Raja Polemik Saut Situmorang

Penyair JembutPolemik seperti sebuah permainan yang penuh dengan keriuhan yang melelahkan. Jika itu polemik yang bermutu maka penonton bisa pulang setelah permainan usai dengan hati berisi. Tapi tidak sedikit juga polemik yang hanya membawa keletihan seperti penonton bola yang kesebelasan kesayangannya kalah bertanding.

Bahan bakar polemik adalah kepentingan. Jangan bilang ranah politik atau hukum yang kaya akan bahan bahan yang rentan dijadikan polemik. Dalam bidang yang seharusnya bisa lebih sepi juga bisa muncul polemik. Kita semua tahu polemik yang diciptakan oleh Roy Suryo di bidang TI atau Kangen Band di bidang musik.

Polemik yang berbobot melibatkan orang orang yang mengerti duduk persoalan dan tidak kehilangan jejak atas arus diskusi yang kerap kali bertensi tinggi, hingar bingar dan bahkan juga chaos. Sebaik baiknya polemik adalah yang tetap menjaga kesantunan bahasa. Penggunaan bahasa yang kasar membuat penonton tidak enjoy dan bahkan dengan mudah mengubah penonton menjadi pemain. Kalau penonton sudah menjadi pemain maka dijamin polemik akan menjadi chaos.

Bagaimana mereka berpolemik? Untuk masa kini media internet adalah media yang paling kondusif mengakomodasi polemik. Kerap kali sebuah polemik bermula dari sebuah diskusi di mailing-list atau web-forum. Teknik propaganda yang paling sering dipakai adalah cross-posting antar milis. Cross-posting ini sangat berpotensi membuat polemik melebar dan mengubah penonton menjadi pemain cross-posting tidak akan bisa memindahkan semua informasi tentang duduk persoalan.

Menarik mengamati kejiwaan para pencipta polemik ini. Mereka biasanya menyerang membabi buta seperti pendekar mabuk. Untuk lebih membumi saya akan ambil contoh kasus sebuah polemik yang membuat langit sastra Indonesia menjadi kelam.

Perkenalkan seorang penyair bernama Saut Situmorang yang telah memperlihatkan perilaku seorang agen polemik yang handal. Saya ingin bandingkan Saut dengan Roy Suryo, juga seorang yang punya reputasi dibidang polemik.

Kedua duanya memiliki ulah yang kontroversial. Roy pernah membuat statement bahwa Blog itu hanya trend sesaat dan tidak bisa dijadikan bahan rujukan jurnalisme yang valid. Statement ini membuat komunitas Blogger Indonesia meradang dan polemik pun tak terhindarkan.

Saut dengan demonstratif menyerang Komunitas Utan Kayu (KUK) dengan menuduh KUK sebagai “kekuasaan” yang “menindas”, “meniadakan” dan “menekan” komunitas lain sastra Indonesia dan menuntut agar TUK dibubarkan dan menyerukan agar Goenawan Mohammad dedengkot TUK dan penyair senior itu agar dipenjarakan. Walaupun kubu TUK sendiri tidak terlalu menghiraukan ulah Saut ini namun serangan ini sudah memicu polemik berkepanjangan yang tidak elok.

Roy dan Saut tidak pernah menampilkan suatu penjelasan yang tuntas atas pernyataannya. Inilah profil agen polemik terbaik negeri ini. Kedua duanya Roy dan Saut senang berkontroversi. Seperti ada sesuatu yang mereka tuntut dari kontroversi mereka. Sesuatu yang menjadi obsesi.

Sony Suryo kakak kandung Roy Suryo pernah memberi kesaksian bahwa Roy Suryo suka sekali mencari popularitas. Sedangkan Saut kalau dilihat dari karya karyanya sangat berani menggunakan bahasa yang vulgar yang tentunya akan dengan mudah menarik perhatian.

Berikut adalah salah satu contoh puisi Saut yang menggambarkan Tuhan. Judulnya “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu

ada jembut nyangkut
di sela gigiMu!
seruKu
sambil menjauhkan mulutKu
dari mulutMu
yang ingin mencium itu.

sehelai jembut
bangkit dari sela kata kata puisi
tersesat dalam mimpi
tercampak dalam igauan birahi semalaman
dan menyapa lembut
dari mulut
antara langit langit dan gusi merah mudaMu
yang selalu tersenyum padaKu.

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu
tapi bersihkan dulu gigiMu
sebelum Kau menciumKu!

Sampai sampai oleh kalangan penyair Saut dijuluki “Penyair Jembut”.

Tidak hanya itu, selain aksi aksi yang mengundang kontroversi juga mereka ini sudah seperti kehilangan sensibilitas sosial boleh dikatakan. Roy pernah memberikan kesaksian atas keaslian foto-foto telanjang artis Sukma Ayu yang membuat keluarganya sangat terpukul. Dia tidak perduli perasaan orang yang penting bisa tampil ke publik.

Sautpun demikian pernah membuat sajak yang isinya membuat tersinggung umat Hindu Bali. Saya tidak akan memuat sajak itu disini karena tidak ingin menambah sakit hati teman teman Hindu Bali. Yang jelas sajak itu menuai kritik, kecaman dan keberatan dari berbagai golongan terutama umat Hindu Bali.

Satu lagi ciri yang sama diantara mereka. Sama sama sensitif dan cepat marah. Roy pernah mengira seseorang yang berusaha memfitnah dia dengan menggunakan email palsu melakukan posting propaganda ke milis milis. Sedangkan Saut juga sama, begitu ada email postingan yang menyudutkan dia dengan nama yang belum dikenal kontan dia menuduh itu ulah dari seorang lawannya yang berusaha mendiskreditkan dirinya. Padahal belum tentu benar dan juga belum tentu salah tapi keyakinan mereka sudah pasti.

Tapi kalau mau dibandingkan dengan bahasa yang mereka gunakan saya rasa Roy masih belum separah Saut yang berani menabrakan dirinya dengan siapa saja termasuk institusi keagamaan yang sangat dihormati dan berpengaruh di negeri ini.

