Monthly Archives: Januari 2008

Gubernur Bali Tak Pernah Mengusulkan AA Gde Agung Sebagai Pahlawan Nasional

Sumber: Balipost (Soal Gelar Pahlawan A.A. Gde Agung – Gubernur tak Pernah Mengusulkan)

Gubernur Bali Dewa Beratha menyatakan tak penah mengusulkan gelar pahlawan nasional atas nama Dr. A.A. Gde Agung. Pihaknya juga melihat ada hal yang ganjil dari prosedur pengusulan, mengingat pengajuan usulan ini datang dari luar daerah Bali.

”Semestinya memang ada verifikasi atas usulan nama calon penerima gelar pahlawan nasional. Untuk memfasilitasi protes dan sikap LVRI Bali, saya siap memfasilitasi perjungan mereka untuk menghadap presiden,” tegasnya, seusai foto bersama dengan perwakilan LVRI yang mendatangi kantor Gubernur Bali, Senin (21/1) kemarin.

Dewa Beratha juga menyarankan agar perjuangan ini dilakukan sebelum limit waktu uji publik berakhir bulan Februari mendatang. Solusinya, kata dia, LVRI hendaknya membuat surat keberatan kepada presiden dan permohonan untuk menghadap. ”Nanti tanggal 27 Januari Presiden akan datang ke Bali.

Saya akan sampaikan permohonan agar Bapak Presiden meluangkan waktu menerima pengurus LVRI Bali dan organisasi pendukungnya di Jakarta,” ujarnya. Gubernur mengingatkan agar perjuangan pencabutan gelar pahlawan nasional ini dilakukan secara prosedural dan didukung bukti-bukti sejarah yang kuat.

Para veteran, Senin kemarin menggelar aksi damai. Selain para veteran juga ikut beberapa organisasi pendukung. Mereka menghadap Gubernur Bali Dewa Beratha dan bertemu dengan anggota DPRD Bali. Didampingi unsur Pemuda Panca Marga (PPM), Patriot dan Ikatan Keluarga Pahlawan Bali, para veteran ini mendesak Gubernur Bali Dewa Beratha dan DPRD Bali membuat rekomendasi kepada presiden agar gelar pahlawan nasional kepada A.A. Gde Agung dicabut.

Pengurus LVRI Cabang Gianyar Wayan Jenar mengatakan, pemerintah haruslah meluruskan sejarah perjuangan dengan mendengar keluhan dan reaksi para veteran Bali.

Sedangkan PPM Bali dalam keterangannya mempertegas sikapnya menolak gelar pahlawan nasional yang dianugerahkan kepada A.A. Gde Agung. Untuk itu, kata Ketua PPM Bali A.A. Nanik Suryani, S.T., PPM mendesak presiden mencabut gelar tersebut. ”Jika tuntutan ini diabaikan, kami akan menempuh upaya hukum,” tegasnya.

Setelah diterima Gubernur, rombongan para veteran dan organisasi pendukungnya berjalan kaki seraya membentangkan spanduk menuju gedung DPRD Bali. Spanduk besar yang bertuliskan Menolak Gelar Pahlawan Nasional Dr. A.A. Gde Agung ini, diusung beramai-ramai dan dibentangkan di lobi DPRD Bali.

Pada kesempatan itu, Sekretaris YKP Propinsi Bali Dr. Ir. Wayan Windia menyampaikan orasi secara bersemangat. Ia menyatakan penolakan LVRI Bali atas penganugerahan gelar pahlawan nasional ini hendaknya didengar para wakil rakyat. ”LVRI dalam bersikap memperhatikan fakta-fakta dan berangkat dari spirit perjuangan para veteran. Kami menolak dan menjadikan tuntutan pencabutan gelar pahlawan nasional kepada Dr. A.A. Gde Agung sebagai harga mati,” tegasnya.

Setelah itu, rombongan diterima Ketua Komisi I DPRD Bali I Made Arjaya dan Wakilnya Wayan Sutena. Di hadapan para wakil rakyat ini para veteran mendesak agar DPRD Bali membuat rekomendasi sebagai bentuk dukungan kepada para veteran. ”DPRD Bali sedapat mungkin bisa membuat rekomendasi yang mendesak presiden mencabut gelar pahlawan tersebut,” tegas Dr. Wayan Windia.

Made Arjaya meminta masukan dari semua pihak dan berjanji akan melakukan penyikapan secepatnya. Pihaknya juga akan melakukan koordinasi lanjutan dengan pimpinan DPRD Bali setelah menyerap aspirasi dari LVRI Bali dan organisasi pendukungnya. Setelah diterima anggota DPRD Bali, rombongan para veteran ini membubarkan diri sekitar pukul 12.15 wita.

Artikel terkait:

Petisi Online: http://www.petitiononline.com/gdeagung/petition.html

2 Komentar

Filed under sejarah

Teater Koma: Kenapa Leonardo?

Pak Martin (Budi Ros) terlihat duduk dengan pandangan kosong tak memperdulikan dua orang dokter disebelahnya yang sedang berdebat dengan sesekali mencoba berkomunikasi dengan Pak Martin.

Gambar dari Media Indonesia

Pak Martin adalah seorang pasien sebuah lembaga syaraf yang dipimpin oleh seorang Neurolog senior bernama Dr Hopman (Nano Riantiarno).

Tidak seperti pasien lain dalam lembaga syaraf tersebut yang lebih banyak menunjukan gejala neurologis seperti contohnya Pak Miring (Joko Yuwono) yang hanya bisa berdiri tegak ketika memakai kacamata yang diberi bandul di kiri kanan.

Pak Martin adalah pasien spesial karena gejala yang ditunjukannya lebih kepada gejala psikologis ketimbang neurologis. Amnesia total disertai hilangnya perasaan. Jika hanya amnesia maka dia masih bisa merasakan perasaan entah itu tersinggung, suka, benci dan bahkan cinta.

Tapi ini selain hilangnya perasaan juga disertai amnesia ditambah tingkah yang aneh tanpa kehilangan kecerdasan terutama kemampuan memori otaknya. Pak Martin bisa dengan mudah menghafal semua puisi Shakespeare yang hanya diperdengarkan sekali saja.

Suatu gejala yang sangat menarik bagi Dr Da Silva (Cornelia Agatha) seorang psikiater yang sedang mencari obyek penelitian untuk studi PhDnya.

Atas ijin Nyonya Martin (Ratna Riantiarno) Dr Da Silva kemudian menghabiskan banyak biaya untuk mendatangkan berbagai guru les privat untuk mengajari Pak Martin berbagai macam mata pelajaran yang bisa dengan mudah dikuasai oleh Pak Martin.

Walhasil Pak Martin bisa menguasai 29 bahasa asing dan berbagai macam konsep konsep keilmuan. Berbagai macam pertanyaan dari Dr Hopman dijawab dengan mudah oleh Pak Martin dan membuat Dr Da Silva sangat bangga. Tapi ada satu pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Pak Martin. Pertanyaan Dr Hopman itu adalah: “Bagaimana perasaan Pak Martin sekarang ini?”.

Pak Martin ternyata tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanya. Kemudian Dr Hopman mengubah pertanyaanya menjadi lebih mudah. Pertanyaannya adalah: “Pak Martin, 40 derajat celcius bagi Anda terasa dingin, panas atau hangat?”.

Pak Martin hanya menjawab 40 derajat celcius sama dengan 100 derajat farenheit. Dia ternyata tak bisa mengungkapkan perasaan yang sangat sederhana itu. Ini membuat Dr Da Silva sangat gusar dan berjanji kepada Dr Hopman sebagai kepala lembaga syaraf tersebut bahwa usaha yang dia lakukan tinggal sedikit lagi.

