Category Archives: sastra

When Made Meet Astri

Roland dan ayahnya berdebat. Propaganda Jerman yang mengatakan pendudukan Jerman bukan untuk menaklukan Belanda tapi hanya untuk membuka jalan pasukan Jerman menyerbu Inggris, didebat habis habisan oleh Roland.

Tentara Jerman yang tidak terlalu menghiraukan kegiatan sipil dan hanya fokus pada kegiatan mobilisasi militer membuat orang orang tua seperti ayahnya Roland mulai percaya propaganda tersebut.

Mahasiswa kedokteran seperti Roland yang cerdas dan realistis melihat pemboman terhadap Rotterdam beberapa waktu yang lalu telah membuktikan kebohongan NAZI.

Made berusaha menengahi dengan mengatakan orang tua tak usah terlalu didebat, mereka hanya ingin hidup tenang. Tapi kelihatannya Roland telah terbawa emosi dan berpendapat dengan membiarkan pandangan yang seperti itu berarti telah membuat propaganda Jerman semakin dipercaya.

Made tak mau berdebat dengan kakak kelasnya itu. Ibunya Roland kemudian datang menyejukan suasana yang memanas dengan menghidangkan teh dan kue. Roland kemudian mengambil biola dan ayahnya mengangkat Celo untuk memainkan quartet Schurbet dan Beethoven, melupakan perang untuk sesaat.

Waktu berlalu. Invasi ke Inggris tak membawa hasil seperti yang diharapkan Jerman. Di timur: Rusia gagal diduduki dan justru memakan banyak korban prajurit dan peralatan dipihak Jerman. Di selatan: Perancis memang berhasil ditaklukan tapi gagal masuk ke Mesir.

Kasak kusuk perlawanan clandestine mulai muncul. Terutama di kampus kampus. Gestapo (polisi rahasia NAZI) semakin represif. Pengejaran terhadap warga Yahudi semakin gencar. Bahkan sudah masuk ke kampus kampus untuk pemeriksaan.

***

Pada perkuliahan Public Health oleh Prof Charlotte Ruys yang membosankan terdapat jeda istirahat untuk kemudian dilanjutkan pada 2 jam berikutnya. Ketika jeda istirahat tiba tiba Made menyadari kalau ia belum mengambil ration card nya yang baru.

Semula Made ingin mengambilnya setelah 2 jam perkuliahan Prof Charlotte berikutnya namun ia tak mau ketinggalan kuliah Parasitology Prof Swellengrebel yang menyenangkan.

Ditambah hari itu adalah hari Sabtu dimana kantor Rationing akan tutup siang hari maka Made memutuskan untuk pergi mengambil ration card pagi itu juga ke pusat kota Amsterdam.

Bolos satu jam tak apalah pikirnya. Setelah antri beberapa lama Made segera tancap sepedanya kembali ke kampus supaya tidak telat.

Sekitar 300 meter sebelum sampai auditorium Tropical Institute, Made dicegat oleh seseorang yang ia tak tahu namanya tapi kenal wajahnya sebagai kakak kelas.

Kakak kelas itu memberi tahu jangan mendekati ruang auditorium. Walaupun ia mengatakannya dengan santai dan pelan tapi dari wajahnya terlihat ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Dia memberi kode Made untuk mendekat. Setelah cukup depat kemudian orang itu berbisik, “Gestapo telah menangkapi temen teman kita. Mereka mengangkut para mahasiswa ke dalam truk, lihatlah…”.

Terlihat truk menghilang dibalik tikungan dengan bak belakang yang tertutup terpal. Made dengan polos bertanya, “Apa salah mereka?”. “Tak ada, kamu beruntung tak sedang berada disana”, jawabnya.

“Mungkin mereka mencari prof Charlotte Ruys”, katanya lagi. Made teringat, prof Charlotte Ruys pernah terdengar mengorganisir perlawanan terhadap pendudukan Jerman.

Made masih penasaran dan bertanya lagi, “Apa kira kira yang akan mereka lakukan pada teman teman kita?”. Orang itu menjawab, “Tak ada yang tahu, mungkin dipaksa jadi pekerja pabrik di Jerman atau Polandia, saya sangsi mereka akan selamat”.

Perasaan takut mulai menjalar keseluruh tubuh Made sementara mahasiswa lain yang tak tertangkap berkumpul disekitarnya ikut mendengarkan.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”, tanya Made dengan gusar. Kakak kelasnya itu menarik nafas panjang lalu berkata, “Untuk sementara tak ada yang bisa dilakukan. Shh… mendekatlah kalian semua, dengar baik baik. Mulai saat ini tak usah kuliah lagi, mungkin juga tak akan ada perkuliahan. Semalam beberapa profesor telah ditangkapi, mungkin hari ini mereka mencari prof Charlotte Ruys. Sekarang tak usah banyak tanya, menghilanglah dari sini secepatnya. Jangan bergerombol, hati hati kalau bicara.”

Made kembali ke tempatnya indekos di selatan Amsterdam dengan gundah gulana, tak memahami situasi dan penuh pertanyaan dikepalanya. Tempat kostnya di rumah seorang janda tua yang sangat baik dan Made tinggal dalam sebuah kamar yang nyaman.

Made memutuskan tak usah makan siang di kantin kampus. Perasaan takut masih menyelimutinya. Ketika hendak keluar makan siang, ibu kost memberinya sepucuk surat. Katanya dari temannya tapi tak menyebut nama dan ciri ciri yang disebut ibu kost tak dapat dikenali Made.

Surat itu berbunyi, “Jangan tidur di rumah malam ini. Hancurkan surat ini segera!”

Setelah membakar surat itu Made duduk terduduk dikamarnya. Pikirannya melayang, memikirkan hubungannya antara kejadian tadi pagi di kampus dan nasihat kakak kelasnya. Tapi kenapa dirinya, dan bagaimana mereka tahu alamatnya.

Made kemudian pergi ke UNICA house. Dalam perjalanan yang terlintas dalam pikiran Made pastilah sudah ada yang mengorganisir dari para mahasiswa sehingga mereka tahu semua data tentang mahasiswa. Mungkin juga ada hubungannya dengan daftar mahasiswa yang menolak menandatangani “Declaration of Loyalty” kepada Jerman.

Di UNICA house Made bertemu mahasiswa mahasiswa yang lain yang juga mendapat surat yang serupa. Oleh tukang bersih bersih di UNICA house yang biasa dipanggil Mevrouwtje, Made ditawari tempat menginap.

Made tidur diruang tamu Mevrouwtje. Keesokan harinya Made ingin balik ke kost untuk ambil barang-baranganya. Mevrouwtje khawatir dan menyarankan tak usah ke kost, berbahaya katanya.

Made nekat balik ke kost dan janji tak akan lama. Setelah sampai di kost betapa kagetnya dia melihat kamarnya sudah diacak-acak. Ibu kost yang sudah tua renta itu menangis ketakutan dan mengatakan semalam ada orang mencari mahasiswa mahasiswa yang kost.

Made berpikir apa yang salah. Ia tak pernah ikut kegiatan terlarang atau perlawanan terhadap Jerman. Apakah karena namanya yang aneh bagi orang Eropa sehingga namanya masuk daftar orang yang dicari Gestapo.

***

Made segera kembali rumah Mevrouwtje dan mendapati adik kelasnya Was. Ia membawa seseorang bernama Henk yang akan bersembunyi ke pedalaman karena Henk seorang Yahudi.

