan yang mulai terkendali setelah mencekam selama beberapa hari sejak tertembaknya mahasiswa Trisakti dan terjadinya kerusuhan besar di Indonesia, tanggal 18 Mei 1998 hari Senin siang, ribuan mahasiswa berkumpul di depan gedung DPR/MPR dan dihadang oleh tentara yang bersenjata lengkap, bukan lagi aparat kepolisian.

Tuntutan mereka yang utama adalah pengusutan penembakan mahasiswa Trisakti, penolakan terhadap penunjukan Soeharto sebagai Presiden kembali, pembubaran DPR/MPR 1998, pembentukan pemerintahan baru, dan pemulihan ekonomi secepatnya.

Kedatangan ribuan mahasiwa ke gedung DPR/MPR saat itu begitu menegangkan dan nyaris terjadi insiden. Suatu saat tentara yang berada di depan gedung atas tangga sempat mengokang senjata mereka sehingga membuat panik para wartawan yang segera menyingkir dari arena demonstrasi.

Mahasiswa ternyata tidak panik dan tidak terpancing untuk melarikan diri sehingga tentara tidak dapat memukul mundur mahasiswa dari gedung DPR/MPR. Akhirnya mahasiswa melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan selanjutnya membubarkan diri pada sore hari dan pulang dengan menumpang bus umum.

Keesokan harinya mahasiswa yang mendatangi gedung DPR/MPR semakin banyak dan lebih dari itu mereka berhasil menginap dan menduduki gedung itu selama beberapa hari. Keberhasilan meduduki gedung DPR/MPR mengundang semakin banyaknya mahasiswa dari luar Jakarta untuk datang dan turut menginap di gedung tersebut. Mereka mau menunjukkan kalau reformasi itu bukan hanya milik Jakarta tapi milik semua orang Indonesia.

Soeharto akhirnya menyerah pada tuntutan rakyat yang menghendaki dia tidak menjadi Presiden lagi, namun tampaknya tak semudah itu reformasi dimenangkan oleh rakyat Indonesia karena ia meninggalkan kursi kepresidenan dengan menyerahkan secara sepihak tampuk kedaulatan rakyat begitu saja kepada Habiebie. Ini mengundang perdebatan hukum dan penolakan dari masyarakat.

Bahkan dengan tegas sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa Habiebie bukan Presiden Indonesia. Mereka tetap bertahan di gedung DPR/MPR sampai akhirnya diserbu oleh tentara dan semua mahasiswa digusur dan diungsikan ke kampus-kampus terdekat. Paling banyak yang menampung mahasiswa pada saat evakuasi tersebut adalah kampus Atma Jaya Jakarta yang terletak di Semanggi.

3 Komentar

Filed under politik, sejarah

Kerusuhan Mei 1998

Sumber: http://semanggipeduli.com/Sejarah/frame/kerusuhan.html

Kemarahan masyarakat terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam hari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat.

Sampai tanggal 15 Mei 1998 di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko maupun rumah di kota-kota Indonesia hancur lebur dirusak dan dibakar massa. Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah.

Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa.

Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini.

Akhirnya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya Pahlawan Reformasi. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh.

Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negri TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut untuk membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu.

10 Komentar

Filed under politik, sejarah

Tragedi Trisakti Mei 98

Sumber: http://semanggipeduli.com/Sejarah/frame/trisakti.html

Kejatuhan perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini supaya dapat keluar dari krisis ekonomi. Pada bulan Maret 1998 MPR saat itu walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagai Presiden. Tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Cuma ada jalan demonstrasi supaya suara mereka didengarkan.

Demonstrasi digulirkan sejak sebelum Sidang Umum (SU) MPR 1998 diadakan oleh mahasiswa Yogyakarta dan menjelang serta saat diselenggarakan SU MPR 1998 demonstrasi mahasiswa semakin menjadi-jadi di banyak kota di Indonesia termasuk Jakarta, sampai akhirnya berlanjut terus hingga bulan Mei 1998. Insiden besar pertama kali adalah pada tanggal 2 Mei 1998 di depan kampus IKIP Rawamangun Jakarta karena mahasiswa dihadang Brimob dan di Bogor karena mahasiswa non-IPB ditolak masuk ke dalam kampus IPB sehingga bentrok dengan aparat. Saat itu demonstrasi gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tingi di Jakarta merencanakan untuk secara serentak melakukan demonstrasi turun ke jalan di beberapa lokasi sekitar Jabotabek.Namun yang berhasil mencapai ke jalan hanya di Rawamangun dan di Bogor sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka dan masuk rumah sakit.

