Bila Oportunis Diangkat Pahlawan

Bung TomoSeolah olah tak kunjung henti bangsa ini mendapat cobaan berat. Cita cita besar reformasi rupanya mendapat ujian yang tak kalah sengitnya dibanding perjuangan merebut kemerdekaan berikut dengan gerakan revolusinya itu.

Kenangan heroik masa lalu senantiasa menjadi penyemangat reformasi yang kini babak belur didera berbagai macam problematika mulai dari korupsi, pilkada, aliran sesat, konflik SARA, bencana alam yang silih berganti, hingga pencurian khazanah budaya.

Ditengah tengah semua gempuran itu bangsa ini harus tetap menjaga stamina. Seandainya generasi kita tak mampu menuntaskan semua cita cita reformasi maka strateginya adalah mempersiapkan anak anak kita sebagai penerusnya.

Apa yang harus kita beri pada anak anak kita adalah hal hal yang bisa memotivasi dan membangkitkan semangat perjuangan mereka. Karena itu pengetahuan akan sejarah merupakan faktor penting. Karena didalam sejarah kita bisa melihat kisah para pahlawan yang bisa dijadikan simbol.

Sosok pahlawan adalah simbol perekat yang sangat efektif. Sebut saja Panglima Besar Soedirman, Pangeran Dipenogoro, Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja, Patih Jelantik, dan masih banyak lagi. Bung Karno sering sekali menceritakan kisah kepahlawanan dalam pidatonya untuk membakar patriotisme.

Disisi lain ada pengkhianat yang kisah pengkhianatannya merupakan arah sebaliknya dari kisah kepahlawanan. Posisi yang berseberangan tersebut membuat para pengkhianat dan para pahlawan tampil kontras selama segala informasi tentang sebuah pengkhianatan tercatat dengan akurat dalam rekaman sejarah. Tapi ada juga yang namanya oportunis yang berjalan mondar mandir dikedua sisi itu.

Disinilah pentingnya telaah sejarah atas sebuah kepahlawanan atau kepengkhianatan. Dengan minimnya pengetahuan dan telaah sejarah bisa dimungkinkan seorang pengkhianat diangkat menjadi pahlawan. Kalau ini sampai terjadi sungguh sebuah ironi. Semua penghargaan kepada para pahlawan seakan tidak memiliki makna lagi.

Karena itu prosedur dan kriteria untuk menentukan apakah seorang tokoh layak menjadi pahlawan nasional sangatlah ketat. Menurut pengalaman Soegianto Sastrodiwiryo yang pernah terlibat dalam memperjuangkan pengangkatan Patih Jelantik sebagai pahlawan nasional melalui buku yang ditulisnya “Perang Jagaraga 1846-1849″, paling tidak dibutuhkan beberapa kriteria antara lain:

  1. Perjuangannya dan pengabdiannya diatas rata rata (luar biasa hebat) dalam melawan kekuatan penjajah (dalam hal ini kolonialis Belanda)
  2. Tidak pernah menyerah dalam perjuangannya, kalau terdesak lebih memilih untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. (dalam hal kasus Pangeran Diponegoro beliau ditipu lalu ditangkap oleh jenderal de Kock, bukan menyerah. Patih Jelantik gugur seperti halnya Ngurah Rai setelah terkepung disemua penjuru tempatnya bertahan).
  3. Tidak pernah melakukan penghianatan kepada negara.
  4. Perlawanan dilakukan secara aktif, entah bergerilya atau perang terbuka.

Jika kriteria yang ketat diatas ditambah lagi dengan berbagai macam prosedur pengajuan dari tingkat daerah sampai pusat maka seseorang yang telah lulus diberi gelar pahlawan nasional seharusnya sudah valid.

Menyambut hari Pahlawan 10 November 2007 Presiden SBY mengangkat 4 pahlawan baru yaitu: Mayjen TNI (pur) Prof Dr Moestopo, pejuang dari Jawa Timur; dan Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Rijadi, pejuang asal Jawa Tengah. Seorang pahlawan nasional baru lainnya adalah Dr Ide Anak Agung Gde Agung.

Keputusan Presiden yang sedang turun popularitasnya ini kontan menuai beberapa kritikan dari berbagai kalangan masyarakat. Diantaranya dari masyarakat Minang yang berharap tokoh minang seperti Moh Natsir bisa diangkat menjadi pahlawan nasional.

Dari masyarakat Jawa Barat berharap tokoh Mr Sjafrudin Prawiranegara yang dianggap layak sebagai pahlawan nasionalpun mengalami nasib yang sama dengan tokoh M Natsir.

Dari masyarakat Jawa Timur merasa heran dan tidak habis pikir Bung Tomo sebagai tokoh utama dalam perang 10 November di Surabaya hingga membuat tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan justru tidak diangkat sebagai pahlawan tahun ini.

AA Gde AgungKemudian yang terasa benar benar naif adalah diangkatnya AA Gde Agung sebagai pahlawan nasional. Kalau M Natsir dan Mr Sjafrudin Prawiranegara yang kemungkinan dianggap terlibat dalam pemberontakan PRRI dalam kurun 1957-1961 tidak bisa lolos maka mengapa AA Gde Agung yang jelas jelas memihak Belanda dalam perang kemerdekaan kurun waktu 1945-1949 bisa lolos?

Kalau Bung Tomo tidak bisa lolos karena belum sempat diseminarkan didaerah untuk mengetahui apakah ada pihak pihak yang berkeberatan dengan diangkatnya beliau menjadi pahlawan nasional maka mengapa AA Gde Agung yang sudah jelas banyak pihak akan berkeberatan terutama dari tokoh tokoh pejuang di Bali masih bisa lolos?

Kalau untuk Bung Tomo tidak pernah dilakukan seminar mungkin karena ketokohan beliau sudah tidak ada lagi yang meragukannya sehingga rakyat Jawa Timur tidak merasa perlu menggelar seminar segala untuk mencari tahu apakah ada pihak yang berkeberatan atau tidak. Sebagai icon perang 10 November rasanya tidak ada yang akan keberatan beliau diangkat sebagai pahlawan nasional.

Kembali ke AA Gde Agung. Saya tidak mengerti pertimbangan pemerintah ini. Jika belum ada diantara kita yang mengacungkan tangan tanda keberatan dengan diangkatnya AA Gde Agung sebagai pahlawan nasional maka dengan ini saya menyatakan keberatan saya.

