Seputar FTI Award 2007

ChatterboxSMS tentang event ini saya terima dari manajemen Teater Mandiri ketika sedang makan siang bersama bung Ikranegara di Cafe Chatterbox Sogo Plaza Senayan. Keesokan harinya dari kantor saya harus pulang dulu ngurus rekening PLN sebelum libur panjang 4 hari.

Begitu sampai di gedung Teater Studio TIM terlihat kerumunan kru yang sibuk mempersiapkan pembukaan acara. Saya datang terlalu awal rupanya. Tapi itu memberikan kesempatan saya melihat lihat persiapan kru.

Brosur belum boleh diambil sebelum acara dibuka. Ada dua counter penerimaan lengkap dengan buku tamu, brosur masing masing dan mbak mbak yang jaga. Satu counter khusus untuk PERS dengan brosur khusus (dilengkapi buku “Putu Wijaya, Magma Teater Indonesia”) sedangkan counter satu lagi untuk umum brosur tanpa buku.

Saya menginginkan buku itu tapi saya bukan dari kalangan PERS, apa daya? Saya lihat setiap wartawan yang antri di bagian PERS selalu ditanya dari media mana. Si wartawan menjawab lalu dipersilahkan mengambil buku dan brosur setelah mengisi buku tamu.

Saya antri saja dibagian PERS lalu ketika ditanya saya bilang saja dari Blogger. Si mbaknya mengernyitkan dahinya sebentar lalu manggut manggut. Entah tanda mengerti atau bingung, mungkin dia pikir ini media baru jadi belum dia kenal. Untung dia gak tanya kartu nama wartawan. Kemudian saya dipersilahkan. Selameeetttt…

Dalam hati saya bilang, saya gak bohong kok, lha wong Blog juga termasuk media, jadi saya berhak dapat buku itu, sama seperti wartawan media lainnya. Saya gak nipu lho mbak :-)

Sekar-Alex-RiaSetelah acara makan makan selesai kemudian host acara itu yang bernama Sekar Harum membuka acara bersama Ria Irawan dan Alex Komang. Ternyata Sekar Harum ini sangat berbakat salah menyebut nama dan sebutan.

Kemungkinan dia bukan dari kalangan teater. Nyebut nama Radhar Panca Dahana jadi Radhar Panca Buana. Ebiet G Ade jadi Ebit Gedit. Mas Garin jadi Bapak Garin. Semua yang hadir kontan meralat sebutan yang salah itu.

Gedung Teater StudioAcara pemotongan tumpeng sukses, kemudian dilanjutkan dengan kedatangan sang penerima FTI Award Putu Wijaya dengan arak arakan teatrikal langsung masuk ke gedung teater. Acara pembukaan di Lobypun selesai kemudian para tamu semua ikut masuk ke gedung yang akustiknya sangat bagus itu.

Acara dimulai. Sambutan demi sambutan dilakukan. Pertama tama sambutan dari ketua FTI Radhar Panca Dahana, seperti biasa dosen pasca sarjana UI ini memberi sambutan yang lugas.

Slamet RahardjoKemudian duet Didi Petet dan Slamet Rahardjo. Didi PetetSambutannya dalam bentuk dialog. Slamet memberi gambaran tentang teater dengan gaya metafor yang dramatis. Didi Petet maunya juga begitu tapi ngaku kalah kharisma yang diikuti derai tawa penonton.

Kemudian tampil Danarto yang merupakan salah satu juri penilai peraih FTI Award. Dikemukakan alasan alasan dan pertimbangan yang digunakan sebagai dasar penentuan peraih FTI Award dijatuhkan pada Putu Wijaya. Putu dipandang sebagai sosok pekerja teater yang memberi pengaruh pada perjalanan teater Indonesia.

Dalam pandangan saya Putu merupakan sosok pemberontak yang tak pernah mau tunduk pada suatu pakem bila pakem tersebut membatasi proses perkembangan berteater.

Rata rata teater mengikuti pakem aliran aliran mainstream sehingga orang orang mengira bahwa teater hanya boleh ditampilkan seperti aliran yang mainstream saja.

Sayangnya di Indonesia aliran yang menentang arus sering dipandang aneh, bahkan dijauhi. Tidak hanya berlaku bagi teater Mandiri. Teater Seinendan yang dikonsep oleh Oriza Hirata dari Jepang ketika salah satu karyanya “Tokyo Notes” dipentaskan di Goethe Institute Jakarta juga mengalami hal yang serupa. Tak diminati karena dianggap aneh.

