Senjata Baru Yusril: Blog

Yusril Ihza MahendraYusril Ihza Mahendra mantan menteri diberbagai kabinet pemerintahan Indonesia ini sekarang memiliki Blog. Pakar ilmu Hukum Tata Negara yang masih gagah ini memutuskan untuk ngeblog setelah menjadi pengangguran alias dipecat jadi menteri pada kabinet SBY.

Harun Al Rasyid, foto dari MetroTvNews.comTidak banyak tokoh akademis yang memiliki kecakapan dalam bidang politik. Contohnya adalah Prof Harun Al Rasyid yang tone suaranya selalu mirip orang bertengkar itu. Pak Harun sebagai pakarpun dalam debat debat di TV masih belum bisa benar benar mengatasi Prof Yusril dalam hal akademis apalagi dalam hal manuver politik.

Pak Yusril ini punya naluri politik yang jitu, terbukti dari karir politiknya yang meroket dari hanya staff ahli sekertariat negara di kabinet terakhir Orde Baru kemudian jadi Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Kabinet Persatuan Nasional Tahun 1999-2001 (jaman Presiden Gusdur), kemudian menjadi Menteri Kehakiman dan HAM Kabinet Gotong Royong Tahun 2001-2004 (jaman Presiden Megawati), dan terakhir menjabat sebagai menteri Sekretaris Negara Kabinet Indonesia Bersatu 2004-8 Mei 2007 (jaman Presiden SBY).

Semua itu dia raih tidak dalam posisi politik mayoritas mutlak. Ciri manuvernya adalah masuk sebagai teman tapi keluar sebagai bukan teman. Saya rasa semua politisi harus selalu mulai masuk sebagai teman, kalau tidak maka tentu tidak akan diangkat jadi menteri. Kalau sudah masuk maka konsekuensinya adalah jadi teman sampai akhir.

Pada sebuah pergantian kekuasaan biasanya yang menang adalah selalu musuh yang kalah. Maka teman teman si kalah tentu tidak akan direkrut jadi menteri. Mantan penguasa periode yang lalu umumnya berada dikelompok si kalah ini.

Jadi kalau sudah pernah jadi menteri di kabinet si kalah maka tidak akan jadi menteri lagi di kabinet si pemenang. Kecuali jika dia seorang teknokrat-murni yang tak tergantikan. Jaman reformasi sekarang ini sudah tidak ada lagi orang model begini, yang ada adalah teknokrat-politisi.

Maka untuk menjadi menteri diberbagai kabinet secara berturut turut adalah sangat sulit. Apa yang ditunjukan oleh Pak Yusril adalah suatu manuver politik yang sangat brilian.

Beliau punya skill administrasi yang unggul yaitu pakar Hukum Tata Negara. Kemudian beliau punya partai politik (PBB) yang bisa menjadi advokatnya di parlemen. Tapi itu saja tidak cukup. Perlu manuver politik yang canggih yang bisa menzigzag kaidah klasik tentang posisi menteri di kabinet.

Kalau kita lihat manuver beliau secara outline apa yang dilakukan oleh Pak Yusril adalah masuk sebagai teman pemenang tapi tidak perlu jadi teman sampai akhir. Menjelang akhir perlu perubahan arah. Kemana arahnya?

Biasanya suatu pemerintahan menuai banyak harapan, sokongan dan dukungan dari publik bahkan dari lawan politik di masa masa awal pemerintahan. Tapi akan menuai banyak kritikan dan kecaman ditengah jalan dan apalagi diakhir masa pemerintahan, terutama dari lawan lawan politik.

Padahal para lawan lawan politik tersebut adalah para kandidat pemenang diperiode berikutnya. Maka perlu suatu investasi politik untuk menjadi teman lawan politik pemerintah (baca: calon pemenang periode berikutnya).