Betapa tidak, AA Gde Agung adalah seorang Raja dari Puri Gianyar Bali yang pada masa perjuangan secara tegas dan frontal berpihak kepada Belanda. Puri Gianyar memiliki sebuah kesatuan tempur lokal yang bernama PPN (Pemuda Pembela Negara).

PPN ini bersekutu dengan NICA dan bergerak secara aktif langsung di bawah komando AA Gde Agung menjadi pelopor serdadu NICA dalam menggempur gerakan para pejuang.

Setelah mendapat bantuan senjata lengkap dari NICA, PPN menggempur gerakan organisasi pemuda PRI (Pemuda Republik Indonesia). Dengan persenjataan yang lebih lengkap dan modern PPN berhasil mematahkan perlawanan PRI dan menangkap pimpinan PRI; Wayan Dipta, kemudian membunuhnya dengan cara yang keji.

Menurut kesaksian seorang pejuang Nyoman S Pendit yang ditulisnya dalam buku Bali Berjuang hal 145: PPN menangkap Wayan Dipta lalu mengkuliti kepalanya dan anggota badannya diiris-iris sebelum kemudian ditembak mati. Suatu perlakuan keji yang sangat menyakitkan hati para pejuang.

Tindakan AA Gde Agung dengan PPN nya itu membuat situasi psikologis Puri Puri yang lain menjadi ragu akan kekuatan pemuda. Keadaan ini membuat pimpinan perjuangan Letkol Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya harus bekerja lebih keras untuk melobi Puri Puri. Simpati Puri ini sangat penting sebab Puri memiliki pengaruh besar terhadap rakyatnya. AA Gde Agung sangat lihai memainkan sentimen rivalitas lama diantara Puri untuk memecah belah persatuan.

Teknik pecah belah Belanda sudah dikuasai betul oleh AA Gde Agung. AA Gde Agung adalah ujung tombak Belanda untuk melancarkan politik pecah belah terhadap Negara Kesatuan RI. Konsep negara boneka yang diusung oleh Belanda yang bertujuan memecah belah persatuan didukung penuh AA Gde Agung.

Sebuah tusukan yang sangat tajam bagi perjuangan pemuda ketika sebuah negara boneka Negara Indonesia Timur (NIT) dibentuk oleh Belanda dengan Tjokorda Gde Raka Sukawati (ayahanda AA Gde Agung) sebagai Presidennya. Kemudian AA Gde Agung diangkat sebagai Perdana Menteri NIT. Adalah H.J. van Mook yang menjadi konseptor pembentukan NIT yang merupakan manifestasi dari politik pecah belah Belanda.

Wilayah NIT meliputi Indonesia bagian timur tanpa menyertakan Irian Barat. Belanda masih ingin memecah lagi Indonesia bagian timur dengan tidak menyertakan Irian Barat kedalam NIT. Design ini merupakan strategi pecah belah yang sangat dipahami oleh AA Gde Agung.

AA Gde Agung adalah seorang diplomat yang cerdas. Punya naluri politik yang tajam. Tahu kemana harus berpihak dan bagaimana bersikap ketika kekuatan sudah mulai bergeser. Ketika masa perjuangan fisik dimana kekuatan Belanda lebih dominan beliau memilih untuk memihak Belanda dengan segala keahliannya sebagai diplomat dan politisi.

Namun kemudian ketika Belanda mulai melemah dan kehilangan pamor di dunia international karena melanggar perjanjian Linggarjati dan Renville dengan melakukan agresi militer pertama dan agresi militer kedua maka AA Gde Agung mulai berpaling kepada Republik.

Hasil dari Konferensi Meja Bundar di Den Haag adalah dibentuknya Republik Indonesia Serikat dimana anggotanya adalah negara negara boneka bentukan Belanda termasuk NIT. Melihat pergesaran ini menjelang penyerahan kedaulatan dari NIT kepada RIS, AA Gde Agung berpidato mendukung masuknya Irian Barat ke dalam wilayah RIS. Ini adalah manuver brilian menarik simpati kaum Republikan.

Pada masa masa selanjutnya ketika kekuatan dan dukungan rakyat maupun dunia international terhadap Republik Indonesia semakin besar maka semakin mantap pula AA Gde Agung berpaling dan memihak RI. Kecerdasan dan keahlian beliau dalam diplomasi membuatnya dipercaya oleh Bung Karno untuk menjabat Menteri Luar Negeri terutama untuk diplomasi soal Irian Barat.

Dari semua kisah diatas saya tidak melihat kisah kepahlawanan nasional. Kisah yang terlihat hanyalah kisah sukses seorang oportunis yang brilian. Sangat disayangkan bila pemerintah tidak bisa melihat akan hal itu.

Kemarin saya nonton sebuah acara dialog di TVRI dengan nara sumber Parni Hardi dan Rais Abin seorang veteran pejuang 45 dengan mengambil tema hari pahlawan. Dalam dialog tersebut dibahas tentang betapa pentingnya sebuah bangsa mengetahui sejarah untuk mengenal para pahlawan.

Pengenalan terhadap sejarah terlebih lebih harus dikuasai oleh para pemimpinnya ujar Rais Abin. Seorang negarawan adalah seorang yang mengetahui sejarah dengan baik tukasnya lebih lanjut. Parni Hardi terlihat gusar dan segera menyergah untuk mengklarifikasi bahwa yang dimaksud Rais Abin adalah Presiden sebagai sosok pemimpin negarawan.

Keputusan Presiden SBY mengangkat AA Gde Agung sebagai pahlawan nasional mencerminkan kegamangan SBY dalam melihat sejarah. Apakah mungkin karena SBY sedang sibuk memikirkan citranya yang sedang merosot hingga tak sempat lagi mengurusi dengan cermat akan hal ini?

Diakhir acara dialog TVRI itu tampil Putu Wijaya membawakan sebuah monolog singkat tentang pahlawan sejati. Diakhir monolog Putu berkomentar bahwa jangan salahkan generasi muda yang bisa keliru dalam melihat sejarah karena mereka akan selau mencari informasi tentang sejarah dari berbagai pihak. Adalah kewajiban kita untuk menampilkan sejarah bangsa dengan cermat dan lengkap.