Padahal teater Mandiri dan Seinendan ketika dipentaskan di Eropa sangat menarik perhatian dan mendapat apresiasi yang tinggi. Bagi masyarakat Eropa dapat menikmati suatu bentuk teater yang lain sangatlah menggairahkan.

Tak heran FTI memasukan salah satu misinya adalah memperjuangkan secara kolektif tegaknya hak ekspresi dan hak kultural para pekerja teater. Penganugrahkan FTI Award kali ini kepada Putu Wijaya menjadi langkah yang strategis.

Dengan demikian teater Indonesia memiliki sebuah icon teater yang non-mainstream untuk bisa dijadikan inspirasi generasi muda sebagai mudigah genre baru teater Indonesia.

Teater Putu Wijaya tak pernah bisa di definisikan dengan akurat dan konsisten dari waktu ke waktu. Berubah terus. Sejak pementasan JMI (Jangan Menangis Indonesia) banyak perubahan yang cukup mendasar dengan memberi lebih banyak porsi untuk verbal.

Pada pementasan pementasan berikutnya unsur verbal ini semakin kental tanpa kehilangan ciri visualnya. Dalam sebuah pementasan saya memberi kesan kesan kepada Putu tentang pementasan itu. Begitu bersemangatnya saya memberi komentar hingga tampak seperti kritikan.

Semula saya mengira sebuah penjelasan yang fokus pada pementasan itu tapi ternyata jawabannya mencakup konsep keseluruhan. Lebih baik anda baca sendiri jawaban beliau.

Wibi,

Komentarmu betul semuanya. Tapi apa yang terjadi pada latihan, berubah pada gladiresik, berubah lagi pada saat pementasan dan kembali berubah pada hari kedua. Terus tumbuh, kadang menjadi lebih baik, kadang lebih buruk. Kami sangat memulyakan proses, sehingga tak merasa sungkan untuk merespons dan memanfaatkan apa yang sedang kejadian.

Pada malam gladiresik, kami tampil buruk sekali. Di malam pertama dengan kehadiran penonton hampir memenuhi gedung, pertunjukan bagus. Di tengah-tengah pementasan kami laporkan skor pertandingan World Cup yang sedang berlangsung.

Pada hari kedua, saya sudah beli bola, sebab mau main bola sebentar di panggung dan mempersilakan pemain yang mau ikut di bagian kontak dengan penonton. Tetapi rencana gagal, karena penonton tipis, trak bisa di drive ke sana, atau katakanlah saya tak mau mengambil resiko itu.

Kembali kepada dialog buat saya lebih banyak karena para pemain memang rindu sekali ngomong. Juga penonton di Indonesia tak suka teater itu bisu. Di sampung juga saya tidak pernah membenci kata. Ada misteri lain di dalam kata yang bisa kita telusuri. Hanya saja pemain-pemain saya kurang siap, karena kata-kata yang mau saya lontarkan agak berbeda.

Tapi begitulah. Karena pemain-pemain bukan aktor dan teater bagi saya bukan hanya pertunjukan tetapi pelajaran kehidupan, bukan hanya sukses yang diburu tetapi juga pembelajaran yang kami dapat setelah 40 kali pertemuan dan memikul sebuah proyek tsb.

Musik memang masih lemah, karena mereka orang musik beneran, belum ngeh betul saya memerlukan bunyi bukan musik. Namun saya anggap mereka cukup cepat belajar. Yang lain-lain yang pernah saya coba, egonya terlalu besar sehingga bunyi yang saya cari tak pernah tersua, yang ada adalah melodi.

Bapakmu kemaren nelpon dan memberi komentar yang bagus sekali yang tak pernah dikatakan orang lain. Dia bilang tontonan (itu istilah saya untuk penampilan kami) adalah tontonan verbal yang sangat visual. Bukan karena visualisasinya, tetapi di dalam verbalisme kata-kata itu terasa sesuatu yang sangat visual.

Teater memang menarik sekali Wibi. Seperti opium yang membuat kita ekstase.

Trims komentarmu, akan saya simpan, karena jujur dan spontan.

PW

***

Sutrisno BachirTiba saatnya puncak acara penyerahan FTI Award 2007. Putu dipanggil ke atas panggung dan setelah memberi sambutan singkat tanpa diduga muncul ketua DPP PAN Sutrisno Bachir untuk menyerahkan topi dan tropi kepada Putu Wijaya.

Kemudian W.S Rendra sebagai sesepuh teater dan penerima FTI Award 2006 diberi kehormataan naik keatas panggung untuk memberi piagam. Menarik sekali menyimak sambutan yang diberikan oleh Rendra.