Tentu ada tekniknya supaya tidak terkesan pengkhianat atau oportunis. Salah satu tekniknya adalah memainkan peran sosok teraniaya. Manuver sosok teraniaya ini sangat ampuh. Sudah terbukti waktu SBY melompat pagar kabinet Megawati yang membuat Taufik Kemas menjadi geram dan memicu politisi lain untuk mencaci SBY maka serta merta simpati publik mengalir deras dan dimanfaatkan dengan baik hingga menghantar SBY ke kursi Presiden.

Pada Pak Yusril tidak sedramatis itu. Manuver peran sosok teraniaya terlihat waktu semua orang mengecam Gusdur untuk lengser. Untuk protes dengan cara mundur sebagai menteri saja kurang bisa memberi dramatisasi. Maka cara Pak Yusril adalah tetap ikut menuntut Gusdur mundur seperti layaknya lawan politiknya tapi tidak mau mundur sebagai menteri.

Gusdur jadi rikuh, mau dipecat nanti akan menimbulkan efek sosok teraniaya yang sangat bermanfaat bagi Pak Yusril. Tapi kalau dibiarkan akan merecoki rapat kabinet yang dihadiri Pak Yusril. Dimohon supaya mengundurkan diri Pak Yusril tetep tidak mau. Akhirnyakan Pak Yusril diberhentikan tapi Pak Yusril tidak mau dibilang diberhentikan, maunya dibilang dipecat. Ini untuk memperkuat kesan teraniaya. Inilah investasi politik.

Selain dari itu banyak lagi investasi politik Pak Yusril diantaranya pernah maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden di parlemen, waktu itu yang jadi presiden akhirnya Gusdur. Investasi penting lain adalah berperan penting pada pengunduran diri Pak Harto sebagai konseptor surat pengunduran diri Pak Harto.

Investasi konseptor surat pengunduran diri Pak Harto ini penting untuk bisa masuk ke kabinet Gusdur. Kemudian investasi dipecat dari kabinet Gusdur penting untuk bisa masuk ke kabinet Megawati. Apakah investasi politik itu saja sudah cukup? Belum juga, karena masih dibutuhkan naluri yang tajam untuk mengendus SBY yang bakal keluar sebagai pemenang dipilpres yang lalu.

Keadaan terakhir memang agak beda. Mungkinkah Pak Yusril terpeleset dengan KPK masa kepemimpinan Taufiequrachman Ruki? SBY tidak mau serampangan, tidak mau menjadikan Pak Yusril sebagai pendekar liar yang berbahaya di kemudian hari. Walaupun sekarang dia sudah bebas dan mulai mengelus elus sebuah Blog.

Rika Kato istri Pak YusrilSekarang kalau dilihat pola permainan politik “masuk sebagai teman dan keluar sebagai bukan teman” maka Pak Yusril sekarang sedang dalam manuver yang kita tunggu saja bagaimana beliau melakukan finishing touch 2009.

Sesunguhnya Pak Yusril ini adalah idola saya. Cemerlang didunia akademis. Beliau mengidolakan Pak Natsir yang juga idola saya. Beliau bermain “cantik” dipanggung politik hingga bisa menjabat menteri hingga tiga kali dalam atmosfer politik yang sangat dinamis. Beliau beristrikan seorang Rika Kato yang cantik (halah… gak penting juga). Dari semua itu yang paling penting adalah beliau selalu punya jawaban logis atas suatu permasalahan. Sekarang beliau seorang blogger. Ah seandainya dulu waktu masalah AFIS dan Bank Paribas London Pak Yusril sudah punya Blog maka lain ceritanya.

Bagaimana Blog berperan dalam menunjang karir politik Pak Yusril? Mari kita duduk manis dan menonton sang maestro bermain. Kalau tidak mau melihat dari sisi politik maka mari kita anggap Blog Pak Yusril sebagai Blog seorang akademisi, saya rasa Pak Yusril lebih setuju dengan yang terakhir.