Jika berhasil maka seorang manusia baru dengan kemampuan yang sangat luar biasa seperti Leonardo Da Vinci akan tercipta. Dr Hopman menggeleng gelengkan kepalanya tanda tak sependapat dan menurutnya itu tak mungkin terjadi.

Mereka berdebat sengit dan perdebatan itu menurut dramawan senior Ikranagara mengarah kepada dialog filsafat Strukturalis vs Post-Strukturalis yang membahas “human subject, historicism’s progress“.

Kuncinya adalah bagaimana menyentuh sisi terdalam dari perasaan Pak Martin untuk bisa terjadi koherensi antara semua kemampuan otaknya yang cemerlang itu dengan perasaannya.

Berbagai macam keindahan diumpankan pada Pak Martin mulai dari puisi yang indah karya Shakespeare, musik klasik hingga berbagai jenis tari.

Dr Da Silva berpasangan dengan Pak Martin berdansa berbagai macam dansa seperti Tanggo, Rumba, dan Salsa. Pak Martin memang menjadi mahir berdansa tapi semua itu seperti tak mampu menggugah perasaanya.

Dr Da Silva menjadi sangat jengah dibuatnya tapi apa daya dana sudah menipis dan kelanjutan penelitiannya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk menggalang dana akhirnya Dr Da Silva mencari jalan pintas dengan membuka informasi penelitiannya kepada media. Masyarakat menjadi gempar dengan headline lahirnya seorang Leonardo kedua.

Dr Robert yang memiliki dana berlimpah dari para politisi dan penguasa bersedia mendanai proyek Dr Da Silva tersebut dengan syarat menguasai sepenuhnya Pak Martin untuk diexploitasi.

Pak Martin kemudian diambil alih dan apa yang terjadi kemudian adalah Pak Martin tidak hanya diberi guru les privat tapi dilatih untuk menjadi seorang prajurit dengan kemampuan membunuh yang sangat efektif melebihi prajurit profesional yang paling hebat sekalipun.

Jelas sudah proyek Dr Robert tersebut bukan untuk menyembuhkan Pak Martin tapi untuk kepentingan lain yaitu militer. Padahal menurut Dr Da Silva penyembuhan Pak Martin tinggal selangkah lagi yaitu bagaimana membongkar belenggu kejiwaan yang telah menghalangi Pak martin untuk dapat menghayati perasaannya sebagai seorang manusia yang berhati nurani.

Mengetahui kenyataan ini Dr Da Silva sangat menyesal dan berlari kembali ke Dr Hopman yang sejak awal tidak menyetujui tindakan Dr Da Silva. Suatu aksi penyelamatan Pak Martin direncanakan oleh Dr Da Silva tapi Dr Hopman tidak mau ikut bergabung karena tidak setuju dengan metode yang dipilih oleh Dr Da Silva.

Metode yang dipilih oleh Dr Da Silva untuk menggugah sisi terdalam jiwa Pak Martin adalah dengan memberi stimulan pada naluri dasar manusia yang sangat melibatkan perasaan yaitu SEX.

Suatu adegan artistik yang menggambarkan sexual-healing Pak Martin oleh Dr Da Silva yang cantik dan seksi itu ditampilkan diatas panggung membuat penonton menahan nafas.

Lenguhan dan erangan menggema kemudian terjadi sesuatu, dalam nafas yang masih memburu Pak Martin terlihat menggeliat dan berubah ubah emosinya. Silih berganti perasaan datang dan pergi membuat Pak Martin tampil dalam banyak karakter seperti apa yang telah diajarkan sebelumnya.

Sampai pada karakter pembunuh yang efektif Pak Martin menghabisi nyawa Dr Da Silva yang masih tanpa busana itu dengan tragis. Karakter pembunuh itu tak mau hilang bahkan menggila. Dengan keahlian membunuh luar biasa Pak Martin tak terbendung dan banyak korban tewas.

Dr Robert sebagai seorang ahli beladiri Kendo mencegat Pak Martin dengan samurainya. Terjadilah pertarungan dua orang samurai antara guru dan murid. Pak Martin memang memiliki kemampuan belajar teknik Kendo yang luar biasa hingga Dr Robert sebagai gurunya mampu dibunuhnya dengan tebasan samurai yang artistik.

Ketika berhadapan dengan Dr Hopman proses healing itu mencapai klimaks. Pak Martin sadar dan bertanya dimana dia dan mengenali Dr Hopman. Dr Hopman kemudian melakukan pengujian dengan berbagai macam pertanyaan yang sebelumnya tak bisa dijawab.

Pak Martin telah sembuh, amnesianya hilang dan dia kembali mengenali dirinya dengan semua cerita masa lalunya. Dr Hopman bahagia karena Pak Martin sembuh tapi sedih karena banyak korban tewas. Pak Martin adalah seorang pemilik toko makanan dan bukan seorang pembunuh lagi. Dia tak ingat semua kemampuannya yang diajarkan ketika dia masih amnesia.

Ketika pamit dan akan berjalan pulang tiba tiba Pak Martin mendengar sesuatu ditelingannya. Oh rupanya itu suara telephone dan bergegas mengangkat telephone. “Halo…”, katanya. Kemudian dia berkata lagi, “Oh Pak Presiden… jadi mau pesan makanan dari toko saya?.. tentu… boleh boleh…”. Melihat kejadian itu Dr Hopman hanya menggeleng sambil memegang keningnya yang tertunduk.

Ya benar… Pak Martin kumat, dia gila lagi…

Oleh perawat (Herlina S) kemudian Pak Martin digiring masuk kembali ke lembaga syaraf itu dan tetap menjadi penghuni setia dalam pengawasan Dr Hopman.

***

Menurut Bung Ikra drama ini mengusung filsafat Post-Modernism yang dibingkai dengan tragic-comedy. Menurut saya drama ini menghibur dan mencerahkan.

Budi Ros pemeran Pak MartinSaya sempat bertemu dengan Budi Ros (pemeran Pak Martin) dibelakang panggung usai pertunjukan dan Mas Budi menyampaikan bahwa penulis naskahnya Evald Flisar sendiri sempat ikut hadir pada sebuah diskusi tentang pementasan ini dan baru kembali tanggal 19 kemarin.

Salut untuk Budi Ros yang berakting sungguh gemilang malam itu. Setelah sekian lama Nano Riantiarno tampil hanya sebagai sutradara kali ini Nano sebagai aktor memerankan Dr Hopman dengan penuh karakter dari dalam.

Cornelia Agatha berfoto bersama fans dibelakang panggungWalaupun Cornelia Agatha memerankan Dr Da Silva dengan baik tapi saya penasaran bagaimana jika Dr Da Silva diperankan oleh Ratna Riantiarno. Tapi mungkin cast karakter dari Dr Da Silva adalah psikiater muda yang ambisius dan cantik (tentu saja Ratna Riantiarno juga cantik)

Drama ini sudah dipentaskan diberbagai negara termasuk kali ini di Indonesia. Dari berbagai pementasan itu Evald lebih menyukai dua pementasan diantara yang lainnya yaitu yang di London dan yang di Indonesia. “Suatu kebanggaan buat kita bangsa Indonesia”, ujar Mas Budi.

Malam ini tanggal 25 Januari adalah pementasan malam terakhir sejak tanggal 11 Januari di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Mulai jam 19:30 dengan harga tiket 30, 50, 75 dan 100 ribu rupiah. Rugi kalau anda melewatkan pertunjukkan drama teater kali ini.