Merasa senasib Made ikut. Dalam perjalanan di kereta api tiba tiba ada dua orang berseragam duduk didepan mereka bertiga dan kedua orang tersebut mirip agen Gestapo.

Si Henk yang Yahudi itu pucat pasi tapi tertutup koran karena ia pura pura baca koran. Made berusaha santai tapi tak berani melihat ke arah dua orang itu. Sepuluh menit hingga pemberhentian berikutnya terasa sangat lama. Menjelang tiba di pemberhentian berikutnya tanpa menunggu kereta benar benar berhenti mereka bertiga segera loncat turun dari kereta.

Made ke desa Oud Bussem untuk bersembunyi di rumah teman lamanya Tamme sedangkan Was dan Henk melanjutkan perjalanan menuju ke persembunyiannya di tempat antah berantah yang tak seorangpun tahu.

Beberapa lama di Oud Bussem Made pindah tempat persembunyian ke Boeschoten, tempat yang lebih tidak terpencil agar ia bisa sambil belajar. Dalam perjalanan dari desa Oud Bussem ke desa Boeschoten melalui jalan setapak memang aman dari tentara Jerman tapi tidak dari banteng liar yang sempat mengejarnya hingga Made jumpalitan dari sepeda ontelnya.

***

Beberapa lama di Boeschoten dan Made sangat menikmati harinya karena dianggap keluarga sendiri orang keluarga Van der Walls, pemilik rumah tempatnya bersembunyi.

Pada suatu pagi Made menerima surat dari Hans Rhodius. Made sempat heran dari mana Hans tahu tempat persembunyiannya. Hans adalah seorang pengacara terkenal yang sempat mengunjungi Bali dan Jawa sebelum perang.

Jatuh cinta dengan keindahan Bali, dimana Hans terpesona oleh lukisan pelukis Jerman, Walter Spies. Sekembalinya ke Amsterdam, Hans mengorganisir pertemuan budaya dan mengundang mahasiswa Indonesia di Amsterdam untuk menjadi pembicara atau untuk tampil.

Hans diberitahu bahwa ada mahasiswa Bali yang kuliah di Amsterdam. Made dikenalkan ke Hans dan pernah tampil sekali sebagai pembicara tentang budaya Bali pada acara malam budaya di kastil Hans yang mewah. Hubungan yang sangat berkesan. Setelah perang mereka lepas kontak.

Karena itu Made sangat kaget menerima surat Hans. Isi surat itu lebih mengagetkan lagi, “Made, saya telah mencari tempat yang lebih baik untukmu. Sebuah tempat yang bisa buat bekerja sekaligus melanjutkan studi. Pergilah ke Rumah Sakit Umum di Almelo. Temui temanku Dr Rethmeyer disana, dia sudah kuberi tahu tentang dirimu. Hancurkan surat ini setelah membaca”.

Sepeda ontel kembali menghantarnya ke Almelo. Satu hari perjalan tak membuatnya lelah. Di pinggiran kota Almelo suasana perang mulai terasa. Serdadu Jerman berbaris di jalanan sambil menyanyikan lagu lagu mars.

Sore menjelang malam Made sampai di RSU Almelo. Rupanya Dr Rethmeyer sudah pulang. Oleh perawat di RS, Made disuruh datang kerumahnya saja. Dr Rethmeyer segera mengenali Made ketika melihatnya celingukan di depan rumah. Made diminta kembali lagi ke RS besok pagi saja. Dr Rethmeyer janji besok akan memperkenalkannya dengan direktur Rumah Sakit yang akan menjadi penyelianya.

***

Senang sudah bertemu Dr Rethmeyer, kini Made tinggal mencari tempat menginap. Hari mulai gelap, Made segera melihat lihat di sepanjang jalan jika ada papan reklame rumah kost yang ada kamar kosongnya.

Ada sebuah toko dipinggir jalan yang ada papan reklamenya. Made ingin coba, siapa tahu bisa buat tempat kost seterusnya kalau cocok.

Setelah pintu diketuk beberapa kali lalu pintu terbuka dan tampak tiga orang berpakaian seragam dengan tulisan N.S.B (Dutch Nazi). Hal yang paling dihindari untuk ditemui.

Terdengar suara, “Kamu mau apa?”.

Made benar benar kaget dan grogi tapi cepat improvisasi dengan menjawab, “Oh maaf, apakah ini rumah Tuan Boon?”.

Pertanyaan yang berisiko karena bisa saja itu memang benar rumahnya Tuan Boon.

Mereka menjawab, “Tidak, kamu salah alamat”.

Lega rasanya dan langsung saja Made menancap sepedanya ngebut meninggalkan rumah itu. Made tiba di RS yang sudah tutup dan hanya bertemu satpam penjaga pintu gerbang. Oleh pak satpam Made ditunjukan tempat kost terdekat dari RS, yaitu tempat keluarga Vermeulens.

Setiba didepan rumah keluarga Vermeulens, Made mengetok pintu rumah tua itu. Terlihat dari jendela ada orang yang mengintip. Seorang gadis dengan wajah pucat. Gadis itu menghilang cepat. Terdengar langkah kaki di balik pintu. Kemudian terlihat wajah orang tua memperhatikannya dengan curiga dari balik jendela.

Khawatir jendela itu ditutup lagi, Made segera bicara, “Saya mau cari tempat kost”. Tiba tiba wajah orang tua itu menjadi ramah, membuka pintu dan mempersilakan Made masuk ke rumah.

Di dalam rumah Made bertemu lagi gadis tadi yang sekarang memandangnya dengan takjub. Made memberi senyum yang lebar tapi tak dibalasnya. Rupanya Made adalah orang berkulit sawo matang dan berambut hitam pertama yang dilihat gadis itu.

Orang tua itu adalah Pak Vermeulens dan gadis itu adalah putrinya yang bernama Tille. Setelah masuk ke kamar dan meletakkan barang-barangnya, Made turun kembali ke bawah untuk makan malam bersama keluarga besar Vermeulens.

“Kau pasti mahasiswa dari jauh. Siapa namamu tadi nak?”, tanya Pak Vermeulens dengan ramah. Made memperkenalkan dirinya dan bercerita panjang lebar tentang Bali yang didengarkan dengan sangat antusias oleh keluarga Vermeulens.

Made merasa nyaman dengan keluarga yang sederhana ini dan akan menjadi tempat tinggalnya selama 8 bulan. Bersama keluarga Vermeulens adalah masa masa paling indah sepanjang Made menyelesaikan studinya di Holland. Di sini pula kelak ia akan mengalami hal tak terduga yang akan merubah total jalan hidupnya.

***

Dr Pannekoek, kepala Rumah Sakit Umum Almelo yang juga seorang internis melakukan test pada Made berdasarkan ujian terakhir yang telah diikuti oleh Made di kampus.

“Okelah, kamu cocok di bagian laboratorium”, kata Dr Pannekoek. Kemudian sambil berjalan menuju laboratorium untuk diperkenalkan pada suster kepala lab, Dr Pannekoek mengatakan, “Kelemahan banyak dokter muda adalah kurang pengalaman di lab, atau sebaliknya terlalu antusias pada hasil lab, sehingga mereka sering kali melakukan test lab yang tidak perlu terhadap pasien.”

Sampai di lab, Made diperkenalkan dengan suster kepala lab yang namanya adalah “Dokter”. Aneh memang tapi “Dokter” adalah nama fam sehingga suster tersebut di panggil suster Dokter.