Setelah keadaan semakin panas dan hampir setiap hari ada demonstrasi tampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap mahasiswa apalagi sejak mereka berani turun ke jalan. Pada tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa Trisakti melakukan demonstrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presinden Indonesia saat itu yang telah terpilih berulang kali sejak awal orde baru. Mereka juga menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak tahun 1997.

Mahasiswa bergerak dari Kampus Trisakti di Grogol menuju ke Gedung DPR/MPR di Slipi. Dihadang oleh aparat kepolisian mengharuskan mereka kembali ke kampus dan sore harinya terjadilah penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Penembakan itu berlansung sepanjang sore hari dan mengakibatkan 4 mahasiswa Trisakti meninggal dunia dan puluhan orang lainnya baik mahasiswa dan masyarakat masuk rumah sakit karena terluka.

Sepanjang malam tanggal 12 Mei 1998 hingga pagi hari, masyarakat mengamuk dan melakukan perusakan di daerah Grogol dan terus menyebar hingga ke seluruh kota Jakarta. Mereka kecewa dengan tindakan aparat yang menembak mati mahasiswa. Jakarta geger dan mencekam.

Mahasiswa mahasiswa yang Gugur sebagai pahlawan reformasi pada saat terjadinya Tragedi Trisakti adalah:

  • Elang Mulya
    Mahasiswa Trisakti, Jakarta
    Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998
  • Hafidin Royan
    Mahasiswa Trisakti, Jakarta
    Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998
  • Hendriawan Sie
    Mahasiswa Trisakti, Jakarta
    Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998
    .
  • Hery Hartanto
    Mahasiswa Trisakti, Jakarta
    Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998

12 Komentar

Filed under sejarah

Penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949 bukan Letkol Soeharto

Photo Soeharto waktu menjabat Panglima KOstard, foto Letkol saya gak punya.Sejarawan, Dr Anhar Gonggong berpendapat penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta untuk menyingkirkan pasukan Belanda, bukan mantan Presiden Soeharto (ketika itu berpangkat letkol). Melainkan komandan berpangkat yang lebih tinggi seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkuwono IX. Dalam diskusi “Serangan Umum 1 Maret 1949″ di Jakarta, Selasa, sejarawan dari Fakultas Sastra UI itu mengatakan berdasarkan hierarki komando di militer, inisiatif penyerangan bukan berasal dari seorang komandan brigade seperti Letkol Soeharto yang menjabat Komandan Brigade III, tetapi seharusnya berasal dari pejabat lebih tinggi.

Pejabat militer lebih tinggi itu, katanya, seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman, Menhan Sri Sultan Hamengkubwono IX, Panglima Divisi III Kol Bambang Sugeng, Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kol TB Simatupang, dan Kepala Staf Angkatan Perang Kol Abdul Haris Nasution.

Selain itu, tulisan TB Simatupang (Waktu itu sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI–red) dalam bukunya Laporan dan Banaran (1960), memuat salinan Instruksi Rahasia Panglima Divisi III/GM III Kol Bambang Sugeng yang memerintahkan kepada seluruh kesatuan tentara untuk mengadakan serangan besar-besaran di Yogyakarta mulai 25 Februari hingga 1 Maret 1949.

Menurut Anhar, untuk memastikan tentang siapa para pelaku inisiatif Serangan Umum 1 Maret 1949 selain Kol Bambang Sugeng, juga memerlukan penelitian lebih lanjut. Sedangkan berdasarkan sejumlah dokumen dan sistem hierarki militer bahwa inisiatif serangan bukan dari Letkol Soeharto.

