Arsip Kategori: politik

Pendudukan Gedung DPR/MPR oleh Mahasiswa

Sumber: http://semanggipeduli.com/Sejarah/frame/pendudukan.html

Dalam keadaan yang mulai terkendali setelah mencekam selama beberapa hari sejak tertembaknya mahasiswa Trisakti dan terjadinya kerusuhan besar di Indonesia, tanggal 18 Mei 1998 hari Senin siang, ribuan mahasiswa berkumpul di depan gedung DPR/MPR dan dihadang oleh tentara yang bersenjata lengkap, bukan lagi aparat kepolisian.

Tuntutan mereka yang utama adalah pengusutan penembakan mahasiswa Trisakti, penolakan terhadap penunjukan Soeharto sebagai Presiden kembali, pembubaran DPR/MPR 1998, pembentukan pemerintahan baru, dan pemulihan ekonomi secepatnya.

Kedatangan ribuan mahasiwa ke gedung DPR/MPR saat itu begitu menegangkan dan nyaris terjadi insiden. Suatu saat tentara yang berada di depan gedung atas tangga sempat mengokang senjata mereka sehingga membuat panik para wartawan yang segera menyingkir dari arena demonstrasi.

Mahasiswa ternyata tidak panik dan tidak terpancing untuk melarikan diri sehingga tentara tidak dapat memukul mundur mahasiswa dari gedung DPR/MPR. Akhirnya mahasiswa melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan selanjutnya membubarkan diri pada sore hari dan pulang dengan menumpang bus umum.

Keesokan harinya mahasiswa yang mendatangi gedung DPR/MPR semakin banyak dan lebih dari itu mereka berhasil menginap dan menduduki gedung itu selama beberapa hari. Keberhasilan meduduki gedung DPR/MPR mengundang semakin banyaknya mahasiswa dari luar Jakarta untuk datang dan turut menginap di gedung tersebut. Mereka mau menunjukkan kalau reformasi itu bukan hanya milik Jakarta tapi milik semua orang Indonesia.

Soeharto akhirnya menyerah pada tuntutan rakyat yang menghendaki dia tidak menjadi Presiden lagi, namun tampaknya tak semudah itu reformasi dimenangkan oleh rakyat Indonesia karena ia meninggalkan kursi kepresidenan dengan menyerahkan secara sepihak tampuk kedaulatan rakyat begitu saja kepada Habiebie. Ini mengundang perdebatan hukum dan penolakan dari masyarakat.

Bahkan dengan tegas sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa Habiebie bukan Presiden Indonesia. Mereka tetap bertahan di gedung DPR/MPR sampai akhirnya diserbu oleh tentara dan semua mahasiswa digusur dan diungsikan ke kampus-kampus terdekat. Paling banyak yang menampung mahasiswa pada saat evakuasi tersebut adalah kampus Atma Jaya Jakarta yang terletak di Semanggi.

3 Komentar

Filed under politik, sejarah

Kerusuhan Mei 1998

Sumber: http://semanggipeduli.com/Sejarah/frame/kerusuhan.html

Kemarahan masyarakat terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam hari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat.

Sampai tanggal 15 Mei 1998 di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko maupun rumah di kota-kota Indonesia hancur lebur dirusak dan dibakar massa. Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah.

Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa.

Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini.

Akhirnya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya Pahlawan Reformasi. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh.

Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negri TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut untuk membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu.

10 Komentar

Filed under politik, sejarah

Selamat Buat Dede Yusuf

Dede YusufWalaupun belum menang secara resmi tapi Dede Yusuf Efendi yang ikut pilkada Jabar sebagai cawagub sudah diatas angin dengan menang quick count. Berikut berita dari MetroTV Breaking News:

Hasil perhitungan cepat atau quick count Lembaga Survei Indonesia, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Ahmad Heryawan-Dede Yusuf memenangkan Pilkada Jawa Barat. Pasangan ini memperoleh sekitar 39,46 persen suara. Sedangkan pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim mendapatkan 35,46 persen suara. Sementara pasangan Danny Setyawan-Iwan Ridwan Sulandjana memperoleh 25,08 persen.

Bukannya saya tidak suka pada Agum Gumelar tapi yang tua mohon beri kesempatan pada yang muda. Mas Dede masih muda dan banyak harapan yang digantungkan pada kaum muda sekarang ini. Kami sebagai generasi muda ingin tahu seperti apa sih kalau generasi muda yang belum pernah terkontaminasi birokrasi -korupsi  beri kesempatan memimpin.

Sekali lagi selamat dan semoga berhasil… :-)

14 Komentar

Filed under politik

Dibalik Sikap Pak Nuh Tentang YouTube

YouTubePada pertemuan dengan Menkominfo kemarin terungkap beberapa hal yang penting menyangkut pemblokiran situs YouTube.

Pak Nuh memberi tahu bahwa perintah blokir itu datang langsung dari Presiden dan ketika ditanya oleh Mas Wicaksono apakah ada kemungkinan dibuka kembali, Pak Nuh menjawab tidak, sampai YouTube menghapus video Fitna itu.

Kenapa pemerintah sampai sebegitunya?

Beberapa dari teman teman yang hadir seperti Priyadi dan Jim Geovedi sudah memberikan masukannya bahwa secara teknis pemblokiran ini tidak efektif.

Kemudian Pak Nuh menanggapi bahwa apakah karena tidak efektif lantas kita biarkan. Saya menangkap kesan dari jawaban itu bahwa Pak Nuh enggan membahas aspek teknis dari pemblokiran itu, berarti ada aspek lain yang lebih menjadi pertimbangan.

Kalau dikatakan pemerintah ingin melindungi rakyat dari rasa tersinggung karena menonton film itu saya rasa tidak tepat karena prosentase pengguna Internet di Indonesia masih kecil dibanding rakyat keseluruhan yang 220 juta lebih.

Jadi kami pengguna Internet dianggap minoritas sehingga layak dikorbankan?

Tunggu dulu, diblokirnya situs YouTube memiliki implikasi sosial. Orang jadi penasaran dan mengcopy film tersebut dalam media lain seperti CD atau file yang bisa ditransfer lewat HP.

Kalau sudah begini masalahnya jadi lain. Disebuah milis malah saya mendapati ada email yang bertanya, “Sudah nonton Fitna?”. Perilaku ini memang jadi kecenderungan. Apa apa yang dilarang maka akan diburu. Orang jadi penasaran.

Apakah pemerintah aware dengan ini? Melihat perintah pemblokiran datang langsung dari Presiden maka patut dapat diduga bahwa pemblokiran ini karena alasan alasan politis. Film Fitna menghina agama dan sudah mendapat kecaman dari pemerintah Belanda sendiri dan juga dari SekJen PBB.

Mayoritas rakyat Indonesia adalah umat Islam. Pemerintah tentu dituntut untuk merepresentasikan sikap sebagai pemerintah dari negara dengan pendudukan beragama Islam terbesar didunia. Apa kata dunia jika Indonesia tidak bersikap protes terhadap pemuatan Film tersebut oleh YouTube.

Kira kira demikianlah pertimbangan politik luar negeri Presiden SBY ketika membuat keputusan pemblokiran YouTube. Soal yang lain jadi nomor dua. Apakah itu tentang bahaya transfer film Fitna ke media lain yang justru akan menyebar dengan cara yang lebih luas, atau apakah itu tentang pengguna Internet yang butuh akses ke YouTube akan terganggu, atau apakah itu terjadi kesalahan implementasi perintah blokir sehingga yang terblokir bukan hanya YouTube tapi juga situs penting lain seperti Multiply dan Rapidshare. Semua jadi nomor dua.

Adalah aspek politik luar negeri yang menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan ini. Mengenai aspek lain jadi nomor dua. Dari diskusi kemarin terlihat bahwa Pak Nuh tidak dapat membuka diskusi lebih dalam tentang pemblokiran ini, seolah olah itu harga mati.

Bisa dipahami karena beliau hanya seorang menteri yang harus take order dari Bos besar, Presiden SBY. Pemerintahan SBY dengan ini lebih mementingkan citra pemerintahannya ketimbang memperhatikan kebutuhan dan rakyatnya dari segala golongan.

Saya yakin banyak dari pengguna Internet Indonesia yang hanya sedikit prosentasenya itu yang tidak berminat menonton film jelek yang tak berkualitas itu. Hanya sedikit yang menonton atas dasar penasaran saja.