Drama Teater ini dipentaskan oleh Teater Koma dalam rangka ulang tahunnya yang ke 31. Pementasan kali ini adalah pementasan yang ke 112.

“KENAPA LEONARDO?”
Karya EVALD FLISAR
Alih Bahasa RANGGA RIANTIARNO
Sutradara N. RIANTIARNO

Informasi pemesanan tiket:

  1. Jl. Cempaka Raya No. 15 Bintaro ? Jakarta Selatan 12330
    Telp 021 735 0460
    Telp/Fax 021 735 9540
  2. Jl. Setiabudi Barat No. 4 Jakarta Selatan
    Telp 021 525 1066
    Telp/Fax 522 4058 ; 529 63603
  3. Tiket Box Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki

Didukung oleh :
BUDI ROS, CORNELIA AGATHA, RATNA RIANTIARNO, SARI MADJID, DUDUNG HADI, OHAN ADIPUTRA, DORIAS PRIBADI, EKO PARTITUR, TUTI HARTATI,JOKO YUWONO, HENGKY GUNAWAN, ADRI PRASETYO, HERLINA SYARIFUDIN,YULIUS, RANGGA, YOGI, SENA SUKARYA, SUNTEA, INA KAKA, L.YOGA.

Skenografi ONNY K.
Cahaya ISKANDAR K. LOEDIN
Busana SAMUEL WATTIMENA
Rias & rambut SENA SUKARYA
Akustik TOTOM KODRAT
Grafis SAUT IRIANTO MANIK
Konsultan Gerak LINDA KARIM
Manajer Panggung TINTON PRIANGGORO
Pimpinan Produksi RATNA RIANTIARNO

***

Nano, Ikra dan BapakSaya menonton drama ini bersama ayah saya yang kebetulan seorang dokter yang pernah memimpin sebuah Rumah Sakit Jiwa, RSJ Bina Atma Denpasar. Ayah bercerita tentang bagaimana dulu ketika ia masih mahasiswa berkunjung ke RSUD Wangaya Denpasar Bali untuk ujian Neurologi yang di test oleh sesepuh Dokter Spesialis Saraf & Jiwa (Neuropsikiatri) Prof Dr Gusti Ngurah Gde Ngurah.

Menurut ayah dalam ilmu kedokteran Pak Martin menunjukan gejala Schizophrenia yang banyak ditemui di RS Wangaya. Ayah memahami ilmu neurologi dan psikiatri berkat bimbingan Prof Ngurah.

Telah ribuan dokter ahli syaraf yang dicetak oleh tangan dingin Prof Ngurah sebagai pendidik. Profil akademik Prof Ngurah mirip seperti Dr Hopman digabung sekaligus dengan Dr Da Silva. Prof Ngurah adalah seorang Neurolog dan juga sekaligus Psikiater, suatu expertise yang jarang dimiliki oleh seorang dokter apalagi sekarang ini.

Tidak heran Prof Ngurah pernah menjabat direktur RS Wangaya (1959-1968) dan bahkan dikemudian hari menjadi Rektor Univ Udayana. Rumah Sakit Wangaya adalah rumah sakit pertama di Denpasar. Hingga kini RS Wangaya telah berkembang dan menjadi rumah sakit yang maju.

Prof Ngurah tercatat sebagai ketua dan anggota Perhimpunan Neurologi Psikiatri Neuro Chirurgi Indonesia Cabang Bali, Ketua dan anggota Ikatan Dokter Ahli Saraf Indonesia Cabang Bali, sebagai Penasihat Pengurus Pusat IDASI, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Bali, anggota WFN (World Federation of Neurology).

Sebelum ke Bali, Prof Ngurah bekerja di Bagian Neurologi- Psikiatri FK UI Jakarta (1949-1952). Prof Dr Ngurah pernah menciptakan alat sederhana ECT (Electro Convulsive Therapy) untuk penyembuhan pasien gangguan jiwa (1966).

Alat tersebut kini tersimpan di Museum Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Atas jasa-jasanya tersebut, Universitas Udayana di bawah Rektor Prof. Dr. dr. W. Wita, Sp.PD. memberikan Udayana Award pada 29 September 2004 saat Dies Natalis ke-42 Unud.

Bagi saya yang anak seorang dokter memandang sekilas dunia kedokteran sepertinya membosankan dan tidak menarik. Tidak ada tantangan kreatifitas sebab semua harus sesuai textbook, kalau tidak sesuai textbook maka dokter bisa dituntut melakukan malpraktek. Karena itu saya tidak memilih studi kedokteran.

Tapi kalau kita melihat profil Prof Ngurah diatas maka dunia kedokteran sungguh suatu pekerjaan yang pernuh tantangan berkreatifitas hingga sampai pada tingkat filsafat seperti yang ditunjukan oleh drama teater “Kenapa Leonardo?”.

Hmm.. Saya jadi tertarik punya istri dokter.. eh.. bukan maksud saya.. mempelajari dunia kedokteran. Tapi tetap saya memilih untuk tidak jadi dokter sebab saya yang suka ngoprek ini kalau jadi dokter Neurolog dan Psikiater maka kemungkinan besar saya akan seperti Dr Da Silva, bahkan lebih parah seperti Dr Frankenstein.

Tuhan telah memilihkan saya yang terbaik, jadi programer saja :-)

12 Komentar

Filed under teater

Hari Raya Galungan

banyumalaSaya masih ingat dulu waktu masih kanak kanak kalau nuju hari raya Galungan maka semua jadi sumringah. Keriangan bertebaran dimana-mana. Selama tiga hari penuh kegembiraan.

bantenSecara umum tahap perayaan harinya adalah Penampahan-Galungan-Manis. Sehari sebelum Galungan disebut Penampahan Galungan. Pada hari itu dilakukan penyembelihan hewan.

Saya selalu suka mondar mandir dikegiatan itu. Biasanya ada candaan diantara temen temen.

I berag: Eh cai de pesu nah!
I mokoh: Kenape? (jejeh)
I berag: nyanan cai juke ajak mekejang kadene kucit lakar tampahe… hahaha
I mokoh: beh cai ade ade de’en.

Itu mungkin mecande yang kasar tapi hanya berlaku di temen temen dekat saja sehingga tidak menyinggung perasaan.

Kemudian hari kedua yaitu hari raya Galungan itu sendiri. Saya selalu senang mengiri saudara saudara yang sedang sembahyang ke Pura. Saya kerap menjadi biang kerok ketidak tertiban karena suak memprovokasi sepupu saya yang sebaya untuk bermain kring keb. Walau saya tidak ikut masuk ke Pura tapi saya bisa bermain disekitarnya.

Hari ketiga adalah Manis Galungan. Ini hari yang dinanti nanti. Hari Manis Galungan adalah hari dimana kita melancong, tamasya atau piknik atau apalah namanya. Biasanya sekeluarga penuh kami main ke obyek wisata, yang jadi langganan kami biasanya Air Sanih, Lovina, Tenganan, Bedugul atau Kintamani.

Bertmeu STA di hari raya manis KuninganBanyak dokumentasi foto foto keluarga diambil pada hari raya Manis Galungan atau Manis Kuningan. Waktu itu saya ingat berkunjung ke cottagesnya Sutan Takdir Alisyahbana di tepi danau Batur, itu kalau tidak salah Manis Kuningan.

Masa kecil bagi saya sangat indah di Bali. Saya menikmati semua liburan dan perayaan mulai dari Idul Fitri, Idul Adha, Galungan, Kuningan, Pagerwesi dan Nyepi. Kini tak mungkin lagi saya nikmati, saya tak begitu risau karena telah mengalaminya tapi yang bikin saya risau bagaimana dengan anak anak saya nanti, bisakah mereka menikmati apa yang saya nikmati dulu itu, sementara Bali sekarang sudah banyak berubah. Apakah Galungan masih seperti dulu?

