Februari 11, 2009...2:37 am

Defiance

Lompat ke Komentar

Sebenernya saya masih seneng duduk di Cafe Mister Bean tapi si Ajo sudah beli tiketnya, terpaksa deh buru buru naik ke Studio 21 Citos…

Empat tiket untuk film Defiance, dibintangi oleh Daniel Craig.

Three Jewish brothers (Craig, Schreiber and Bell) escape from Nazi-occupied Poland into the Belarussian forest, where they join Russian resistance fighters and endeavor to build a village in order to protect themselves and others in danger.

Filmnya lumayan bagus, fitur standard film hollywood masuk pada film ini. Mulai dari plot, konflik, ketegangan dan humornya khas hollywood.

Cuma yang menarik ada sedikit perbedaan dibanding film film yang bertema perang dunia ke dua. Biasanya film tentang Yahudi cerita utama tak akan lepas dari Holocaust, seperti  film Schlinder List karya Spielberg.

Sudah menjadi kesan umum bahwa Yahudi jaman perang dunia ke dua tak ikut berperang, mereka pasif dan “sibuk” menjadi korban.

Dalam film ini kelihatannya ada beberapa hal yang ingin diangkat. Sangat jelas terlihat ketika Tuvia Bielski berniat bergabung dengan pasukan Rusia dan saat berhadapan dengan Kamerad Rusia yang memiliki anggapan bahwa Yahudi tak berperang, meragukan kemampuan berjuang keluarga Bielski. Tuvia kemudian menjawab dengan mengatakan bahwa mereka adalah Yahudi yang berperang.

Jadi ada “spesies” lain dalam masyarakat Yahudi.

Kesan itu juga muncul ketika Zus Bielski sang adik yang enggan berjuang membela orang orang Yahudi yang ikut lari ke hutan menemui mereka.

Zus beranggapan mereka itu masyarakat Yahudi Borjuis, kita Yahudi gembel bukan siapa siapa di mata mereka, kita hanya berharga ketika mereka lemah dan butuh bantuan dari gempuran serdadu Jerman yang memeranginya.

Konflik terjadi seputar masalah itu, sampai Tuvia harus menembak mati salah seorang anak buahnya yang mendominasi makanan karena merasa sebagai pejuang harus mendapat jatah makanan lebih banyak dibanding yang lain, yang tidak ikut berperang.

Dramatisasi mencapai puncaknya pada adegan pertempuran terakhir dimana Zus yang berbeda pandangan dengan Tuvia dan lebih memilih bergabung dengan tentara Rusia kembali pada kakaknya ketika rombongan anak-anak dan orang tua yang dipimpin oleh Tuvia terdesak tentara Jerman dan dengan gagah berani, cerdas dan strategis,  Zus tampil mengganyang habis tentara Jerman yang mengepung rombongan.

Menarik melihat bagaimana mereka survive dalam hutan dan perang dengan perbedaan pandangan dan status sosial yang mencolok. Zus sangat marah dan dendam pada Jerman sedangkan Tuvia lebih menghargai hidup. Bagi Tuvia menyelamatkan 1 orang tua lebih bermakna dibanding membunuh 10 tentara Nazi.

Film ini diangkat dari kisah nyata melalui sebuah buku. Digarap dengan apik membuat spirit heroik, simpati, romantis dan terharu bisa ditimbulkan bila anda menonton film ini. Bahkan ada penonton yang tepuk tangan ketika Zus berhasil menang bertempur.

Sebuah spirit yang sejatinya dan selayaknya dialamatkan pada bangsa Palestina yang kini menempati posisi keluarga Bielski dan rombongannya pada film itu. Ironisnya posisi tentara Jerman yang sangat bengis, kejam dan tak berperi kemanusiaan dalam film itu sekarang diperankan oleh Israel, negeri kaum Zionist.

Adakah Yahudi dari “spesies” yang berbeda akan muncul dan berperan seperti pada film itu? entahlah…

Chico… thx for the movie, dinner and parkir :-)

& Komentar


Tinggalkan Balasan