Setidaknya itu yang diungkapkan oleh Riyogarta pada saat diberi kesempatan oleh Pak Nuh untuk berbicara. Jadi sekarang kunci bukan di Pak Nuh tapi di Presiden SBY. Rasanya kok mustahil Presiden SBY mau mengundang kami ke istana untuk dengar pendapat seperti yang dilakukan oleh Pak Nuh. Citra lebih penting, apalagi mau 2009, begitu mungkin pertimbangannya.

Kita disini tinggal bengong. Bagi saya yang tidak terlalu butuh akses ke YouTube dan Multiply mungkin tidak terlalu merasakannya, apalagi saya pakai Speedy yang berani tidak manut perintah Menkominfo. Tapi bagi teman teman lain yang butuh tentu akan sangat menderita.

Bersabarlah teman teman, badai pasti berlalu. Cuma kapan…? Melihat kenyataan ini saya merenung betapa lemahnya kedaulatan TIK negara kita ini. Tak ada alternatif lain yang bisa diberi oleh anak bangsa. Mohammad DAMT dimilis nyeletuk yang menurut saya berisi poin penting.

MDAMT bilang kini saatnya mengembangkan konten lokal lebih giat lagi, memang ada layartancap.com tapi apakah server cukup kuat? Mari kita coba. Kita tak bisa begini terus, didepan sana akan banyak sekali problem yang tak bisa dipecahkan kalau kita tidak berdaulat.

Pemerintah akan hampir pasti lebih mementingkan aspek politik ketimbang yang lainnya. Bosen mikirin pemerintah mari kita perkuat TIK Indonesia sehingga kita bisa menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.

64 Komentar

Filed under curhat, islam, politik

Waspadai Bahaya Laten Orde Baru

Astana Giri BangunSengaja saya posting artikel ini berjarak dengan hari kepergiannya. Sebagai orang yang tidak mengibarkan bendera setengah tiang saya punya cara tersendiri dalam memandang sosok pemimpin Orde Baru ini. Tidak ikut ikutan menghujat sudah cukup buat saya.

Pak Harto tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai pribadi seorang tua renta berusia 86 tahun yang baru saja tutup usia tapi haruslah dipandang sebagai sosok pencipta sistem dan pembawa nilai yang masih berperan penting dalam sendi sendi kehidupan bangsa Indonesia.

Segala hormat puja dan puji di media cetak maupun elektronik kiranya ditujukan kepada sosok Pak Harto sebagai seorang pribadi yang mengagumkan. Tapi semua itu membawa implikasi yang luas ditengah masyarakat.

Seandainya semua nilai nilai yang pernah beliau tanamkan pada bangsa ini ikut mati bersamanya maka pemberitaan penuh simpati dibanyak media itu tak akan menjadi persoalan.

Presiden SoehartoKini dengan gencarnya simpati dimedia masa mengangkat kembali romantisme masa masa Orde Baru dimana stabilitas nasional terjaga, ekonomi yang baik, pembangunan nasional berkesinambungan dan martabat bangsa dimata asing terpelihara.

Semua itu bisa dengan mudah dikenang oleh rakyat mengingat kondisi rakyat sekarang ini yang sedang didera oleh kesulitan multidimensi, mirip seperti kondisi Pak Harto yang wafat akibat kegagalan fungsi multiorgan.

Lalu apa salahnya? Dimana bahayanya?

Untuk menjawab pertanyaan sederhana diatas saya ingin terlebih dahulu mengulas sekilas apa yang dilakukan oleh Pak Harto dimasa Orde Baru.

***

Sebuah pandangan yang mengatakan bahwa pembangunan nasional hanya bisa dilakukan bila stabilitas nasional terjaga, lahir akibat dari tak tersentuhnya pembangunan dimasa pemerintah Orde Lama.

Revolusi yang menjadi paradigma Orde Lama berkutat lebih banyak pada masalah politik yang membuat stabilitas nasional terganggu. Dimata Pak Harto pembangunan ekonomi haruslah segera dilakukan sebagai prioritas utama.

Stabilitas nasional yang diusahakan Pak Harto ditempuh dalam pengawalan militer dengan menggunakan Dwi Fungsi ABRI sebagai instrumen. Pembangunan menjadi paradigma Orde Baru, tampil sama sekali menggantikan paradigma Orde Lama.

Orde Lama ditutup dengan segel berdarah 500 juta lebih rakyat yang dituduh sebagai anggota PKI, partai terlarang yang dianggap manifestasi Orde Lama. Dengan pandangan baru dan harapan yang menggebu gebu akan kemakmuran, semua orang pada masa itu menggantungkan harapan begitu saja pada Orde Baru.

Hingga peristiwa demi peristiwa yang dimulai sejak peristiwa Malari 1974 beberapa kalangan (termasuk penggagas Orde Baru itu sendiri) mulai menyadari bahwa stabilitas nasional yang dimaksud sebagai prasyarat pembangunan memiliki harga yang sangat mahal yang harus dibayar.

Berbekal stabilitas itu pembangunan digelindingkan dan membawa hasil yang signifikan. Cukup untuk menghibur rakyat yang lapar sejak kemerdekaan diraih tahun 45.

Minyak dan Gas Bumi menjadi tumpuan utama pembiayaan pembangunan. Dengan dalih menambah akselerasi pembangunan, Pertamina dibawah pimpinan Ibnu Sutowo meminjam uang dari lembaga keuangan asing sebesar 10 milyar dollar. Inilah kali pertama Indonesia berhutang luar negeri dalam jumlah besar.

Hutang demi hutang dibuat, tidak hanya negara, sektor swastapun ikut ikutan berhutang dengan menjual potensi ekonomi Indonesia yang kian tumbuh pesat karena pembangunan.

Pembangunan memang berjalan dan berkembang tapi seiring dengan itu hutang juga berkembang. Layaknya sebuah bangunan ekonomi sebuah negara harus memiliki dasar yang kuat. Dasar yang dipakai oleh Pak Harto untuk membangun adalah hutang luar negeri.

Tapi beliau melakukannya dengan baik sekali. Teratur dan terencana. Banyak hal yang bisa diraih diberbagai bidang dengan keteraturan ini. Pendidikan, kesehatan, pangan, ketenteraman, prestasi olahraga di berbagai event (SEA Games & Asian Games), keluarga berencana, kedaulatan wilayah dan bahkan wibawa bangsa dimata asing.

Hanya saja konsep kekuasaan Jawa yang beliau terapkan dalam pemerintahan tidak memungkinkan kalangan yang berada diluar lingkaran-dalam untuk bisa mengembangkan diri.

Konsep kekuasaan ini harus dimengerti oleh pihak pihak yang ingin berkembang. Pemahaman atas konsep ini akhirnya ditransfer ke masyarakat luas yang oleh karena berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama maka telah diadopsi dari hanya sekedar pemahaman konsep menjadi nilai nilai.

Nilai bahwa kritik itu tak sopan dan tak perlu, nilai bahwa nepotisme itu lumrah, nilai bahwa kolusi itu cerdas, nilai bahwa korupsi itu wajar dan menyenangkan, nilai bahwa kekerasan itu adalah solusi.

Semua nilai nilai itu mengiringi pembangunan dan dicerna sebagai hasil dari nilai nilai itu. Kalau tidak mengamalkan nilai nilai itu maka pembangunan tak akan berhasil. Saking pentingnya nilai nilai itu maka dipertontonkan dalam bentuk simbol simbol seperti Pendopo Gubernuran atau Kabupaten, masjid berkubah Joglo, dan masih banyak lagi. Terjadi imitasi konsep kekuasaan hingga ke daerah daerah. Singkatnya Jawanisasi.

Nilai nilai ini menjadi seolah olah kekal karena telah diadopsi sebagai budaya. Dalam banyak proyek pemerintah kalau tak menyetor uang pada pejabat maka jangan harap tender dimenangkan. Bahkan dalam perusahaan swasta, budaya itu juga berkembang.

Untuk bisa kebagian jatah pembangunan maka harus mengikuti budaya yang berlaku. Itulah harga yang harus dibayar untuk pembangunan versi Pak Harto.

***

Menanggapi soal hutang luar negeri yang menggunung itu Pak Harto melontarkan teori bahwa hasil pembangunan berupa BUMN BUMN bila dijual akan mampu melunasi semua hutang hutang luar negeri Indonesia.