Tak bisa saya jawab dan untuk saudara saudaraku di Bali selamat Hari Raya Galungan. Bersenang senanglah sebelum semuanya itu lenyap ditelan jaman.

Artikel tentang Galungan
http://www.babadbali.com/piodalan/galungan.htm

5 Komentar

Filed under budaya

Pacar Presiden Perancis: Carla Bruni

Carla BruniBangsa Amerika sangat perhatian dengan calon Presiden yang akan mereka pilih sebagai Presiden mereka. Apalagi partai Repubik yang konservatif. Partai Republik yang menentang aborsi ini sangat gencar menyoroti skandal sex Bill Clinton dari partai Demokrat. Di Amerika memang standard untuk urusan susila masih lebih tinggi dibanding Eropa.

Di Eropa freesex sudah menjadi gaya hidup, life porn ada di banyak saluran TV kabel. Sungguhpun demikian banyak pengamat sosial yang bilang Amerika sebentar lagi akan menjadi Eropa kedua dalam hal ini. Amerika jelas mendapat banyak pengaruh dari Eropa dan kelihatan rakyat Amerika tak pernah risau akan hal itu melihat pluralnya masyarakat mereka.

Eropa malah terkesan lebih “protektif” dengan pengaruh dari luar termasuk Amerika. Media Perancis pernah sinis dengan didirikannya Disney Land di Paris yang dianggap sebagai bentuk infiltrasi budaya Amerika. Padahal Perancis termasuk negara yang paling plural di Eropa.

Kemudian ketika Google punya proyek mendigitalisasi perpustakaan perpustakaan besar di berbagai Universitas terkemuka dengan tujuan agar dapat diakses generasi muda seluruh dunia, kalangan librarian Perancis mengecam dengan menyatakan jangan sampai nanti informasi tentang revolusi Perancis oleh generasi muda dunia hanya diketahui melalui buku buku yang dipilih oleh Amerika.

Perancis dari segala aspek tak mau diposisikan dibawah Inggris/Amerika sementara Amerika nampaknya selalu ingin mendahului bangsa manapun untuk berbagai hal. Untuk sejarah demokrasi yang sudah diklaim atas Perancis oleh Napoleon maka Amerika hanya bisa bermimpi memilikinya. Tapi pertandingan belum usai. Dalam perjalanannya Amerika dengan segala upaya kekuatan ekonomi dan militer berusaha mencapai predikat kampiun demokrasi.

Geena Davis for PresidentBahkan dalam hal hal kecil dan menggelikan sekalipun. Hollywood adalah corong mimpi Amerika. Kalah di perang Vietnam tapi menang di Hollywood lewat film Rambo. Ingin hari kemerdekaan mereka tanggal 4 juli dirayakan sebagai hari kemerdekaan seluruh bangsa lewat film Independence Day. Ingin punya Presiden perempuan juga jadi mimpi Amerika lewat film TV West Wing dimana Geena Davis berperan sebagai Presiden, bahkan juga ingin punya Presiden yang lajang pernah dimimpikan lewat film The American President.

Dalam film The American President digambarkan seorang Presiden (Michael Douglas) yang masih lajang (duda) yang jatuh cinta pada salah seorang lobbyist wanita (Annete Bening) yang berkerja untuk kampanyenya. Bagaimana romantisme Presiden lajang yang pacaran dengan sang lobbyist itu menjadi daya jual utama film itu.

Rakyat Amerika rupanya sangat terkesan dengan paduan kekuatan politik dan romantisme. Tapi dalam film itu masih di angkat sisi norma norma susila. Misalnya waktu si lobbyist itu nginep di Gedung Putih dan PERS menjadi heboh karenanya.

Mimpi memang mengasyikan dan perlu. Sekarang Amerika punya contoh tentang mimpi yang jadi kenyataan lewat Perancis. Punya Presiden lajang. Memang seru romantismenya waktu sang Presiden lajang itu punya pacar tapi repotnya juga heboh.

Sarkozy dan CarlaPresiden Perancis Nicolas Sarkozy baru dua bulan bercerai dengan istrinya Cecilia yang setia mendampinginya di masa kampanye, tapi Sarkozy sudah dikabarkan punya gandengan baru seorang cewek cantik bintang penyanyi pop (kalau di Indonesia artis sinetron kali yah?) dan mantan supermodel namanya Carla Bruni.

Carla Bruni ini bukan cewek sembarangan. Lahir 23 Desember 1968, putri konglomerat, punya website resmi di CarlaBruni.com. Mantan supermodel yang dulu pernah pacaran dengan Eric Clapton, Mick Jagger, Donald Trump dan aktor Kevin Costner. Penghasilan pertahunnya konon 7,5 juta dollar. Wah Amerika bakal iri kali lihat (calon) Ibu Negara Perancis yang supersexy itu.

PaparazziSemenjak saat itu kehidupan pribadi Sarkozy sering mendapat sorotan media infotainment Perancis yang terkenal dengan Paparazzi yang kejam (Lady Di tewas dalam kecelakaan karena berusaha menghindar dari kejaran Paparazzi). Apalagi sekarang Perancis sedang dilanda demo besar besaran menentang kebijakan Sarkozy soal imigran.

Sarkozy pacaran bawa anaknya Bruni umur 10 tahunPacaran memang enak tapi bukan tanpa ekses, apalagi Sarkozy adalah seorang Presiden. Menjadi  bulan bulanan PERS sudah pasti tapi yang lebih runyam lagi waktu Sarkozy akan melakukan kunjungan kenegaraan keluar negri. Dia bersikeras membawa pacarnya itu yang konon kabarnya sudah hamil. Negara yang akan dikunjungi jadi dibuat bingung bagaimana cara memperlakukan pacar Presiden.

Apakah akan disambut sebagai Ibu Negara Perancis? Salah satu negara yang akan dikunjungi adalah India. Pemerintah konservatif India yang menjunjung tinggi nilai moral jadi betul betul pusing bagaimana cara menyambutnya.

Carla Bruni pose untuk majalahItu baru India, padahal Sarkozy juga sudah diundang oleh negara negara Arab yang tahu sendiri adat mereka bagaimana. Apalagi kalau mereka tahu reputasi Carla sebagai fotomodel dengan berbagai pose yang dikategorikan tidak sopan seperti gambar disebelah kanan ini.

Well kalau sudah begini mungkin publik Amerika akan bilang “bukan Presiden lajang seperti itu yang kami impikan dalam film..”.. hehe.

Bagaimana kalau mereka berkunjung ke Indonesia, apa yang harus kita lakukan? MUI bakal rapat mendadak. Demo anti bakal rame. Atau malah disambut dengan tangan terbuka?

Katanya sih Sarkozy mempercepat perkawinannya dari rencana semula 8 Februari. Tujuannya jelas supaya urusan kenegaraan bisa lebih lancar dan memperbaiki kepercayaan politik kepadanya yang dikabarkan merosot gara gara pemberitaan yang terlalu hoboh tentang kisah asmaranya itu ke ruang publik. Dan saya rasa juga lebih baik untuk contoh panutan generasi muda Perancis.

Sekali lagi bagaimana dengan Indonesia. Saya ingin membayangkan mungkinkah Indonesia punya Presiden lajang lalu Presidennya itu pacaran dengan seorang model yang akan dilamar jadi Ibu Negara dengan pose seperti bawah ini.

Carla Bruni calon Ibu Negara Perancis

Wuih…. Ibu Negara yang selalu dinantikan kunjungannya ke daerah daerah. Bagaimana menurut anda?