Karena itu, menurut Anhar, perlu ada pelurusan sejarah tentang inisiatif Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dalam buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah berasal dari Letkol Soeharto.

Ketika ditanya tentang keengganan Jenderal AH Nasution dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengungkapkan tentang inisiatif Serangan Umum 1 Maret 1949 bukan berasal dari Pak Harto, Anhar mengatakan, budaya “sungkan” membuat kedua tokoh takut mengungkap hal tersebut serta kedudukan Pak Harto sebagai Presiden RI juga menjadi faktor yang menjadikan orang lain malu megungkapkan kebenaran sejarah.

Kendati demikian, Anhar mengakui, Letkol Soeharto tetap sebagai pelaksana Serangan Umum 1 Maret 1949 sehingga Indonesia memenangkan diplomasi di PBB bahwa eksistensi negara Indonesia masih ada yang ditandai TNI berhasil mengusir pendudukan tentara Belanda dari ibu kota RI, Yogyakarta, pada saat itu.

Sementara itu, pengamat sejarah Batara Hutagalung yang juga anak pahlawan nasional Letkol Dr W Hatagalung mengatakan berdasarkan dokumen yang ditulis Letkol Dr W Hutagalung yang pada 1949 menjabat perwira teritorial di Yogyakarta dan sejumlah dokumen lain, Serangan Umum 1 Maret 1949 melibatkan banyak pihak,seperti Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Kementerian Pertahanan.

Selaian itu, Serangan 1 Maret 1949 yang dilaksanakan Divisi III Militer di Yogyakarta berdasarkan perintah dari Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk membuktikan dunia internasional bahwa TNI masih ada dan cukup kuat sehingga dapat membuktikan eksistensi RI, kata Batara yang juga Ketua Aliansi Reformasi Indonesia (ARI) itu.

Sedangkan pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Dr Muchlis Muchtar MS berpendapat bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 telah menjadi salah satu tonggak penting bagi kelangsungan negara persatuan dan kesatuan Indonesia.

“Tetapi, apakah mantan Presiden Soeharto sebagai penggagas serangan itu, kini mulai banyak dipertanyakan. Maka tugas para sejarawanlah untuk mengadakan penelitian lebih lanjut masalah itu,” ujar Muchlis di Padang kemarin.

Sumber : Media Indonesia – Politik dan Keamanan (3/1/00)

18 Komentar

Filed under sejarah

Gubernur Bali Tak Pernah Mengusulkan AA Gde Agung Sebagai Pahlawan Nasional

Sumber: Balipost (Soal Gelar Pahlawan A.A. Gde Agung – Gubernur tak Pernah Mengusulkan)

Gubernur Bali Dewa Beratha menyatakan tak penah mengusulkan gelar pahlawan nasional atas nama Dr. A.A. Gde Agung. Pihaknya juga melihat ada hal yang ganjil dari prosedur pengusulan, mengingat pengajuan usulan ini datang dari luar daerah Bali.

”Semestinya memang ada verifikasi atas usulan nama calon penerima gelar pahlawan nasional. Untuk memfasilitasi protes dan sikap LVRI Bali, saya siap memfasilitasi perjungan mereka untuk menghadap presiden,” tegasnya, seusai foto bersama dengan perwakilan LVRI yang mendatangi kantor Gubernur Bali, Senin (21/1) kemarin.

Dewa Beratha juga menyarankan agar perjuangan ini dilakukan sebelum limit waktu uji publik berakhir bulan Februari mendatang. Solusinya, kata dia, LVRI hendaknya membuat surat keberatan kepada presiden dan permohonan untuk menghadap. ”Nanti tanggal 27 Januari Presiden akan datang ke Bali.

Saya akan sampaikan permohonan agar Bapak Presiden meluangkan waktu menerima pengurus LVRI Bali dan organisasi pendukungnya di Jakarta,” ujarnya. Gubernur mengingatkan agar perjuangan pencabutan gelar pahlawan nasional ini dilakukan secara prosedural dan didukung bukti-bukti sejarah yang kuat.