Segala macam peringatan akan rapuhnya fondasi ekonomi yang dibangun Pak Harto dianggap angin lalu. Bahkan oleh ulah cecunguk cecunguk yang hanya mau mencari keuntungan pribadi dengan segala status dan reputasinya memberi pembenaran atas segala keputusan dan kebijakan Pak Harto.

Dalam iklim ekonomi seperti ini konglomerasi tak terbendung. Terutama oleh kalangan terdekat yaitu kroni dan keluarganya. Konglomerasi sebagai manifestasi Orde Baru dianggap hal wajar dan sehat sehat saja.

Sampai akhirnya krisis moneter melanda akhir tahun 97. Badai krisis ini dengan mudah merobohkan pilar perekonomian dan mengubah krisis moneter menjadi krisis ekonomi.

Nilai hutang luar negeri membengkak, menyusul anjloknya harga jual BUMN BUMN yang teorinya cukup untuk membayar hutang. Krisis ekonomi terus berlanjut menjadi krisis sosial, politik dan hingga kini krisis nilai budaya.

Krisis ini melanda tidak hanya Indonesia tapi semua negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi mereka beragam dan tidak sedikit pula yang mengalami ambruknya perekonomian seperti Malaysia, Thailand dan Filipina.

Mereka mati matian bangkit dari krisis seperti halnya Indonesia. Presiden Indonesia naik dan turun silih berganti tak menunjukan hasil yang benar benar menggembirakan. Tanya kenapa?

Kini negara negara tetangga tersebut sudah keluar jauh jauh hari dari krisis tapi Indonesia nampaknya masih terus berkubang didalamnya bahkan ada gejala semakin terperosok. Tanya kenapa?

Menurut Agus Pambagio seorang pengamat ekonomi publik gejala ini bisa dilihat dari naiknya harga sembako sejak awal tahun dengan kenaikan yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Ditengah tengah kekhawatiran akan semakin terperosoknya ekonomi rakyat ini Pak Harto pergi meninggalkan nilai nilai yang dulu disemainya dan kini terus hidup subur. Nilai nilai inilah yang paling bertanggung jawab dengan ketidak mampuan bangsa Indonesia bangkit dari krisis. Terjawab sudah kenapa.

***

DemonstrasiReformasi mampu menurunkan Pak Harto, tapi nilai nilai yang sudah menjadi budaya itu tetap hidup. Ketika masih berkuasa Pak Harto sebagai the-god-father Orde Baru memiliki kontrol atas nilai nilai itu. Tapi begitu beliau lengser maka kendali itu tak ada lagi.

Indikasinya adalah kasus korupsi semakin terang terangan, kekerasan merajalela, mafia peradilan bahkan sampai pada tingkat Mahmakah Agung. Jaman Pak Harto memang ada korupsi tapi tak separah ini. Jaman Pak Harto memang ada kolusi tapi tak sampai tingkat lembaga tinggi negara.

Semua praktik nilai nilai Orde Baru jaman Pak Harto ditingkat lembaga tinggi negara selalu dalam kendali dan skenario Pak Harto. Kini itu tak terkendali lagi. Merebak ke segala tingkat dan aspek kehidupan bangsa Indonesia.

Betapapun Reformasi menanggulanginya dengan berbagai penataan ulang tata negara tapi tetap sulit sekali mengatasi praktik atas nilai nilai Orde Baru itu.

Nilai nilai itu tetap hidup dan menjadi bahaya laten. Bagaikan bakteri yang membuat koloni pada seonggok daging busuk. Terus tumbuh dengan subur justru ketika induk semangnya semakin membusuk.

Semua orang mengutuk Orde Baru dan Pak Harto tapi nilai nilainya tetap dipakai. Bahkan oleh pengusung utamanya yakni Golkar ikut nimbrung mengutuk nilai itu dengan membawa citra baru yaitu “Golkar dengan Paradigma Baru”.

Tapi apa yang pertontonkan belakangan ini oleh para petinggi Golkar memperlihatkan bahwa nilai itu masih diusung. Pak Harto ingin dimaafkan begitu saja tanpa peradilan.

Sekarang bahaya laten itu semakin nyata dikomunikasikan lewat media elektronik dengan pemberitaan pemakaman Pak Harto dengan mengangkat romantisme jaman Pak Harto secara berlebihan.

Seolah olah ingin mengatakan bahwa keadaan morat marit sekarang akibat gerakan Reformasi dan Orde Baru tidak bertanggung jawab atas semua keruwetannya. Terbukti dari hasil wawancara di televisi yang mengangkat kesan masyarakat betapa keadaan dulu lebih baik dari sekarang dan kalau bisa balik lagi keadaan seperti dulu.

Bisa saja kita mengiyakan kesan itu sebagai kerinduan akan keadaan ekonomi semata yang sebenarnya semu karena dibangun diatas hutang. Tapi kesan kesan seperti ini sangat penting dalam komunikasi politik.

Efendi Gazali seorang pakar ilmu komunikasi politik mengatakan bahwa fenomena ini bisa dijadikan momentum bagi kekuatan politik tertentu untuk menggiring opini dan akhirnya dukungan.

Walaupun Prof Kacung Marijan seorang pakar ilmu politik meragukan akan hal itu tapi perkembangannya menghawatirkan karena kesan kesan romantisme Pak Harto seperti itu terus saja ditampilkan ke publik lewat berbagai acara di televisi bahkan sampai acara infotainment yang menjadi tontonan favorit ibu ibu.

Hentikan semua itu karena itu berbahaya. Membuai rakyat yang susah, lapar dan amnesia dengan romantisme semu masa lalu. Pembangunan berbasis hutang terbukti rapuh dan nilai nilai Orde Baru adalah bahaya laten karena menjerumuskan bangsa pada budaya nista KKN.

Tiap tiap pemimpin punya sistemnya sendiri sendiri. Sistem Orde Baru hanya berlaku pada jaman Pak Harto. Dan ia telah menyelesaikan tugas sejarahnya selama 32 tahun berkuasa. Kini tinggalkan semua nilai, sistem dan budaya itu.

Kita perlu stamina ekonomi yang kuat untuk mengarungi badai yang akan datang sebentar lagi. Badai krisis ekonomi dunia yang sudah mulai dirasakan oleh Amerika Serikat. Banyak pengamat ekonomi melihat indikasi akan hal itu dari menurunnya secara drastis pendapatan restoran cepat saji Mac Donald yang sangat digemari di AS.

Di dalam negeri sendiri kenaikan harga sembako yang tak terprediksi oleh para pengamat ekonomi menurut saya mengerikan, mengingat sebentar lagi akan ada pemilu yang sangat berkepentingan dengan politisasi keadaan. Bahkan menurut ekonom Faisal Basri, untuk pertama kali dalam sejarah APBN yang baru diumumkan satu bulan oleh pemerintah sudah akan direvisi.

Rakyat didesa desa yang tidak menyadari bahwa kesulitan sekarang ini adalah akibat dari akumulasi praktik nilai nilai Orde Baru akan dengan mudah dikelabui dengan mendramatisasi kesulitan hidup dan mengiming-ngimingi kemakmuran jaman Pak Harto. Janji janji manis akan diumbar dengan menggunakan simbol simbol Pak Harto dan ajakan kembali ke sistem Pak Harto.

Hentikan.. sekali lagi hentikan pemberitaan romantisme semu itu…

10 Komentar

Filed under politik

Meretas Jalan Reformasi

Jusuf KallaMemasuki tahun 2008, Mei nanti genap 10 tahun sudah usia Reformasi, tepatnya sejak Mei 1998. Dalam rangka meretas jalannya Reformasi kemarin tanggal 1 dan 2 Januari MetroTV menggelar acara Today’s Dialogue edisi khusus awal tahun. Topiknya adalah “Meretas Jalan Reformasi” dengan nara sumber Amien Rais, Wiranto dan Jusuf Kalla.

Najwa ShihabSeperti biasa Najwa Shihab tampil sebagai host. Selain ketiga orang tersebut sebenarnya diundang juga dua mantan Presiden yaitu Gus Dur dan Megawati namun sayang dimenit menit terakhir mereka membatalkan kesediaannya untuk hadir. Penonton yang hadir di studio juga rata rata tokoh semua seperti anggota DPR, akademisi, tokoh LSM dan mahasiswa.

Masing masing dimintai pendapat tentang 10 tahun jalannya Reformasi dan jawaban JK normatif saja: 4 Presiden dalam 10 tahun reformasi tentu ada yang sudah berhasil dan ada yang masih perlu dicapai lagi.