Tapi kalau dianggap Blog seorang Yusril saja juga tidak apa apa kan? Melihat bagaimana Pak Yusril sudah menggunakan komentar di Blognya Vavai dan Priyadi untuk melakukan klarifikasi beberapa isu maka sesungguhnya Blog sudah berperan sebagai media penerangan (duh kaya pemerintah ajah). Sekarang Pak Yusril gak perlu risau kalau ada wartawan yang salah kutip.

Sebelumnya mohon maaf dengan analisa saya yang cablak, itu cuma gaya bahasa, peace ah…

About these ads

30 Komentar

Filed under politik, tokoh

30 responses to “Senjata Baru Yusril: Blog

  1. Sebagai blogger, kita semua tentu senang dengan ketertarikan pak Yusril pada blog ya, Den Demang.

    Bukan dari sosok pak Yusril sebagai mantan menteri atau selebriti tapi dari sisi share kemampuan intelektual dan hak jawab atas isu-isu yang berkembang yang terkait dengan beliau.

    Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Den Demang dalam point, andaikan pak Yusril sudah punya blog saat polemik AFIS-Pak Ruki, tentu akan sangat baik karena kita bisa membaca langsung jawaban dan konfirmasi pak Yusril, tidak dalam bentuk ungkapan media yang mungkin sudah bertendensi ataupun membawa muatan politis.

    Paling tidak, kita bisa membaca langsung jawabannya secara personal.

    BTW, judulnya lumayan provokatif, hehehe…

  2. saya selalu senang bilamana ada org2 pemerintahan yang membuat blog,,maju terus dalam dunia perbloggingan buat pak yusril :)

  3. @vavai, Yup semoga semakin banyak tokoh kita yang ngeblog. Ini membuat media mainstrem bergidik. Pak Yusril biasa online malem malem yak? dari komentar komentarnya jam malem terus.

    BTW, judulnya lumayan provokatif, hehehe…

    hehehe… itulah gunanya judul :-)

    @koolsonic, sama euy, sebentar lagi akan ada tokoh yang lain yang ngeblog.

    @Jauhari, kalo soal Pak Yusril kayanya sih engga yah, beliau malah kayaknya gak tau tuh ada acara pestablogger, beliau tertarik ngeblog karena sering komentar di blognya pak Daus.

  4. yang saya tunggu sih blognya pak presiden :D
    tapi ok ok ajah kalau menurut saya kalau pak yusril ingin menggunakan media blog sebagai ‘wadah’ politik..

  5. alex

    Eh, itu beneran blognya Yusril ya?
    Sudah diverifikasi sama KPU blon? :lol:

  6. hoek

    wah…analisa yang cermad sangadh kawand…
    hmmm, berarti dia jadi blogger sebagai kawand blogger, ntar kalo uda selse, dia ndak jadi temen lage……eh ya, bcanda ko :mrgreen:

  7. @Jauhari :
    hihihi.. bentar lagi ikut kopdar tuh si Pak Yusril..

  8. Pak Yusril, hehehe :mrgreen: Sebagai ilmuwan, tampaknya dia nggak bisa ngerem ambisinya untuk berpolitik. Menurut saya, ini termasuk fenomena “pengkhianatan” intelektual seperti yang pernah disinyalir oleh Yulian benda :mrgreen:

  9. @Sawali Tuhusetya:
    Menarik sekali anda merujuk ke Julian Benda.
    Saya kutipkan dari blog teman:

    Sebagaimana dikatakan oleh Julian Benda, bahwa para cendekiawan pada hakekatnya tidak memiliki tujuan-tujuan praktis.

    Motif mereka adalah kegairahan untuk berbakti kepada kebenaran. Para cendekiawan tidak semestinya terjebak ke dalam kegiatan-kegiatan yang meninggikan pertimbangan atas keuntungan-keuntungan sosial politik kebendaan.

    “Kerajaanku bukanlah di dunia ini,” adalah motto yang menurut Benda semestinya mendominasi kata hati seorang intelektual. (Julian Benda, The Treason of Intellectuals. 1928)

    Idealnya sih akademisi tak usah berpolitik, tapi bagaimana kalau di dunia politik terjadi krisis moral sehingga akademisi terpanggil untuk turun gunung memberi contoh.