Semoga tulisan saya diatas bisa memberi informasi yang lebih lengkap tentang kiprah pahlawan, pengkhianat atau oportunis. Sehingga bisa menghindari ironi dimana seorang oportunis nasional diangkat menjadi pahlawan nasional.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa jasa para pahlawannya. Sungguh sebuah tragedi kalau musuh utama para pahlawan tersebut diangkat menjadi pahlawan juga. Siapapun tak akan rela melihat Ngurah Rai disejajarkan dengan AA Gde Agung yang merupakan musuh besarnya. Belum lagi arwah para pejuang yang lain seperti Wayan Dipta yang dibunuh PPN pimpinan AA Gde Agung akan menjerit melihat AA Gde Agung diangkat menjadi pahlawan nasional.

Siapapun anda jika mendengar jeritan para pahlawan sejati dari alam sana maka silahkan bergabung dalam petisi online yang saya buat untuk menentang diangkatnya AA Gde Agung menjadi pahlawan nasional. Jangan takut, semangat Ngurah Rai dan pasukannya bersama kita.
Kata Bung Tomo:
…rawe-rawe rantas malang-malang tuntas…

Petisi Online: http://www.petitiononline.com/gdeagung/petition.html

About these ads

47 Komentar

Filed under sejarah

47 responses to “Bila Oportunis Diangkat Pahlawan

  1. ben rizki

    Panjang amat ulasannya! gue save aja dulu deh..ntar bacanya! :D

  2. Pejuang Bali

    Saya mendukung perjuangan anda dalam menyanggah keputusan kontroversial pengangkatan antek-antek NICA menjadi pahlawan nasional.
    Sebaiknya anda mengirimkan surat kepada I Gusti Ngurah Alit Yudha (putra almarhun pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai) untuk membantu perjuangan anda. Juga hubungi Ida Bagus Kompyang Suwirya (Pimpinan Legiun Veteran RI Bali). Gubernur Bali I Dewa Made Berata juga dapat dihubungi karena leluhur ybs semestinya tahu sepak terjang A. A. Gde Agung. Masyarakat Bali sama sekali tidak tahu proses pengajuan nama A. A. Gde Agung, dan mayoritas mereka tertegun membaca/mendengar berita pemberian pahlawan nasional ke A. A. Gde Agung.
    A. A. Gde Agung II adalah mantan menteri Sosial, jadi beliau sangat paham bagaimana prosedur pengangkatan pahlawan nasional, jadi beliau pasti bermain sendiri.

    Sedikit koreksi di tulisan anda. Ayah A. A. Gde Agung bukanlah Tjokorda Raka Sukawati. Tjok Sukawati berasal dari Puri Ubud. Kalau nggak salah ayah dari A A Gde Agung adalah A. A. Ngurah Agung (Puri Agung Gianyar). Dari generasi kakeknya, mereka pengkhianat (opportunist) semua. Kel Puri Gianyar adalah keturunan Dewa Manggis (pendiri Puri Agung Gianyar).
    Keluarga Puri Gianyar lah yang mengundang Belanda untuk bermain di Bali. Makanya Puri2x di Gianyar (termasuk juga Karangasem yg pro-Belanda) masih bagus2x semua, karena mereka tidak pernah berperang. Kakek A. A. Gde Agung mengundang Belanda untuk melindungi Gianyar dari Badung dan Klungkung.
    Badung dan Klungkung berperang puputan dengan Belanda, berjuang sampai titik darah terakhir.
    Adakah pengakuan sebagai pahlawan nasional kepada mereka2x yg gugur di Puputan tsb. Bahkan para raja pemimpin Puputan seperti Cokorda Pemecutan mantuk ring rana, Cokorda Denpasar mantuk ring rana, Ida Dewa Agung Klungkung mantuk ring rana belum diangkat sebagai pahlawan nasional.

    Oh ya, dapat juga anda hubungi A. A. Ngr. Oka Ratmadi (cucu keponakan dari Cokorda Denpasar mantuk ring rana), ketua DPD PDI-P Bali. Saudaranya (Tjok Agung Tresna) juga gugur di masa 1945-1948. Saya yakin beliau juga terkejut dengan berita A. A. Gde Agung ini.

    Teruskan perjuangan anda. Jangan takut, walau mereka2x (kel. A. A. Gde Agung) itu mayoritas orang2x yang sangat cerdas

    PB

  3. @ben rizki: halah… :-)

    @Pejuang Bali: terimakasih atas masukannya.

  4. Cek Kompas Hari ini (12 Nov), halaman 6
    Opini oleh Asvi Warman Adam
    berjudul “Kontroversi Pahlawan Nasional”…..

    Bagaimana menurut anda?

  5. Pejuang Bali

    Berita di Radar Bali (Jawa Pos): Kepahlawanan Dr Ide AA Gde Agung ”Digugat”

    http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=179963&c=94

    PB

  6. sbaskoro

    Terima kasih atas pencerahannya. Pada saat itu yang sudah jelas siapa musuh kita, kita pun masih bisa khilaf dalam menentukan siapa para pahlawan kita. Semoga kita bisa lebih menghargai jasa para pahlawan kita, dan dapat melanjutkan perjuangan mereka mulai dari lingkungan terkecil.
    Salam ..

  7. athaya

    Pahlawan itu = Pahala-wan.
    Pahlawan itu = Hero
    Pahlawan itu = Inspirator
    Pahlawan itu = Tulus
    Pahlawan itu = Ikhlas
    Pahlawan itu = Pencerahan
    Pahlawan itu = membuat lebih baik
    Pahlawan itu = punya hati nurani bersih
    Pahlawan itu = bukan penghianat
    Pahlawan itu = bukan oportunis
    Pahlawan itu = punya integritas

    jadi AAGA ini masuk kategori pahlawan apa bukan ?

  8. Pernah nonton Naga Bonar jadi 2 kan :)

    Ada statement nya Dedy Mizwar (Si Naga Bonar) saat berkunjung di Makam Pahlawan

    “Apa mereka semua yang ada disini pantas di sebut Pahlawan ?”

  9. Pejuang Bali

    “Kompas Hari ini (12 Nov), halaman 6
    Opini oleh Asvi Warman Adam
    berjudul “Kontroversi Pahlawan Nasional””

    Ada baiknya saudara Asvi Warman Adam memperjelas kiprah AAGA pada era NIT. Walaupun ada konflik dengan puri2x lainnya, apakah wajar seorang pahlawan nasional pernah berkolaborasi dengan penjajah Belanda untuk kepentingan pribadinya??

    Setelah arah angin berubah, dan bergabung kembali dgn Republik, beliau memang berjasa dalam hal diplomasi (tidak perlu diragukan kecerdasan beliau). Tapi apakah sudah pantas dinobatkan sebagai pahlawan nasional? Bukankah masih banyak piagam penghargaan pemerintah lainnya yg dapat diberikan kepada beliau.