Amien RaisAmien Rais yang oleh Najwa disebut sebut sebagai lokomotif Reformasi menjawab bahwa Reformasi ini adalah hasil kolektif bangsa dan bukan tanpa hasil. Hasil yang paling signifikan dan nyata-nyata bisa dinikmati sekarang ini adalah kebebasan Pers, kemudian keberhasilan Amandemen UUD45 yang dikomentari sendiri sudah sangat lumayan, dan kemudian keberhasilan otonomi daerah.

Selain keberhasilan, Reformasi juga memiliki ekses negatif. Beberapa ekses negatif yang diungkapkan Amien Rais adalah transfer korupsi dari pusat ke daerah, bahkan lebih jauh semula korupsi yang bersifat indigenous berubah kearah extragenous.

Maksudnya adalah sekarang itu korupsi dilakukan bukan lagi antara pejabat tinggi tapi antara pemerintah dan big corporation asing. Amien Rais menggambarkan hal tersebut dengan tangan asing yang memegang tengkuk pemerintah untuk didikte melakukan sesuai keinginan pemodal asing.

Kemudian ekses negatif yang paling parah adalah money-politic. Amien sendiri mengaku tidak tahu bagaimana cara menghentikan praktik money-politic yang sudah merajalela sampai ke daerah daerah dalam pilkada.

WirantoSetelah Amien Rais kemudian Wiranto diberi kesempatan. Seolah olah tidak mau kalah dengan Amien Rais, Wiranto mengatakan kalau Amien disebut sebagai lokomotif Reformasi maka ABRI dan dirinya adalah yang menetaskan Reformasi.

Wiranto yang suka sekali menggunakan kata “tatkala” ini mengatakan bahwa dalam sebuah negara berkembang tatkala berhadapan dengan masa peralihan (suksesi) tentara sering kali tergoda untuk mengambil alih kekuasaan. Tapi ABRI tatkala itu tidak tergoda sama sekali untuk melakukannya.

Setelah mendengarkan uraian dari ketiga narasumber Najwa mempersilahkan penonton di studio untuk memberi pandangannya baik untuk Reformasi atau kepada ketiga tokoh tersebut.

Kesempatan pertama diberikan kepada Rama Pratama mantan ketua BEM UI yang menjadi tokoh pergerakan mahasiswa tahun 98 dan kini telah menjadi anggota DPR. Rama memberi kesan bahwa Amien Raislah yang paling berkesan dihati para mahasiswa pada waktu itu yang sangat membutuhkan dukungan moral dan Amien Rais selalu hadir di kampus untuk memberikan inspirasi dan dukungannya.

Kesan Rama pada Wiranto tidak terlalu banyak karena Wiranto pada waktu itu menjabat sebagai Panglima ABRI yang sulit sekali ditemui mahasiswa, sedangkan kesan Rama pada Jusuf Kalla tidak ada kesan apa apa karena pada waktu itu nama JK belum muncul ke permukaan.

Ketika Denny Indrayana mendapat kesempatan untuk berbicara Denny menyampaikan bahwa Reformasi yang sekarang belum menyentuh inti dan baru hanya menyentuh bagian luar saja. Isi atau inti yang dimaksud Denny dibidang hukum ada 4 diantaranya adalah Istana-Cendana-Senjata-Naga.

Istana melambangkan lembaga tinggi negara jadi tidak hanya lembaga kepresidenan tapi semua lembaga tinggi negara termasuk kejaksaaan dan MA. Cendana jelas maksudnya adalah proses peradilan Pak Harto. Kemudian Senjata yang dimaksud adalah TNI kemudian yang terakhir adalah Pengusaha Naga artinya pengusaha besar yang melakukan kejahatan ekonomi yang merugikan negara ratusan triliun rupiah.

Dalam tanggapan oleh narasumber Amien Rais menambahkan satu lagi dalam 4 unsur denny tersebut yaitu Big-Corporation. JK yang mudah tersinggung itu (sesuai dengan parodinya oleh Jarwo Kwat di acara Republik Mimpi) dengan gusar membantah bahwa di Istana tidak ada korupsi, anda boleh cari itu kalau ketemu imbuhnya sambil memandang tajam ke arah Denny Indrayana.

Kemudian Ali Mochtar Ngabalian anggota DPR berkesempatan berbicara tapi sebelumnya dia sudah meminta kepada Wapres Jusuf Kalla untuk tidak marah dalam menanggapi komentarnya.

Ali Mochtar berpendapatan bahwa pemerintah harus independent dari pengaruh asing. Sebagai contoh malam Natal kemarin pemerintah menggelar penjagaan di gereja gereja dengan sangat ketat yang membuat citra bahwa Indonesia tidak aman.

Apakah ini murni keinginan masyarakat atau pesanan dari pihak asing dengan spesifikasi teroris celana diatas mata kaki, berjanggut dan bersorban, begitu katanya dengan berapi api sambil tangan menunjuk nunjuk kearah JK. Kontan JK yang mudah panas itu terpancing dan terjadilah debat yang tidak bermutu.

Ali Mochtar bahkan mengungkit-ungkit kasus Imam Samudra dan Amrozi, kemudian membuka materi hukum bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa mereka mampu merakit bom sedahsyat Bom Bali.

Najwa juga terpancing dan ikut nimbrung diskusi dengan mengatakan bahwa kasus itu sudah tuntas diputuskan oleh pengadilan dan bahkan permohonan kasasinyapun sudah ditolak oleh MA.

Ali Mocthar menyergah dengan mengatakan mana ada pengadilan yang benar di negeri ini termasuk MA. Najwa nyahut lagi, “jadi cuma DPR yang benar?”, suasana jadi riuh bersahut sahutan hingga kemudian Amien Rais menengahi dengan mengatakan kebijakan memperketat penjagaan malam Natal dia rasa memang keinginan dari masyarakat dan bukan intervensi asing. Padahal Amien tidak punya kompetensi dibidang ini tapi entah kenapa Ali Mochtar jadi kalem.

Wiranto kemudian dimintai tanggapannya oleh Najwa dengan pengantar: “Bagaimana tanggapan Pak Wiranto sebagai mantan Panglima ABRI dan disebut sebut orang sebagai loyalis Pak Harto?”, kelihatan Wiranto kurang suka dengan sebutan loyalis Pak Harto dan menanggapi Najwa dengan mengatakan itu memvonis namanya. Najwa cuma cengar cengir saja.

Tanggapan Wiranto terhadap Reformasi di TNI ada 14 poin menurutnya diantaranya ditinggalkannya Dwi Fungsi ABRI, keluarnya POLRI dari ABRI, dikembalikannya bisnis yang dikuasai militer ke negara dan akan secara bertahap memperbaiki diri. Najwa menambahkan perbaikan perlu dalam bidang profesionalitas agar tidak terjadi konflik aset properti dengan masyarakat sipil yang sering menimbulkan insiden berdarah.

Usman Hamid dari KONTRAS mengatakan berbagai kasus pelanggaran HAM oleh TNI yang tidak menyentuh para jenderal tapi hanya para pelaksana dilapangan cerminan masih stagnannya reformasi TNI. Wiranto yang dimintai tanggapannya mengatakan bahwa peradilan militer untuk kasus HAM itu sudah digelar dan diputuskan siapa yang bersalah kenapa mesti dikatakan tidak tuntas.

Rachlan Siddik dari Imparsial menyampaikan pikirannya bahwa reformasi TNI perlu langkah yang radikal seperti membiarkan TNI ikut memilih dalam pemilu sebagai reformasi dalam tubuh TNI. Tapi kemudian Wiranto menyergah dengan mengatakan 8 tahun yang lalu MPR memutuskan TNI keluar dari politik praktik dan seluruh wakilnya di DPR ditiadakan tapi kenapa sekarang TNI kembali disuruh suruh masuk ke dalam politik praktis lagi dengan memberi hak pilih.

Rachlan menanggapi lagi dengan mengatakan bahwa TNI diberi hak pilih tapi sekaligus harus tunduk pada aturan sipil dan bukan mahkamah militer.

Terjadi diskusi yang seru sebelum kemudian Amien Rais menengahi dengan mengatakan bahwa betapa riskannya keamanan bila TNI boleh masuk partai lalu kemudian ikut berkampanye. Menurut Amien Rais arah reformasi TNI sudah benar cuma perlu lebih konsekuen dalam pelaksanaannya.