6 Komentar

Filed under iseng

Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah

Oleh: Asvi Warman Adam*
Sumber: Kompas 16 Januari 2003

Asvi Warman AdamKEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam.

PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.

Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan “jenderal kalajengking” (scorpion general).

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono “didubeskan”, diganti Yoga Sugama.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah.

Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria “pernah jadi ajudan Presiden”. Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental.

Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Malari sebagai wacana

Dalam buku Otobiografi Soeharto (terbit tahun 1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung. Padahal, mengenai “petrus” (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang di situ.

Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak 1973. Yoga Sugama ada di New York saat kerusuhan 15 Januari 1974. Lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta, menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN.

Menurut Yoga, ceramah dan demonstrasi di kampus-kampus mematangkan situasi, bermuara pada penentangan kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya, diskusi di UI Jakarta (13-16/8/1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan “Petisi 24 Oktober”.

Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru.

Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992: 166).

Sebaliknya, “dokumen Ramadi” mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu Jenderal Soemitro.

Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo?

Kita melihat pelaku kerusuhan di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap.

* Dr Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI

13 Komentar

Filed under sejarah

Seputar FTI Award 2007

ChatterboxSMS tentang event ini saya terima dari manajemen Teater Mandiri ketika sedang makan siang bersama bung Ikranegara di Cafe Chatterbox Sogo Plaza Senayan. Keesokan harinya dari kantor saya harus pulang dulu ngurus rekening PLN sebelum libur panjang 4 hari.

Begitu sampai di gedung Teater Studio TIM terlihat kerumunan kru yang sibuk mempersiapkan pembukaan acara. Saya datang terlalu awal rupanya. Tapi itu memberikan kesempatan saya melihat lihat persiapan kru.

Brosur belum boleh diambil sebelum acara dibuka. Ada dua counter penerimaan lengkap dengan buku tamu, brosur masing masing dan mbak mbak yang jaga. Satu counter khusus untuk PERS dengan brosur khusus (dilengkapi buku “Putu Wijaya, Magma Teater Indonesia”) sedangkan counter satu lagi untuk umum brosur tanpa buku.

Saya menginginkan buku itu tapi saya bukan dari kalangan PERS, apa daya? Saya lihat setiap wartawan yang antri di bagian PERS selalu ditanya dari media mana. Si wartawan menjawab lalu dipersilahkan mengambil buku dan brosur setelah mengisi buku tamu.

Saya antri saja dibagian PERS lalu ketika ditanya saya bilang saja dari Blogger. Si mbaknya mengernyitkan dahinya sebentar lalu manggut manggut. Entah tanda mengerti atau bingung, mungkin dia pikir ini media baru jadi belum dia kenal. Untung dia gak tanya kartu nama wartawan. Kemudian saya dipersilahkan. Selameeetttt…

Dalam hati saya bilang, saya gak bohong kok, lha wong Blog juga termasuk media, jadi saya berhak dapat buku itu, sama seperti wartawan media lainnya. Saya gak nipu lho mbak :-)

Sekar-Alex-RiaSetelah acara makan makan selesai kemudian host acara itu yang bernama Sekar Harum membuka acara bersama Ria Irawan dan Alex Komang. Ternyata Sekar Harum ini sangat berbakat salah menyebut nama dan sebutan.

Kemungkinan dia bukan dari kalangan teater. Nyebut nama Radhar Panca Dahana jadi Radhar Panca Buana. Ebiet G Ade jadi Ebit Gedit. Mas Garin jadi Bapak Garin. Semua yang hadir kontan meralat sebutan yang salah itu.

Gedung Teater StudioAcara pemotongan tumpeng sukses, kemudian dilanjutkan dengan kedatangan sang penerima FTI Award Putu Wijaya dengan arak arakan teatrikal langsung masuk ke gedung teater. Acara pembukaan di Lobypun selesai kemudian para tamu semua ikut masuk ke gedung yang akustiknya sangat bagus itu.

Acara dimulai. Sambutan demi sambutan dilakukan. Pertama tama sambutan dari ketua FTI Radhar Panca Dahana, seperti biasa dosen pasca sarjana UI ini memberi sambutan yang lugas.

Slamet RahardjoKemudian duet Didi Petet dan Slamet Rahardjo. Didi PetetSambutannya dalam bentuk dialog. Slamet memberi gambaran tentang teater dengan gaya metafor yang dramatis. Didi Petet maunya juga begitu tapi ngaku kalah kharisma yang diikuti derai tawa penonton.

Kemudian tampil Danarto yang merupakan salah satu juri penilai peraih FTI Award. Dikemukakan alasan alasan dan pertimbangan yang digunakan sebagai dasar penentuan peraih FTI Award dijatuhkan pada Putu Wijaya. Putu dipandang sebagai sosok pekerja teater yang memberi pengaruh pada perjalanan teater Indonesia.

Dalam pandangan saya Putu merupakan sosok pemberontak yang tak pernah mau tunduk pada suatu pakem bila pakem tersebut membatasi proses perkembangan berteater.

Rata rata teater mengikuti pakem aliran aliran mainstream sehingga orang orang mengira bahwa teater hanya boleh ditampilkan seperti aliran yang mainstream saja.

Sayangnya di Indonesia aliran yang menentang arus sering dipandang aneh, bahkan dijauhi. Tidak hanya berlaku bagi teater Mandiri. Teater Seinendan yang dikonsep oleh Oriza Hirata dari Jepang ketika salah satu karyanya “Tokyo Notes” dipentaskan di Goethe Institute Jakarta juga mengalami hal yang serupa. Tak diminati karena dianggap aneh.

Padahal teater Mandiri dan Seinendan ketika dipentaskan di Eropa sangat menarik perhatian dan mendapat apresiasi yang tinggi. Bagi masyarakat Eropa dapat menikmati suatu bentuk teater yang lain sangatlah menggairahkan.

Tak heran FTI memasukan salah satu misinya adalah memperjuangkan secara kolektif tegaknya hak ekspresi dan hak kultural para pekerja teater. Penganugrahkan FTI Award kali ini kepada Putu Wijaya menjadi langkah yang strategis.

Dengan demikian teater Indonesia memiliki sebuah icon teater yang non-mainstream untuk bisa dijadikan inspirasi generasi muda sebagai mudigah genre baru teater Indonesia.

Teater Putu Wijaya tak pernah bisa di definisikan dengan akurat dan konsisten dari waktu ke waktu. Berubah terus. Sejak pementasan JMI (Jangan Menangis Indonesia) banyak perubahan yang cukup mendasar dengan memberi lebih banyak porsi untuk verbal.

Pada pementasan pementasan berikutnya unsur verbal ini semakin kental tanpa kehilangan ciri visualnya. Dalam sebuah pementasan saya memberi kesan kesan kepada Putu tentang pementasan itu. Begitu bersemangatnya saya memberi komentar hingga tampak seperti kritikan.

Semula saya mengira sebuah penjelasan yang fokus pada pementasan itu tapi ternyata jawabannya mencakup konsep keseluruhan. Lebih baik anda baca sendiri jawaban beliau.

Wibi,

Komentarmu betul semuanya. Tapi apa yang terjadi pada latihan, berubah pada gladiresik, berubah lagi pada saat pementasan dan kembali berubah pada hari kedua. Terus tumbuh, kadang menjadi lebih baik, kadang lebih buruk. Kami sangat memulyakan proses, sehingga tak merasa sungkan untuk merespons dan memanfaatkan apa yang sedang kejadian.