Semoga Saut menjadi raja polemik seumur hidup dalam artian tidak ada lagi yang lebih gila dari Saut dalam berpolemik. Pertandingan bola saja yang hanya 2 kali 45 menit bisa sangat melelahkan apalagi polemik bertahun tahun yang akhirnya kalah semua.

Ada yang mau mengkudeta Saut…?

About these ads

98 Komentar

Filed under sastra, tokoh

98 responses to “Raja Polemik Saut Situmorang

  1. Wow, ulasannya sungguh keren. Saya tidak menyangka akan ada tulisan yang komprehensif tentang polemik Saut vs Komunitas Utan Kayu (KUK). Sebenarnya kurang tepat juga saya sebut begitu, karena hingga detik ini pihak KUK secara resmi belum menanggapi sautan-sautan Saut dan kawan-kawannya dari Ode Kampung. Saya sendiri tak sengaja masuk ke dalam arus polemik tersebut karena awalnya sekadar ingin meluruskan suatu topik yang dilempar oleh Saut. Namun karena tanggapan dia amat “nyolot”, ya saya terus terang jadi panas. Akhirnya, terseretlah saya ke dalam polemik tersebut hingga sekarang.

  2. ACI

    Mas Wibisono yang berambut kriwil-kriwil…:))

    Boleh ya postingan ini aku tayangkan di blog ACI (Art & Culture Indonesia).

  3. Sedikit ralat. Penulisan nama GM yang benar adalah Goenawan Mohamad.

    Terima kasih.

  4. @Radityo, terima kasih mas atas perbaikan nama Om Goen. mari kita bersaut-sautan tanpa Saut disini.. hehe

    @ACI, silahkan ACI yang berambut lurus.. :-) halah sok tahu

  5. DASAR TUKANG GOSIP!

    BUDAYAWAN APA LO?! MENISTA ISTILAH “BUDAYAWAN” AJA LO, TAU!!!
    KACIAAN…

    HAHAHA…

  6. DIMODERASI NIH YEE…

    TAKUT KEMASUKAN KOMENTAR YANG GAK SESUAI DENGAN BUDAYA LO YA!!!

    KACIAANNN…

    HAHAHA…

  7. Oallahhhh… ini rupanya mas Saut Situmorang sendiri toh, masih sempet blogwalking yah???

    Well well well… ini dimoderasi bukan karena takut mas, tapi untuk yang pertama kali komentar memang harus dimoderasi supaya saya ngeh siapa saja yang masuk, setelah ini bebas kok komen d Blog saya asal santun dan tidak usah all capital.

    Saya sebenarnya outsider, tidak terlibat dalam polemik anda kalau itu mau disebut polemik, sebab setelah sekian lama mengikuti hebohnya saya dapat pelajaran bahwa polemik itu harus ada dialog, saya sama sekali tidak memihak dan tidak menyamaratakan anda dengan Taufik Ismail atau dengan penyair Rumah Dunia atau dengan siapa pun lainnya.

    Saya harus lihat orang per-orang dengan argumentasinya. Buktinya adalah GM lebih merasa perlu merespon Taufik daripada anda. Satu lagi, GM merespon A Kohar Ibrahim walaupun dengan masygul. Sedangkan anda tidak dilayani sama sekali, tentu ada sebabnya.

    Sebenarnya saya bisa saja melihat nasib anda yang tidak direspon oleh GM dengan sebutan “KACIAN DEH LO”. Tapi itukan tidak saya lakukan. Sebab saya tidak sedang berada ditengah tengah polemik itu dan tidak ingin menjadi “cheerleader” sekalipun. Kalo anda baca seksama tulisan saya diatas maka tidak ada membahas subtansi dari polemik anda itu, tapi lebih kepada fenomenanya.

    Saya tidak berkeberatan anda menggunakan media Blog saya untuk mengklarifikasi apa apa yang anda anggap sebagai mispersepsi tentang diri anda, demikan mas Saut semoga kali ini tidak hanya HAHAHA.

  8. kyai jlungkrung

    Oooh, Saut masih hidup tho? Kok lama tak bersuara di milis-milis. Patah arang kali ya?

  9. Dony P Herwanto

    ternyata kita belum sadar akan makna sumpah pemuda, dimana didalamnya menuntut satu bahasa indonesia.
    jadi saya pikir berbahasa yang baiklah yang akan dianggap orang indonesia. bukan orang indonesia yang terus terjajah akan narisistik diri sendiri.

    ayo kita pertahankan bahasa kita sebelum diakui oleh negara lain. apa mau kita dianggap negara yang tak memiliki bahsa.

    nuwun

  10. fahmi faqih

    bapak doni ini mengajak berbahasa indonesia yang baik dengan dalih makna sumpah pemuda segala. lha wong padanan kata narsistik saja tak tahu. piye tho pak?

  11. jirji barjah

    Saya salut sama Saut Situmorang yang terus berjuang melawan “sastra sahwat” yang digembar-gemborkan bindah nurohmat dkk. Mereka tampak mulai “KO” setelah rubrik “Tifa” Media Indonesia dilikuidasi, entah mengapa. Mungkin karena terlalu bernafsu menggelar sastra sahwat. Maju terus Saut (juga Wowok, Mahdiduri, dan tentu saja Taufk Ismail yang dilecehkan tanpa kesopanan oleh Muhidin M Dahlan dalam situsnya)

  12. sebenarnya saya tidak tahu menahu mengapa Saut Situmorang disandingkan dengan KMRT Roy Suryo? Jelas saja mereka berdua berbeda disiplin, berbeda ruang dan waktu, berbeda pula masalah yang digembar-gemborkan, dan berbeda juga cara pandang orang terhadap mereka. Eh tapi kalau ternyata ada kesamaan mungkin ketidaksengajaan yang bersifat kebetulan aja kali ya ehehe :P