Pada bagian akhir dibahas apa makna Reformasi. Apa dampak Reformasi pada kehidupan demokrasi bangsa Indonesia. Saiful Mujani dari LSI diberi kesempatan untuk berbicara. Saiful berbicara demokrasi dengan mengambil perbandingan dari negara tetangga Singapura dan Malaysia yang secara ekonomi lebih makmur tapi apakah mereka bahagia? Begitu tandas Saiful.

Kemudian Syaiful mengutip pernyataan mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohammad yang mengatakan: “buat apa demokrasi kalau makan tikus”. Syaiful merasa tersinggung dengan ucapan itu. Kemakmuran saja tidak cukup untuk hidup bernegara bangsa. Indonesia pernah makmur secara ekonomi jaman Soeharto, tapi toh tetap teriak karena tidak mendapat kebebasan dalam sendi-sendi kehidupan berdemokrasi. (JK terlihat mengernyitkan dahinya)

Dalam pesta demokrasi tahun 2009 nanti beberapa kandidat telah muncul. Mantan Gubernur DKI Sutiyoso adalah salah satu yang telah dengan terang terangan mendeklarasikan dirinya ikut pertarungan kursi Presiden 2009.

Masing masing narasumber ditanya tentang niat mereka ikut pilpres. Wapres JK malu malu mengatakan iya dan cenderung menghindar. Sementara Amien Rais menjawab dengan mengatakan menunggu sinyal dari langit. Sedangkan Wiranto kelihatan tidak mau frontal dengan menjawab dalam sebuah sistem demokrasi harus ada backup kepemimpinan nasional.

Dalam konteks pemimpin nasional. Fadjroel Rachman yang pernah menjadi korban kekerasan Soeharto memberi pandangannya bahwa Indonesia hanya akan mampu mengatasi masalah korupsi yang terkait dengan masa lalu apabila dipimpin oleh generasi muda yang tak terkait sama sekali oleh problematika generasi tua dimasa lalu.

Lebih tegas lagi Fadjroel mengatakan generasi tua tidak usah ikut pilpres. Berikan kesempatan itu pada generasi muda. JK dengan sengit menanggapi bahwa kalau mau demokrasi harus konsekuen. Tidak boleh dalam demokrasi melarang larang suatu golongan untuk ikut berpartispasi, itulah demokrasi. (kali ini JK menjadikan demokrasi jadi prioritas nomor satu).

Anas Urbaningrum kemudian memberikan pandangannya. Mangga masak dipohon lebih baik daripada mangga karbitan katanya. Biarlah pemimpin itu lahir dari proses alamiah sehingga benar benar matang. Entah itu generasi tua atau generasi muda.

Acara Today’s Dialogue Metro TV kali ini cukup seru. Walaupun ketegangan terjadi disana sini tapi tetap santai dan cair oleh canda ringan partisipannya.

Salah satu ketegangan muncul ketika JK mendebat Amien Rais tentang teori Asingisasi Amien Rais. Amien memaparkan beberapa peraturan pemerintah yang memungkin asing menguasai 98% aset negara untuk kepentingan asing. Menurut JK memang ada beberapa sektor yang dibuka tapi ada juga yang diproteksi.

Kemudian Amien bilang dari negara negara di Asia yang membuka proteksi, Indonesia yang paling ugal ugalan. Ini membuat wajah JK merah padam. Kemudian Amien melanjutkan dengan mengatakan masih ada satu setengah tahun lagi untuk memperbaiki kebijakan itu, jika itu tidak dilakukan maka AWAS. Amien mengatakan itu dengan mimik wajah serius dan pandangan yang tajam ke arah JK.

Suasana jadi hening sejenak dan saya pikir JK akan meledak tapi ternyata apa yang terjadi. JK berusaha tersenyum dan suasana menjadi riuh sekali dan Najwa nyeletuk “itu bukan ancaman seperti waktu mau melengserkan Gus Dur kan Pak Amien?”.

Amien menjawab tapi saya tidak dengar jawabannya karena suasana riuh sekali oleh suara penonton di studio. JK mengulurkan tangan untuk bersalaman dan Amien Rais menyalaminya dengan mimik wajah yang tetap serius.

Sungguhpun demikian mereka masih bisa bercanda dan membuat penonton tertawa. Mula mula adalah Wiranto yang berasal dari partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) berkali kali dalam tanggapannya menyebut “hati nurani”, membuat Najwa nyeletuk dan bilang pak Wiranto kampanye terselubung nih.

JK kemudian merespon dengan mengatakan bagaimanapun juga pakai hati nurani tapi harus tetap berkarya. JK yang dari partai Golongan Karya sambil tersenyum mengucapkan itu. Najwapun merespon dengan mengatakan supaya adil Pak Amien dari PAN mau ikut ngomong? Amien lalu menjawab dengan mengatakan boleh saja pakai hati nurani dan berkarya tapi tetap harus mengemban amanat rakyat. Seluruh penonton tertawa dibuatnya.

Mungkin ada beberapa detil dalam acara itu yang terlewatkan dalam tulisan saya. Lebih kurangnya harap maklum. Kesan saya tidak ada hal yang benar benar baru dalam diskusinya tapi lumayan sebagai prolog tahun 2008. Mari kita tunggu epilognya setahun lagi, semoga tidak membahas hal yang sama. Najwa, you’re the best host of the year.

25 Komentar

Filed under politik, televisi

Isyarat Pak Harto

Gambar dari BBC.co.ukUntuk kesekian kalinya mantan Presiden HM Soeharto masuk rumah sakit lagi. Rumah sakit favoritnya RS Pertamina Pusat (RSPP) dibikin sibuk dengan kedatangan mantan penguasa Orde Baru tersebut.

Masuknya Jenderal Purnawirawan berbintang lima tersebut ke RSPP tepat dua hari setelah acara Today’s Dialogue di MetroTV disiarkan. Acara tersebut menyiarkan sebuah dialog tentang meretas jalan Reformasi salah satu yang dibahas adalah proses peradilan Pak Harto.

Pertanyaan yang mengemuka pada saat dialog itu berlangsung adalah 10 tahun Reformasi tak dapat menuntaskan proses peradilan Pak Harto yang membuat citra penegakan hukum menjadi kurang berhasil.

Melihat kondisi Pak Harto yang sudah sakit sakitan ada yang berpendapat lebih baik Pak Harto dimaafkan saja. Tapi ada yang berpendapat bahwa diteruskannya proses peradilan Pak Harto masih bisa membawa manfaat yaitu menjadi contoh penegakan hukum yang konsekuen.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menjadi nara sumber acara tersebut berpendapat bahwa masalahnya bukan baik atau tidak baik dilanjutkan tapi secara hukum memang orang sakit tak bisa diproses, itu masalahnya.

Gambar dari www.figurpublik.comAmien Rais yang juga menjadi nara sumber memiliki pendapat jalan tengah yaitu proses peradilan tetap digelar tanpa kehadiran beliau (inabsentia?) lalu pengadilan tersebut menunjukan kesalahan beliau kemudian vonis dijatuhnya lalu kemudian diampuni (Grasi?).

Dasar pemikiran dari usulan Amien Rais tersebut adalah kemanusiaan. Pertama tama adalah melihat kondisi kesehatan Pak Harto dan usianya yang sudah sangat tua renta. Kedua melihat bahwa berkuasanya Pak Harto selama 32 tahun akibat dari kesalahan kolektif seluruh bangsa Indonesia yang hanya menjadi yes man dan tidak ada yang berani menyatakan perbedaan pendapat, seperti yang telah dilakukan oleh Amien Rais ketika Pak Harto masih berkuasa.

Sekarang ketika Pak Harto sudah jatuh semua orang ingin menyumpahi dan menghukumnya. Amien Rais menggambarkannya sebagai raksasa yang sudah tua, kalah dan tumbang lalu kemudian bulunya dicabuti beramai-ramai.

Menurut Amien cara yang diusulkannya ini bukan semata mata untuk memaafkan Pak Harto tapi untuk menjaga martabat kita sebagai bangsa, bahwa jangan sampai kita menjadi bangsa yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Sebab nanti bila Pak Harto dipanggil Tuhan atau meninggal dunia maka kesempatan untuk memaafkan melalui proses legal formal akan hilang.

Saya sependapat dengan Amien Rais. Entah bagaimana teknisnya secara hukum tapi intinya adalah pengadilan digelar, divonis lalu pidananya dimaafkan. Mengenai perdata atau harta yang diduga hasil korupsi bisa diusut dan diurus kemudian. Masalah dosa dosanya yang lain biarlah itu urusan Pak Harto dengan Tuhan.