Suster Dokter kemudian memperkenal semua kru dan peralatan di lab. Sejak saat itu Made tenggelam dalam kesibukan laboratorium yang sangat dinikmatinya.

Made sangat tekun di lab, segala yang diajarkan suster Dokter dapat dikuasainya dengan cepat. Ini membuat Dr Pannekoek benar benar senang mendapat seorang asisten yang cekatan dan cerdas. Made kemudian dipercaya untuk terlibat dalam beberapa proyek penelitian medis Dr Pannekoek dengan jabatan Medical Analyst dan mendapat gaji bulanan. Sementara suasana tinggal bersama keluarga Vermeulens juga sangat hangat dan menyenangkan.

***

Pada suatu pagi ketika Made hendak berangkat ke RS, Pak Vermeulens meminta bantuan untuk nitip sesuatu pada Made.

“Made, saya boleh nitip gak?”, tanya Pak Vermeulens.

“Oh boleh Pak…”, balas Made, “…dengan senang hati”.

“Ini untuk teman kami suster Astri, dia sedang sakit demam, sudah tiga hari dia dirawat”, lanjut Pak Vermeulens.

Pak Vermeulens menyerahkan sebuah toples yang berisi semacam manisan.

“Apa ini Pak, kalo boleh tahu?”, tanya Made.

“Ini cuma manisan cherry yang dibuat istriku”, jawab Pak Vermeulens.

Made berangkat ke RS. Semula Made ingin menitipkannya pada salah seorang suster untuk diserahkan pada suster Astri tapi setibanya di RS para suster sedang sibuk semua dan suster kepala meminta Made untuk menyerahkannya sendiri ke ruang rawat inap tempat suster Astri dirawat.

“Jalan terus dilorong ini, ketemu tangga naik sampe mentok, disana tempatnya”, begitu suster kepala menjelaskan lokasinya. Made naik sampai ke lantai 4, ngos-ngosan sampai didepan pintu masuk ruang kamar.

Di depan pintu kamar ada tulisan, “Do Not Disturb“, membuat Made ragu untuk mengetok pintu. Tapi tak mungkin ia tinggalkan toples itu dibawah pintu begitu saja. Akhirnya Made memutuskan untuk mengetok pintu dengan pelan.

Terdengar suara lemah dari dalam menjawab, ” Yah..? “.

Made membuka pintu dan masuk. Terlihat seorang suster yang sedang sakit duduk di atas ranjang rawat inap. Wajahnya pucat tampak tak sehat. Matanya yang tajam memandang ke arah Made dengan pandangan heran.

Made yang masih ngos-ngosan entah kenapa menjadi salah tingkah dan lupa memperkenalkan diri. Toples yang ia bawa pun tidak diserahkan tapi cuma diletakkan di meja pasien yang sudah penuh dengan makanan.

Made seperti linglung tak tahu harus bersikap apa. Maklum, walaupun pucat karena sedang sakit suster itu cantik. Sementara mata suster tak beranjak memperhatikan tingkah Made.

Karena sudah kepalang basah bertingkah aneh, Made lantas berimprovisasi, pura pura menjadi asisten dokter yang akan memeriksa pasien. Ia lupa kalau pasiennya adalah seorang perawat RS itu juga.

“Jadi bagaimana keadaanmu sekarang? sudah mendingan?”, tanya Made sambil berlagak jadi asisten dokter yang bertugas memeriksa pasien.

Suster Astri tidak menjawab dan wajahnya yang cantik tampak bertambah heran. Made sadar sepenuhnya bahwa ia sudah jadi orang aneh di depan suster Astri. Saking malunya Made lantas ngeloyor tanpa pamit .

Sepanjang hari itu Made terdiam dan tak habis pikir kenapa dia bisa bertingkah aneh seperti itu. Sejak saat itu Made selalu terbayang bayang wajah suster Astri nan ayu rupawan. Tak mau hilang dari pikirannya dan membuat Made menjadi pendiam dan menenggelamkan diri pada kesibukan bekerja.

Suster Dokter memperhatikan perubahan sikap itu dan mencoba mengajaknya ngobrol beberapa kali. Made melayaninya seperlunya lalu lanjut bekerja dengan tekun. Suster Dokter akhirnya tahu dari suster kepala bahwa Made pernah bertemu suster Astri di bangsal lantai 4 untuk mengantar manisan cherry.

Akhirnya suatu pagi suster Dokter sambil bercanda mengatakan, “Aha.. aku tahu sekarang, kau naksir suster Astri yah…?”.

Made kaget setengah mati, “Ah kata siapa? masa sih?”.

Made jadi tambah tidak karuan, mau jenguk lagi, malu, grogi, takut, was-was, tidak PD, segala macam perasaan aneh muncul campur aduk jadi satu.

Setelah suster Astri sembuh, ia ambil cuti beberapa hari untuk pulang ke rumah. Made tak pernah bicara lagi padanya. Tapi pada saat keberangkatan Astri pulang, Made memaksakan diri untuk bilang, “Kirimi aku kartu pos yah?”.

Tentu saja tak ada kartu pos yang Made terima dari Astri. Kenyataan ini membuat Made tak ingin bertemu lagi dengan Astri. Bahkan tak ingin memikirkannya. Astri jarang main ke rumah keluarga Vermeulens. Kalau Astri sedang berkunjung ke rumah Pak Vermeulens maka Made menjadi sangat kikuk, tak tahu harus bersikap apa.

Tak ingin bertemu tapi selalu bertemu jika Astri berkunjung ke keluarga Vermeulens. Made tak tahu apa yang ada di hati Astri. Apakah ia punya perasaan yang sama atau menganggapnya orang asing yang aneh.

Jika Astri berkunjung, Made coba untuk ngobrol tapi lidahnya kelu. Dan ketika Made telah berhasil mengatasi rasa malu dan groginya Made berubah menjadi overacting dan terlalu semangat membahas masalah kedokteran.

Made sangat ingin tahu apa kesan Astri pada dirinya. Tapi Astri semakin jarang datang ke rumah Vermeulens. Ini membuat Made seperti orang gila. Made hanya butuh sedikit kepastian apakah Astri suka pada dirinya atau tidak.

Tak mendapat kepastian yang ia butuhkan, Made mencoba untuk melupakan Astri dengan mencoba mendekati gadis gadis lain di lingkungan kerjanya. Made pernah dekat dengan seorang gadis asisten lab RS Katolik yang punya sebuah perahu layar. Tiap Sabtu mereka naik perahu layar di Twente Rhine Canal. Made jadi lebih sering mengunjungi rumah Dr Rethmeyer dan Dr Pannekoek. Semua itu atas usaha untuk melupakan obsesinya pada Astri.

Semua usaha itu sia sia. Malam hari susah tidur, mimpi buruk, siang hari menghayal, kurang tidur, membuat Made tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Siksaan ini berlangsung selama tiga bulan.

***

Hingga suatu hari pada hari ulang tahunnya, Astri dan suster Dokter datang membawa karangan bunga dan menyanyikan lagu “Happy Birthday“.

Made punya firasat, “inilah akhir dari segalanya…”, tapi segala apa itu Made tak tahu.

Ada event sepeda tandem dan Astri bertanya apakah Made bisa menjadi pasangnya naik sepeda tandem. Tapi sepeda tandem harus di pinjam dari desa Ootmarsum yang tidak terlalu jauh dari Almelo.

Perjalanan menuju desa Ootmarsum sungguh sangat indah pemandangannya. Pagi yang dingin terasa hangat, sinar mentari pagi menerpa pucuk pohon Oak diatas bukit dan langit yang biru dihiasi awan berbaris baris. Tapi tak seindah perasaan hati Made yang berbunga bunga.