    Eh tapi menarik membicarakan masalah polemik. Memang perlu ada kritik di tengah gemerlapnya bangsa ini yang sepertinya bakal tersapu dengan masalah-masalah yang lebih pada masalah pokok, terutama yang berhubungan dengan masalah perut

    Kita mah tinggal melihat bagaimana dunia sastra kita mampu menunjukkan kedewasaannya, setelah kedigdayaan majalah Horison yang meredup termakan jaman…

    toh inilah yang saya kira eksentrisitas kesusastraan kita.. halah, apa itu eksentrisitas? kayak yang berpendidikan saja saya ^ ^

    heheh, cuman sekilas pandang dari penikmat sastra, bukan penggaet sastra. jadi anggap saja “angin lalu”

  13. Iwan

    Saya pribadi kenal dgn Bang Saut (walau Batak, karena tinggal di Yogya, beberapa kawan ada yang memanggil Mas Ut–hahaha). Dan bersuara keras, bicara tanpa tedeng aling-aling, tapi menurutku ada benarnya yang dia tuduhkan ke TUK. Orangnya juga enak, sering gurau kalau ketemu dia, dekat dengan kalangan pegiat sastra muda (yang belum tentu ada sastrawan serupa di kota-kota lain).
    Buku istrinya, Sastra, Perempuan, Seks, sedikit banyak juga menyimpan suara Saut (atau Saut roh buku itu?). Silakan cari. Dan bisa dibaca di situ, argumennya kuat sekali.
    Memang, kalau sekilas melihat sosoknya, atau membaca serba sedikit tulisan dia, apalagi potongan postingan saja, anggapan dia cari popularitas tak bisa dihindari.
    Halo Bang Saut, eh Mas Ut…

    Iwan

  14. kyai kasong

    Saya dukung Kang Saut. Setiap upaya hegemonik musti dlawan. Apalagi setelah lihat ada Radityo keponakan GM yang tb2 nimbrung di sini dengan gaya naif: “Wow, ulasannya sungguh keren. Saya tidak menyangka akan ada tulisan yang komprehensif tentang polemik Saut vs Komunitas Utan Kayu (KUK).” (baca komen dia di atas.) Wagu tenan. Pdhl saya yakin mas Wibisono juga tak akan meng-klaim ulasannya komprehensif (ya to mas? aku dah nge-add jd tmn frenstermu lho:)

    Cuma kang, mbok gaya komunikasinya lebih enak dikit kenapa sih……..

  15. kyai kasong

    Buat jirji barjah, ah, anda jg terlalu simplistis kalo mendukung Kang Saut satu paket sama Mbah Topik Ismangil. Mereka jelas beda banget, meski Mbah Topik kut2an Ode Kampung.

    Jangan waton panatik lah. Sedikit saja mau belajar, kita sudah langsung sadar kok, Si Embah sudah selayaknya gantung pena. Buanyaaaaak sekali argumen2 beliau yang kerontang dari landasan ilmu. Waton ngamuk juga, waton sengit sama PKI-Lekra, semua yang mambu2 PKI langsung diganjang. Meski gayanya lebih santun dari Kang Saut sih. Tapi, jarene Kanjeng Nabi, celakalah orang yang berbuat atau berkata padahal tidak tau ilmunya…….. Mbah Ismangil semoga baca ya.. (“Pak Tua sudahlah….” kata Iwan Fals)

    Dalam hal ini, meski dulu sesama satu poros Manikebu bareng GM, kalo ada Pilkades calonnya 2, Topik Ismangil vs GM (meski GM bekingnya TUK si hegemonik), saya kok langsung milih GM ya…… Soalnya Topik cuma akan mmbawa warga desaku yang kucinta ke dalam pusaran kebencian tanpa pemahaman….

    HAHAHAHA (ngutip kang saut)

  16. ditunggu launching buku terbarunya di toga mas denpasar, bli jengki yang kasih tahu

  17. Dony P Herwanto

    daripada tuding sana tuding sini, mending berdo’a semoga kita semua tak seperti orang yang sedang dibicarakan.
    jangan cari kesempatan ah

    Saut salut
    saut kalut

  18. sautsitumorang

    hahaha…

    liat aja foto “Saut Situmorang” buatan Radityo Djadjoeri (keponakan antek Amerika Serikat Goenawan Mohamad) yang dipajang di blog goblog ini! ini sudah menunjukkan mutu “budayawan” si taik kucing pemilik blog sampah ini kan, hahaha…

    Saut Situmorang dkk di jurnal paling keren dalam sejarah sastra Indonesia, “boemipoetra”, sudah satu tahun lebih membongkar kejahatan intelektual Goenawan Mohamad and the Gangsters!!! AND WE ARE GOING STRONGER AND STRONGER, hahaha…

    Saut kalut?!

    KACIAN DEH LO!!! FUCK YOU, DONY HERWANTO! HOW’S GOENAWAN MOHAMAD’S OLD COCK IN YOUR MOUTH?!

    HAHAHA…

  19. sautsitumorang

    MODERASI TAIK KUCING!

    CUMAN BENCONG YANG MODERASI BLOGNYA YANG SOK NYERANG-NYERANG ORANG LAIN!

    IDIOT AJA SOK INTELEKTUAL, GAWAT MEK!!!

    HAHAHA…

  20. @sautsitumorang:

    MODERASI TAIK KUCING!

    Bang Saut yang kalut, mungkin anda lupa bahwa anda sudah pernah mampir ke Blog saya dulu pake email yang berbeda, sehingga sekarang kena moderasi lagi. Baca tanggapan saya.

    liat aja foto “Saut Situmorang” buatan Radityo Djadjoeri (keponakan antek Amerika Serikat Goenawan Mohamad) yang dipajang di blog goblog ini! ini sudah menunjukkan mutu “budayawan” si taik kucing pemilik blog sampah ini kan, hahaha…

    Blog goblog tapi anda suka berkunjung kesini, malah sampai dua kali, berarti anda juga goblok.. hehehe.. ups sorry.