Saya ingin membuat analisis yang agak bebas, saya rasa analisis semacam ini sah sah saja. Berikut analisisnya:

Amien Rais adalah orang yang paling dibenci oleh Pak Harto. Karena Amien yang menggalang opini masyarakat untuk memperbincangkan wacana pengunduran diri Pak Harto semasa ia berkuasa.

Ketika menjelang pemilu 97 Amien melansir analisis -menjadi headline dimedia nasional- bahwa Pak Harto sudah memberi isyarat bahwa ia tak bersedia lagi dicalonkan menjadi Presiden. Analisis ini kontan membuat berang para loyalis Pak Harto. Pak Harto sendiri kemudian dipilih kembali menjadi Presiden.

Analisis Amien Rais bukan tidak akurat tapi memang tujuannya adalah bukan menganalisa isi hati Pak Harto tapi untuk mengajak publik mau dan berani membuka wacana suksesi kepemimpinan nasional. Ini yang membuat Pak Harto sangat dongkol. Pak Harto punya rencana sendiri tentang suksesi dan bukan di drive oleh Amien Rais.

Lalu kenapa Amien tidak digarap Pak Harto seperti halnya lawan lawan politiknya yang lain? Era keterbukaan setelah masuk jaman Reformasi mengungkap informasi bahwa Amien Rais pernah menjadi target untuk dilenyapkan. Tapi kenapa itu urung dilakukan?

Berbicara tentang kritik kepemimpinan Pak Harto dimasa ia masih berkuasa bukan monopoli Amien Rais. Berbagai tokoh pernah melakukannya seperti Ali Sadikin, Hariman Siregar, Sri Bintang Pamungkas, Fadjroel Rachman, dan masih banyak lagi. Mereka semua berakhir dengan nasib yang kurang lebih sama, dikucilkan. Kalau bukan tokoh maka bisa jadi dilenyapkan.

Semua tokoh tersebut memiliki kesamaan yaitu vokal tapi menempatkan diri mereka diluar pagar. Pagar yang saya maksud adalah pagar konsep kekuasaan. Amien menggunakan pendekatan yang tidak dilakukan oleh semua lawan politik Pak Harto sebelumnya.

Menurut Prof Selo Soemardjan, Pak Harto itu orang yang keras dan tidak mau berubah. Semakin ia ditentang maka semakin ia mengeras seperti batu. Lawan lawan sebelumnya menempatkan diri diluar dalam posisi untuk memecah batu tersebut. Adu kekuatan tak terhindarkan dengan cara seperti itu. Siapa yang lebih kuat maka dia yang akan menang.

Amien Rais adalah orang yang vokal tapi masih berada di dalam pagar sehingga sulit sekali bagi Pak Harto untuk menyikapinya. Amien menjabat sebagai ketua Muhammadiyah dan anggota ICMI sudah merupakan poin tersendiri yang membuat Pak Harto semakin sulit menghadapinya. Muhammadiyah dan ICMI adalah organisasi dalam pagar, bukan organisasi luar pagar seperti PKI yang berada jauh diluar pagar.

Akan jauh lebih mudah bagi Pak Harto bila Amien hanya seorang tokoh biasa tanpa jabatan ketua Muhammadiyah pada waktu itu. Menjadi ketua Muhammadiyah membuat Amien selalu didengar media. Media selalu mengutip pernyataan Amien dengan kalimat “Menurut Amien Rais Ketua Umum PP Muhammadiyah…”.

Tapi itu bukan jaminan selamat dari jerat hukum penguasa Orde Baru. Pendekatan sikap yang elegan juga berperan menyelamatkan Amien dari perlakuan buruk penguasa. Amien lebih suka mengatakan: “Pak Harto telah memberi isyarat untuk mundur…”, daripada mengatakan: “Pak Harto lebih baik mundur saja…” atau ketimbang mengatakan: “Sudah saatnya Pak Harto untuk mundur…”.

Amien tahu betul bagaimana cara memperlakukan seorang penguasa tua yang sangat kuat dan mudah tersinggung itu. Cara halus ternyata lebih efektif dibanding cara keras apalagi kasar yang banyak dipilih oleh lawan politik sebelumnya.

Sekarang setelah kejatuhannya analisis Prof Selo Soemardjan masih relevan. Pak Harto tak mau diseret kepengadilan tapi bukan berarti ia tak mau diadili. Sama dengan Pak Harto tak mau diturunkan tapi bukan berarti dia tak mau turun.

Amien Rais telah membuktikan itu sekali, sekarang untuk yang kedua kalinya saya merasa cara yang sama masih akan efektif. Jaminannya adalah teori Prof Selo Soemardjan sang begawan sosiologi itu yang mengatakan bahwa Pak Harto tak pernah mau berubah, jadi gunakan cara yang sama. Jangan kira gerbang kematian akan membuatnya berubah. Kematian justru akan membuat Pak Harto menang secara pribadi.

Pak Harto sudah tua dan lemah tapi bukan berarti tak berdaya sama sekali. Kadang ia tak perlu berpikir, naluri akan membimbingnya untuk bersikap. Ketika Amien Rais sang musuh besarnya terpilih sebagai ketua MPR, pada hari yang sama Pak Harto diberitakan masuk rumah sakit RSPP akibat serangan stroke yang membuat ia secara hukum tak bisa diproses.

Kini ketika Amien Rais tampil di TV dan melemparkan wacana kepada masyarakat tentang bagaimana menyikapi Pak Harto maka Pak Harto menjawabnya dengan isyarat. Mampukah kita menangkap isyarat itu?

33 Komentar

Filed under politik

Tewasnya Benazir Bhutto

Benazir BhuttoBenazir Bhutto tewas akibat serangan bom bunuh diri ditembak ditengah tengah kerumunan pendukung kampanye partai politiknya. Benazir merupakan lawan politik utama Presiden Pakistan Pervez Musharraf. Setelah penembakan terjadi ledakan bom. Begitu dahsyatnya bom tersebut hingga menewaskan 20 orang lainnya dilokasi kejadian.

Ini sebuah tragedi yang menciderai kehidupan politik untuk yang kesekian kalinya di Pakistan bagaimanapun alibinya. Dunia politik memang penuh dengan intrik tapi Pakistan adalah suatu fenomena dengan indikasi kehidupan politik yang primitif. Berkali kali pemimpin Pakistan tewas dengan nuansa konspirasi.

Ayah Benazir adalah mantan Presiden dan mantan Perdana Menteri Pakistan Ali Bhutto yang oleh suksesornya Jenderal Zia Ul Haq di vonis mati dengan cara digantung. Kemudian Zia Ul Haq sendiri tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat militer Hercules setelah melakukan inspeksi pasukan tank.

Banyak teori konsiprasi yang muncul berteori bahwa kecelakaan tersebut adalah rekayasa lawan lawan politiknya. Kini Benazir Bhutto juga tewas dalam ketegangan politik yang sangat tendensius.

Pervez MusarrafSebelum saya membuat perbandingan dengan Indonesia saya ingin melihat dulu geopolitik Pakistan. Pakistan adalah negeri dengan mayoritas penduduk muslim. Sekilas terkesan seperti karakteristik negeri Islam yang akrab dengan kekerasan seperti halnya di Timur Tengah.

Tapi ternyata karakteristik yang serupa dan lebih khas dimiliki oleh India yang mayoritas rakyatnya non-muslim. Keserupaan tersebut meliputi nuansa konspirasi dalam pembunuhan pemimpin politik bahkan untuk seorang Mahatma Gandhi yang dikenal dengan gerakan Ahimsa. Kemudian Indira Gandhi yang tewas ditangan pengawalnya sendiri yang berasal dari suku yang berbeda. Kemudian lagi Rajiv Gandhi yang tewas akibat serangan bom.

Seperti tidak ada jalan lain untuk mengamankan kekuasaan selain membunuh. Kemiripan ini membuat saya lebih cenderung melihat bahwa unsur yang lebih berperan dalam menentukan karakter kehidupan politik Pakistan dan India adalah unsur etnik budaya.

Kita tahu bahwa Indonesia juga penuh dengan intrik kekerasan dalam kehidupan politiknya dan tidak lebih baik dari Pakistan. Belum pernah terjadi di Pakistan korban politik pembantaian rakyat jelata hingga jutaan orang. Sebuah kekerasan tak perlu dicari yang mana yang lebih beradab. Semuanya biadab.