Satu hal yang membuat Rendra menyampaikan rasa hormatnya pada Putu adalah karena Putu seorang pekerja keras yang tak pernah mengklaim apapun atas hasil karya maupun dampak dari hasil karyanya pada bangsa ini.

RendraKira kira dua tahun yang lalu saya sempat bertemu Rendra dirumahnya di Depok untuk sebuah wawancara skripsi seorang rekan. Pada kesempatan itu Rendra juga mengatakan hal yang sama. Rendra kurang suka pada pekerja teater yang baru berkarya sekali saja sudah berkoar koar tentang teater lebih heboh dari karyanya sendiri.

Lebih jauh lagi yang dikagumi Rendra pada Putu Wijaya adalah enersinya dalam menulis. Rendra memperagakan bagaimana Putu bisa mengulang tulisan baru dari awal karena kurang puas pada tulisannya sendiri yang sudah ditulisnya panjang lebar.

Tulis dari awal dengan penuh antusias bagi Putu tak memberatkan sama sekali sementara bagi penulis muda kebanyakan kalau sudah panjang menulis tapi tidak puas enggan untuk mengulang dan hanya perbaiki sana dan sini.

Kini kesan tentang Putu dari Rendra itu semakin kuat dan bahkan mendapat pengukuhan dari FTI. Sebuah penghargaan yang sangat membesarkan hati Putu dan keluarga besar Teater Mandiri dan bahkan para pekerja teater pada umumnya.

Radhar Panca DahanaTapi penghargaan tanpa hadiah kurang klop rasanya. Bakrie Award yang pernah diraih Putu memberi hadiah sejumlah uang. Saya bertanya tanya bagaimana dengan Award yang ini. Ketua FTI Radhar Panca Dahana tampil ke atas panggung dengan membawa stereofoam berbentuk cek raksasa.

Nah ini dia pikir saya. Tapi ketika diperlihatkan ternyata angkanya kosong. What is the maksud? Oh ternyata ini adalah sesi penggalangan dana untuk hadiah. Radhar kemudian melambai lambaikan cek tersebut dan memprovokasi hadirin untuk menyumbang.

Karena sudah sekian lama tak ada yang mau mengangkat tangan tanda mau menyumbang maka mulai terdengar teriakan teriakan penonton menyebut nama nama orang yang diminta untuk menyumbang (tak perlu saya sebut nama nama itu).

Wah wajah mereka yang disebut sebut itu menjadi pucat pasi. Bahkan ada yang menundukkan kepala entah karena apa. Tapi kemudian tiba tiba Slamet Rahardjo mengangkat tangannya.

Nah ini kali penyumbang pertama pikir saya. Kemudian Slamet berkata, “Saya menganut asas perwakilan, karena itu untuk masalah ini saya wakilkan pada bung Sutrisno Bachir”, sambil menunjuk Sutrisno Bachir diatas panggung.

Kemudian Sutrisno terhenyak dan bertanya, “Lho ini serius toh?”. Rupanya Sutrisno tidak menyadari kalau penggalangan dana tersebut adalah serius sebab Radhar membawakannya dengan cara sedikit guyon mengundang tawa.

Sekarang sudah jelas ini serius dan saya mengira paling paling orang akan menyumbang sekitar satu dua jutalah kemudian yang nyumbang juga gak banyak.

Tapi kemudian Sutrisno Bachir menjawab. “Ok kalau begitu dari saya 50 juta”. Wow… saya terkejut dan bertepuk tangan dengan semangat, luar biasa pikir saya.

Kemudian ruang Teater Studio menjadi riuh sekali karena penyumbang silih berganti mulai dari beberapa teman dekat Putu yang menyumbang 10 juta dan 5 juta kemudian dari Pemda DKI yang diwakili oleh Aurora sebesar 10 juta juga.

Sungguhpun demikian kalau saya melihat wajah pucat pasi orang orang yang di “todong” penonton untuk menyumbang maka saya merasakan ini agak kurang pantas. IkranegaraMenurut bung Ikra, di Barat tak begini cara melakukan penggalangan dana. Entahlah kalau disini tapi kalau mau bertumpu pada rasa, kok rasanya kurang pantas.

Tapi mungkin juga ini adalah strategi FTI untuk bisa menggalang dana sebab penyumbang dana semua bukan orang teater dan apa yang terjadi kemudian adalah bisa diduga. Putu Wijaya kemudian maju mendekati Radhar, mengambil mic dan berkata:

Terus terang saya merasa agak kurang enak dengan hal ini, kok rasanya seperti pemerasan. Karena itu hadiah ini akan saya serahkan pada FTI.