Para veteran, Senin kemarin menggelar aksi damai. Selain para veteran juga ikut beberapa organisasi pendukung. Mereka menghadap Gubernur Bali Dewa Beratha dan bertemu dengan anggota DPRD Bali. Didampingi unsur Pemuda Panca Marga (PPM), Patriot dan Ikatan Keluarga Pahlawan Bali, para veteran ini mendesak Gubernur Bali Dewa Beratha dan DPRD Bali membuat rekomendasi kepada presiden agar gelar pahlawan nasional kepada A.A. Gde Agung dicabut.

Pengurus LVRI Cabang Gianyar Wayan Jenar mengatakan, pemerintah haruslah meluruskan sejarah perjuangan dengan mendengar keluhan dan reaksi para veteran Bali.

Sedangkan PPM Bali dalam keterangannya mempertegas sikapnya menolak gelar pahlawan nasional yang dianugerahkan kepada A.A. Gde Agung. Untuk itu, kata Ketua PPM Bali A.A. Nanik Suryani, S.T., PPM mendesak presiden mencabut gelar tersebut. ”Jika tuntutan ini diabaikan, kami akan menempuh upaya hukum,” tegasnya.

Setelah diterima Gubernur, rombongan para veteran dan organisasi pendukungnya berjalan kaki seraya membentangkan spanduk menuju gedung DPRD Bali. Spanduk besar yang bertuliskan Menolak Gelar Pahlawan Nasional Dr. A.A. Gde Agung ini, diusung beramai-ramai dan dibentangkan di lobi DPRD Bali.

Pada kesempatan itu, Sekretaris YKP Propinsi Bali Dr. Ir. Wayan Windia menyampaikan orasi secara bersemangat. Ia menyatakan penolakan LVRI Bali atas penganugerahan gelar pahlawan nasional ini hendaknya didengar para wakil rakyat. ”LVRI dalam bersikap memperhatikan fakta-fakta dan berangkat dari spirit perjuangan para veteran. Kami menolak dan menjadikan tuntutan pencabutan gelar pahlawan nasional kepada Dr. A.A. Gde Agung sebagai harga mati,” tegasnya.

Setelah itu, rombongan diterima Ketua Komisi I DPRD Bali I Made Arjaya dan Wakilnya Wayan Sutena. Di hadapan para wakil rakyat ini para veteran mendesak agar DPRD Bali membuat rekomendasi sebagai bentuk dukungan kepada para veteran. ”DPRD Bali sedapat mungkin bisa membuat rekomendasi yang mendesak presiden mencabut gelar pahlawan tersebut,” tegas Dr. Wayan Windia.

Made Arjaya meminta masukan dari semua pihak dan berjanji akan melakukan penyikapan secepatnya. Pihaknya juga akan melakukan koordinasi lanjutan dengan pimpinan DPRD Bali setelah menyerap aspirasi dari LVRI Bali dan organisasi pendukungnya. Setelah diterima anggota DPRD Bali, rombongan para veteran ini membubarkan diri sekitar pukul 12.15 wita.

Artikel terkait:

Petisi Online: http://www.petitiononline.com/gdeagung/petition.html

2 Komentar

Filed under sejarah

Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah

Oleh: Asvi Warman Adam*
Sumber: Kompas 16 Januari 2003

Asvi Warman AdamKEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam.

PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.

Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan “jenderal kalajengking” (scorpion general).

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono “didubeskan”, diganti Yoga Sugama.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah.

Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria “pernah jadi ajudan Presiden”. Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental.

Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Malari sebagai wacana

Dalam buku Otobiografi Soeharto (terbit tahun 1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung. Padahal, mengenai “petrus” (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang di situ.

Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak 1973. Yoga Sugama ada di New York saat kerusuhan 15 Januari 1974. Lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta, menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN.

Menurut Yoga, ceramah dan demonstrasi di kampus-kampus mematangkan situasi, bermuara pada penentangan kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya, diskusi di UI Jakarta (13-16/8/1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan “Petisi 24 Oktober”.

Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru.

Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992: 166).

Sebaliknya, “dokumen Ramadi” mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu Jenderal Soemitro.

Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo?

Kita melihat pelaku kerusuhan di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap.

* Dr Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI

13 Komentar

Filed under sejarah