    Tapi yah itu tadi mesti berkelakuan terpuji, kalau tidak terpuji kan nanti tidak bisa dijadikan panutan. Apakah Pak Yusril berkelakuan terpuji atau tidak, tentunya saya tidak dalam kapasitas menilai ;-)

  10. Asik juga ya ada seorang Mantan Mentri yang udah keluar masuk pemerintahan bisa nge-blog. Btw, undang-undang perblogan ada gak ya? Kalo udah kebablasan ngobrol jangan2 malah dipenjara. Hehe…

    Btw nih Istrinya cantik ya….

  11. Yusril Ihza Mahendra

    Saya tidak dapat berkomentar banyak karena apa yang Anda kemukakan adalah analisis, bukan mengemukakan sebuah fakta. Setiap orang bisa saja menganalisis sebuah fakta. Hasilnya akan sangat tergantung kepada cara pandang dan kerangka teoritis yang digunakan. Namun, saya berpendapat menghimpun data primer sebanyak-banyaknya sebelum melakukan analisis sangatlah penting. Nampaknya, analisis yang anda buat mengenai saya, lebih banyak didasarkan atas data sekunder yang mungkin diperoleh melalui pemberitaan media massa.

    Tanpa menyalahkan hasil analisis Anda, saya berpandangan tidaklah selalu benar kalau manuver politik saya “masuk sebagai kawan dan keluar sebagai bukan kawan”, apalagi mengesankan diri sebagai orang teraniaya. Anda mungkin tidak tahu bahwa saya “menasehati” Gus Dur untuk mundur saya kemukakan di dalam sidang kabinet. Waktu itu, Gus Dur sudah diberi memorandum I oleh DPR. Dalam perkiraan saya, jalan menuju memorandum II dan SU MPR telah terbuka lebar. Gus Dur waktu itu ngotot ingin mengeluarkan dekrit membubarkan DPR/MPR. Saya menentangnya dalam sidang kabinet, berdasarkan argumen-argumen hukum tatanegara dan argumen historis dengan merujuk pada Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Saya “menasehati” Gus Dur untuk mundur, karena saya berpendapat hal itu akan baik bagi bangsa dan negara, maupun bagi Gus Dur pribadi.

    Waktu saya memberikan “nasehat” itu ada seorang Menteri yang dengan nada tinggi berkata, tidak sepantasnya saya memberikan pendapat seperti itu kepada Presiden. Saya menjawab, di ruangan ini hanya ada tiga orang mantan calon Presiden, yakni Gus Dur, Ibu Mega dan saya. Saya katakan, dalam posisi sebagai mantan calon Presiden itulah saya memberikan nasehat itu. Apakah anda dapat membayangkan, Gus Dur akan duduk sebagai Presiden, seandainya saya tidak mengundurkan diri dari pencalonan?

    Ketika saya diberhentikan Gus Dur, kalimat yang saya kemukakan, dan terekam di TV, ialah saya “diberhentikan”. Bahwa ada koran yang menulisnya “dipecat” itu biasa gaya koran.

    Saya menulis naskah pengunduran diri Presiden Suharto juga tidak seluruhnya benar. Bahwa cara beliau mengundurkan diri itu berasal dari pemikiran saya, mungkin benar. Namun naskah pengunduran dirinya digarap bersama-sama. Ada Bambang Kesowo, ada Yasril Yakob dan ada pula Soenarto Soedarno, ketika kami menyiapkannya di rumah Presiden Soeharto.

    Kalau menulis naskah itu dianalisis sebagai “investasi” masuk ke Kabinet Gus Dur, saya berpendapat analisis itu kurang tepat. Lebih tepat kalau Anda mengatakan “investasi” untuk masuk Kabinet Habibie. Tetapi toh, waktu itu saya tidak berminat untuk jadi menteri. Sayang Pak Achmad Tirtosudiro sudah wafat. Kalau beliau masih ada, mungkin beliau dapat bercerita, saya menolak untuk datang ke tempat Pak Habibie, ketika beliau sedang menyusun kabinet.