    Saut Situmorang dkk di jurnal paling keren dalam sejarah sastra Indonesia, “boemipoetra”, sudah satu tahun lebih membongkar kejahatan intelektual Goenawan Mohamad and the Gangsters!!! AND WE ARE GOING STRONGER AND STRONGER, hahaha…

    Ok deh keren… selamat yah.. saya tak berkepentingan melihat anda dkk menjadi tidak keren. Kelihatannya anda sangat terobesesi menjadi stronger and stronger untuk melawan GM. Semoga tercapai tujuanmu…

  21. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  22. bustam

    Distributor Tunggal Buku :
    Info Pembelian Buku dapat dibeli di:
    Bustanus/Mimi Oktiva di Warnet Nusantara-Jayanegara, Jl. Jayanegara 11/17 Jombang-JawaTimur,
    Telp 0321 862137 atau sms/telpon di HP: 0818 08052575

    KUTIPAN BUKU :SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAANISBN:978-979-17824-0-1/barcode
    Tebal Buku: 110 halaman, Ukuran Buku : 15cm X 21 cm, Harga Buku : Rp 20.000,—

  23. Syaifuddin Gani

    ai lav yu
    penghayat puisi

  24. Bubeng Siauwcut

    Bang Saut memang kontroversial.. Tapi bagi mereka yang haus perubahan, dia adalah harapan. Sastra Indonesia dah negg dengan orang-orang TUK yang merasa dirinya dan kroninya paling hebat sedunia. Padahal bener kata Bang Saut, TAIK KUCING semua!! Sastra Underground juga tak kalah kualitasnya. Babat terus bang.. Hihi.. Mantap…!!

    • sautsitumorang

      SETUJU!

      hancurkan semua taik kucing bau yang berlagak mau dominasi dunia pemikiran kebudayaan kontemporer kita!!!

      kalok berani, cobak tuh Tuan Goen ajak Saut Situmorang berdebat, hahaha…

      sombong ngomong itu okay, asal memang bisa dibuktiin kelasnya, terutama atas para antek penjual Indonesia kepada Kekuasaan Neoliberal United States of Assholes, hahaha…

      lebih baik sombong daripada menipu!

      • anto

        Sepakat! Sebuah ‘klaim’ musti dibuktikan. Mengutip iklan; “Mana Ekspresi(nya)!”

        Sombong is a must (daripada menipu, apalagi jadi banci).

        Keep on ROCK, bang!!!

        (I’m crazy about ‘Politik Sastra’)

  25. Ahmad Syaifullah Saragih

    Saut Situmorang dan ****utnya

    bingkisan untuk penyair ****ut: Saut Situmorang

    apa bedanya saut dengan ****utnya?
    ****utnya jauh lebih mulia dan berharga dari dirinya
    selama ia tak kenal dia
    selama ia tak bisa jawab apa yang kutanya kepadanya:
    marx, marxist, komunis: nama-nama binatang apakah itu semua?
    apakah aku harus tahu nama-nama binatang itu semua?
    jika aku harus tahu, siapa yang mengharuskannya?
    jika aku tidak tahu
    dan tidak mau tahu
    apa masalahnya buatku?

    note: nama saut situmorang sudah tidak ada dalam daftar teman-teman fb-ku. aku tidak menghapusnya. siapakah yang menghapusnya?

    • sautsitumorang

      wah ini kan si Saragih taik kucing yang sok pinter tapi ancur abis waktu berdebat, hahaha… anak kemaren sore yang bikin satu kalimat baik aja pun impoten!

      nih baca buku-bukuKu ini biar tambah cerdas lo, jangan bikin malu ompungmu si Saragih itu! hahaha…

      1. otobiografi ([sic] 2007)
      2. Politik Sastra ([sic]) 2009)

      • anto

        Saya suka ‘Politik Sastra’. Benar2 menggigit, benar2 sebuah pencerahan, benar2 benar
        Big Thumbs, bang.

        Kapan yang lainnya, bang?
        I can’t stand it.

    • anto

      HO ho ho 9x
      ni lagi ‘Curhat’ apa yo…
      (musti tanggung jwb!)

  26. Perasaan rendah diri yang berlebih, menyebabkan hujatan atau kritikan Saut hanya kasar tak berisi, hal ini malah menjelskan kebesaran TUK, dan dia berusaha menyamainya-minimal, walau itu hal sulit.

  27. he saragih, membaca pertanyaanmu pada saut dalam comment2 itu memang gak cerdas sama sekali. kamu itu seperti melempar taik kuda di depan saut, lantas kamu ambil lagi dan dilempar lagi, begitu seterusnya. gak kreatif!

    gayamu kayak orang bodoh tapi sebenarnya tidak tahu sama sekali….

    ya jelas saut gak mau ambil, lha itu taik kudamu taik kuda bodoh. makan lagi taik kuda bodohmu itu sendiri!

    jakarte norak sok alim lu!

  28. saragih bego!
    pantas saja si saut tak mau menanggapi pertanyaan konyolmu itu. pertanyaanmu itu yang pantas jawab lu sendiri, lu jawab sendirilah… lu udah keluar dari konteks sih…orang lain pun malas berteman sama lu yang bego dan sok lugu itu!
    hahaha…

  29. samodro

    sulit sekali meniti di kategori “ad rem” utamanya dalam bahasan mengenai polemik yang tautan eksistensialisnya “ad hominem”: saut dan roy suryo. mas wib yang mengklaim dirinya “budayawan muda” juga sudah tergelincir dengan memberi cap Raja Polemik Saut Situmorang seperti ditulis di judul tulisan. bahkan sudah terpeleset jauh sebelum itu dengan budayawan muda-nya.

    hmm… saya hanya tertarik dengan hiruk pikuk makian sarkastik seperti taik, misalnya. dan komentar saya “terbatas” hanya pada makian.

    saya jadi teringat kisah di kamar persalinan, yakni saat si Ibu dahsyat mengejan dan berteriak kesal karena jabang bayi tak juga keluar. si bidan berkata ketus, mungkin juga setengah memaki: “aaalaaah bu, bikinnya enak, sekarang teriak-teriak. gak usah manja!”