Masing masing memiliki karakter yang kita tidak inginkan untuk tertular oleh yang lainnya. Tapi sebagai orang Indonesia saya berpandangan bahwa apa yang terjadi di Pakistan itu lebih akut dan kronis. Akut karena pembunuhan pemimpin politik sangat mengganggu stabilitas nasional. Kronis karena itu sudah menjadi pola yang memiliki kecenderungan berulang dimasa yang akan datang.

Di Indonesia pembunuhan pemimpin/lawan politik juga banyak terjadi tapi tidak terjadi pada level tertinggi secara vulgar. Jika sekiranya tokoh yang diincar memiliki pengaruh yang luas maka upaya yang dilakukan menjadi lebih tersamar.

Berakhirnya era Orde Baru menjadi pijakan penting atas usaha untuk menetralisir kekerasan politik di Indonesia. Kita patut bersukur apa yang terjadi di Pakistan tidak terjadi di Indonesia.

Nawaz SyarifSaya tidak sedang menilai baik atau buruk. Tapi hanya ingin mereview apa yang telah dilakukan oleh Pak Harto yang telah mewarnai kehidupan politik Indonesia. Sebagai mahasiswa tahun 1998 saya ikut dalam hiruk pikuk reformasi dan melihat sendiri bagaimana kekuatan militer masih sangat solid tapi tidak melakukan kudeta terhadap Presiden seperti yang dilakukan oleh Pervez Musharraf terhadap pendahulunya Nawaz Syarif.

Sebuah bangsa akan membangun strukturnya (sosial, politik dan ekonomi) dari landasan budaya yang mereka miliki. Kekerasan di India dan Pakistan hingga kini sifatnya lebih struktural ketimbang di Indonesia. Ini pernah saya singgung di tulisan saya tentang Ahimsa untuk Indonesia.

Kecelakaan sejarah tahun 65 selalu kita usahakan untuk dihindari agar jangan terulang. Tiap tiap kecelakaan tidak terjadi begitu saja, karena itu usaha untuk menghindar dari kecelakaan berikutnya adalah suatu perbuatan yang realistis dan logis.

Bayangkan bila pada mei 98 Pak Harto tidak mau lengser dan memerintahkan ABRI untuk membantai rakyat maka kecelakaan tahun 65 bisa berulang. Bagaimanapun getirnya tahun 98 kita telah melewatinya dengan cara yang lebih smooth ketimbang sebelumnya.

Lihat suksesi negara negara di benua Afrika hampir selalu melalui kudeta berdarah. Apakah karena mayoritas penduduknya menganut agama tertentu? Saya kembali pada pandangan saya diawal bahwa unsur kebudayaan lebih berperan. (Tapi bukan berarti saya setuju sepenuhnya dengan pemikiran Samuel Huntington)

Untuk Asia Tenggara punya karakter tersendiri. Malaysia mirip dengan Indonesia. Filipina juga begitu, tapi Presiden Habibie tetap dilantik di Gedung Parlemen sedangkan Presiden Filipina Macapagal Aroyo dilantik dipinggir jalan.

Tiap kebudayaan punya karakteristik yang bila dieksplorasi dapat ditemukan celah kelemahan. Celah itu sering dimanfaatkan oleh asing untuk kepentingan mereka. Pakistan memiliki kelemahan pada sistem perpolitikanya hingga berdekade mereka seperti tak bisa keluar dari tragedi pembunuhan pemimpin politik.

Ali Bhutto ayahanda Benazir BhuttoAli Bhutto adalah pemimpin nasional Pakistan yang memprakarsai senjata nuklir hingga membuat Amerika Serikat (AS) gusar. Henry Kissinger pernah melontarkan ancaman kepada Ali Bhutto dengan mengatakan jika Ali Bhutto tidak menghentikan program nuklirnya maka ia akan membayar mahal.

Zia Ul HaqTerbukti kemudian rezim militer pimpinan Jenderal Zia Ul Haq menangkap dan mengadili Ali Bhutto dalam sebuah peradilan yang kontroversial. Keputusan pengadilan tersebut akhirnya menjatuhkan vonis hukuman mati dengan cara digantung pada Ali Bhutto. Zia kemudian menjadi pemimpin Pakistan atas sponsor AS hingga tewas dalam kecelakaan pesawat.

Perdana Menteri Pakistan Nawaz Syarif melanjutkan program nuklir Pakistan hingga berhasil melakukan test senjata nuklir pertamanya yang membuat India bergidik dan AS kembali gusar.

Pemimpin rezim militer Jendral Pervez Musarraf melakukan kudeta atas Nawaz Syarif. Bantuan militer oleh AS kepada militer Pakistan mengindikasikan keterlibatan CIA dalam operasi kudeta Musarraf terhadap Nawaz.

Sekarang ketika Benazir yang putri dari Ali Bhutto pemrakarsa nuklir Pakistan mengancam kedudukan Musarraf (baca: pemimpin yang bisa dikendalikan AS) sebuah kecelakaan terjadi lagi dengan pola yang sama. Sulit bagi kita untuk menafikan peran CIA dalam operasi pembunuhan kali ini.

Di Indonesia Bung Karno digulingkan oleh Pak Harto dengan bantuan CIA. Bahkan ada beberapa pihak yang meyakini bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan lahan. Suatu hal yang niscaya dalam dunia politik. (cukup sekali saja terjadi suksesi dengan konspirasi seperti ini)

Bisa diamati bahwa aktor dalam sebuah kecelakaan politik kebanyakan datang dari golongan militer. (karena itu sampai sekarang saya masih kurang sreg dengan pemimpin dari kalangan militer). Sementara pihak asing (baca: Barat terutama AS) tahu betul dan terus mempelajari kelemahan yang ada pada kita.

Sekarang apakah kita harus mengulang semua kecelakaan itu seperti halnya Pakistan? Bagaimana unsur dalam kebudayaan kita bekerja sebagai sistem yang dapat mencegah pengulangan sejarah? Butuh telaah lebih jauh untuk menjawabnya.

Sebuah observasi saja bahwa tahun 98 Pak Harto tidak memerintahkan pembantaian kembali seperti tahun 65. Kemudian CIA tidak bisa menggunakan cara klasik (baca: insiden politik seperti pembunuhan para pemimpin Pakistan) untuk menggulingkan Pak Harto tapi dengan cara krisis moneter. Indikasi bahwa Indonesia tidak dapat diperlakukan sama tiap masa. Memang butuh waktu yang sangat lama tapi pasti, itulah karakteristiknya.

Asing akan selalu mengintai kelemahan kita. Iran sedang dalam ujian berat menghadapi situasi yang mirip Pakistan ketika dipimpin Ali Bhutto. Namun kelihatannya bangsa Iran memiliki karakterisktik yang berbeda dengan Pakistan. Kita bukan Pakistan bukan juga Iran tapi apakah karakteristik kita mudah ditembus? Peran pemimpin menjadi sangat penting, mari kita pilih yang terbaik 2009 dan tentu saja tegakkan supremasi sipil.

9 Komentar

Filed under budaya, politik

Senjata Baru Yusril: Blog

Yusril Ihza MahendraYusril Ihza Mahendra mantan menteri diberbagai kabinet pemerintahan Indonesia ini sekarang memiliki Blog. Pakar ilmu Hukum Tata Negara yang masih gagah ini memutuskan untuk ngeblog setelah menjadi pengangguran alias dipecat jadi menteri pada kabinet SBY.

Harun Al Rasyid, foto dari MetroTvNews.comTidak banyak tokoh akademis yang memiliki kecakapan dalam bidang politik. Contohnya adalah Prof Harun Al Rasyid yang tone suaranya selalu mirip orang bertengkar itu. Pak Harun sebagai pakarpun dalam debat debat di TV masih belum bisa benar benar mengatasi Prof Yusril dalam hal akademis apalagi dalam hal manuver politik.

Pak Yusril ini punya naluri politik yang jitu, terbukti dari karir politiknya yang meroket dari hanya staff ahli sekertariat negara di kabinet terakhir Orde Baru kemudian jadi Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Kabinet Persatuan Nasional Tahun 1999-2001 (jaman Presiden Gusdur), kemudian menjadi Menteri Kehakiman dan HAM Kabinet Gotong Royong Tahun 2001-2004 (jaman Presiden Megawati), dan terakhir menjabat sebagai menteri Sekretaris Negara Kabinet Indonesia Bersatu 2004-8 Mei 2007 (jaman Presiden SBY).