    Beliau juga diakui sebagai sejarawan, dan banyak menulis. Apakah tidak berbahaya sebuah sejarah ditulis oleh seorang yang pernah pro-penjajah??
    Seingat saya, pernah membaca buku AAGA ttg Sejarah Bali, dan bagaimana beliau menulis dengan eloknya pembenaran atas perbuatan kakek /bapak-nya untuk mengundang Belanda masuk ke Bali untuk melindungi Gianyar dari puri2x lainnya. Yg pahlawan kemudian siapa? Ironi sekali kalau membayangkan beliau kemudian menjadi pahlawan nasional sedangkan mereka yg gugur pada puputan melawan Belanda tidak bergelar pahlawan nasional.

    “Ttg Gelar tak pernah dicabut”. Salahkah membuat ‘sejarah’ baru, dengan pencabutan gelar ini? Saat ini masih banyak saksi hidup kiprah AAGA di Bali. Kalau kita ambangkan hal ini, maka seterusnya beliau akan Pahlawan Nasional, dan Masyarakat Sejarawan Indonesia akan tercatat di sejarah telah melakukan pembelokan sejarah.

    PB

  10. @Kunderemp An-Narkolepsi:

    Cek Kompas Hari ini (12 Nov), halaman 6
    Opini oleh Asvi Warman Adam
    berjudul “Kontroversi Pahlawan Nasional”…..

    Bagaimana menurut anda?

    Terimakasih atas informasinya di Kompas.

    Menurut saya opini Asvi Warman Adam itu senada dengan opini saya terutama dalam hal AA Gde Agung.

    Tapi sungguhpun demikian saya menangkap kesan bahwa pengetahuan para sejarawan tentang AA Gde Agung memang terbatas.

    Terlihat jelas dari fakta fakta yang diungkap oleh sejarawan sekelas Asvi Warman Adam hanya seputar konflik Puri.

    Bahkan penyair Taufik Ismail juga terbatas ingatannya yang hanya berkisar tahun 60an, sedangkan fakta dari tahun tahun sebelumnya terutama 45-49 tidak terekspos.

    Mengenai buku biografi yang ditulis oleh Aco Manafe seorang wartawan (kompas?) saya rasa tidak benar benar berniat mengungkap seluruh kiprah AA Gde Agung dimasa lalu.

    Padahal Aco Manafe sebagai jurnalis yang dulu pernah kuliah di UNUD seharusnya tidak kekurangan akses kepada sumber sumber sejarah yang primer.

    Malahan saya mengendus ada sesuatu yang ingin disembunyikan. Pertama buku itu tidak beredar di toko buku, jadi ada kemungkinan buku tersebut diterbitkan (terbit agustus 2007) hanya untuk kepentingan pengusulan pahlawan nasional.

    Kedua yang diundang sebagai pembicara adalah orang orang yang mungkin dianggap tidak mengetahui banyak tentang latar belakang AA Gde Agung. Sedangkan orang yang lebih berkompeten menjadi pembicara seperti Prof Taufik Abdullah tidak dipilih sebagai pembicara.

    Tapi ini baru dugaan, saya tidak mau lebih jauh lagi memberi analisis. Kita patut dengar jawaban dari Aco Manafe sendiri dan akan lebih baik lagi kalau kita bisa membaca buku biografi tersebut supaya bisa kita telaah bersama.

    Tapi kalau di toko buku saja tidak ada bagaimana?

    Untung ada media Blog. Saya berharap informasi di Blog saya ini bisa memberi masukkan untuk orang orang seperti Bung Asvi Warman Adam yang kelihatannya sangat gusar dengan kenyataan ini karena beliaulah yang jadi pembicara pada peluncuran buku biografi tersebut.

  11. @Pejuang Bali:

    Berita di Radar Bali (Jawa Pos)…

    kok jawapos duluan? balipost adem ayem?

    @dobelden:

    wah-wah bakal rame nih…

    sudah mas, sudah rame dan runyam

    @sbaskoro:

    Terima kasih atas pencerahannya

    sama sama dan salam juga.

    @athaya:

    jadi AAGA ini masuk kategori pahlawan apa bukan ?

    Saya yakin anda sudah tahu jawabannya

    @rizko:

    Apa mereka semua yang ada disini pantas di sebut Pahlawan ?

    Sindiran yang kena banget…

  12. Kalau saya dari dulu malah bingung yang namanya pahlawan nasional, karena beberapa saya pikir lebih pantas menjadi pahlawan daerah. Tidak sedikit lho dari mereka yang diangkat menjadi pahlawan nasional jika ditelusuri sebenarnya tidak memiliki visi nasional.

  13. Bali Post emang koran busuk!!!!!
    Selalu memihak!! tidak netral!!!
    Kalau angkat berita bupati Jembrana baru gede-gede..
    Dasar Feodal!

  14. @Riyogarta: eh mas Riyo :-), sorry saya lama gak update Blog yang wib’s web world karena keenakan nulis di sini. Bener mas, kelihatannya memang begitu.

    @kunchunx: semoga orang balipost membaca protes anda dan mau introspeksi diri.

    Berikut saya temukan dua buah suratpembaca di balipost.

    http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/11/13/s1.htm

    http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/11/13/s2.htm

    Walaupun hanya surat pembaca tapi lumayanlah daripada tidak ada.
    Seharusnya sih Balipost bisa berbuat lebih dari hanya sekedar surat pembaca.