    kata-kata adalah lontaran pikiran. beberapa komentar berupa makian di atas mungkin muncul dari proses mengejan, setelah mengandung jabang ide sekian bulan. entah hamil oleh siapa, atau bisa jadi korban perkosaan massal jargon-jargon liar tanpa landas pikir logis dan sahih.

    mas wib pun tak perlu sinis seperti bidan yang ikutan memaki. substansi tulisan anda telah melahirkan polemik (lagi). atau anda ingin jadi pangeran polemiknya? rajanya kan sudah ada…

    • sautsitumorang

      menyebut diri sendiri “budayawan muda”, wow! apa udah dites ama Saut Situmorang tuh titel-titelan, hahaha…

      Saut jugak tinggal di Jogja, ayo cari dia. ato kita bikin acara “Budayawan Muda versus Saut Situmorang” di Jogja, piye, man! ini tantangan terbuka!!!

      hahaha…

    • halo mas samodro yang baik,

      menarik sekali mas samodro bisa memaknai makian makian diatas sebagai proses mengejan, cuma saja tentu mas samodro tak bisa melarang saya untuk berekspresi karena apa yang membuat orang orang itu “hamil” seperti kata anda (tidak jelas) berpotensi juga “menghamili” saya

      saya rasa tulisan saya tak termasuk kategori polemik, tidak ada bobot untuk menjadi polemik

      • anto

        maen2 lah ke JOGJA, bro. Singgah sambil lalu ke “SADAR”, biar sadar klo blm mengenal sadar. He he he, keren!

        Anda memang ‘Budayawan Muda’ yang hebat.
        (suka berkelit kaya’ diskusi bareng Ayu Utami di Jogja)

  30. samodro

    apakah kata-kata saya kurang santun, atau saya telah terjerembab dalam opini ad hominem yang mengganggu anda mas wib?

  31. hua ha ha.. keren ulasannya.. salut…
    salam kenal…

  32. sautsitumorang

    halo, halo!

    ini Saut Situmorang, masih tetap keren aja! hahaha…

    udah baca buku-bukuKu yang terbaru belom?! cobak dibandingin ama buku-buku Tuan Goen dkk ya, hahaha… oiya, judul buku-bukuKu itu ini loh:

    1. otobiografi ([sic] 2007)
    2. Politik Sastra ([sic]) 2009)

    NB: jurnal sastra keren “boemipoetra” makin digemarin di seluruh dunia loh!!! hahaha…

  33. sautsitumorang

    COBAK BACA KUTIPAN DI BAWAH! TANPA ANALISIS YANG MASUK AKAL, APALAGI SECARA KRITIK SASTRA, ENAK AJA “BUDAYAWAN MUDA” KITA INI MENYIMPULKAN BAHWA:

    “Berikut adalah salah satu contoh puisi Saut yang menggambarkan Tuhan. Judulnya “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu“

    ada jembut nyangkut
    di sela gigiMu!
    seruKu
    sambil menjauhkan mulutKu
    dari mulutMu
    yang ingin mencium itu.

    sehelai jembut
    bangkit dari sela kata kata puisi
    tersesat dalam mimpi
    tercampak dalam igauan birahi semalaman
    dan menyapa lembut
    dari mulut
    antara langit langit dan gusi merah mudaMu
    yang selalu tersenyum padaKu.

    Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu
    tapi bersihkan dulu gigiMu
    sebelum Kau menciumKu!”

    CUMAK KERNA ADA KATA POSESIF “Ku’ DAN “Mu” YANG SECARA KONVENSIONAL MEMANG MERUJUK KE “TUHAN” ITU. TAPI APA BENAR INI SAJAK TENTANG “TUHAN”!!! HAHAHA…

    KALOK BEGINI MUTU “BUDAYAWAN” KITA WALO “MUDA”, TAIK KUCINGLAH SAMA BUDAYA ITU! HAHAHA…

    DAN SOAL BAHASA “KASAR” ITU. APA DUNIA “BUDAYA” ITU EMANG DIHARUSKAN MEMAKAI SUHARTOSPEAK KAYAK KROMOINGGIL JAWA TENGAH? SIAPA YANG MENENTUKAN INI? FEODALISME BERBAHASA ADALAH SALAH SATU ALAT UNTUK MEMANCUNG KEBEBASAN BERPIKIR DAN ITU SUDAH RATUSAN TAHUN DILAKUKAN OLEH BUDAYA EUFEMISME KAYAK BUDAYA KRATON JAWA TENGAH. INGAT, AWAK BUKAN DARI BUDAYA FEODAL JAHILIAH KAYAK GITU! BAHASA POLEMIK ADALAH BAHASA PALING BEBAS DI DUNIA DAN KALOK ANDA GAK PAHAM INI, JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN! HAHAHA…

    • CUMAK KERNA ADA KATA POSESIF “Ku’ DAN “Mu” YANG SECARA KONVENSIONAL MEMANG MERUJUK KE “TUHAN” ITU. TAPI APA BENAR INI SAJAK TENTANG “TUHAN”!!! HAHAHA…

      jangan salahkan saya sebagai pembaca puisi anda karena memiliki intepretasinya sendiri tentang apa yang saya baca

      puisi tentang Tuhan adalah pemahaman komunal tentang puisi anda itu, jika anda punya maksud yang berbeda maka itu sah sah saja, dan tidak harus sama dengan orang lain yang membacanya

      KALOK BEGINI MUTU “BUDAYAWAN” KITA WALO “MUDA”, TAIK KUCINGLAH SAMA BUDAYA ITU! HAHAHA…

      monggo mawon mas…

      DAN SOAL BAHASA “KASAR” ITU. APA DUNIA “BUDAYA” ITU EMANG DIHARUSKAN MEMAKAI SUHARTOSPEAK KAYAK KROMOINGGIL JAWA TENGAH?