Semua itu dia raih tidak dalam posisi politik mayoritas mutlak. Ciri manuvernya adalah masuk sebagai teman tapi keluar sebagai bukan teman. Saya rasa semua politisi harus selalu mulai masuk sebagai teman, kalau tidak maka tentu tidak akan diangkat jadi menteri. Kalau sudah masuk maka konsekuensinya adalah jadi teman sampai akhir.

Pada sebuah pergantian kekuasaan biasanya yang menang adalah selalu musuh yang kalah. Maka teman teman si kalah tentu tidak akan direkrut jadi menteri. Mantan penguasa periode yang lalu umumnya berada dikelompok si kalah ini.

Jadi kalau sudah pernah jadi menteri di kabinet si kalah maka tidak akan jadi menteri lagi di kabinet si pemenang. Kecuali jika dia seorang teknokrat-murni yang tak tergantikan. Jaman reformasi sekarang ini sudah tidak ada lagi orang model begini, yang ada adalah teknokrat-politisi.

Maka untuk menjadi menteri diberbagai kabinet secara berturut turut adalah sangat sulit. Apa yang ditunjukan oleh Pak Yusril adalah suatu manuver politik yang sangat brilian.

Beliau punya skill administrasi yang unggul yaitu pakar Hukum Tata Negara. Kemudian beliau punya partai politik (PBB) yang bisa menjadi advokatnya di parlemen. Tapi itu saja tidak cukup. Perlu manuver politik yang canggih yang bisa menzigzag kaidah klasik tentang posisi menteri di kabinet.

Kalau kita lihat manuver beliau secara outline apa yang dilakukan oleh Pak Yusril adalah masuk sebagai teman pemenang tapi tidak perlu jadi teman sampai akhir. Menjelang akhir perlu perubahan arah. Kemana arahnya?

Biasanya suatu pemerintahan menuai banyak harapan, sokongan dan dukungan dari publik bahkan dari lawan politik di masa masa awal pemerintahan. Tapi akan menuai banyak kritikan dan kecaman ditengah jalan dan apalagi diakhir masa pemerintahan, terutama dari lawan lawan politik.

Padahal para lawan lawan politik tersebut adalah para kandidat pemenang diperiode berikutnya. Maka perlu suatu investasi politik untuk menjadi teman lawan politik pemerintah (baca: calon pemenang periode berikutnya).

Tentu ada tekniknya supaya tidak terkesan pengkhianat atau oportunis. Salah satu tekniknya adalah memainkan peran sosok teraniaya. Manuver sosok teraniaya ini sangat ampuh. Sudah terbukti waktu SBY melompat pagar kabinet Megawati yang membuat Taufik Kemas menjadi geram dan memicu politisi lain untuk mencaci SBY maka serta merta simpati publik mengalir deras dan dimanfaatkan dengan baik hingga menghantar SBY ke kursi Presiden.

Pada Pak Yusril tidak sedramatis itu. Manuver peran sosok teraniaya terlihat waktu semua orang mengecam Gusdur untuk lengser. Untuk protes dengan cara mundur sebagai menteri saja kurang bisa memberi dramatisasi. Maka cara Pak Yusril adalah tetap ikut menuntut Gusdur mundur seperti layaknya lawan politiknya tapi tidak mau mundur sebagai menteri.

Gusdur jadi rikuh, mau dipecat nanti akan menimbulkan efek sosok teraniaya yang sangat bermanfaat bagi Pak Yusril. Tapi kalau dibiarkan akan merecoki rapat kabinet yang dihadiri Pak Yusril. Dimohon supaya mengundurkan diri Pak Yusril tetep tidak mau. Akhirnyakan Pak Yusril diberhentikan tapi Pak Yusril tidak mau dibilang diberhentikan, maunya dibilang dipecat. Ini untuk memperkuat kesan teraniaya. Inilah investasi politik.

Selain dari itu banyak lagi investasi politik Pak Yusril diantaranya pernah maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden di parlemen, waktu itu yang jadi presiden akhirnya Gusdur. Investasi penting lain adalah berperan penting pada pengunduran diri Pak Harto sebagai konseptor surat pengunduran diri Pak Harto.

Investasi konseptor surat pengunduran diri Pak Harto ini penting untuk bisa masuk ke kabinet Gusdur. Kemudian investasi dipecat dari kabinet Gusdur penting untuk bisa masuk ke kabinet Megawati. Apakah investasi politik itu saja sudah cukup? Belum juga, karena masih dibutuhkan naluri yang tajam untuk mengendus SBY yang bakal keluar sebagai pemenang dipilpres yang lalu.

Keadaan terakhir memang agak beda. Mungkinkah Pak Yusril terpeleset dengan KPK masa kepemimpinan Taufiequrachman Ruki? SBY tidak mau serampangan, tidak mau menjadikan Pak Yusril sebagai pendekar liar yang berbahaya di kemudian hari. Walaupun sekarang dia sudah bebas dan mulai mengelus elus sebuah Blog.

Rika Kato istri Pak YusrilSekarang kalau dilihat pola permainan politik “masuk sebagai teman dan keluar sebagai bukan teman” maka Pak Yusril sekarang sedang dalam manuver yang kita tunggu saja bagaimana beliau melakukan finishing touch 2009.

Sesunguhnya Pak Yusril ini adalah idola saya. Cemerlang didunia akademis. Beliau mengidolakan Pak Natsir yang juga idola saya. Beliau bermain “cantik” dipanggung politik hingga bisa menjabat menteri hingga tiga kali dalam atmosfer politik yang sangat dinamis. Beliau beristrikan seorang Rika Kato yang cantik (halah… gak penting juga). Dari semua itu yang paling penting adalah beliau selalu punya jawaban logis atas suatu permasalahan. Sekarang beliau seorang blogger. Ah seandainya dulu waktu masalah AFIS dan Bank Paribas London Pak Yusril sudah punya Blog maka lain ceritanya.

Bagaimana Blog berperan dalam menunjang karir politik Pak Yusril? Mari kita duduk manis dan menonton sang maestro bermain. Kalau tidak mau melihat dari sisi politik maka mari kita anggap Blog Pak Yusril sebagai Blog seorang akademisi, saya rasa Pak Yusril lebih setuju dengan yang terakhir.

Tapi kalau dianggap Blog seorang Yusril saja juga tidak apa apa kan? Melihat bagaimana Pak Yusril sudah menggunakan komentar di Blognya Vavai dan Priyadi untuk melakukan klarifikasi beberapa isu maka sesungguhnya Blog sudah berperan sebagai media penerangan (duh kaya pemerintah ajah). Sekarang Pak Yusril gak perlu risau kalau ada wartawan yang salah kutip.

Sebelumnya mohon maaf dengan analisa saya yang cablak, itu cuma gaya bahasa, peace ah…

30 Komentar

Filed under politik, tokoh

Si Ganteng Lagi Jaim

Si GantengSaya teringat waktu pilpres yang lalu. Disebuah majalah wanita terkemuka dimuat beberapa pendapat ringan tentang siapa capres yang bakal dipilih dan apa alasannya.

Banyak Ibu rumah tangga yang juga wanita karir ciri khas pembaca majalah tersebut menentukan pilihannya pada SBY dengan alasan karena dia ganteng. Kalau kegantengan bisa menyelesaikan masalah negara kenapa gak pilih Nicholas Saputra aja sekalian yah?

Sekarang SBY sedang turun popularitasnya. Mungkin dia teringat cara yang dulu dia pakai cukup efektif sehingga memutuskan untuk mengulanginya. Sebuah album musik diluncurkan. Berkunjung ke daerah sambil bawa gitar genjrang genjreng nyanyi dihadapan rakyat yang lagi gundah.

Katanya sih ini sebagai momentum untuk mencanangkan gerakan anti pembajakan hak cipta. Saya kira masalah pembajakan butuh lebih dari hanya sekedar momentum, lagipula siapa sih mau mbajak albumnya SBY?

Kenapa juga tanggal peluncuran album bersamaan dengan hari sumpah pemuda? Berita di media tentang peluncuran album itupun mengalahkan berita tentang peringatan hari sumpah pemuda, hebat euy…

Bukannya memperbaiki image dengan cara menginformasikan hasil kerja yang dicapai tapi malah dengan cara yang terkesan mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi. Tidak tahu cara menginformasikan prestasi atau memang tidak ada yang bisa diinformasikan?

18 Komentar

Filed under politik