Pada malam penganugerahan FTI Award 2007 (Federasi Teater Indonesia) kepada Putu Wijaya yang berlangsung kemarin 9 Januari di Teater Studio Taman Ismail Marzuki, Ketua FTI Radhar Panca Dahana tampil diatas panggung memberi sambutan. Dalam sambutannya Radhar memaparkan pentingnya kolektivitas dalam melakukan pergerakan.
FTI lahir pada 27 Desember 2004 bersama 250 pekerja teater setelah berada dalam rahim sejak tahun 2000 dalam kegelisahan bersama akibat posisi teater Indonesia yang inferior ketika berhadapan dengan lembaga lain diluar teater.
FTI adalah lembaga yang didesign untuk dapat memberdayakan teater Indonesia dari sisi non-artistik yang pada gilirannya akan berdampak pada kualitas produksi teater itu sendiri.
Pemberdayaan teater melalui lembaga semacam FTI dirasa sangat penting dan strategis melihat indikasi rendahnya apresiasi publik pada teater, lemahnya posisi teater dalam relasi politik-ekonomi-sosial, kecilnya akses pada berbagai fasilitas sosial-ekonomi-politik, daya juang hidup teater yang masih individual dan kurangnya kolektivitas sebagai unsur penting dalam kemajuan teater.
Mungkin atas dasar ini para tokoh yang hadir di malam itu tidak hanya tokoh teater seperti WS Rendra, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Garin Nugroho, Deddy Mizwar, Jajang C Noer, Rachman Arge, Ikranagara, Ria Irawan, Remy Silado, Butet Kertaredjasa atau Alex Komang, tapi juga hadir tokoh dari “planet” lain seperti Sutrisno Bachir (ketua PAN), Faisal Basri (Ekonom), Ebiet G Ade (Musisi), Muji Sutrisno (Rohaniawan) dan Ibu Aurora (Pemda DKI).
Untuk mengukur bagaimana tingkat pengetahuan, apresiasi dan harapan publik saat ini atas teater, FTI telah melakukan survey dari 500 orang responden dengan komposisi wanita(33,3%), pria(66,7%) dari latar belakang mahasiswa(28%), pelajar(20%), wiraswata(16%), karyawan(15%), guru(9%), tidak berkerja(7%), PNS(4%) dan ibu rumah tangga(1%).
Hasil dari survey tersebut mengungkap bahwa 95,6% dari responden mengenal teater dan sisanya tidak mengenal, 74,4% pernah menonton teater dan sisanya belum pernah, 43% menonton pertunjukkan teater di TIM (Taman Ismail Marzuki), 4,4% menonton di GKJ (Gedung Kesenian Jakarta), sisanya 52,3% menonton di tempat lain.
Kemudian seberapa sering responden menonton teater; 1,6% persen menjawab 1 kali seminggu, 8,9% 1 kali sebulan, sisanya 89,5 diatas satu bulan. Dari pertanyaan siapa tokoh teater yang mereka kenali jawabannya adalah: WS Rendra (50%), Putu Wijaya (25,6%), N Riantiarno (8,9%) lainnya (15,5%).
Yang menarik adalah 57,8% responden menjawab teater sudah berkembang di Indonesia padahal dibentuknya FTI justru karena perkembangan teater di Indonesia dirasakan mengalami stagnasi. Jadi pengetahuan masyarakat umum tentang posisi teater masih kurang. Ini karena konsepsi yang salah tentang teater.
Terbukti dari harapan para responden pada teater, 50% hanya berharap teater sebagai sebuah hiburan yang mencerahkan padahal teater bisa berperan jauh lebih dari itu. Bahkan 16% menjawab yang diharapkan dari teater hanya pertunjukan yang menghibur. Hanya 24% yang menjawab teater diharapkan bisa mengangkat derajat dan wibawa bangsa.
Pada sambutan Slamet Rahardjo dan Didi Petet diatas panggung yang disampaikan dalam dialog mereka berdua, bahwa teater adalah personifikasi kehidupan dimana imaginasi dimainkan. Tanpa imaginasi tak ada itu teknologi, jalan tol, gedung bertingkat, komputer, handphone dan segala macam hasil kebudayaan manusia.
Angka angka diatas bisa dijadikan salah satu tolok ukur kemajuan kinerja FTI. Semoga survey tahun depan bisa memberikan angka angka yang lebih menggembirakan asalkan FTI bisa bekerja dengan baik pada tahun 2008 ini.
FTI menjadi strategis bila misi yang dilakukannya berhasil, diantaranya memperjuangkan hak ekspresi dan hak kultural para pekerja teater, menyokong penciptaan, penerbitan dan penyebarluasan karya seni pertunjukan teater. Kegiatan yang digelar dalam rangka mencapai misi itu diantaranya Bulan Teater, Sayembara Naskah Drama, FTI Award dan refleksi tahunan FTI.