Astri lebih menikmati pemandangan ketimbang Made yang menemaninya. Made lebih menikmati wajah Astri ketimbang pemandangan alam disekitarnya.

Sepanjang perjalanan Made selalu berpikir, “punyakah dia perasaan suka seperti aku? sedikit saja tak apalah”. Tiba di Ootmarsum mereka sempat mengunjungi museum arkeologi. Diskusi tentang spesimen langka koleksi museum. Mereka melepas lelah rebahan di rumput dengan kepala keatas hingga yang tampak hanya langit biru dibingkai untaian helai rumput yang tertiup angin.

Dalam perjalanan pulang ke Almelo ditemani langit ungu, “Romance” karya Beethoven menyanyi-nyanyi di kepala Made. Hari demi hari, pertemuan demi pertemuan, hiking dan bersepeda.

Ketika cinta bergelora, Made merasa mampu melakukan apapun. Cinta memompa vitalitas baru dalam hidupnya. Dalam suasana seperti ini Made teringat akan cintanya pada tanah asalnya, pulau Bali.

Hingga suatu hari dipuncak bukit Holter Hill, ketika menikmati pemandangan di bawah bukit.

Astri akhirnya bertanya, “Jadi apa rencanamu tentang kita?”

Made menjawab dengan cepat, “tidak ada…”, dengan cepat pula ia sadar bahwa ia telah berbohong.

Jelas Made punya rencana, tapi apa rencana itu tidak jelas.

Made belum benar benar memikirkan dampak sosial yang harus ia hadapi ketika bersama Astri. Walaupun ia belum mendapat kepastian tentang perasaan Astri kepada dirinya tapi Made merasa yakin dan mampu untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin akan dihadapi.

***

Tiba saatnya Astri harus melanjutkan sekolah kebidanan ke Rotterdam selama 2 tahun. Sebuah sekolah yang sangat ketat dengan jadwal.

Sore hari sebelum keberangkatan Astri ke Rotterdam, mereka menaiki bukit untuk menyaksikan matahari ditelan bumi. Tertawan kedamaian yang dalam ditengah berkecamuknya perang dunia ke II.

Hari telah dipeluk malam ketika untuk pertama kalinya Astri dan Made mengakui cinta telah bersemi dihati mereka. Kenyataan bahwa mereka akan berpisah dan mungkin tak bisa saling bertemu selama dua tahun menyesakkan dada.

Made sadar tengah berada di persimpangan jalan. Ia bisa mengatakan pada Astri bahwa kisah kita telah usai dan menganggap semua ini adalah sebuah kenangan indah yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Astripun mengatakan bahwa ia menerima segala keputusan yang akan diambil oleh Made.

Astri memiliki karir, pendidikan, usia muda, paras yang cantik dan kesempatan untuk memulai pengalaman baru di tempat yang baru bersama yang lain.

Tapi Astri sempat berujar bahwa ia tak akan bersama yang lain. Pengalaman indah bersama Made akan selalu menghiasi hatinya. Sementara Made masih memikirkan, apakah Astri bisa tahan mendampingi dirinya menghadapi ribuan tantangan asing dari dunia timur.

Menyaksikan kereta yang ditumpangi Astri menghilang menuju Rotterdam membuat Made bergetar seperti kehilangan nyawa. Lama Made dan Pak Vermeulens berdiri memandang ke arah kereta yang menghilang itu seolah olah kereta itu akan kembali lagi.

Kesedihan mendalam membuatnya muram dan Pak Vermeulens menghiburnya dengan mengatakan, “kalian masih bisa bertemu dua minggu sekali ketika kamu off”.

Perkataan Pak Vermeulens justru membangkitkan emosi Made. Disekanya air mata yang keluar sambil menghambur ke kamar menghayati perasaanya. Dalam hati Made semakin yakin, “Astri… hanya Astri seorang… iya.. Astrilah orangnya.. yang akan mampu mendampingi hidupku yang berat ini untuk selamanya”.

***

Rindu tak tertahankan membuat Made nekat ke Rotterdam pada saat off pertama sejak ditinggal Astri. Sesampainya di RS Rotterdam Made bertemu dengan satpam penjaga pintu gerbang yang simpatik.

Asrama suster tak menerima tamu pria tapi satpam itu kelihatannya baik dan bersedia membantu. Made janji tak akan datang dua kali karena satpam sudah berkali kali mengingatkan bahwa tamu pria dilarang masuk.

Ketika Made menanyakan nama suster Astri, pak satpam langsung tahu, “oh tahu… siswa baru sekolah kebidanan yang imut-imut itu kan?”, kata pak satpam.

Dengan berjalan berjingkat-jingkat mereka masuk menuju asrama lewat jalan belakang melalui semacam labirin lalu tembus ke sebuah koridor dimana terdapat beberapa siswi sedang mengobrol.

Obrolan terhenti ketika melihat pak satpam dan seorang laki-laki yang masuk ke asrama. Pak satpam lalu memberitahu ke siswi itu untuk memanggil suster Astri. Para siswi itu berlari keatas dengan girang dan heboh memanggil Astri untuk turun.

Astri sangat senang melihat Made datang. Walaupun pertemuan sangat singkat tapi rasanya sangat membesarkan hati. Astri lalu mengatakan lain kali kalau mau datang sebaiknya disinkronkan waktunya dengan off sekolah kebidanan sehingga ia bisa membawa Made ke rumah orangtuanya di Wassenaar.

***

Empat minggu kemudian Made mendapati dirinya telah duduk diruang tamu Pak Piet, ayah Astri di Wassenaar. Orang tua Astri telah bercerai waktu Astri berumur 7 tahun, semua anak anak ikut sang Ibu. Untuk menghidupi keluarga Astri bekerja disebuah toko buku hingga usiannya cukup dewasa untuk bekerja sebagai suster. Namun Astri tetap dekat dengan ayahnya walaupun ayahnya menikah lagi dan punya anak lagi yang masih kecil kecil.

Made penasaran sejauh mana Astri telah cerita tentang dirinya pada ayahnya. Made merasa ayah Astri pasti memandang dirinya dengan penilaian penilaian khusus calon menantu. Tapi kekakuan suasana cepat cair dengan selera humor Pak Piet dan obrolan yang seru. Weekend yang menyenangkan dirumah Pak Piet.

Made tidur diatas kasur tenda untuk camping di sebuah kamar kayu sebelah belakang rumah. Keesokan harinya, pagi pagi Astri datang dengan menggunakan kimono dan membawa secangkir kopi.

Astri membungkuk untuk memberi sebuah ciuman selayaknya selamat pagi. Pada saat membungkuk itu, kimono bagian atas Astri terlepas dan terlihatlah pemandangan indah yang ada didalam kimono Astri oleh Made.

Begitu indahnya… hingga Made tak kuasa menahan tangannya untuk diam. Astripun merah merona di pagi hari yang senyap itu. Made mencicipi indahnya surga dunia.

***

Pada Sabtu berikutnya, mereka janjian untuk bertemu di Hertogenbosch. Dari sana mereka menuju sebuah obyek wisata di desa kecil bernama Oisterwijk. Tempat yang sangat ideal untuk hiking.

Selayaknya orang pacaran mereka jalan jalan sesuka hati, tak memperhatikan arah dan waktu, hingga hari mulai gelap. Mereka baru sadar ketika ingin kembali. Tapi hati mereka lagi senang, tak terlalu khawatir dengan situasi dan justru menikmati petualangannya.