      santun tak mesti kromoinggil

      dan kromoinggil belum tentu santun

      FEODALISME BERBAHASA ADALAH SALAH SATU ALAT UNTUK MEMANCUNG KEBEBASAN BERPIKIR DAN ITU SUDAH RATUSAN TAHUN DILAKUKAN OLEH BUDAYA EUFEMISME KAYAK BUDAYA KRATON JAWA TENGAH.

      well, kelihatannya walaupun anda tinggal di jogja anda tak benar benar memahaminya

      . INGAT, AWAK BUKAN DARI BUDAYA FEODAL JAHILIAH KAYAK GITU!
      BAHASA POLEMIK ADALAH BAHASA PALING BEBAS DI DUNIA DAN KALOK ANDA GAK PAHAM INI, JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN! HAHAHA…

      jika anda merasa orang yang benar benar bebas maka anda tak akan membiarkan diri anda merasa dihakimi hanya karena kritik pada tulisan anda

      nice to meet you…

      • sautsitumorang

        hahaha…

        gak usah berlindung di balik “otoritas” istilah “Pembaca”! setiap Pembacaan apalagi yang berpretensi “kritik sastra” harus punya prosedur, harus punya pertanggungjawaban kepada para pembaca lain dan kepada Pengarangnya! cara anda “membaca” lalu “menyimpulkan” itu sama sekali tidak melalui prosedur interpretasi-evaluasi yang bisa dipertanggungjawabkan kerna anda cumak menyimpulkan dari yang anda katakan sebagai “pemahaman komunal tentang puisi” saya, tanpa jugak menjelaskan apa maksud dari istilah “pemahaman komunal” tersebut. kalok memang benar itu adalah “pemahaman komunal”, lantas kenapa anda menyatakan “jangan salahkan saya sebagai pembaca puisi anda karena memiliki intepretasinya sendiri tentang apa yang saya baca”! di mana “pembacaan/interpretasi sendiri” anda itu! anda kan cumak mendaur-ulang “interpretasi” yang anda sebut sebagai “komunal” itu!!! kontradiksi pada sebuah pernyataan anda ini saja sudah menunjukkan bahwa anda sebenarnya tidak punya kualifikasi untuk “membaca” sebuah Puisi, untuk menginterpretasi sebuah Puisi, tapi anda tidak punya rasa rendah hati tentang itu, tentang ketakmampuan anda itu, walo anda ngomong retoris tentang “santun” dan omong kosong lainnya itu! anda lah yang sangat tidak “santun” dalam berpikir dan bertindak! tidak mampu membahas Puisi tapi ngeyel dengan mengatasnamakan otoritas istilah “Pembaca” yang notabene tidak punya kewenangan interpretasi sebesar yang anda siratkan dalam jawaban cuci-tangan anda itu.

        sekarang saya tantang anda: cobak lakukan interpretasi dan evaluasi sendiri, tanpa musti tergantung pada “pemahaman komunal”! atas satu sajak saya itu saja! bagaimana? mampu?

        hahaha…

      • sautsitumorang

        Puisi saya yang anda perkosa secara tafsir itu, persis kayak omong kosong Radityo Djadjoeri pengecut paling besar di Indonesia itu, menuntut dibaca secara bertanggung-jawab! Tanggung-jawab anda sebagai “Pembaca” adalah pada Teks puisi saya itu! Yaitu: tidak cumak diambil satu “kata” dari dirinya lalu dijadikan alasan penilaian yang tidak “santun” secara Kritik Sastra. kalok anda mampunya cumak debat-kusir kayak si Radityo itu, yah lebih baik anda nyatakan saja, ketimbang pura-pura paham bagaimana menilai Puisi tapi impoten waktu ditantang untuk membuktikannya!

        sebuah Puisi tidak hanya terdiri dari satu-atau-dua kata tapi seperti tubuh manusia, dia juga memiliki unsur-unsur tekstual yang setara nilainya semuanya! seperti membahas sebuah tubuh, maka pembahasan atas Puisi pun harus juga merupakan pembahasan atas segala unsur yang menjadikannya ada: metafor, style pengucapan, intertekstualitas dengan puisi-puisi lain dalam bahasa dimana dia dituliskan.

        kalok menilai Puisi itu cumak segampang kayak anda dan Radityo taik kucing itu lakukan, untuk apa ada Fakultas Sastra di Planet Bumi ini! untuk apa ada Sarjana Sastra sampai tingkat Ph D! dan untuk apa ada penghargaan Hadiah Nobel Sastra segala yang berbarengan dengan Hadiah Nobel Sains, Ekonomi, dan Perdamaian Dunia!!!

      • anto

        Kesimpulan ‘mentah’ dari WS benar2 hebat tak tertandingi. Seolah-olah Anda udah mengenal dari kecil saja sosok bang Saut. Ho ho ho…

  34. sautsitumorang

    “budayawan muda itu nama blog mas

    senang sekali bisa menerima tantangan terbuka anda, cuma saja saya tidak di jogja, saya domisili di jakarta”

    oke, nanti kalok saya ke Jakarta, saya cari anda. dan kalok saya ada acara diskusi di Jakarta, saya undang anda.

  35. Om/tante saya bukan blogger tapi kalau membaca komentar diatas jadi terketuk untuk ikutan nulis. Jika saya rasakan tulisan-tulisan ini ditulis dengan emosi yang tinggi sehingga etika-etika terabaikan. kita semua harus bisa menyadari untuk apa kita hidup ini. mencari teman lebih sulit dibandingkan mencari permusuhan.
    Perdebatan yag panjang dan saling membunuh karakter tidak akan menguntungkan dari semua pihak. Sadari juga bahwa ego dan keakuan yang ada akan menghancurkan diri kita sendiri. Ada baiknya mulai sekarang kita bisa menggunakan hati dan hati yang mengontrol prilaku kita.