  15. Wuih….. kasihan generasi mendatang.

  16. Wuih….. kasihan generasi mendatang. Bung Tomo sudah menjadi Pahlawan di hati rakyat!!!!

  17. Hahaha mirip di republik mimpi yaa…
    salam kenal calon budayawan muda

  18. simple man

    Budayawan yth.
    Mohon beri pencerahan kepada saya, seyogianya seperti apa orang yang layak diberi predikat pahlawan nasional itu? Saya kok sepertinya sependapat dengan sdr.Riyogarta bahwa kebanyakan yang sekarang disebut pahlawan nasioanal itu lebih tepat disebut pahlawan daerah saja karena memang visinya tidak nasional (Indonesia).Boleh jadi saat itu mereka memang berjuang untuk “negerinya” tapi negeri itu sekarang adalah bagian dari Indonesia.Kalau tidak salah waktu sekolah di SD dulu kami juga diajarkan bahwa para pejuang dahulu, memilih cara kooperatif dan ada cara non kooperatif dengan penjajah. Dalam kontek AAGA sebagai seorang raja sebuah negeri mini(pra-kemerdekaan)- Gianyar-tentu sah sah saja mengambil kebijakan apapun untuk menyelamatkan negerinya-termasuk kooperatif dengan pihak kolonial maupun melakukan penumpasan thd (yang dianggap) musuh-musuhnya.Saya agak bingung dalam pembahasan diawal tampaknya kurang memilah masa pra-Indonesia(sblm 17-8-45)dan masa Republik Indonesia.Hemat saya yang awam, AAGA telah mengambil peran yang sangat penting dalam diplomasi untuk menegakkan NKRI(sebagian orang menganggap hanya opportunis)-saya rasa pertimbangan itulah yang mendasari Pemerintah RI menganugrahkan gelar pahlawan Nasional padanya, mengingat visi perjuangannya yang nasional (baca:untuk kepentingan Indonesia).
    Saya berpendapat penganugrahan gelar semacam ini adalah’subyektivitas” belaka dari pihak yang memberi(tentunya dengan kriteria-kriteria tertentu),seperti halnya anugrah Pria berbusana terbaik,Model dengan betis terindah atau Es teller juara Indonesia serta ribuan dagelan anugrah lainnya baik yang bersifat lokal,nasional ataupun international.Dengan bekal referensi saya yang sangat miskin soal sejarah,gelar pahlawan nasional adalah salah satu pelengkap dari sebuah negara yang pernah dijajah untuk memelihara romantisme heroiknya sebuah perjuangan(barangkali Indonesia memiliki paling banyak pahlawan nasional-dan jumlahnya terus bertambah) sah-sah saja kalau Pemeritah RI juga memandang perlu untuk menganugrahkan gelar tersebut kepada orang -orang yang berjasa untuk negara-bahkan untuk alasan politis tertentu pemerintah RI juga memberikan predikat pahlawan nasional untuk para pejuang dengan visi lokal.(Bpk.Pejuang Bali punya kesempatan!)

  19. @simple man:

    Mohon beri pencerahan kepada saya, seyogianya seperti apa orang yang layak diberi predikat pahlawan nasional itu?

    Satu hal yang sudah pasti salah satu diantara kriteria itu adalah tidak boleh pernah berkhianat kepada bangsanya. Dalam hal AAGA sudah jelas faktanya.

    Saya agak bingung dalam pembahasan diawal tampaknya kurang memilah masa pra-Indonesia(sblm 17-8-45)dan masa Republik Indonesia.

    Semua kisah diatas kurun waktunya adalah setelah kemerdekaan. Adakah saya menyebut tahun pra kemerdekaan? Pada bagian mana bingungnya?

    Hemat saya yang awam, AAGA telah mengambil peran yang sangat penting dalam diplomasi untuk menegakkan NKRI

    Sayapun tak pernah mengingkari jasanya, terutama dalam hal diplomasi, tapi untuk diangkat sebagai pahlawan nasional maka itu harus memenuhi kriteria pahlawan nasional salah satunya adalah tidak pernah berkhianat sebagaimana yang dilakukan oleh AAGA diawal awal tahun kemerdekaan.

    Dengan bekal referensi saya yang sangat miskin soal sejarah,gelar pahlawan nasional adalah salah satu pelengkap dari sebuah negara yang pernah dijajah untuk memelihara romantisme heroiknya sebuah perjuangan…

    Kelihatannya anda ingin memberi kesan bahwa pahlawan itu tidak usah terlalu dimurnikan. Biar saja ada cacat sedikit dalam sejarah seorang tokoh dimasa lalu, toh AAGA tetap memiliki jasa.

    Jadi tidak usah diributkan cacat sedikit gak papa. Dengan merujuk ke: toh sudah banyak pahlawan yang tidak sesuai (pahlawan yg diangkat jaman orba).

    Hmmm… sebuah ungkapan apologetic yang sekiranya mencerminkan siapa anda. Apalagi ditambah dengan sikap anda yang menggunakan nama samaran. Anda bisa menyembunyikan identitas tapi tidak akan bisa menyembunyikan maksud.

    Begini mas, pahlawan itu ruhnya bangsa. Tanpa pahlawan maka tak ada bangsa ini. Adalah tugas kita generasi muda untuk memurnikan darah pahlawan sebagaimana mereka dulu melakukan perjuangan.

    Anda minta pencerahan maka semoga keterangan saya yang singkat dan lugas ini bisa mencerahkan: AAGA dalam masa awal perjuangan tahun 45-46 bersekutu dengan NICA menggempur dan membunuh para pejuang. Itu satu poin yang tak boleh dilanggar untuk diangkat sebagai pahlawan nasional.

    Jika anda ingin berdiskusi lebih lanjut maka saya minta anda untuk menggunakan identitas asli.

  20. @kunderemp an-narkaulipsiy:

    Ya ini baru pegang majalahnya.
    Majalah TEMPO halaman 40 diulas tentang korban penghianatan AAGA, Wayan Dipta yang kesaksiannya diberi oleh I Made Japa, adik dari Wayan Dipta.

    Juga diulas komentar Wayan Windia yang memberi komentar bahwa keberpihakan AAGA kepada RI karena melihat posisi RI yang lebih kuat. Ini adalah ciri oportunis sebagaimana yang saya uraikan diatas.

    Semua ulasan tersebut bernada sama dengan pandangan saya tentang AAGA. Ada juga komentar dari Asvi Warman Adam yang menengarai ketidak beresan proses penetapan pahlawan nasional ini.

    Menjadi menarik karena TEMPO tidak berhasil menghubungi panitia yang bertugas melakukan telaah pada calon nama pahlawan yang menurut Mensos Bactiar Chamsyah tidak boleh ada cacat. Kemana mereka, kok seperti menghindar enggan ditemui?

    Yang berhasil ditemui cuma Anhar Gonggong yang pernah menjadi anggota BPPP (Badan Pembinaan Pahlawan Pusat) yang tidak tahu menahu duduk persoalannya, sehingga hanya berkomentar normatif saja dengan mengatakan BPPP pasti sudah melakukan cek dan ricek kepada sumber sumber yang terkait sehingga tidak akan terjadi kesalahan.

    Soal AAGA Anhar berkomentar: “belum tentu seorang federalis itu penghianat”.

    Sebuah komentar yang lemah karena kalimat “belum tentu seorang federalis itu penghianat” juga memiliki makna “bisa jadi seorang federalis berkhianat “.