Pernyataan Putu tersebut kemudian mendapat tepuk tangan riuh penonton dan mengelu elukan Putu Wijaya.

Jadi itu adalah strategi? Sebab kalau “menjual” FTI mungkin akan sulit bagi FTI untuk mendapat dana tapi kalau “menjual” Putu Wijaya lihat sendiri hasilnya.

Kalau itu memang strategi maka sah sah saja karena sudah sama sama tahu (kecuali penyumbang dan penonton) tapi kalau itu bukan strategi dan memang begitu adanya maka mungkin perlu dicari cara lain sebab menurut hemat saya kesannya persis seperti yang dikatakan Putu.

***

Putu WijayaUsai acara penganugerahan dan penggalangan dana kemudian masuk ke sesi performance. Putu kemudian tampil pertama membawakan monolog dari naskah cerpen berjudul “Dokter” yang dibawakan dengan gaya khasnya dan memukau seluruh hadirin malam itu.

Monolog yang dibawakan mengisahkan tentang seorang dokter yang ditugaskan di daerah terpencil tapi kemudian bukan problem kesehatanlah yang paling utama untuk dipecahkan tapi justru persoalan sosial dan budaya.

Bayangkan dokter yang harus menghidupkan orang mati hanya karena si orang mati adalah kepala suku yang merupakan kehormatan suku tersebut. Berikut kutipan monolog:

Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu.

Bapak orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!

Ilmu kedokteran yang dipelajari dokter di masa kuliah tak mampu menyelesaikan masalah itu tapi yang mampu memberi penyelesaian adalah nasihat orang tua dokter yang terngiang ngiang di telinganya ketika nyawanya diancam oleh anak kepala suku yang nekat mendesak dokter menghidupkan kembali mayat sang kepala suku.

Sebuah nasihat yang mengatakan bahwa pahlawan tak akan pernah mati. Jasad boleh mati tapi tidak semangatnya. Nilai yang diwariskanya tak akan pernah mati. Dengan sebuah aksi yang dramatis anak kepala suku menerima konsep itu dan mengubah pandangannya dengan melihat ayahnya mati sebagai pahlawan.

Sejak saat itu dokter percaya ilmu di bangku kuliah bukan apa apa tanpa kasih sayang yang sempat ia rasakan dari orang tuanya. Sekarang negeri ini sedang membutuhkan kasih sayang dalam bentuk nilai nilai budaya.

Bangku kuliah hanya mengasah otak tapi seni dan budaya mengasah nurani yang sudah sangat tumpul di negeri ini. Teater adalah salah satu kawah candradimuka untuk mengasah kepekaan nurani.

Aksi monolog Putu yang dibawakannya tanpa teks ditangan itu memukau penonton dan berkali kali bertepuk tangan. Usai monolog penampil berikutnya adalah Aning Katamsi dan Tommy Awuy. Aning menyanyi dan Tommy bermain piano.

Usai Aning kemudian ketika Tommy hendak turun dari panggung Tommy melihat Slamet Rahardjo yang duduk dideretan terdepan. Tommy kemudian menawarkan Slamet untuk menyanyi diatas panggung. Sebuah penampilan yang spontan dan suara bariton Slamet Rahardjo ternyata lumayan memukau.

Tiba saatnya penampilan dari Butet Kertaredjasa. Setelah penampilan monolog Putu yang dramatis, nyanyian Aning dan Slamet yang serius maka monolog Butet ini penampilan yang menyegarkan.

Butet KertaredjasaButet mengaku hadir jauh jauh dari Jogja dengan biaya sendiri dan untung uang hadiahnya oleh Putu sudah di serahkan ke FTI sebab kalau tidak maka dia akan minta ganti candanya… semua penontonpun tertawa.

Butet sebelum mulai monolog sempat cerita tentang hal ihwal dirinya bisa tampil diatas pentas teater seperti sekarang ini. Adalah almarhum ayahnya penata tari terkemuka Bagong Kusudiardjo yang pada waktu itu Butet masih duduk dibangku SMP dan melihat ayahnya melukis potret Putu Wijaya sang dramawan.

Butet bertanya pada ayahnya, “Siapa itu pak?”, ayahnya menjelaskan obyek lukisannya itu adalah dramawan hebat Putu Wijaya. Butet manggut manggut sambil memikirkan seperti apa sih dunia drama dan teater itu. Itulah pertama kali ia mengenal sosok Putu Wijaya dan teater.