Pada malam gladiresik, kami tampil buruk sekali. Di malam pertama dengan kehadiran penonton hampir memenuhi gedung, pertunjukan bagus. Di tengah-tengah pementasan kami laporkan skor pertandingan World Cup yang sedang berlangsung.

Pada hari kedua, saya sudah beli bola, sebab mau main bola sebentar di panggung dan mempersilakan pemain yang mau ikut di bagian kontak dengan penonton. Tetapi rencana gagal, karena penonton tipis, trak bisa di drive ke sana, atau katakanlah saya tak mau mengambil resiko itu.

Kembali kepada dialog buat saya lebih banyak karena para pemain memang rindu sekali ngomong. Juga penonton di Indonesia tak suka teater itu bisu. Di sampung juga saya tidak pernah membenci kata. Ada misteri lain di dalam kata yang bisa kita telusuri. Hanya saja pemain-pemain saya kurang siap, karena kata-kata yang mau saya lontarkan agak berbeda.

Tapi begitulah. Karena pemain-pemain bukan aktor dan teater bagi saya bukan hanya pertunjukan tetapi pelajaran kehidupan, bukan hanya sukses yang diburu tetapi juga pembelajaran yang kami dapat setelah 40 kali pertemuan dan memikul sebuah proyek tsb.

Musik memang masih lemah, karena mereka orang musik beneran, belum ngeh betul saya memerlukan bunyi bukan musik. Namun saya anggap mereka cukup cepat belajar. Yang lain-lain yang pernah saya coba, egonya terlalu besar sehingga bunyi yang saya cari tak pernah tersua, yang ada adalah melodi.

Bapakmu kemaren nelpon dan memberi komentar yang bagus sekali yang tak pernah dikatakan orang lain. Dia bilang tontonan (itu istilah saya untuk penampilan kami) adalah tontonan verbal yang sangat visual. Bukan karena visualisasinya, tetapi di dalam verbalisme kata-kata itu terasa sesuatu yang sangat visual.

Teater memang menarik sekali Wibi. Seperti opium yang membuat kita ekstase.

Trims komentarmu, akan saya simpan, karena jujur dan spontan.

PW

***

Sutrisno BachirTiba saatnya puncak acara penyerahan FTI Award 2007. Putu dipanggil ke atas panggung dan setelah memberi sambutan singkat tanpa diduga muncul ketua DPP PAN Sutrisno Bachir untuk menyerahkan topi dan tropi kepada Putu Wijaya.

Kemudian W.S Rendra sebagai sesepuh teater dan penerima FTI Award 2006 diberi kehormataan naik keatas panggung untuk memberi piagam. Menarik sekali menyimak sambutan yang diberikan oleh Rendra.

Satu hal yang membuat Rendra menyampaikan rasa hormatnya pada Putu adalah karena Putu seorang pekerja keras yang tak pernah mengklaim apapun atas hasil karya maupun dampak dari hasil karyanya pada bangsa ini.

RendraKira kira dua tahun yang lalu saya sempat bertemu Rendra dirumahnya di Depok untuk sebuah wawancara skripsi seorang rekan. Pada kesempatan itu Rendra juga mengatakan hal yang sama. Rendra kurang suka pada pekerja teater yang baru berkarya sekali saja sudah berkoar koar tentang teater lebih heboh dari karyanya sendiri.

Lebih jauh lagi yang dikagumi Rendra pada Putu Wijaya adalah enersinya dalam menulis. Rendra memperagakan bagaimana Putu bisa mengulang tulisan baru dari awal karena kurang puas pada tulisannya sendiri yang sudah ditulisnya panjang lebar.

Tulis dari awal dengan penuh antusias bagi Putu tak memberatkan sama sekali sementara bagi penulis muda kebanyakan kalau sudah panjang menulis tapi tidak puas enggan untuk mengulang dan hanya perbaiki sana dan sini.

Kini kesan tentang Putu dari Rendra itu semakin kuat dan bahkan mendapat pengukuhan dari FTI. Sebuah penghargaan yang sangat membesarkan hati Putu dan keluarga besar Teater Mandiri dan bahkan para pekerja teater pada umumnya.

Radhar Panca DahanaTapi penghargaan tanpa hadiah kurang klop rasanya. Bakrie Award yang pernah diraih Putu memberi hadiah sejumlah uang. Saya bertanya tanya bagaimana dengan Award yang ini. Ketua FTI Radhar Panca Dahana tampil ke atas panggung dengan membawa stereofoam berbentuk cek raksasa.

Nah ini dia pikir saya. Tapi ketika diperlihatkan ternyata angkanya kosong. What is the maksud? Oh ternyata ini adalah sesi penggalangan dana untuk hadiah. Radhar kemudian melambai lambaikan cek tersebut dan memprovokasi hadirin untuk menyumbang.

Karena sudah sekian lama tak ada yang mau mengangkat tangan tanda mau menyumbang maka mulai terdengar teriakan teriakan penonton menyebut nama nama orang yang diminta untuk menyumbang (tak perlu saya sebut nama nama itu).

Wah wajah mereka yang disebut sebut itu menjadi pucat pasi. Bahkan ada yang menundukkan kepala entah karena apa. Tapi kemudian tiba tiba Slamet Rahardjo mengangkat tangannya.

Nah ini kali penyumbang pertama pikir saya. Kemudian Slamet berkata, “Saya menganut asas perwakilan, karena itu untuk masalah ini saya wakilkan pada bung Sutrisno Bachir”, sambil menunjuk Sutrisno Bachir diatas panggung.

Kemudian Sutrisno terhenyak dan bertanya, “Lho ini serius toh?”. Rupanya Sutrisno tidak menyadari kalau penggalangan dana tersebut adalah serius sebab Radhar membawakannya dengan cara sedikit guyon mengundang tawa.

Sekarang sudah jelas ini serius dan saya mengira paling paling orang akan menyumbang sekitar satu dua jutalah kemudian yang nyumbang juga gak banyak.

Tapi kemudian Sutrisno Bachir menjawab. “Ok kalau begitu dari saya 50 juta”. Wow… saya terkejut dan bertepuk tangan dengan semangat, luar biasa pikir saya.

Kemudian ruang Teater Studio menjadi riuh sekali karena penyumbang silih berganti mulai dari beberapa teman dekat Putu yang menyumbang 10 juta dan 5 juta kemudian dari Pemda DKI yang diwakili oleh Aurora sebesar 10 juta juga.

Sungguhpun demikian kalau saya melihat wajah pucat pasi orang orang yang di “todong” penonton untuk menyumbang maka saya merasakan ini agak kurang pantas. IkranegaraMenurut bung Ikra, di Barat tak begini cara melakukan penggalangan dana. Entahlah kalau disini tapi kalau mau bertumpu pada rasa, kok rasanya kurang pantas.

Tapi mungkin juga ini adalah strategi FTI untuk bisa menggalang dana sebab penyumbang dana semua bukan orang teater dan apa yang terjadi kemudian adalah bisa diduga. Putu Wijaya kemudian maju mendekati Radhar, mengambil mic dan berkata:

Terus terang saya merasa agak kurang enak dengan hal ini, kok rasanya seperti pemerasan. Karena itu hadiah ini akan saya serahkan pada FTI.

Pernyataan Putu tersebut kemudian mendapat tepuk tangan riuh penonton dan mengelu elukan Putu Wijaya.

Jadi itu adalah strategi? Sebab kalau “menjual” FTI mungkin akan sulit bagi FTI untuk mendapat dana tapi kalau “menjual” Putu Wijaya lihat sendiri hasilnya.