Selain kegiatan strategis juga ada program rutin seperti sosialisasi, penggalangan dana, kursus pelatihan manajemen dan pelatihan guru teatral bersama Depdiknas.
Menjadi anggota FTI bagi kelompok teater atau pekerja teater akan mendapat manfaat berupa dukungan manajerial dengan mengupayakan semua kebutuhan non-artistik berupa prasarana dan infrastruktur pertunjukan.
FTI akan menggunakan jaringan internal (komunitas teater dalam negeri) dan eksternal (komunitas teater mancanegara) sepenuhnya untuk mencapai misi yang ingin diraihnya.
Dengan selesai diselenggarakannya FTI Award 2007 yang menempatkan Putu Wijaya sebagai peraih FTI Award tahun 2007 maka satu misi strategis telah berhasil dijalankan dan semoga tahun tahun kedepan teater Indonesia lebih berjaya.
Bagi kelompok teater yang ingin bergabung berikut persyaratannya:
- Kelompok atau grup yang telah berdiri minimal 3 (tiga) tahun
- Telah membuat produksi pertunjukkan sekurang kurangnya 3 (tiga) kali atau 1 (satu) kali dalam setahun
- Memiliki anggota tetap minimal 10 (sepuluh) orang
- Memiliki komitmen dan idealiasme, serta motivasi tinggi untuk belajar
- Mengembangkan seni pertunjukkan
Formulir pendaftaran bisa didapatkan dengan mengisi formulir pendaftaran dengan menghubungi nomor telephone 021 9827 5912, lalu mengirimkannya ke alamat sekretariat FTI JL Kebagusan Dalam 59, Jagakarsa, Jakarta Selatan atau kirim email ke ftindonesia [at] yahoo.com atau faks ke 021 7471 2992.

















12 Tanggapan
Januari 13, 2008 pukul 5:51 am
apa FTI itu udah melakukan sosialisasi ke theater2 yg terdapat di daerah..ke kmpus2 juga, sy rasa hampir tiap kampus, malah hampir tiap fakultas di kmpus punya teater..
Januari 13, 2008 pukul 11:22 am
Kini FTI memiliki 20 koordinator daerah di 20 provinsi di Indonesia. Tapi kalau di kampus saya kurang tahu, sebab biasanya teater kampus anggotanya tidak tetap tergantung angkatan mahasiswa. Tapi untuk jelasnya bisa hubungi sekretariat.
Januari 16, 2008 pukul 11:03 pm
[...] pada seni teater, kecil sekali. Karena itu sekelompok pekerja teater senior berinisiatif membentuk Federasi Teater Indonesia yang misinya untuk memberdayakan pekerja teater dari aspek [...]
Januari 20, 2008 pukul 6:53 pm
Wah … gak nyangka, aktif di teater juga toh hehe. Mmm, kalau saya mungkin hingga saat ini hanya sebagai penikmat seni teater saja, meskipun saat ini lebih banyak menjadi penonton bioskop.
Februari 12, 2008 pukul 12:57 pm
mudah-mudahan FTI bukan penyeragaman ala pegiat teater… :))
Februari 28, 2008 pukul 5:01 pm
Buat FTI :
Perkembangan teater rasa sangat kontra pruduktif apa yang sudah digembar-gemborkan. Coba kita tengok perkembangan teater disekitar kita, hanya sebagian mereka saja yang mengalaminya. Tapi bagi mereka yang berada diluar diri “kita”, saya rasa belum merasakan.
Survey yang dilakukan FTI coba dikaji kembali, siapa mereka yang dikaji, dari kalangan mana?
Berjalanlah menelusuri lembah, disitu ada jurang yang sangat dalam, jangan kau tutup mata dan telinga, tapi bicaralah dengan hatimu sendiri. maka akan terlihat mereka yang kelaparan dan hampir tak bernyawa. Jejaki dari hati ke hati, disitu juga akan kau dapat tangisan dan rintihan sepanjang hari.
Ini hanya sekedar masukan, karena menurut pandangan saya baru 45 % masyarakat indonesia tahu teater, 25 % aktif melakukan teater, 15 % pelaku teater dan sisanya 5 % (mereka bukan saja pelaku tapi kehidupan mereka pun bergerak dengan teater). Dari 5 % itu pun hanya 3 % yang terlihat oleh kita, sedang yang 2 % tak tampak oleh kita.
Mohon FTI untuk mendongkrak teater-teater yang berada pada level 42 % itu. tidak perlu jauh kepelosok tapi disekeliling kita (JABODETABEK)
Terima kasih.