    Lebih jauh lagi analisa saya; Anhar hanya merujuk pada masa federasi (RIS) yang kurun waktunya sejak desember 49. Padahal masa pengkhianatan AAGA adalah dalam kurun waktu 45-46.

    Ternyata sejarawan sekelas Anhar Gonggong tidak memiliki sumber yang lengkap dan akurat tentang sejarah AAGA dimasa lalu.

    Semoga tulisan TEMPO bisa lebih banyak membukakan mata kita tentang apa yang sedang terjadi. Blog ini hanya seberkas cahaya lemah ditengah gelapnya malam.

  21. Ping-balik: Pejuang Atau Pengkhianat? « Soegianto Sastrodiwiryo

  22. baca komentar terakhir itu bener2 ga tega. aduh, masa orang kayak gitu bisa jadi pahlawan ya. aduh.. *ga berhenti2 ngelus dada dan narik nafas panjang*

  23. Ping-balik: Patriotisme Di Pinggir Jurang « Soegianto Sastrodiwiryo

  24. simple man

    ufh!! Pak Budayawan !anda “quick temper”juga!… simple man itu bukan sekedar apologetic tetapi lebih tepat “apatis” sama hal hal seremonial gak penting macam anugrah-anugrah itu.Simple man tertarik kasih comment karena “kengototan” anda dalam masalah ini-maju tak gentar membela yang benar-(hati-hati bisa terpeleset:membela yang bayar).
    By the way….saya kagum juga pada anda… anda sangat perduli dengan ‘pemurnian” darah pahlawan,suatu sikap yang langka di negeri ini,atau dengan hipotesis dangkal boleh jadi anda adalah bagian(keturunan)dari darah murni-yang tentunya tidak mau tercemar- dalam hal ini anda belum sesabar pak Sugianto(saudara anda?).
    Pak Budayawan muda! bagaimana pendapat anda, atas iklan besar (yang bernilai puluhan juta)ucapan selamat buat AAGA di Kompas yang dikirim Dep.Sejarah UI-sebuah lembaga yang bergengsi dibidang ini-tentunya mereka tidak gegabah khan!dan disana bercokol Budayawan -budayawan tua( senior) negeri ini?
    Pak Budayawan…saya harus berterima kasih pada anda yang mau berbagi banyak hal pengetahuan tentang Bali-daerah budaya yang sama sama kita kagumi; tentang toleransi,dan terutama tentang perkembangan agama islam disana yang sangat unik dan mengagumkan.
    Saya juga mohon maaf kalau anda menjadi emosional dengan comment saya….itulah simple man yang kurang berbudaya…suka celetuk seenaknya, saya juga mohon maaf sekiranya simple thinking saya belum dapat diterima untuk berdiskusi di forum ini—simple man cukup senang menjadi penonton di tribun( tidak) bebas ini.

  25. @simple man:

    ufh!! Pak Budayawan !anda “quick temper”juga!… simple man itu bukan sekedar apologetic tetapi lebih tepat “apatis” sama hal hal seremonial gak penting macam anugrah-anugrah itu

    Apa yang dianugrahkan adalah core value, beda dengan anugrah pria berbusana terbaik. Bagi kita yang terpisahkan waktu jauh kedepan mungkin sulit menghayati nilai yang diperjuangkan 60 tahun yang lalu itu.

    Tapi coba kita bayangkan dalam konteks sekarang. Setujukah anda bila suatu saat nanti dikemudian hari para koruptor yang membuat negeri ini hampir bangkrut kemudian mendapat predikat pahlawan ekonomi?

    Setujukah anda bila dikemudian hari para pelanggar HAM orde baru kemudian mendapat predikat pejuang HAM negeri ini?

    Simple man tertarik kasih comment karena “kengototan” anda dalam masalah ini-maju tak gentar membela yang benar-(hati-hati bisa terpeleset:membela yang bayar).

    Sukurlah saya tidak mencari nafkah dibidang budaya jadi tak perlu risau akan hal itu.

    By the way….saya kagum juga pada anda… anda sangat perduli dengan ‘pemurnian” darah pahlawan,suatu sikap yang langka di negeri ini,atau dengan hipotesis dangkal boleh jadi anda adalah bagian(keturunan)dari darah murni-yang tentunya tidak mau tercemar- dalam hal ini anda belum sesabar pak Sugianto(saudara anda?).

    Dia ayah saya. Soal pemurnian darah itu dalam pengertian kemurnian nilai yang diperjuangkan. Tak penting saya keturunan darah pejuang atau bukan. Bagi saya siapapun seharusnya aware tentang bahayanya kekacauan nilai nilai ini.

    Kekacauan nilai akan menjadi bom waktu dikemudian hari. Tiap masa perlu pejuang yang patriotik untuk memperjuangkan cita cita yang luhur (masa revolusi s/d reformasi). Sumber inspirasi nilai patriotisme didapat dari kisah kepahlawanan.

    Jadi sangatlah penting nilai itu. Kalau tidak maka seorang koruptor bisa jadi sumber inspirasi birokrat di masa depan. Atau seorang penjahat bisa menjadi sumber inspirasi penegak hukum di masa depan.

    Kalau kita lihat kekacuan hukum dinegri ini maka sering pada talkshow atau dialog di TV para ahli hukum suka merujuk pada keberanian hakim agung dimasa lalu seperti Ismail Saleh.

    Kalau kita lihat kekacauan kenegarawanan pemimpim kita maka orang sering merujuk pada kenegarawanan tokoh di masa lalu seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

    Yang dirujuk itu adalah nilai yang seharusnya dimiliki oleh generasi sekarang. Sekarang, untuk masa depan kemurnian nilai itu harus kita jaga bersama.

    Pak Budayawan muda! bagaimana pendapat anda, atas iklan besar (yang bernilai puluhan juta)ucapan selamat buat AAGA di Kompas yang dikirim Dep.Sejarah UI-sebuah lembaga yang bergengsi dibidang ini-tentunya mereka tidak gegabah khan!dan disana bercokol Budayawan -budayawan tua( senior) negeri ini?

    Itu hak mereka dan tidak akan mengubah fakta apapun. Memang disayangkan tapi sesungguhnya sikap DepSejarah UI tersebut tidak mewakili suatu tesis ilmiah, itu hanya suatu sikap yang lebih kepada aspek politis, untuk meyakinkan (bisa jadi meyakinkan diri mereka sendiri) bahwa penelitian mereka tidak gegabah, absah dan meyakinkan karena misalnya sudah terlanjur dibuat publikasi.