    Salam hormat saya untuk rekan-rekan blogger semua

    Syaifu
    Praktisi Sosialisasi Hati

    • sautsitumorang

      syaifu,

      anda lihat foto “saya” di blog ini! bagaimana kalau seandainya ada orang lain melakukan hal serupa kepada anda dan orang tsb belum mengenal anda secara personal?!

      saya punya HAK gak menjawab orang lain yang melakukan pembunuhan karakter kayak gitu?!

      orang seperti Radityo Djadjoeri dan yang diikuti oleh yang mengaku “budayawan muda” ini apa musti dibiarkan bertualang dengan pretensi sopan-santun “bahasa”nya itu sementara melakukan character-assasination murahan di blog-nya yang notabene gak ada apa-apanya ini?

      tentang satu sajak saya aja, dia gak mampu jawab!

      tapi saya yakin suatu hari kelak saya Saut Situmorang pasti akan bertemu muka langsung dengan kedua orang ini dan itu akan menjadi sebuah peristiwa yang sangat menarik, bukan! paling nggak kayak si “budayawan muda” ini akan saya minta untuk membuktikan “budaya”nya dengan membahas satu sajak saya yang dia kutip dan perkosa secara tekstual di atas.

      -Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogja

  36. anda kan cumak mendaur-ulang “interpretasi” yang anda sebut sebagai “komunal” itu

    tidak mas, saya mendapatkan tafsir saya bukan dari orang lain, tapi dari membaca puisi anda itu, yang oleh kebanyakan pembaca juga memiliki tafsir yang senada yaitu berhubungan dengan Tuhan, inilah yang saya maksud dengan komunal

    anda sebenarnya tidak punya kualifikasi untuk “membaca” sebuah Puisi, untuk menginterpretasi sebuah Puisi, tapi anda tidak punya rasa rendah hati tentang itu, tentang ketakmampuan anda itu,

    saya tidak pernah mengklaim diri paham atau pura pura paham, yang saya lakukan adalah menyampaikan apa yang saya pahami dan dalam seni tidak ada tafsir tunggal, memang ada kaidah akademis tapi itu sama sekali tidak menghalangi orang untuk memiliki tafsirnya sendiri

    jika anda menuntut tanggung jawab saya sebagai pembaca yang menyampaikan tafsirnya yang menurut anda salah maka saya juga menuntut tanggung jawab anda sebagai penulis untuk menyampaikan tafsir yang benar menurut versi penulisnya

    saya rasa itu yang kurang anda lakukan, anda lebih menyibukkan diri meladeni makian makian orang atas karya dan pribadi anda sehingga menjadi suasana menjadi bertambah panas

    • sautsitumorang

      hahaha…

      bukankah saya sedang mengikuti logika pembelaan anda bahwa anda itu adalah seorang “pembaca” yang punya Hak atas tafsirnya sendiri! nah saya mintak anda untuk menunjukkan “tafsir” anda itu, bukan sebuah “kesimpulan” yang malah bersifat “menghakimi” teks sajak tsb! kalok anda membuat sebuah Klaim, buktiin dong, kenapa menurut anda sesuatu itu kayak yang anda klaim itu, logis kan permintaan ini!

      saya masih belum bicara sebagai “pengarang” teks itu! saya cumak menuntut penjelasan anda sebagai “pembaca” sebuah teks yang anda sendiri masukkan dalam blog anda lalu seenaknya nilai sebagai sesuatu. saya jugak berfungsi sebagai “pembaca” teks tsb, plus “pembaca” teks tafsir anda. mudheng gak!

      jadi gak usah lari-lari sore, mengelak dari isu sebenarnya. katakan saja anda memang gak mampu. kalok mampu, ya silahkan jelaskan!

      tidak ada yang melarang orang untuk punya “tafsir” tentang segala hal! tapi tidak bisa jugak melarang orang lain untuk mempertanyakan “tafsir” tsb kan, apalagi “tafsir” itu dipublikasikan, dimuat di ruang publik!!! nah saya tantang anda untuk menjelaskan pembacaan anda tsb, “tafsir” anda tsb. sederhana kan, hahaha…

      • kalok anda membuat sebuah Klaim buktiin dong, kenapa menurut anda sesuatu itu kayak yang anda klaim itu, logis kan permintaan ini!

        sekali lagi saya tidak pernah membuat klaim, kalo menurut anda saya melakukan klaim tolong di quote disini

      • sautsitumorang

        yang di bawah ini apa namanya kalok bukan klaim!!!:

        “Berikut adalah salah satu contoh puisi Saut yang menggambarkan Tuhan. Judulnya “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu“”

        “puisi Saut yang menggambarkan Tuhan”, apa bukan klaim anda itu?! dan tanpa ada penjelasan apa-apa untuk mendukungnya sama sekali, kecuali kata-kata “Ku” dan “Mu” di dalamnya yang anda “tafsir” merujuk ke “Tuhan” itu!!! anda berpretensi menilai “Seni” tapi anda telah memaksa bahasa Seni menjadi bahasa koran, tanpa ada nuansa apapun, padahal kata-kata itu anda baca dalam sebuah Puisi, sebuah karya Seni!!! gawat!

      • sautsitumorang

        kita masih belom bicarakan Klaim lain anda seperti yang berikut ini (seolah-olah anda itu Kenal siapa Saut Situmorang!!!):

        “Tidak hanya itu, selain aksi aksi yang mengundang kontroversi juga mereka ini sudah seperti kehilangan sensibilitas sosial boleh dikatakan.”

        “kehilangan sensibilitas sosial”! wow!!!