Mudah-mudahan pada tahun 2008 ini perkembangan teater di indonesia bisa lebih baik.
Maret 8, 2008 pukul 8:12 am
semoga teater di indonesia bisa lebih berkembang baik
April 2, 2008 pukul 6:08 pm
[...] April 2008 · No Comments Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia) di Teater Studio TIM, di atas panggung, Didi Petet bertanya, apa gunanya teater, apa gunanya [...]
Juli 5, 2008 pukul 9:54 am
seharusnya FTI jika seandainya serius dalam pengembangan tetater tetap memonitoring teater kampus, tak bisa dipungkiri ketika teater indonesia seakan-akan mati, teater kampus muncul sebagai motor dalam kegairahan pertunjukan teater, walaupun kualitas teater kampus tidak sebagus kualitas artistik, gagasan dan manajemen teater yang katanya “senior”.bulan juni ini akan ada pertemuan teater kampus yang paling besar di nusantara ini, diadakan di surabaya, namanya TEMU TEATER MAHASISWA NUSANTARA (TEMU TEMAN) yang ke-6 kalinya selama tahun 2002. disini teman2 FTI bisa menawarkan gagasan tentang mau kemana dan bagaimana teater sekarang, jangan nunggu orang daftar, itupun kalo teman2 FTI serius untuk memajukan pertunjukan teater secara keseluruhan,,apalagi dengan legitimasi TEATER INDONESIA. wajarlah klo teman2 sedikit progresif terhadap itu.
Juli 20, 2008 pukul 11:00 pm
Honestly, saya sngat tertarik dngan dunia teater. Saya jg pnya niat untuk ikut serta belajar dan berlatih seni ini. Saya mau tnya, dimana saya hrs memulai niat saya ini? Dan umur saya 21 thn, apakah saya sudah terlambat untuk memulainya? Mohon pndapatnya. Trims
Agustus 7, 2008 pukul 8:24 am
wah ini bisa jadi sebuah blog penting…
September 23, 2008 pukul 7:54 pm
bagi sebagian orang teater adalah dunia sumir. tetangga saya mengatakn saya orang stress. tapi ketika peringatan 17 agustusan supaya dipaksa bikin drama dengan anak-anak. wah saya bingung siapakah yang stress?
kerja kolektif dalam teater membutuhkan dedikasi, kenekatan. para maestro teater yang telah membikin kelompok adalah orang-orang yang berhasil mempengaruhi kepala anggotanya pada sebuah dunia teater.
tapi teater juga butuh duit, dana. saya yang bermonolog saja butuh buat beli kostum, ongkos latihan dan tetek bengek lainnya. teman-teman saya mental semua. males pada naskah, bloking, dan dugaan penonton akan sepi.
maka saya pun memaksa diri saya tetap berteater dalam pemahaman saya. tiap malam latihan. pagi sampe sore ngamen baca puisi antar pintu. nulis , kesepian dan woww ajaib, banyak yang nanggap saya main monolog, ngisi workshop, juri baca puisi bahkan juri lomba burung berkicau juga saya lakoni.
saya percaya di akherat juga tuhan akan menyediakan ruang untuk saya bermain teater.
saya mencoba bersyukur dengan serius. teater adalah kerja keseriusan, tidak asal.
teman-teman sarjana teater pada membelok kan diri jadi wartawan, lsm, guru, dukun, eo.
pantaslah putuwijaya, rendra, nano,arifin, hidup dari teater karena mereka serius telaten dan tahan dibanting.
kenapa kita yang muda melempem, mengeluh pada situasi. maju terus saja. pilih dan aduk tanah. saya pun tinggal di kampung tapi terdengar di jakarta sebagai orang gila.
tak terduga saya main monolog di tim. besok 28 oktober di stsi bandung bareng rahman sabur, jagoan payunghitam yang selama ini saya cuma melongo. dengan jemek pantomimer jogja yang saya kagumi sejak sd.
teater adalah kerjakeras. mau pilih bergerombol. solois kayak pm toh. terserah. mumpung masih ada nyawa. bergerak maju.maju soal hasil ada sutradara yang lebih lihai yang telah menciptakan kita.
oh ya lewat forum ini saya mau bilang radhar. maju terus fti. saya mau ndaftar walaupun tak memenuhi syarat-syarat keanggotaan fti. bagi yang mau naggap saya main monolog, baca puisi saya silakan hubungi saya:
apito lahire
teater lares dramatic/komunitas klonengan
jl. projosumarto II langgen talang kab. tegal 52193
jawa tengah hp. 081548077550
email: apito_lahire12@yahoo.com.
terimakasih
Tinggalkan Balasan