    Padahal saya belum pernah melihat jurnal mereka yang membahas kiprah AAGA pada kurun waktu sebelum NIT. Yang ditonjolkan hanya kiprah beliau di BFO.

    Tentu AAGA akan berusaha untuk tidak mengungkapkanya, terbukti dari berbagai buku tentang beliau tidak satupun yang membahas tentang lembaran suram masa lalunya. Tapi orang lain tentu punya catatan tersendiri.

    Para sejarawan UI tersebut sudah merasa melakukan berbagai macam effort yang baku untuk melakukan penelitian melalui literatur yang ada, yang sayangnya ternyata masih sangat tidak lengkap.

    Salut untuk usaha komunitas AAGA yang telah berhasil mengecoh para sejarawan UI. Sangat bisa dimaklumi karena AAGA sebagai seorang Doktor dibidang sejarah yang tahu betul bagaimana sejarah ditulis tentu tahu bagaimana cara terbaik menyembunyikan fakta sejarah.

    Semoga suatu saat nanti para sejarawan UI itu (tentu masih ada yang aware) bisa tersengat naluri patriotisme dan kesejarahanya untuk meneliti lebih lanjut tentang fakta AAGA dimasa lalu.

    Jika saja para sejarawan UI tersebut mau sedikit berendah hati untuk memungut data tercecer yang tidak mereka miliki maka sebagai akademisi mereka akan dengan amat sangat mudah mendapat fakta baru yang selama ini disembunyikan.

    Apakah mereka perlu dikirimi literatur tentang kiprah AAGA di masa lalu (45-46 di Bali)?

    Yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk didapatkan jika mereka memiliki profesionalitas sebagai sejarawan intelektual yang berkaliber.

    Saya juga mohon maaf kalau anda menjadi emosional dengan comment saya….itulah simple man yang kurang berbudaya…suka celetuk seenaknya, saya juga mohon maaf sekiranya simple thinking saya belum dapat diterima untuk berdiskusi di forum ini—simple man cukup senang menjadi penonton di tribun( tidak) bebas ini.

    Saya pikir anda allrigth saja, masih banyak celetukan lain yang lebih parah dari anda.

    Kalau anda mencari tempat yang benar benar bebas maka anda tak akan pernah menemukannya.

    Semakin bebas sebuah tempat semakin tak berbudaya tempat itu. Segala macam makian bisa dimuntahkan dengan cara yang seenaknya.

    Ditempat saya relatif bebas asal santun dan akan sangat dihargai jika mau jujur dan tulus menggunakan identitas yang asli.

  26. Ping-balik: Aku Mendapatkan Sebuah Medali Kepahlawanan : Ray Blog

  27. Ray

    Salam Mas Wib
    Sebenernya sudah saya jelaskan darimana saya mendapat Medali tersebut.

    “Dan pada malam harinya, entah sebuah kebetulan atau tidak, aku temukan sebuah Medali, sepertinya memang ini medali yg diberikan kepada para pejuang atas jasa mereka, tapi kenapa Medali ini ada di tembok pagarku?”

    Ya Medali itu aku temukan di atas tembok pagarku, secara kebetulan pada malam hari setelah sorenya aku berkunjung ke blog ini dan blog Bapak mas Wib. Sebuah kebetulan yg aneh :)

  28. Kriteria pahlawan atau bukan pahlawan, hanya manusia yang bikin. Seringkali banyak salahnya. Orang jahat (koruptor) masuk taman makam pahlawan, pahlawan sejati malah banyak yang tidak diakui.

    Namun, mekanisme yang lebih baik dalam menentukan kriteria pahlawan wajib kita dukung. Setidaknya agar tidak timbul fitnah bagi orang baik, dan tidak ada penghargaan dunia untuk orang jahat. Ignorance is a cardinal sin.

  29. Ping-balik: Persaingan Puri, Tahta dan Perlawanan « Budayawan Muda

  30. Ping-balik: Pahlawan atau Penghianat? at Indonesian Web Design and Web/Flash Programming Tutorial by Bali Web Designer

  31. datavince

    Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, sebagai Pahlawan Nasional…????!

    Bagaimana ini…koq bisa salah, apa kerjanya team penasehat Presiden, konon jumlah sebanyak 23 orang ! Ini diluar Sekneg lho. Di sisi yang lain masih ada penasehat-penasehat Presiden…… .

    Lebih baik menjadi buta mata dari pada buta hati dan pikiran. Lebih baik tidak bisa mendengar dari pada banyak pertimbangan.

    Jika BENAR katakanlah benar bahkan sebaliknya jika salah katakanlah SALAH.

  32. khuzaenudin

    maju teruuuus mas pantang mundur saya 100%mendukung dan mendaakan mas. terus berjuang.terus terang saya gak begitu tau banyak tentang sejarah.temen temen juga gak pada tau sejarah.kasih solusinya mas,biar kami generasi muda semangat berjuang dan nasionalisme terus berkobar.tteruus berjuang …majuuu.

  33. Marvin Rima Papua

    Semestinya harus ada tinjauan yang sangat mendalam. Kalau begini terus bisa-bisa seorang PENGHIANAT dan KORUPTOR dapat menjadi PAHLAWAN NASIONAL 25 thn lagi. Saya paham dengan wacana yang anda sampaikan. Jangan lagi ada KKN merajuti kesejatian perjuangan Bangsa ini, jangan lagi ada Oportunis yang mengeruhkan keindahan heroik putra/i Bangsa. Saran saya, harus ada lembaga/badan independen yang bertugas menggagas kandidat pahlawan nasional dan kemudian harus dipaparkan dalam sidang paripurna DPR RI. Maju terus PEMUDA/I

  34. Ping-balik: Gubernur Bali Tak Pernah Mengusulkan AA Gde Agung Sebagai Pahlawan Nasional « Budayawan Muda

  35. Ping-balik: kuLkas juGa manuSia » Blog Archive » Pahlawan…

  36. aaronelyazar

    Hmm,,, Dari tulisan di atas sih, memang kelihatannya dia hanya seorang oportunis. Perhaps he only fights for himself? If it’s true then our president has made the wrong choice. But who knows, sejarah adalah sesuatu yang terjadi di masa lampau, jadi kita tak benar” tahu pasti jika sejarah terus diputarbalikkan.

    Oiya,,, salam kenal! I’m Aaron!