Hingga mereka dikejutkan oleh suara keras, “WERDA“. Mereka terdiam, serius mendengarkan suara apa dan siapa itu. Kemudian terdengar lagi, “WERDA“, diikuti oleh derap kaki teratur sejumlah orang, mirip seperti serdadu yang tengah berbaris.

Mereka mendekati sumber suara dengan mengendap-endap. Terlihat tentara Jerman sedang patroli hilir mudik. Rupanya dekat situ terdapat pos penjagaan perbatasan.

Made mulai panik tapi Astri tetap tenang. Ketenangan Astri menentramkan Made. Mereka menjauh perlahan lahan dan memutuskan untuk menunggu hingga besok pagi untuk mencari jalan pulang.

Tak berani menyalakan api unggun dan untuk mengusir dingin mereka saling berpelukan. Dalam suasana yang gelap, dingin, sunyi dan menegangkan tapi perasaan romantis menghalau semuanya.

Fajar menyingsing, mereka mengandalkan naluri pramuka dalam menemukan jalan pulang. Berkat bantuan sepasang kakek nenek yang rumahnya tak jauh dari perbatasan mereka bisa menemukan stasiun kereta api terdekat menuju pulang. Ikatan diantara mereka semakin kuat.

***

Akhir 1943, fakultas kedokteran Universitas Amsterdam telah menyelesaikan persiapan sidang untuk sarjana kedokteran. Tapi karena kampus ditutup untuk beberapa lama maka dikhawatirkan jika tak ada mahasiswa yang siap maka akan terjadi gap pada angkatan kelulusan.

Untuk itu dipilih secara hati hati mahasiswa yang akan mengikuti persiapan sidang. Dr Pannekoek memberitahu bahwa Made adalah salah satu mahasiswa yang dipilih untuk ikut serta perkuliahan lanjut.

Kembali ke Amsterdam dan terbukti ternyata semua pengalaman sebagai asisten Dr Pannekoek di lab RS Almelo sangat membantu Made dalam memahami teori perkualiahan. Lulus ujian demi ujian hingga akhirnya Made lulus sebagai sarjana kedokteran (belum dokter) dan ditugaskan di kota Nijmegen pada sebuah RS Katolik.

Beberapa minggu kemudian Roland juga lulus juga dan menyusulnya ke Nijmegen. Mereka tinggal sekamar dirumah keluarga Jansen. Masa masa bersemangat di Nijmegen bersama Roland tidak terlalu lama sebab perang semakin brutal.

Tentara sekutu berusaha mengusir tentara Jerman keluar Nijmegen. Tentara jerman kocar-kacir dan meninggalkan teman temen mereka yang terluka.

Tentara Jerman yang terluka dimasukan ke RS untuk diberi perawatan. RS tak boleh menolak dan harus menerima semua pasien tanpa terkecuali entah itu tentara sekutu maupun Jerman.

Pernah suatu kali ada tentara Jerman yang butuh transfusi darah karena luka lukanya. Made mendapat tugas untuk melakukannya.

Dengan wajah tegang tentara Jerman itu bertanya, “Apa itu? mau kau apa aku?”.

Made menjawab, “Tenang, ini sekantong darah, bagus untukmu.”.

Tiba tiba tentara Jerman itu berteriak, “Oh.. darah? jangan jangan, aku tak mau, bisa saja itu darah Yahudi, aku lebih baik mati daripada tercemar darah Yahudi.”

Made tak habis, bagaimana mungkin orang Eropa percaya takhyul seperti itu.

Kemudian tiba giliran tentara Amerika yang dirawat. Ketika tiba waktu besuk, teman teman tentara Amerika yang juga tentara itu datang menjenguk dengan membawa rokok dan minuman. Mereka merokok di dalam ruang perawatan hingga asapnya kemana mana sambil bercanda tertawa tawa seperti orang berpesta.

***

Musim semi 1945, tentara Jerman berhasil dihalau keluar. Kehidupan berangsur normal kembali. Komunikasi dengan Rotterdam telah pulih. Surat surat Astri datang dengan lancar dan sebentar lagi ia akan ujian akhir kebidanan.

Universitas dibuka kembali, seluruh mahasiswa yang sebelumnya sembunyi kini keluar dari persembunyiannya untuk melanjutkan studinya. Made telah diangkat menjadi co-as di Amsterdam. Astripun kerja paruh waktu sebagai bidan di Amsterdam selatan dan memungkinkan bertemu dengan Made lebih sering.

Made benar benar berusaha menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin karena ada Astri yang telah menunggu dan situasi telah membaik seiring perginya Jerman.

Made berlajar dengan tekun untuk ikut ujian akhir. Pada suatu kuliah yang penting sang profesor baru saja memulai kuliah, Made datang telat dan berjingkat masuk ruangan agar tak menarik perhatian. Namun dosen memergokinya dan memintanya maju kedepan.

Made mulai tegang. Para mahasiswapun memperhatikan dengen seksama. Semula dosen akan mempraktikan teknik memeriksa pasien yang terbaring di depan kelas. Tapi kemudian dosen meminta Made untuk melakukanya.

“Kapan ujian akhirmu”, tanya dosen.
“Bulan depan pak”, jawab Made.
“Periksalah, pasien ini sakit apa.”, lanjut pak dosen profesor itu.

Made memeriksa pasien itu lalu melaporkan hasilnya kepada dosen dengan suara keras agar didengar oleh seluruh mahasiswa.

“Selamat, anda telah lulus, tak usah ikut ujian lagi.”, sambut pak dosen.

Made tak percaya tapi tepuk tangan riuh para mahasiswa meyakinkannya bahwa apa yang ia dengar itu nyata.

Made gembira luar biasa dan mengabarkan berita gembira itu pada Astri. Dua minggu kemudian mereka melaporkan jadwal pernikahan mereka ke kantor catatan sipil pada tanggal 31 Mei 1946.

Malam hari setelah mencatatkan diri pada kantor catatan sipil mereka berdua merayakannya dengan menonton pagelaran musik “Figaro’s Hochzeit“, karya Mozart di Opera House.

***

Made dan Astri tak memiliki cukup uang untuk membeli gaun pernikahan. Astri kemudian dengan jarum dan benang merombak pakaian pengantin milik ibunya yang wafat ketika perang masih berkecamuk. Gaun itu sudah berumur 30 tahun tapi terbuat dari bahan yang bagus. Astri merombaknya menjadi gaun yang cocok dan serasi untuk mereka berdua.

Untuk urusan rias pengantin dilakukan oleh keluarga Roland, khususnya ibunya Roland. Kemudian resepsi makan siang disiapkan oleh Tamme dari Oud-Bussum, tempatnya bersembuyi semasa perang.

Dalam perjalan menuju rumah pengantin, Made menyempatkan diri singgah ke toko bunga untuk membeli bunga aster. Sesampainya dirumah pengantin, Astri mengambil setangkai bunga itu lalu menyematkannya di rambut seperti layaknya gadis Bali. Astri tampak sangat istimewa.

Kejutan lain, teman teman Made dari UNICA menyiapkan kereta kuda dengan empat ekor kuda penariknya yang gagah. Perjalanan berkeliling kota Amsterdam dengan kereta kuda dan mendapat sambutan senyum dan lambaian tangan dari setiap orang yang melihatnya adalah suatu pengalaman bagai mimpi.