Kalau itu memang strategi maka sah sah saja karena sudah sama sama tahu (kecuali penyumbang dan penonton) tapi kalau itu bukan strategi dan memang begitu adanya maka mungkin perlu dicari cara lain sebab menurut hemat saya kesannya persis seperti yang dikatakan Putu.

***

Putu WijayaUsai acara penganugerahan dan penggalangan dana kemudian masuk ke sesi performance. Putu kemudian tampil pertama membawakan monolog dari naskah cerpen berjudul “Dokter” yang dibawakan dengan gaya khasnya dan memukau seluruh hadirin malam itu.

Monolog yang dibawakan mengisahkan tentang seorang dokter yang ditugaskan di daerah terpencil tapi kemudian bukan problem kesehatanlah yang paling utama untuk dipecahkan tapi justru persoalan sosial dan budaya.

Bayangkan dokter yang harus menghidupkan orang mati hanya karena si orang mati adalah kepala suku yang merupakan kehormatan suku tersebut. Berikut kutipan monolog:

Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu.

Bapak orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!

Ilmu kedokteran yang dipelajari dokter di masa kuliah tak mampu menyelesaikan masalah itu tapi yang mampu memberi penyelesaian adalah nasihat orang tua dokter yang terngiang ngiang di telinganya ketika nyawanya diancam oleh anak kepala suku yang nekat mendesak dokter menghidupkan kembali mayat sang kepala suku.

Sebuah nasihat yang mengatakan bahwa pahlawan tak akan pernah mati. Jasad boleh mati tapi tidak semangatnya. Nilai yang diwariskanya tak akan pernah mati. Dengan sebuah aksi yang dramatis anak kepala suku menerima konsep itu dan mengubah pandangannya dengan melihat ayahnya mati sebagai pahlawan.

Sejak saat itu dokter percaya ilmu di bangku kuliah bukan apa apa tanpa kasih sayang yang sempat ia rasakan dari orang tuanya. Sekarang negeri ini sedang membutuhkan kasih sayang dalam bentuk nilai nilai budaya.

Bangku kuliah hanya mengasah otak tapi seni dan budaya mengasah nurani yang sudah sangat tumpul di negeri ini. Teater adalah salah satu kawah candradimuka untuk mengasah kepekaan nurani.

Aksi monolog Putu yang dibawakannya tanpa teks ditangan itu memukau penonton dan berkali kali bertepuk tangan. Usai monolog penampil berikutnya adalah Aning Katamsi dan Tommy Awuy. Aning menyanyi dan Tommy bermain piano.

Usai Aning kemudian ketika Tommy hendak turun dari panggung Tommy melihat Slamet Rahardjo yang duduk dideretan terdepan. Tommy kemudian menawarkan Slamet untuk menyanyi diatas panggung. Sebuah penampilan yang spontan dan suara bariton Slamet Rahardjo ternyata lumayan memukau.

Tiba saatnya penampilan dari Butet Kertaredjasa. Setelah penampilan monolog Putu yang dramatis, nyanyian Aning dan Slamet yang serius maka monolog Butet ini penampilan yang menyegarkan.

Butet KertaredjasaButet mengaku hadir jauh jauh dari Jogja dengan biaya sendiri dan untung uang hadiahnya oleh Putu sudah di serahkan ke FTI sebab kalau tidak maka dia akan minta ganti candanya… semua penontonpun tertawa.

Butet sebelum mulai monolog sempat cerita tentang hal ihwal dirinya bisa tampil diatas pentas teater seperti sekarang ini. Adalah almarhum ayahnya penata tari terkemuka Bagong Kusudiardjo yang pada waktu itu Butet masih duduk dibangku SMP dan melihat ayahnya melukis potret Putu Wijaya sang dramawan.

Butet bertanya pada ayahnya, “Siapa itu pak?”, ayahnya menjelaskan obyek lukisannya itu adalah dramawan hebat Putu Wijaya. Butet manggut manggut sambil memikirkan seperti apa sih dunia drama dan teater itu. Itulah pertama kali ia mengenal sosok Putu Wijaya dan teater.

Kemudian tokoh kedua yang memperkenalkan dirinya pada teater adalah Rendra. Di tempat latihan teater Rendra oleh senior seniornya Butet disuruh jalan dengan gaya teatrikal sepanjang panggung selama setengah jam.

Butet bingung ini maksudnya apa dan dalam hati Butet misuh, “Asu…”, kemudian buru buru dia menambahkan, “bathin…” (red: misuh hanya dalam hati maksudnya). Kemudian butet pernah disuruh makan ditengah tengah kotoran binatang yang berbau busuk. Apa sih maksudnya semua itu, pikirnya dalam hati.

Sekarang dia baru bisa menghayati apa yang dimaksud. Saya tak bisa pura pura mengerti karena saya memang tak pernah mengalami hal itu. Hanya orang orang teater yang tahu maknanya. Anda mau jadi orang teater?

Seno Gumira AjidarmaKemudian Butet membawaan monolog karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Menunggu Kematian Paman Gober“. Karya itu sungguh luar biasa melampaui jamannya. Dulu ketika karya ini dibuat tahun 1994 orang hanya bisa memahami bahwa ini hanya metafora tentang penguasa saat itu yang mungkin ada berbagai macam versi metafora semacam itu yang pernah dibuat oleh penyair yang lain.

Tapi untuk karya yang satu ini saya kira sebuah mahakarya seorang Seno Gumira. Situasi yang dihadapi oleh Paman Gober dimainkan begitu rupa sehingga sangat relevan dengan situasi yang terjadi saat ini.

Berikut kutipannya:

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati? Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Yang banyak kita lihat karya metafora semacam ini tahun tahun itu adalah umunnya tentang wacana lengsernya penguasa saat itu yang memang telah berkuasa sangat lama. Tapi Seno tidak hanya mengangkat wacana lengsernya, tapi juga kematiannya.

Bagaimana mungkin Seno menulis sesuatu yang menggambarkan situasi yang sangat spesifik saat ini dari kejauhan 14 tahun yang lalu. Tapi itu belum selesai. Kalau kita hanya membaca mungkin kita bisa tersenyum, tapi lain hal bila menyaksikan karya itu dibawakan oleh seorang raja monolog Butet Kertaredjasa yang mempersonifikasikan suara Gober Bebek persis dengan suara tokoh yang sangat dia kuasai itu. Wah rugi deh kalo gak nonton sebab monolog itu tak mungkin ditayangkan di TV dalam situasi seperti ini.

Usai monolog yang sangat menyegarkan itu tampil kemudian Ebiet G Ade yang membawakan tiga lagu. Mulanya hanya dua lagu tapi diakhir lagu ke dua kemudian penonton kompak berteriak meminta lagu tambahan, Camelia. Lagu Camelia versi yang pertama dinyanyikan sambil diikuti semua penonton.

Usai acara ditutup oleh Sekar Harum dan Alex Komang. Diloby gedung ucapan selamat buat Putu Wijaya bertubi tubi dilakukan oleh para tamu yang hadir. Terlihat kesibukan para wartawan memburu berita dan wawancara.

Terlihat juga para penonton yang memburu para tokoh teater yang juga sineas papan atas untuk sekedar minta foto atau tanda tangan.

Sambutan oleh Garin sebelum masuk ke gedungSebuah hajatan besar pekerja teater telah dituntaskan malam itu. Kegembiraan yang meluap seakan dirasakan oleh tiap insan teater yang hadir. Kehidupan dunia teater penuh dinamika sedih dan gembira. Tak terkecuali malam itu yang penuh akan kegembiraan tapi juga diwarnai kesedihan.