  37. mas budayawan dan pak pejuang bali,
    anda terlalu menyudutkan ide iratu di puri agung gianyar dengan mengatakan bahwa keluarga mereka adalah penghianat, oportunist, sampai leluhur ide pun anda cantumkan.
    terlalu.hehe!!!!!!!!!
    ingat sesuatu terjadi karena ada sebab, tabur tuai,karma phala.,sebab akibat, semua berhubungan.
    ide raje dewata di puri ginyar adalah pejuang yang berjuang di jalan beliau,
    faktanya? sampai saat ini beliau di puri gianyar masih tetap berhubungan baik dengan keluarga para pahlawan pendiri negeri ini.(bung karno, hatta.dll)
    tujuan perjuangan adalah kemenangan, mengingat perjuangan dengan senjata dirasa selalu gagal, maka beliau menggunakan taktik diplomasi dilandasi niat baik srta kepercayaan( ahimsa) dan ternyata hasilnya? berhasilkan?
    untuk rakyat bali yang berkoar2 tentang penjajah sekarang bagaimana menikmati hasilnya juga kan?
    itu tidak terlepas dari jasa beliau.kalo saat prjuangan dulu kita berperang hanya bersenjata rampasan berpeluru pas pasan, ya MATI SEMUArakyat bali. mengingat hal itu selalu gagal, terbukti dari perang puputan 1 dan puputan 2, beliau sebagai seorang yang terpelajar membuat terobosan2 baru dalam perjuangan.
    soekarno pernah diculik oleh pejuang muda hanya karena tidak mau terburu2 merumuskan proklamasi dan dianggap lamban oleh para pejuang muda bersenjata apakah penghianat juga..
    anda bodoh…
    ini hanya masalah perbedaan pemahaman tentang perjuangan, dan ingat saat ini yang paling banyak makan dari uang orang2 belanda dan temannya, adalah orang2 yang selalu berkoar2 tentang keburukan ida sesuhunan kami di puri gianyar.
    seakan mereka tidak pernah bersalah.
    saya jadi ingat kata teman saya psikolog asal amerika
    “rasa cemas dibentuk oleh tembok yang kita bangun”
    jangan2 orang yang selalu berkoar tentang beliau yang berbuat sebaliknya.makanya mereka protes terus, karena mereka tahu panjak ide(rakyat) tidak bisa dibohongi.pengalaman saya, barisan kontra dengan ide di puri gianyar dalah orang2 orde baru yang kebenaran perjuangannya saja sekarang dipertanyakan? ya kan?
    di saat merasa kalah, mereka akan berkoar di depan publik dengan alasan kemanusiaan bahwa mereka mengalah..
    di saat orang2 lelah bekerja, mereka datang duduk, mengambil sedikit, dimediakan, inilah hasil karya keluraga kami.haha

    hal ini adalah hal yang sangat sensitif untuk diulas, jadi perlu lebih sabar dan tenang dalam membahasnya tidak dengan menghujat begitu.
    jangan lupa media dan keadaan dilapangan kadang berbeda, panjak ide di puri masih ada yang masih mau bertaruh segalanya demi beliau di puri. kalau rival mereka, haha rasanya tidak,tapi karena kebutuhan perut, ya mereka harus nurut,’nak pis teka uling ditu’..uangnya datang dari sana ikut2 saja.) bukan darihati nurani demi membela rajanya.

    thanks ya, saya dapat berkomentar sedikit, seandainya ada tanggapan, saya akan membacanya.mudah2an lebih santun, dan bermartabat.
    ipunakawan,
    panjak ida raja dewata

  38. @punakawan:

    Anda bisa menyembunyikan identitas tapi tak bisa menyembunyikan intensi. Nada yang sama dari komentator sebelumnya dipostingan yang lain, ketika sudah merasa tersudut maka simply ubah nama dan komentar lagi.

    Tentu saja karena memang tidak punya argumentasi maka isinya sama saja tak berubah: memandang isu ini dari wawasan lokal saja.

    Berusaha membanding bandingkan Bung Karno dengan AAGA:

    soekarno pernah diculik oleh pejuang muda hanya karena tidak mau terburu2 merumuskan proklamasi dan dianggap lamban oleh para pejuang muda bersenjata apakah penghianat juga..

    Jadi anda tak baca poin utama keberatan para veteran atas AAGA adalah kiprahnya dengan PPN bersekutu dengan NICA menggempur para pejuang.

    Bung Karno jelas tak pernah membantai para pejuang, perbandingan anda sangat menyedihkan.

    seandainya ada tanggapan, saya akan membacanya.mudah2an lebih santun, dan bermartabat.

    Ingin bermartabat dengan kata kata :

    anda bodoh…

    hehehe… para pembaca taulah kredibilitas para anonymous bila sudah masuk ke wacana politik seperti ini.

  39. hery frost

    maaf saya tidak terlalu mengerti sejarah bali (saya hanya pernah membaca sedikit saja dari sejarah perjuangan lombok yang erat kaitannya dengan perjuangan di bali). tapi menurut saya apa yang anda perjuangkan memang harus diperjuangkan, anda tidak boleh mundur. terserah apapun opini yang masuk. MAJU TAK GENTAR MEMBELA YANG BENAR!!!

  40. tolong dicek lg tentang cok pemecutan apakah dia termasuk raja yg meninggal di puputan badung. karena puri pemecutan juga puri pro belanda.

  41. ABGjg

    @Dian: Yang memimpin Puputan Badung adalah Cokorde Denpasar (Puri Denpasar) dan Cokorde Pemecutan (Puri Pemecutan) mantuk ring rana. Raja Pemecutan yg gugur di Puputan Badung adalah paman dari kakek Cok Pemecutan yg sekarang. Puri2x yg pro-Belanda adalah puri2x yg tidak puputan. Anda negasikan sj tulisannya budayawan muda, dan ketemu jawabannya :)

    Setelah takluk oleh Belanda, ya semua pimpinan puri adalah boneka2x Belanda, termasuk Puri Pemecutan, Puri Satria, apalagi puri2x di Timur yg namanya aja pake Maskerdam, London, Lontel, dsb, nya itu :))

    Wow-wow Maskerdam

  42. arief

    w pngen banget kya bung tomo…..memimpin bagsa kita bangsa indonesia dengan tulus dan iklas…. karna dia kita bisa merdeka….
    maju terus kaum muda pantang menyerah….
    karna engkau adalah penerus bangsa…..
    penerus bangsa yang maju
    ini..

  43. Ping-balik: Makna Status Pahlawan « Budayawan Muda

  44. Ping-balik: Makna Status Pahlawan « My Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s