Atas saran Mas Koen yang udah mulai bosen sama berita Mas Roy, saya coba posting selingan. Kali ini acara di Metro TV, e-Lifestyle yang diasuh oleh beliau…
(hah.. dia lagi… ampyunnnn)… sabar sabar, bukan beliau kok yang jadi hostnya kali ini, tapi host baru namanya Ferry (padahal saya lebih suka Meutia Hafidz).
Kali ini topiknya adalah “Pemblokiran Situs di Internet”. Narasumbernya seorang pakar betulan (bukan gadungan), Bpk Onno W. Purbo dan Bpk Son Kuswadi Edmon Makarim (Staff ahli Menkominfo).
Diskusinya tidak terlalu menarik karena yang dibahas hal hal yang umum saja. Bahwa pemblokiran lebih efektif dilevel grassroot dengan Parental Control. Semakin keatas semakin kurang efektifitasnya.
Kang Onno juga mengatakan bahwa pengguna Internet itu paling sebel kalo didikte, kita harus hati hati kalo Play God kata Kang Onno.
Pak Son Edmon kemudian memberi pandangan dari segi hukum, bahwa ada dua unsur yang harus dipenuhi untuk bisa dihukum yaitu unsur “sengaja” dan dengan “hak”.
Contoh yang diberikan tidak terlalu akurat saya rasa, males saya mengquotenya disini karena tidak berminat.
Ada satu kata dari Pak Son Edmon yang saya ingat muncul lagi dari pertemuan antara Blogger dengan Menkominfo kemarin, kata itu adalah Xenophobia. Avianto paling sebel sama kata itu.
Kapan kapan ketemu dialog terbuka antara Pak Son Edmon dan Avianto… hahaha.. kata “dialog terbuka” jadi ngetop sekarang gara gara… tuh kan kepleset ke dia lagi.
Udah ah… ntar mbahas dia lagi Mas Koen dan Bli Anton protes lagi ntar…
eh.. Kang Onno mirip Taufik Savalas yak…? hush…
Pada sesi tanya jawab dengan penelopon, ada yang tanya pada Kang Onno, mungkin gak untuk memfilter dari konten yang bukan teks tapi dari image processing. Kang Onno bilang itu sulit, lebih mudah pakai teks tapi ada kesulitan menentukan konteksnya.
Menurut saya lupakan filter konten image maupun teks, paling feasible pakai sistem blacklist URL yang disubmit oleh user dan diapprove oleh komite, loh kok jadi serius…? ok nyantai lagi.
Ngomong ngomong soal image processing, kita memang krisis pakar, eh bukan kita sih tapi para wartawan, khususnya wartawan infotainment. Untuk itu bisa kita munculkan pakar pakar yang sudah ada untuk dapat dirujuk oleh wartawan kalo butuh narasumber yang kompeten.
Selain Kang Onno berikut adalah beberapa pakar yang bisa dirujuk oleh wartawan: Bpk Andi S Budiman dan Bpk Ariya Hidayat. Ada lagi yang lain ? bisa diberi masukan!


















& Komentar
April 14, 2008 pukul 2:24 am
Kelupaan nonton
BTW, kalau lihat gambarnya kok bukan pak Son ya. Kayaknya pak Edmon deh itu.
April 14, 2008 pukul 3:17 am
Mas Wibi, topiknya ga bakalan seheboh kalo topiknya Om Oy Uyo seh. Tapi memang pantasnya orang seperti Pak Onno ini yang dijadikan acuan, bukan si Oy Uyo. Tapi kok Oy Uyo yang lebih terkenal ya? Ada yang bisa ngasi referensi awal dia bisa disebut sebagai pakar ngga? Koran, tv ato radio mana yang menyebut dia sebagai pakar untuk pertama kalinya?
April 14, 2008 pukul 9:06 am
makasih laporannya, mas
saya telat nonton keasikan joging…
emang enak langganan blog ini
April 14, 2008 pukul 9:12 am
Serius ada pak son (*mantan dusenku*)…
melewaatkan lagi yang ini,….
sempet ngrekam gak mas!.. di upload yakz…
biar yang ketinggalan-ketinggalan bisa menikmati. thankyu!!
April 14, 2008 pukul 9:22 am
sistem blacklist, atau lebih elegannya sistem rating, bisa dilakukan sekarang juga dengan mempergunakan openDNS. penggunaan paling dasar adalah dns server biasa, tanpa filtering. namun kalau kita register (gratis lho), kita bisa memanfaatkan sistem rating dari opendns yang mengkategorikan mana situs dewasa, mana yang aman dan seterusnya. kita juga bisa menambahkan sendiri mana domain yang blacklist, mana yang whitelist.
April 14, 2008 pukul 10:30 am
yaa.. setuju kalau kang onno sebagai rujukan.
ID kepakaran beliau valid.
he.he.
April 14, 2008 pukul 11:00 am
Yang jago image processing?
Ada satu di Surabaya, Pak Agus Zainal. Bolak-balik riset DIP bareng jepang.
April 14, 2008 pukul 11:00 am
memang dari dulu saya melihat mendingan mas Onno (pembela rakyat yang melarat) daripada Mas Roy (pembela konglomerat)….