    Hal lain tak ingin lagi saya komentari. Saya mencalonkan SBY-JK, tetapi kemudian saya diberhentikan bukan atas permintaan atau kemauan saya sendiri. Jadi kalau saya masuk sebagai kawan, pun bukan asal kawan belaka. Kalau saya “keluar sebagai bukan kawan”, maka siapa yang membuat saya keluar sebagai “bukan kawan”?

  12. Yusril Ihza Mahendra

    Saya membaca buku Julian Benda kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Seingat saya, buku itu pernah pula dibahas dan diperdebatkan oleh tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Buku Benda bukannya tanpa kritik. Kalau kaum intelektual hanya bekerja di dunia idea, seperti dia pahamkan, maka barangtentu dia akan mengecam kaum intelektual yang terjun ke dunia politik. Bagi Benda, kaum intelektual adalah ibarat orang yang berumah di atas angin. Kepala tidak menyentuh langit, kaki tidak menginjak bumi.

    Persoalannya sekarang ialah, apakah kita mau bertaklid kepada Benda, atau berskap kritis kepadanya, sambil menelaah berbagai literatur mutakhir yang membahas kaum intelektual. Di negeri kita, hampir tidak kita temukan tokoh intelektual yang tidak terjun ke dunia politik, walau hanya sebentar. Tokoh sekaliber Sutan Takdir Alisjahbana pun pernah menjadi anggota PSI dan mewakili partai itu di Konstitusnte. Nurcholish Madjid juga menjadi anggota MPR. Beliau bahkan pernah menjadi jurkan PPP dalam Pemilu. Aktivisme dan intelektualisme adalah dua aspek yang saling berdekatan dan saling memperkaya. Sukar juga bagi saya untuk mengatakan tokoh-tokoh sekaliber Kong Fu Tse atau Ibnu Khaldun sebagai “pengkhianat” karena keterlibatan mereka dalam politik. Semuanya terpulang apakah kita mau taklid atau tidak kepada Julien Benda. Namun, pada hemat saya, sikap taklid itu sendiri justru mengkhianati sikap intelektualisme itu sendiri.

  13. @Yusril Ihza Mahendra:

    Terimakasih bapak telah merespon tulisan saya dengan jelas sekali. Tulisan saya diatas memang hanya sebuah analisis berdasarkan data sekunder karena mencari data primer kalau bukan wartawan akan sulit.

    Tapi kini dunia Blog telah memungkinkan saya mendapat informasi dari sumbernya langsung.

    Kisah bapak dulu menyarankan GusDur untuk mundur juga saya masih ingat, waktu itu banyak menteri yang gerah lihat Pak Yusril masih dalam kabinet tapi ikut bilang GusDur sebaiknya mundur.

    Waktu itu kalo tidak salah ibu Erna Witoelar yang berang dan bilang Pak Yusril tidak etis tapi Pak Yusril menjawab dengan “Saya bukan menteri Orde Baru yang selalu bilang “ya Pak” pada Presiden padahal situasinya berbeda.

    Jawaban yang sangat mengena sebab salah satu alasan Pak Harto bertahan begitu lama karena anak buahnya selalu bilang “ya Pak”.

    Semoga kali ini analisis saya benar :-)

    Tapi kemudian dalam kabinet SBY bapak tersandung masalah Bank Paribas London. Saya tidak tahu banyak detil persoalannya tapi kalau boleh saya bertanya; kenapa sih bapak bersedia membantu Tommy Soeharto dalam mencairkan dananya di luarnegeri? Kan kita semua tahu Tommy dimasa lalu banyak terlibat bisnis yang tidak jelas, sehingga legalitas dananya diragukan.