Kemudian tokoh kedua yang memperkenalkan dirinya pada teater adalah Rendra. Di tempat latihan teater Rendra oleh senior seniornya Butet disuruh jalan dengan gaya teatrikal sepanjang panggung selama setengah jam.

Butet bingung ini maksudnya apa dan dalam hati Butet misuh, “Asu…”, kemudian buru buru dia menambahkan, “bathin…” (red: misuh hanya dalam hati maksudnya). Kemudian butet pernah disuruh makan ditengah tengah kotoran binatang yang berbau busuk. Apa sih maksudnya semua itu, pikirnya dalam hati.

Sekarang dia baru bisa menghayati apa yang dimaksud. Saya tak bisa pura pura mengerti karena saya memang tak pernah mengalami hal itu. Hanya orang orang teater yang tahu maknanya. Anda mau jadi orang teater?

Seno Gumira AjidarmaKemudian Butet membawaan monolog karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Menunggu Kematian Paman Gober“. Karya itu sungguh luar biasa melampaui jamannya. Dulu ketika karya ini dibuat tahun 1994 orang hanya bisa memahami bahwa ini hanya metafora tentang penguasa saat itu yang mungkin ada berbagai macam versi metafora semacam itu yang pernah dibuat oleh penyair yang lain.

Tapi untuk karya yang satu ini saya kira sebuah mahakarya seorang Seno Gumira. Situasi yang dihadapi oleh Paman Gober dimainkan begitu rupa sehingga sangat relevan dengan situasi yang terjadi saat ini.

Berikut kutipannya:

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati? Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Yang banyak kita lihat karya metafora semacam ini tahun tahun itu adalah umunnya tentang wacana lengsernya penguasa saat itu yang memang telah berkuasa sangat lama. Tapi Seno tidak hanya mengangkat wacana lengsernya, tapi juga kematiannya.

Bagaimana mungkin Seno menulis sesuatu yang menggambarkan situasi yang sangat spesifik saat ini dari kejauhan 14 tahun yang lalu. Tapi itu belum selesai. Kalau kita hanya membaca mungkin kita bisa tersenyum, tapi lain hal bila menyaksikan karya itu dibawakan oleh seorang raja monolog Butet Kertaredjasa yang mempersonifikasikan suara Gober Bebek persis dengan suara tokoh yang sangat dia kuasai itu. Wah rugi deh kalo gak nonton sebab monolog itu tak mungkin ditayangkan di TV dalam situasi seperti ini.

Usai monolog yang sangat menyegarkan itu tampil kemudian Ebiet G Ade yang membawakan tiga lagu. Mulanya hanya dua lagu tapi diakhir lagu ke dua kemudian penonton kompak berteriak meminta lagu tambahan, Camelia. Lagu Camelia versi yang pertama dinyanyikan sambil diikuti semua penonton.

Usai acara ditutup oleh Sekar Harum dan Alex Komang. Diloby gedung ucapan selamat buat Putu Wijaya bertubi tubi dilakukan oleh para tamu yang hadir. Terlihat kesibukan para wartawan memburu berita dan wawancara.

Terlihat juga para penonton yang memburu para tokoh teater yang juga sineas papan atas untuk sekedar minta foto atau tanda tangan.

Sambutan oleh Garin sebelum masuk ke gedungSebuah hajatan besar pekerja teater telah dituntaskan malam itu. Kegembiraan yang meluap seakan dirasakan oleh tiap insan teater yang hadir. Kehidupan dunia teater penuh dinamika sedih dan gembira. Tak terkecuali malam itu yang penuh akan kegembiraan tapi juga diwarnai kesedihan.

Seorang sahabat saya anggota tetap Teater Mandiri yang menjadi salah satu kru acara malam itu mendapat berita tentang meninggalnya ayahandanya tercinta dikampung halaman. Sahabatku yang berduka itu bernama Kleng. Sebagai anggota teater Mandiri, Kleng mendapat ucapan selamat sekaligus ucapan duka cita.

Peran apa yang mesti dia mainkan malam itu? Haruskah Kleng tersenyum ketika ucapan selamat dan bermuram ketika ucapan duka cita diberikan secara silih berganti? Tak bisa saya gambarkan, saya tak tahu rasanya bagaimana. Tapi Kleng tampil tegar malam itu, seperti itulah dunia teater.

Gembira dan bangga ketika melihat kampiun teater seperti Putu Wijaya mendapat penghargaan tapi juga sedih melihat generasi muda belum ada yang muncul sebagai pengganti babakan baru teater Indonesia. Yang tua akan segera berlalu tapi yang muda belum juga siap muncul. Semoga FTI bisa membidani kelahiran dramawan muda Indonesia.

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s