Enam minggu bulan madu dipulau Vlieland adalah akhir dari prosesi pernikahan Made dan Astri. Suatu akhir yang merupakan awal dari seribu tantangan kedepan yang akan dihadapi oleh Made dan Astri dikemudian hari. Malam ini adalah peringatan kisah mereka berdua.

18 Komentar

Filed under sastra, sejarah

What Do You Want From Me?

What do you want from me?

Do you want my script?

Just download it, I still have it on my server.

Do you want my pictures?

Copy to your flashdisk, I still have my copy.

Do you want my money?

Take it, I still can earn some more.

Do you want my help?

Be my guest, I still have plenty of time.

Do you want my attention?

You got it, other thing can wait.

Do you want my love?

I can’t let you just have it without life stance, because I only have one love, for one heart, no vain.

-Wibi

5 Komentar

Filed under sastra

Raja Polemik Saut Situmorang

Penyair JembutPolemik seperti sebuah permainan yang penuh dengan keriuhan yang melelahkan. Jika itu polemik yang bermutu maka penonton bisa pulang setelah permainan usai dengan hati berisi. Tapi tidak sedikit juga polemik yang hanya membawa keletihan seperti penonton bola yang kesebelasan kesayangannya kalah bertanding.

Bahan bakar polemik adalah kepentingan. Jangan bilang ranah politik atau hukum yang kaya akan bahan bahan yang rentan dijadikan polemik. Dalam bidang yang seharusnya bisa lebih sepi juga bisa muncul polemik. Kita semua tahu polemik yang diciptakan oleh Roy Suryo di bidang TI atau Kangen Band di bidang musik.

Polemik yang berbobot melibatkan orang orang yang mengerti duduk persoalan dan tidak kehilangan jejak atas arus diskusi yang kerap kali bertensi tinggi, hingar bingar dan bahkan juga chaos. Sebaik baiknya polemik adalah yang tetap menjaga kesantunan bahasa. Penggunaan bahasa yang kasar membuat penonton tidak enjoy dan bahkan dengan mudah mengubah penonton menjadi pemain. Kalau penonton sudah menjadi pemain maka dijamin polemik akan menjadi chaos.

Bagaimana mereka berpolemik? Untuk masa kini media internet adalah media yang paling kondusif mengakomodasi polemik. Kerap kali sebuah polemik bermula dari sebuah diskusi di mailing-list atau web-forum. Teknik propaganda yang paling sering dipakai adalah cross-posting antar milis. Cross-posting ini sangat berpotensi membuat polemik melebar dan mengubah penonton menjadi pemain cross-posting tidak akan bisa memindahkan semua informasi tentang duduk persoalan.

Menarik mengamati kejiwaan para pencipta polemik ini. Mereka biasanya menyerang membabi buta seperti pendekar mabuk. Untuk lebih membumi saya akan ambil contoh kasus sebuah polemik yang membuat langit sastra Indonesia menjadi kelam.

Perkenalkan seorang penyair bernama Saut Situmorang yang telah memperlihatkan perilaku seorang agen polemik yang handal. Saya ingin bandingkan Saut dengan Roy Suryo, juga seorang yang punya reputasi dibidang polemik.

Kedua duanya memiliki ulah yang kontroversial. Roy pernah membuat statement bahwa Blog itu hanya trend sesaat dan tidak bisa dijadikan bahan rujukan jurnalisme yang valid. Statement ini membuat komunitas Blogger Indonesia meradang dan polemik pun tak terhindarkan.

Saut dengan demonstratif menyerang Komunitas Utan Kayu (KUK) dengan menuduh KUK sebagai “kekuasaan” yang “menindas”, “meniadakan” dan “menekan” komunitas lain sastra Indonesia dan menuntut agar TUK dibubarkan dan menyerukan agar Goenawan Mohammad dedengkot TUK dan penyair senior itu agar dipenjarakan. Walaupun kubu TUK sendiri tidak terlalu menghiraukan ulah Saut ini namun serangan ini sudah memicu polemik berkepanjangan yang tidak elok.

Roy dan Saut tidak pernah menampilkan suatu penjelasan yang tuntas atas pernyataannya. Inilah profil agen polemik terbaik negeri ini. Kedua duanya Roy dan Saut senang berkontroversi. Seperti ada sesuatu yang mereka tuntut dari kontroversi mereka. Sesuatu yang menjadi obsesi.

Sony Suryo kakak kandung Roy Suryo pernah memberi kesaksian bahwa Roy Suryo suka sekali mencari popularitas. Sedangkan Saut kalau dilihat dari karya karyanya sangat berani menggunakan bahasa yang vulgar yang tentunya akan dengan mudah menarik perhatian.

Berikut adalah salah satu contoh puisi Saut yang menggambarkan Tuhan. Judulnya “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu

ada jembut nyangkut
di sela gigiMu!
seruKu
sambil menjauhkan mulutKu
dari mulutMu
yang ingin mencium itu.

sehelai jembut
bangkit dari sela kata kata puisi
tersesat dalam mimpi
tercampak dalam igauan birahi semalaman
dan menyapa lembut
dari mulut
antara langit langit dan gusi merah mudaMu
yang selalu tersenyum padaKu.

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu
tapi bersihkan dulu gigiMu
sebelum Kau menciumKu!

Sampai sampai oleh kalangan penyair Saut dijuluki “Penyair Jembut”.

Tidak hanya itu, selain aksi aksi yang mengundang kontroversi juga mereka ini sudah seperti kehilangan sensibilitas sosial boleh dikatakan. Roy pernah memberikan kesaksian atas keaslian foto-foto telanjang artis Sukma Ayu yang membuat keluarganya sangat terpukul. Dia tidak perduli perasaan orang yang penting bisa tampil ke publik.

Sautpun demikian pernah membuat sajak yang isinya membuat tersinggung umat Hindu Bali. Saya tidak akan memuat sajak itu disini karena tidak ingin menambah sakit hati teman teman Hindu Bali. Yang jelas sajak itu menuai kritik, kecaman dan keberatan dari berbagai golongan terutama umat Hindu Bali.

Satu lagi ciri yang sama diantara mereka. Sama sama sensitif dan cepat marah. Roy pernah mengira seseorang yang berusaha memfitnah dia dengan menggunakan email palsu melakukan posting propaganda ke milis milis. Sedangkan Saut juga sama, begitu ada email postingan yang menyudutkan dia dengan nama yang belum dikenal kontan dia menuduh itu ulah dari seorang lawannya yang berusaha mendiskreditkan dirinya. Padahal belum tentu benar dan juga belum tentu salah tapi keyakinan mereka sudah pasti.

Tapi kalau mau dibandingkan dengan bahasa yang mereka gunakan saya rasa Roy masih belum separah Saut yang berani menabrakan dirinya dengan siapa saja termasuk institusi keagamaan yang sangat dihormati dan berpengaruh di negeri ini.

Semoga Saut menjadi raja polemik seumur hidup dalam artian tidak ada lagi yang lebih gila dari Saut dalam berpolemik. Pertandingan bola saja yang hanya 2 kali 45 menit bisa sangat melelahkan apalagi polemik bertahun tahun yang akhirnya kalah semua.

Ada yang mau mengkudeta Saut…?

98 Komentar

Filed under sastra, tokoh

Arti Sebuah Penghargaan

Sebuah tulisan dari Anand Krishna di Radar Bali, Senin 20 Agustus 2007

Saya pernah berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa di Jakarta. Tujuannya mulia, setidaknya demikian di mata masyarakat hingga hari ini, dan di mataku saat itu. Melayani mereka yang berada dalam keadaan susah,sakit.