    Apakah tidak ada pilihan buat Pak Yusril untuk menolak membantu pencarian dananya?

  14. @Yusril Ihza Mahendra:

    Semuanya terpulang apakah kita mau taklid atau tidak kepada Julien Benda. Namun, pada hemat saya, sikap taklid itu sendiri justru mengkhianati sikap intelektualisme itu sendiri

    Terimakasih Pak Yusril berbaik hati menjelaskan tentang Julian Benda. Kalimat terakhir sungguh mencerminkan pandangan seorang intelektual. Saya mendapat pelajaran berharga dari diskusi ini.

    Kalau saya “keluar sebagai bukan kawan”, maka siapa yang membuat saya keluar sebagai “bukan kawan”?

    Saya rasa dan berharap Pak Yusril akan selalu menjadi kawan bagi kepentingan bangsa dan negara.

  15. Yusril Ihza Mahendra

    Soal Bank Paribas, prinsip saya akan membantu siapapun, karena sebagai Menteri Kehakiman saya harus bertindak adil dan memberi pelayanan kepada semua warganegara, tanpa diskriminasi. Uang di Paribas tidaklah terdaftar atas nama Tomy Suharto sebagai digembar-gemborkan media massa. Uang itu terdaftar atas nama Motorbike International Ltd, sebuah perusahaan yang terdaftar di Bahama. Salah seorang pemegang sahamnya memang Tomy Suharto, di samping Sujaswin Lubis dan Irvan Gading. Tomy sendiri tidak duduk dalam manajemen Motorbike.

    Motorbike mempunyai deposito sebesar 1o juta dolar AS di Bank Paribas, yang telah disimpan sekitar sepuluh tahun. Namun tiap kali Motorbike mau mengambilnya, selalu ditolak, dengan alasan mereka curiga kalau-kalau uang itu hasil kejahatan. Motrobike bertanya, apakah ada perintah dari pengadilan Inggris untuk membekukan uang itu. Adakah pula laporan dari PPATK Inggris bahwa uang itu dicurigai sebagai hasil pencucian uang. Paribas bilang, tidak ada. Nah, kalau tidak ada, mengapa uang itu anda tahan-tahan begitu lama. Bank tidak bisa menahan uang desposito seseorang atau badan usaha hanya dengan alasan curiga.
    Paribas bilang, mereka ingin minta klarifikasi kepada Pemerintah Indonesia. Itulah sebabnya, ada surat yang di sampaikan kepada Menteri Kehakiman yang menanyakan apakah uang Motorbike di Paribas itu sedang dalam penyelidikan, penyidikan atau perkara dalam suatu tindak pidana. Mereka juga tanya apakah ketiga pemegang saham Motorbike terlibat kejahatan atau tidak. Khusus Tomy, dia sedang diadili, apa ada kaitannya dengan uang Motorbike di Paribas atau tidak.

    Sebagai menteri kehakiman, maka saya berkewajiban menjawab surat itu. Diadakanlah rapat koordinasi antar instansi yang terkait dan dilakukan pula pengecekan ke instansi tertentu. Itu memang bagian dari tugas DepHukHam untuk melakukan koordinasi di bidang pelayanan hukum. Departemen itu juga merupakan “vocal point” Pemerintah RI dalam kerjasama bantuan hukum timbal balik dengan pihak luar negeri.

    Setelah semua data di dapat, maka surat itu saya jawab ke Paribas. Saya katakan, setelah diadakan rapat koordinasi, maka menurut keterangan PPATK Indonesia, sampat saat itu tidak pernah tercatat bahwa Motorbike maupun ketiga pemegang sahamnya melakukan kegiatan transaksi mencurigakan di Indonesia. Berdasarkan pengecekan di Kejaksaan Agung, sampai saat itu tidak ada perkara, baik penyelidikan, penyidikan maupun penunutan perkara terkait dengan uang Motorbike di Bank Paribas. Terakhir, berdasar keterangan Pengadilan Tinggi Jakarta, Sujaswin Lubis dan Irvan Gading tidak sedang dalam perkara di pengadilan. Tentang Tomy Suharto benar dia sedang diadili dalam kasus tindak pidana pembunuhan hakim agung, dan memiliki senjata api gelap. Perkara itu tidak ada kaitannya dengan uang Motobike di London. Demikian harap maklum. Atas perhatian Saudara, saya ucapkan terima kasih. Itulah ringkasan ini surat jawaban saya ke Bank Paribas London. Hanya satu itu saja surat yang pernah saya buat ke Paribas menjawab pertanyaan mereka.