Seorang sahabat saya anggota tetap Teater Mandiri yang menjadi salah satu kru acara malam itu mendapat berita tentang meninggalnya ayahandanya tercinta dikampung halaman. Sahabatku yang berduka itu bernama Kleng. Sebagai anggota teater Mandiri, Kleng mendapat ucapan selamat sekaligus ucapan duka cita.

Peran apa yang mesti dia mainkan malam itu? Haruskah Kleng tersenyum ketika ucapan selamat dan bermuram ketika ucapan duka cita diberikan secara silih berganti? Tak bisa saya gambarkan, saya tak tahu rasanya bagaimana. Tapi Kleng tampil tegar malam itu, seperti itulah dunia teater.

Gembira dan bangga ketika melihat kampiun teater seperti Putu Wijaya mendapat penghargaan tapi juga sedih melihat generasi muda belum ada yang muncul sebagai pengganti babakan baru teater Indonesia. Yang tua akan segera berlalu tapi yang muda belum juga siap muncul. Semoga FTI bisa membidani kelahiran dramawan muda Indonesia.

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Federasi Teater Indonesia

Radhar Panca DahanaPada malam penganugerahan FTI Award 2007 (Federasi Teater Indonesia) kepada Putu Wijaya yang berlangsung kemarin 9 Januari di Teater Studio Taman Ismail Marzuki, Ketua FTI Radhar Panca Dahana tampil diatas panggung memberi sambutan. Dalam sambutannya Radhar memaparkan pentingnya kolektivitas dalam melakukan pergerakan.

FTI lahir pada 27 Desember 2004 bersama 250 pekerja teater setelah berada dalam rahim sejak tahun 2000 dalam kegelisahan bersama akibat posisi teater Indonesia yang inferior ketika berhadapan dengan lembaga lain diluar teater.

FTI adalah lembaga yang didesign untuk dapat memberdayakan teater Indonesia dari sisi non-artistik yang pada gilirannya akan berdampak pada kualitas produksi teater itu sendiri.

Pemberdayaan teater melalui lembaga semacam FTI dirasa sangat penting dan strategis melihat indikasi rendahnya apresiasi publik pada teater, lemahnya posisi teater dalam relasi politik-ekonomi-sosial, kecilnya akses pada berbagai fasilitas sosial-ekonomi-politik, daya juang hidup teater yang masih individual dan kurangnya kolektivitas sebagai unsur penting dalam kemajuan teater.

Mungkin atas dasar ini para tokoh yang hadir di malam itu tidak hanya tokoh teater seperti WS Rendra, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Garin Nugroho, Deddy Mizwar, Jajang C Noer, Rachman Arge, Ikranagara, Ria Irawan, Remy Silado, Butet Kertaredjasa atau Alex Komang, tapi juga hadir tokoh dari “planet” lain seperti Sutrisno Bachir (ketua PAN), Faisal Basri (Ekonom), Ebiet G Ade (Musisi), Muji Sutrisno (Rohaniawan) dan Ibu Aurora (Pemda DKI).

Untuk mengukur bagaimana tingkat pengetahuan, apresiasi dan harapan publik saat ini atas teater, FTI telah melakukan survey dari 500 orang responden dengan komposisi wanita(33,3%), pria(66,7%) dari latar belakang mahasiswa(28%), pelajar(20%), wiraswata(16%), karyawan(15%), guru(9%), tidak berkerja(7%), PNS(4%) dan ibu rumah tangga(1%).

Hasil dari survey tersebut mengungkap bahwa 95,6% dari responden mengenal teater dan sisanya tidak mengenal, 74,4% pernah menonton teater dan sisanya belum pernah, 43% menonton pertunjukkan teater di TIM (Taman Ismail Marzuki), 4,4% menonton di GKJ (Gedung Kesenian Jakarta), sisanya 52,3% menonton di tempat lain.

Kemudian seberapa sering responden menonton teater; 1,6% persen menjawab 1 kali seminggu, 8,9% 1 kali sebulan, sisanya 89,5 diatas satu bulan. Dari pertanyaan siapa tokoh teater yang mereka kenali jawabannya adalah: WS Rendra (50%), Putu Wijaya (25,6%), N Riantiarno (8,9%) lainnya (15,5%).

Yang menarik adalah 57,8% responden menjawab teater sudah berkembang di Indonesia padahal dibentuknya FTI justru karena perkembangan teater di Indonesia dirasakan mengalami stagnasi. Jadi pengetahuan masyarakat umum tentang posisi teater masih kurang. Ini karena konsepsi yang salah tentang teater.

Terbukti dari harapan para responden pada teater, 50% hanya berharap teater sebagai sebuah hiburan yang mencerahkan padahal teater bisa berperan jauh lebih dari itu. Bahkan 16% menjawab yang diharapkan dari teater hanya pertunjukan yang menghibur. Hanya 24% yang menjawab teater diharapkan bisa mengangkat derajat dan wibawa bangsa.

Pada sambutan Slamet Rahardjo dan Didi Petet diatas panggung yang disampaikan dalam dialog mereka berdua, bahwa teater adalah personifikasi kehidupan dimana imaginasi dimainkan. Tanpa imaginasi tak ada itu teknologi, jalan tol, gedung bertingkat, komputer, handphone dan segala macam hasil kebudayaan manusia.

Angka angka diatas bisa dijadikan salah satu tolok ukur kemajuan kinerja FTI. Semoga survey tahun depan bisa memberikan angka angka yang lebih menggembirakan asalkan FTI bisa bekerja dengan baik pada tahun 2008 ini.

FTI menjadi strategis bila misi yang dilakukannya berhasil, diantaranya memperjuangkan hak ekspresi dan hak kultural para pekerja teater, menyokong penciptaan, penerbitan dan penyebarluasan karya seni pertunjukan teater. Kegiatan yang digelar dalam rangka mencapai misi itu diantaranya Bulan Teater, Sayembara Naskah Drama, FTI Award dan refleksi tahunan FTI.

Selain kegiatan strategis juga ada program rutin seperti sosialisasi, penggalangan dana, kursus pelatihan manajemen dan pelatihan guru teatral bersama Depdiknas.

Menjadi anggota FTI bagi kelompok teater atau pekerja teater akan mendapat manfaat berupa dukungan manajerial dengan mengupayakan semua kebutuhan non-artistik berupa prasarana dan infrastruktur pertunjukan.

FTI akan menggunakan jaringan internal (komunitas teater dalam negeri) dan eksternal (komunitas teater mancanegara) sepenuhnya untuk mencapai misi yang ingin diraihnya.

Dengan selesai diselenggarakannya FTI Award 2007 yang menempatkan Putu Wijaya sebagai peraih FTI Award tahun 2007 maka satu misi strategis telah berhasil dijalankan dan semoga tahun tahun kedepan teater Indonesia lebih berjaya.

Bagi kelompok teater yang ingin bergabung berikut persyaratannya:

  1. Kelompok atau grup yang telah berdiri minimal 3 (tiga) tahun
  2. Telah membuat produksi pertunjukkan sekurang kurangnya 3 (tiga) kali atau 1 (satu) kali dalam setahun
  3. Memiliki anggota tetap minimal 10 (sepuluh) orang
  4. Memiliki komitmen dan idealiasme, serta motivasi tinggi untuk belajar
  5. Mengembangkan seni pertunjukkan

Formulir pendaftaran bisa didapatkan dengan mengisi formulir pendaftaran dengan menghubungi nomor telephone 021 9827 5912, lalu mengirimkannya ke alamat sekretariat FTI JL Kebagusan Dalam 59, Jagakarsa, Jakarta Selatan atau kirim email ke ftindonesia [at] yahoo.com atau faks ke 021 7471 2992.

23 Komentar

Filed under teater