Kemuliaan Melayani atau Nilai Pelayanan sering terkalahkan oleh pujian dan penghargaan. Kemudian,pujian dan penghargaan itu yang menjadi penting. Kita lupa bahwa pelayanan bukanlah pelayanan bila yang dituju adalah pujian dan penghargaan.

Jiwa Pelayanan tercemar oleh pujian dan penghargaan. Pujian dan penghargaan merubah pelayanan menjadi jasa. Dan, jasa adalah dagang, usaha, bisnis.

Hari itu, saya bersama rombongan disambut oleh seorang wanita cantik, dalam keadaan ceria…. Sulit untuk menerka apakah dia seorang pasien atau seseorang yangdatang untuk menjenguk pasien. Ketika diperkenalkanoleh petugas rumah sakit, kita baru tahu bila dia memang pasien dan sudah dianggap “aman”.

Sambutan wanita itu penuh dengan kegembiraan dan keceriaan… Ia menyanyikan lagu-lagu gereja.Kemudian, tiba-tiba ia mendekati seorang teman yang berjanggut seperti saya juga, dan menyapanya:
“TuhanYesus telah datang, Tuhan Yesus telah datang……”
Untuk sesaat, temanku barangkali lupa bahwa yang menyapanya adalah seorang penderita kelainan jiwa…..
Karena kemiripan janggut, saya pun lupa…. kemudian,tiba-tiba wanita itu menampar teman saya:
“Dari dulusaya panggil-panggil, baru datang sekarang….Kenapa?”

Adakah kebahagiaan dari pujian dan penghargaan yangkita peroleh dari seseorang yang tidak waras? Pujiandan penghargaan dari orang-orang yang tidak warashanya membuktikan bahwa kita dianggap sebagai bagiandari komunitas orang-orang yang tidak waras. Dan,dengan mempercayai pujian mereka, menerima penghargaandari mereka – kita mengamini kepercayaan mereka.

“Come, join the club!”

Kita menerima undangan itu, dan menjadi bagian darikomunitas yang tidak waras.

Bagaimana pula dengan penghargaan dan pujian yangdiberikan oleh seseorang yang telah menyebabkan banyakpenderitaan bagi banyak orang? Sama saja, setiap penerima pujian dan penghargaan itu menjadi bagiandari Komunitas Orang-Orang yang Menyebabkan Penderitaan.

Rabindranath Tagore ditawari gelar kehormatan oleh pihak penjajah. Ia menolak gelar tersebut. Dengan sopan, secara santun, ia berterima kasih kepada pihakpemberi, tetapi secara tegas menyampaikan penolakannyakarena ia merasa dirinya sebagai bagian dari ratusan juta penduduk India saat itu yang masih hidup dalam penindasan dan penderitaan.

Kiranya sikap ini pula yang ditunjukkan oleh Romo Magnis dengan menolak penghargaan yang diberikan, disponsori, atau ada hubungannya secara langsung maupun tidak langsung dengan Keluarga Bakrie.

Keluarga Bakrie, secara langsung maupun tidak langsung, terlibat dalam perusahaan yang, sekali lagi,secara langsung maupun tidak langsung, telah menyebabkan penderitaan bagi sekian banyak warga Sidoarjo dan sekitarnya. Dengan menerima pujian dan penghargaan dari mereka, untuk urusan apa pun,bukanlah sebuah kehormatan.

Romo Magnis yang saya cintai, saya banggakan – telah melihat hal ini. Dan, ia telah bertindak sesuai dengan penglihatannya. Seorang pejabat, yang kerap membela keluarga Bakrie, lagi-lagi secara langsung maupuntidak langsung, menganggap penolakan Sang Romo sebagai sesuatu yang sangat emosional, tendesius, tidak pada tempatnya, kurang objektif.

Saya tidak terkejut, tidak kaget, karena pejabat itu memang memiliki hubungan yang cukup erat, cukup mesra dengan keluarga Bakrie. Dan, hubungan mereka itusah-sah saja, tidak menjadi soal. Hanya saja, sebagai Pejabat Negara, semestinya ia menempatkan Jabatannya diatas hubungan-hubungan pribadi itu.

Bagaimana dengan mereka yang menerima penghargaan itu? Termasuk diantaranya, seorang Putra Bali, seorang Nasionalis Tulen, yang saya selalu banggakan. Saudarasaya, Putu Wijaya.

Beliau, menurut pengakuannya, yang kemudian dipublikasikan oleh media, sempat berpikir-pikir.Tapi, kemudian memutuskan untuk menerima penghargaan tersebut.

Saya tidak tahu apa yang beliau pikirkan. Dan, sayapun tidak tahu atas dasar maupun kesimpulan apa,kemudian beliau memutuskan untuk menerima penghargaan tersebut. Saya juga tidak ingin menasihati seseorang yang saya anggap sebagai Guru, sebagai Inspirator,sebagai Anak Bangsa yang Kontribusinya akan selalu saya banggakan.

Apa yang mesti saya katakan kepada Bli Putu?

Kata-kata apa yang mesti saya sampaikan kepada beliau? I am speechless.

Putu Wijaya adalah Warga Indonesia, tetapi beliau juga adalah Putra Bali. Bali adalah Ibu beliau. Saat ini,Bali, sebagaimana juga Indonesia, membutuhkan sosok-sosok pemimpin yang dapat dijadikan sebagai panutan.

Bli Putu memenuhi seluruh syarat.

Baik untuk menjadi panutan bagi warga Bali, maupun sebagai panutan bagi warga Indonesia, khususnya bagi seniman dan budayawan muda.

Apa pun keputusan Bli Putu, hal tersebut tidak akan pernah mengurangi rasa hormat saya terhadap beliau.Apapun keputusan beliau, saya akan tetap mencintai beliau. Beliau tetaplah seorang Guru bagi saya.

Bukan nasihat, bukan tuntutan, apalagi kritikan –tidak, bukanlah semuanya itu. Hanya satu permohonan:Bli, kembalikan penghargaan itu. Penghargaan itu tidak menambahkan sesuatu pada Kepribadian Bli Putu. Bli Putu jauh lebih berharga, sudah cukup berharga, sekalipun tanpa penghargaan itu.

Bli telah menerima penghargaan itu.

Bli telah menghormati pihak pemberi….. Sekarang,saatnya, Bli membiarkan penghargaan itu terkalahkanoleh kepedulian Bli, yang saya yakini ada, terhadap bangsa dan negara. Terhadap ribuan warga Sidoarjo yang telah kehilangan akar mereka. Terhadap penderitaan mereka. Terhadap kesengsaraan mereka.

Saudara-saudaraku yang lain, yang ikut menerima penghargaan tersebut, silakan menaruhnya bila menganggap penghargaan itu menambahkan sesuatu padai dentitas diri Anda. Saya akan tetap menghormati keputusan, kesimpulan, bahkan anggapan Anda. Karena,saya pun mencintai Anda…..

Tetapi, sekali lagi kepada Bli Putu, cintaku terhadapmu tak tertandingi oleh cintaku terhadap siapa-siapa – karena kau, kuanggap saudaraku yang sekandung. Bunda Besakih adalah ibu kita bersama.Langit Bali adalah Ayah yang mengayomi kita bersama.Demi Ibu dan Ayah, demi saudara-saudara kita, demi tanah dan air kita, demi Cinta…. please Bli!