    Bahwa uang itu “cair” dan “menggunakan rekening pemerintah” dsb, semua itu terjadi lebih setahun kemudian, ketika Menteri Kehakiman dan HAM dijabat oleh Hamid Awaludin. Saya tidak tahu lagi perkembangan masalah itu, sejak saya berhenti menjadi Menkeh HAM tanggal 22 Oktober 2004.

    Saya tidak pernah bertemu Tomy Suharto seumur hidup saya sampai hari ini. Bicara pertelepon dengannya juga tidak. Kasus “uang Tomy” itu menjadi berita besar bersamaan dengan isyu resufle kabinet. Porsi politiknya beitu menggebu-gebu. Berulangkali saya minta agar saya diperiksa dalam kasus “Uang Tomy” itu kalau ada kesalahan saya. Namun, baik Kapolri maupun Jampidsus — Kini Jaksa Agung — Hendarman Supanji, setelah menelaah aspek hukumnya, tidak menemukan kesalahan apapun. Mereka tidak mau memanggil saya, meski saya tunggu-tunggu. Itulah politik, Boss!

  16. @Yusril Ihza Mahendra: Ok Bos, halah ikut ikutan bilang Bos.

    Terimakasih atas jawabannya yang lengkap. Saya melihat Anda sibuk sekali menjawab segala sesuatu tentang diri Anda di berbagai Blog.

    Perlu suatu strategi untuk menjadi efisien seperti yang saya postingkan ke Blog Anda.

    Tentunya anda tidak perlu menjawab semua pertanyaan yang mirip berkali kali, cukup posting satu tulisan yang komprehensif di Blog anda lalu beri link kepada orang orang yang bertanya tentang hal yang berkenaan dengan masalah tersebut.

    Sebenarnya ada lagi yang ingin saya tanyakan tapi nanti akan saya posting lagi tersendiri.

  17. Yusril Ihza Mahendra

    Terima kasih banyak atas saran-sarannya. Insya Allah, saya akan memperhatikan semua itu, agar saya lebih efisien.

    Tulisan saya mengenai Paribas belumlah lengkap. Nanti saya akan menulisnya lebih rinci di blog saya. Saya berdiskusi panjang dengan Sdr Hamid Awalauddin tentang apa yang terjadi tentang “pencairan uang milik Tomy” di Bank Paribas, setelah saya tidak lagi menjadi menteri Kehakiman dan HAM. Isyu tsb juga pernah dibawa ke rapat POLHUKAM yang dihadiri Widodo, Hamid, saya, Jakgung Abdulrahman Saleh dan Kapolri Sutanto, atas arahan Presiden. Hasilnya dilaporkan Widodo kepada Presiden. Dengan Wapres JK, masalah ini juga pernah dibahas oleh Hamid. Saya juga pernah menjelaskannya kepada JK. Nantilah saya akan menulis masalah ini dari sudut pandang saya, dokumen dan informasi yang saya miliki.

    Terima kasih Boss!

  18. willmen46

    apabila para elite pemerintahan sudah gemar
    blogger..so akan lebih mudah untuk berinteraksi..bertukar pikiran and memberi masukkan…bener ngk..???

    salam kenal to all
    willmen46
    willmen46.wordpress.com

  19. Yusril Ihza Mahendra

    Boss, saya mohon maaf karena keliru menyebutkan nama pemegang saham Motorbike. Saya sebutkan nama Irvan Gading, tetapi setelah saya cek lagi, bukan beliau, tetapi Abdurrahman Abdul Kadir Mulahela. Tomy Suharto semula aktif sebagai pengurus, tetapi setelah dia ditahan menjadi non aktif. Dengan demikian, kekeliruan telah saya perbaiki.