April 14, 2008 pukul 11:35 am
Eh, itu pak Edmond Makarim, bukan pak Son Kuswadi.
Dan iya, kenapa sih selalu keluar kata ‘Xenophobia’? Atau memang sadar kalau rakyat Indonesia itu pengidap xenophobic akut semua? Ntah lah, bingung aja.
April 14, 2008 pukul 12:16 pm
di milis telematika, dijelaskan pak son berhalangan hadir di saat-saat terakhir dan lalu digantikan oleh pak edmon makarim.
April 14, 2008 pukul 12:17 pm
@Romi Satria Wahono:
Iya mas, saya keliru, itu memang Pak Edmon.
Sudah dikoreksi
@winyo:
Semoga moment ini jadi untuk seterusnya.
@kucluk:
Sorry Mas Kucluk, ternyata pak Edmon bukan Pak Son.
@ryosaeba:
openDNS bagus sih namun kok rasanya kita mesti punya infrastukturnya sendiri untuk wilayah kita. Kelemahan kalau langusng pakai openDNS orang lain seperti kemarin layartancap.com ada yang iseng masukin jadi keblok dah.
Jadi kita mesti bisa punya Approval Committee yang bekerja secara transparant dari berbagai kalangan. Ini untuk akuntabilitas sebuah keputusan kenapa sebuah site masuk blacklist.
*masihmenimbangnimbangantaraproxydanopendns*
@nasgur:
Terima kasih mas Nasgur atas masuknnya.
@avianto:
Iya, udah dikoreksi tuh
April 14, 2008 pukul 12:42 pm
Ini baru ‘Pakar’ (lirik kang Onno). Sayng euy gak nonton
April 14, 2008 pukul 1:21 pm
doh, kok ya gw kangen sama om roy
April 14, 2008 pukul 2:56 pm
Awalnya pesimis dgn bintang tamu, begitu disebut kang onno langsung semangat nontonnya. Untung bukan pakar yang lain, arghhhh. Begitu seharusnya,pakar beneran buakn pakar gadungan.
April 14, 2008 pukul 3:58 pm
Haha ketiyan om roy… (apa salah kau nak…)
April 14, 2008 pukul 5:48 pm
ah.. saya emang suka ama Meutya Hafid
soal image processing? kayaknya bukan image processing deh..
kalau meriksaain suatu foto itu foto asli atau foto palsu/buatan, kayaknya istilahnya yang lebih tepat sih
photo fakery
btw, saya juga punya blog, tapi ga bisa diklik dari nama gue nih
ga tau error dimana
April 14, 2008 pukul 7:32 pm
ayoo… saatnya kita dukung pakar yang sebenar-benarnya pakar…
April 14, 2008 pukul 8:33 pm
HIks ketinggalan acaranya euy, tapi lumayanlah udah ada laporan singkatnya. makasih ya mas
April 14, 2008 pukul 9:07 pm
waahhh pak onno bisa ngetest asli ato gak ya photo om roy,,, yang di site depkominfo… hehehe
April 14, 2008 pukul 10:31 pm
Bismiillah…
Selama ini enggak bisa nonton lagi metrotv di imediabiz.tv krn enggak ada yang donatur…
Budayawan kadang ingin berperilaku popular dimedia…bukan berniat ingin bersikap peduli terhadap budaya itu sendiri….
SOalnya sudah sedikit budayawan yang bergerak Tanpa pamer nama dan duit….
Mubaraq,Cairo-Egypt
April 14, 2008 pukul 11:24 pm
hmm..menarik
terima kasih…
April 15, 2008 pukul 12:53 am
Gx zempet ntn juga tuch acara, padahal dah tau dari beberapa hari sebelumnya dimilist…
Makasih buat mas ini yang udah kasi berita tulis.
Kang Onno yang low profile inilah yang sebenar-benarnya pakar…
April 15, 2008 pukul 9:47 am
hiks … hiks … hiks …
minggu kemarin gag sempat nonton,
malemnya ketiduran gag sempat nonton re-run
* vote meutia hafidz *
April 16, 2008 pukul 1:56 am
Hiks.. hiks..
dosenku yang ngajar Hukum Telematika ternyata masih kurang terkenal.. sampai salah nulis hingga dikoreksi oleh Mas Romi.. hihihihi
April 16, 2008 pukul 6:06 pm
lho pak roy ndak jadi host lagi?
*apa hanya tren sesaat?*
April 23, 2008 pukul 2:21 pm
pemeritah bermaksud baik tp ya jgn ngbil kesmpatan buat dana memblokiran situs XXX denger2 dan samapi 30T wah..bisa kaya mendadak klo duit segitu byak buat saya..heheh
April 29, 2008 pukul 3:48 pm
sayang euy gak nonton, kalo boleh saya tambahkan, pakarnya yang lain selain master kita (kang ONNO), mungkin ini salah dua nya : anton rahardjo dan hadi suwastio … itu aja masukan dari saya kang .. thanks
April 29, 2008 pukul 5:25 pm
Sayang eui nggak nonton. Ada yang nyimpen videonya ngga yah …. ?
November 15, 2009 pukul 1:58 pm
Mas onno boleh minta no Hp ya tidak…..?