Anand Krishna: Nasionalis/Spiritualis Lintas Agama, Anand Krishna telah menulis lebih dari 110 buku (http://www.anandkrishna.org)

2 Komentar

Filed under sastra, sosial, tokoh

Mas Jenderal

Menjelang sebuah operasi militer di markas besar sebuah batalion infantri tampak tentara tentara sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Hari mulai gelap dan para perwira mulai mengkristal, kelihatannya akan ada briefing tak resmi dari Mas Jendral. Hanya ada satu perwira tinggi berpangkat Mayjen yaitu orang nomor satu di batalion itu yang akrab di panggil Mas Jendral. Kemudian ada beberapa orang perwira menengah berpangkat kolonel, sisanya adalah perwira muda dan para prajurit.

Sebenarnya operasi ini adalah operasi rutin dan tidak terlalu menegangkan, terlihat dari gerak gerik para perwira menengah yang cukup santai dan tidak ada kesan genting diwajah mereka. Apalagi melihat pembawaan Mas Jendral orang nomor satu yang tenang dan berwibawa seolah menjadi jaminan keberhasilan operasi rutin kali ini. Namun tidak demikian bagi sebagian perwira muda dan prajurit karena ini adalah operasi pertama mereka.

Mas Jendral tahu betul psikologi perwira muda dan prajurit yang masih hijau ini, mereka perlu support mental untuk menghadapi semua ketegangan yang akan mereka hadapi sebentar lagi. Seorang perwira muda yang baru lulus akademi mendapat tugas untuk melaporkan semua kegiatan akhir dari persiapan operasi. Dengan cekatan perwira muda berpangkat Letnan ini berlari ke arah Mas Jendral yang sedang duduk bersama perwira menengah lainnya membahas startegi operasi kali ini.

Derap kaki Letnan menghentikan pembicaraan dan segera terdengar suara Mas Jendral,

“Bagaimana…?”

Letnan menjawab:

“Lapor… semua persiapan telah rampung, siap menunggu perintah untuk diberangkatkan”

Mas Jendral: “OK, berangkatkan satu persatu seperti biasa”

Letnan: “Siap… laksanakan”

Kemudian Letnan balik badan dan berlari kembali ke tempatnya disusul oleh deru suara mobil truk pengangkut peralatan tempur dan logistik yang sedang diberangkatkan. Dari gazebo markas besar Mas Jendral dan perwira lainnya memperhatikan satu persatu truk tersebut berlalu. Sampai truk terakhir yang mengangkut ransum makanan akan segera berlalu tiba tiba seorang Kolonel berteriak, “STOP…, ini truk ransum kan?”

Letnan menjawab: “Siap… benar ini truk ransum.”

Kolonel:

“OK kalau begitu keluarkan beberapa bungkus makanan buat makan terakhir sebelum berangkat”.

Mas Jendral: “Ah benar… kau tahu saja kalo aku lapar”, celetuk Mas Jendral.

Letnan: “Siap… berapa bungkus Pak?”

Kolonel: “Siapa yang mau?”

Kemudian Kolonel menghitung perwira yang duduk di gazebo itu.

Para perwirapun sibuk memilih menu ransum.

“Aku tongkol saja yah…, Mas tongkol yah? ya yaaa aku tongkol…, aku ayam ajalah”

Kolonel: “OK semua 5 orang, 3 tongkol dan 2 ayam.”

Letnan: “Siap, 5 bungkus.”

Mas Jendral: “Tunggu dulu.. kau sendiri bagaimana”, sergah Mas Jendral sambil menunjuk Letnan.

Letnan: “Siap, saya sudah makan tadi di Mess”

Mas Jendral: “Ohhh… makan di Mess? …baiklah”, sambil tersenyum dan melanjutkan gumamanya, “Makan itu tak harus pada saat lapar Letnan…”

Kolonel: “Ah biar saja Mas dia sedang belajar disiplin”.

Sambil tersenyum simpul Mas Jendral menanggapi “Yah boleh boleh saja tapi makan yang paling nikmat itu adalah makan di medan operasi seperti sekarang ini.”

Sambil menghidangkan 5 bungkus ransum, dalam hati Letnan menyesal menolak ajakan Mas Jendral.

Terlihat para perwira itu sibuk membuka bungkusan ransum dengan nafsu makan yang kian menjadi-jadi. Kolonel bahkan tidak mencuci tangannya dan langsung saja melahap makanan yang memang nikmat karena masih hangat itu. Tapi rupanya Mas Jendral menanti sendok yang sedang diambil oleh ajudannya. Melihat Kolonel sudah menikmati ransum dengan nikmatnya Mas Jendral menjadi gelisah dan tak sabar menunggu sendoknya.

“Sendoknya mana nih…”, teriaknya sambil memegang bungkusan ransum.

Tiba tiba terjadi sesuatu dan terdengar teriakan Mas Jendral yang cukup keras

“WHADUUHHH…..”, teriakan itu menghentak semua orang yang ada di dekat situ. Bahkan ada seorang prajurit yang ditugaskan mengamankan secara reflek mengokang senapan M-16 yang disandangnya. Si Letnan bahkan sempat meraih pistol genggamnya walaupun tak sampai di cabut dari sarungnya setelah sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Rupanya Mas Jendral begitu mendapat sendok dari ajudannya langsung ingin segera menyantap ikan tongkol kesukaanya tapi karena lapar dan grasa-grusu ikan tongkol yang sangat diminatinya itu terjatuh dari bungkus ransum yang ia pegang. Sementara ia sadar bahwa ia tak akan dapat gantinya karena truk pembawa ransum sudah diberangkatkan.

Dengan wajah yang sangat gusar dan penuh harap Mas Jendral berkata “Wadhhuhh.. gimana ini.. gak ada lagi yah???”. Melihat keadaan ini reaksi para perwira yang lainpun beragam, si Mayor segera dengan buru buru melahap tongkolnya supaya tidak diminta oleh Mas Jendral, walaupun tentu saja Mas Jendral tidak akan sampai hati memintanya.

Tapi wajahnya sangat memelas dan ingin diberi solusi sampai akhirnya Kolonel yang cuek itu dengan spontan mengatakan “Tukar punyamu dengan punyaku”.

Mas Jendral: “haahhh..? maksudmu? tapi yang ini sudah jatuh…”

Kolonel: “ga papa, aku memang suka makan yang sudah jatuh..”

Mas Jendral: “ahhh.. kau bisa ajahhh, tak usahlah”.

Disini harga diri Mas Jendral dipertaruhkan, mau ambil gak enak sama perwira yang lain, mau tidak diambil harus memakan tongkol yang sudah jatuh dan kotor kena tanah.

Dalam hati Mas Jendral berkata “Aku kan tentara yang mau perang masa tongkol jatuh ajah gusar, tapi kenapa perwira yang lain tidak ada yang spontan memberi tongkolnya kepadaku? bagaimana kalau nanti di medan perang? wadhuuhh gawat nih…, mereka memang harus di gembleng lagi rupanya…”

Si Letnan yang tadinya menyesal menolak ajakan Mas Jendral sekarang malah mensukurinya karena jika ia menerima tawaran Mas Jendral untuk ikut makan maka dia juga akan terjebak dalam dilema tadi, sebab dia bayangkan jika dia juga memegang bungkusan ransum itu maka dia juga tak akan rela menyerahkan satu satunya tongkol yang siap di santap itu.

Akhirnya Mas Jendral tetap melahap tongkol yang sudah jatuh tadi dan segera memimpin operasi dengan sukses. Hidup Jendral.

Tinggalkan komentar

Filed under sastra