  20. Yusril Ihza Mahendra

    Boss, saya lupa. Saya ingin mohon maaf pada Irvan Gading. Bisa-bisa dia ngomel sama saya nanti, namanya disebut-sebut.

    Sorry Boss!

  21. ayobangkitindonesiaku

    Wah …. Seru banget nich diskusi Den Demang dengan P. Yusril, yuk para blogger kita ambil pelajaran dari diskusi diatas, hidup blogger …

  22. Wah2.. Besok mau tulis tentang Pak Yusril ah!!! Biar di-comment juga ma Pak Yusril! Wkwkwkwkw… :)

  23. Eww ..fenomena apa ini?? politikus jadi blogger??

  24. dion

    saya adalah salah satu pengagum anda dari sekian banyak pengagum anda,buat saya anda adalah guru bangsa dalam hal hukum banyak hasil pemikir-pemikiran brilian anda yang telah ditetapkan sebagai undang-undang diantaranya UUD kepailatan yg anda ambil dari konfilasi_konfilasi hukum islam dan saya termasuk oarng yg terkesan ketika anda membaca didepan anggota dewan,yang jelas negara ini sangat membutuh seorang Yusril.salut untuk anda dan saya tunggu kiprah anda di pemilu 2009 untuk memberi sumbangsih dalam proses indonesia mengikis hukum peninggalan hukum-hukum peninggalan belanda yang saya rasa tidak sesua dengan kondisi zaman

  25. saya adalah salah satu pengagum anda dari sekian banyak pengagum anda,buat saya anda adalah guru bangsa dalam hal hukum banyak hasil pemikir-pemikiran brilian anda yang telah ditetapkan sebagai undang-undang diantaranya UUD kepailatan yg anda ambil dari konfilasi_konfilasi hukum islam dan saya termasuk oarng yg terkesan ketika anda membaca didepan anggota dewan,yang jelas negara ini sangat membutuh seorang Yusril.salut untuk anda dan saya tunggu kiprah anda di pemilu 2009 untuk memberi sumbangsih dalam proses indonesia mengikis hukum peninggalan hukum-hukum peninggalan belanda yang saya rasa tidak sesuai dengan kondisi zaman

  26. @dion:

    Mas Dion, mungkin mas lupa kasih “kepada” diawal komentar. “Kepada Pak Yusril” begitu mungkin, sebab tanpa itu kesannya komentarnya untuk saya.. ehehe padahal saya bukan guru bangsa… :-)

  27. *geleng2 kepala*
    panjang komennya pak yusril = postingannya :D

  28. bimo

    kpd bang Yusril yg sy hormati,integritas dan kredibilitas abang sdh tdk diragukan lg.sy melihat abang ktk msh mnjbat hg skrg tdk lg ,tetap sj abng diperhitungkan lawan,digoyang kiri kanan dpn blkng dijdkan kmbng htm,nmn akhirnya abng ttp mnjd pemenang,sy rs itu mnjd mdl bsr menguji kwltas seorang pemimpin,dan abng slh satu pemimpin yg sy hrpkn dms dtg utk memimpin negri ini,nmn yg sgt disayngkn mngp partai yg abng pimpin justru tenggelam,sy mlht asas syariat islam untuk kmpnye mndtng sdh tdk relevan lg dinegara demokrasi ini&sy rs abng telah melihat hal itu sbg fakta,yg trpenting smngt perjuangan partai ttp berlandskn syariat islam,maaf bkn mksud mnggurui abang,ini adlh rs cinta sy sm bang yusril,partai bulan bintang dan negara ini.trmksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s