      • sautsitumorang

        atas usul Cyril Raoul Hakim yang jugak anda kenal maka saya add anda jadi friend Facebook saya biar kita bisa mendebatkan isi tulisan anda itu rame-rame di Facebook saya. asyiiik…

      • “puisi Saut yang menggambarkan Tuhan”, apa bukan klaim anda itu?! dan tanpa ada penjelasan apa-apa untuk mendukungnya sama sekali, kecuali kata-kata “Ku” dan “Mu” di dalamnya yang anda “tafsir” merujuk ke “Tuhan” itu!!! anda berpretensi menilai “Seni” tapi anda telah memaksa bahasa Seni menjadi bahasa koran, tanpa ada nuansa apapun, padahal kata-kata itu anda baca dalam sebuah Puisi, sebuah karya Seni!!! gawat!

        memang Ku dan Mu itulah yang saya tafsirkan sebagai Tuhan

        mohon maaf saya tidak punya pemahaman lain dalam puisi itu selain menggambarkan anda sedang berdialog dengan Tuhan

        jadi sederhana saja karena dalam dunia sastra saya ini outsider dan sebagai mana penikmat sastra lainnya, tidak semua penikmat sastra itu bergelar sastrawan, jadi anda mesti memahami kalau ada yang bisa punya tafsir seperti ini

        “kehilangan sensibilitas sosial”! wow!!!

        benar sekali, itulah kesan saya pada anda melihat bagaimana anda merespon

        tulisan saya diatas sebenarnya bukan fokus pada diskusi sastra tapi lebih pada normatif saja, kalo soal sastra saya ini outsider

        atas usul Cyril Raoul Hakim yang jugak anda kenal maka saya add anda jadi friend Facebook saya

        yup, chico sahabat saya

    • anto

      Saya jadi bertanya2, WS ini orang ‘Sastra’ apa bukan y? Kok iso2 (an) ilmu komputer…ngaku ‘Budayawan Muda’, hebat nian…
      (Gawat)

  37. Kalau sy jadi mahasiswanya bang Saut dulu kala, mungkin sy sudah jd penulis hebat hehhehe…panjang bener…sampai habis sepring nasi goreng bacanya…. lanjuut…. (ga serius2ah…blognya jg ga serius…)

    • sautsitumorang

      HAHAHA… ;)

    • anto

      Yu hu u u 9x, sepakat @sasa.
      Sebuah tulisan yg ‘tidak menjadi’ dunia baru. Kalaupun ‘jadi’, paling2 mendua bak pangan(an) yg mewah itu.

      (laman ‘Budayawan Muda’ ini memang ‘gak jauh2′ dari plat AB, tetep ada ‘B’-nya, yg artinya masih di ‘dalam negeri’)
      :) bang, Saut. I’m crazy about yer essay (‘Politik Sastra). Mantappppppp

  38. Panjang maning…sampai pedas ini mata… jadi siapa yang bertahan? (mencoba tidak serius… soalnya sepertinya yang di atas ring sudah letih)

  39. devi setiawan

    Ayo buda(k)yawan ngadiluhung Wibisono Sastrodiwiryo, si Saut di-add jd temanmu di facebook. Biar kau bisa berdialektika dengan kawan-kawan lain. Ga usah takut ga usah cemas wahai buda(k)yawan ngadiluhung! :P

  40. ipoel

    karya sastra itu hanya bisa di kaji oleh seorang sastrawan!!!!!!

  41. wah wah. mas Wibisono, belajar tanggung jawab dong, perihal klaim panjenengan di atas, jangan lari terus-terusan. kayak banci ah.

    (gimana, tanggapan saya udah memenuhi kriteria “bahasa non- kasar” yang anda inginkan belum? wakakakakak)

    • gimana, tanggapan saya udah memenuhi kriteria “bahasa non- kasar” yang anda inginkan belum?

      kenapa anda minta saya nilai?
      bebas aja, karena yang menilai bukan saya tapi pembaca

      • “yang menilai bukan saya tapi pembaca”???
        kayak sendirinya kagak berpolemik ajah *sambil ngantuk bacanya, buang-buang kilobyte ternyata..*
        ey Bang Saut, gimana ngamen semalam? baik-baik lah kalian yak.. cheerz..

      • lho? bukankah kasar atau tidaknya bahasa yang digunakan seseorang dalam berpolemik itu jadi salah satu concern sampeyan dan hal itu juga sampeyan pake untuk membunuh karakter Saut Situmorang dalam tulisan di atas?

        makin kelihatan aih, belangnya. ga bertanggung jawab gitchu loh. wakakakakakak

      • lho? bukankah kasar atau tidaknya bahasa yang digunakan seseorang dalam berpolemik itu jadi salah satu concern sampeyan

        yup, bener, tapi saya tidak bisa melarang

      • anto

        BANCI kali, Anda ini ‘WS’ adiluhung bin ajaib.

        Suka berkelit…

        Muter2 (biar diangap intelek ya…?)

        (lari2 kok di MONAS, sesekali ke Alun2 kidul kenapa?)

  42. sautsitumorang

    POSKO PENANGGULANGAN BENCANA MASYARAKAT SIPIL: Jl. Tegal Parang Utara No. 14 – Mampang, Jaksel. Telp. 021-79193363-68. ( Ktr WALHI ). Bank Mandiri Cabang Mampang a/n Yayasan WALHI No.Rek…. 7070000900702. POSKO di Padang: Jl. Beringin II…I No. 9 Padang – SUMBAR hp: 081363482946 t/f : 0751-7054673, 7050883 (WALHI SUMBAR). Hp. 081931220356 (Dadang Sudardja – uwa_dadang@yahoo.co.id)

    • Elisa Mustika

      Saya ingin menanggapi tafsiran Mas Wibisono tentang puisi Saut. Dari saling bersahutannya kedua pronomina -Ku dan -Mu dalam puisi Saut tersebut, terlihat jelas bahwa itu adalah kata-kata dari seseorang kepada seseorang yang lain – yang sederajat, bukan makhluk kepada Tuhan, sebab dua-duanya sama-sama menggunakan huruf kapital. Tidak mungkin Saut menganggap ada dua Tuhan, yang satu sedang berbicara kepada yang lainnya. Dan tidak mungkin pula Tuhan sedang berbicara pada diriNya sendiri, ingin mencium diriNya, dan ada jembutNya segala. Mungkin puisi itu cuma cerita tentang Saut dan Katrin di suatu malam: ketika Katrin hendak mencium Saut, ternyata ada jembut Saut yang nyangkut di gigi Katrin sehabis blow-job.

  43. Mbah Achonk Bastardos

    Elegi sastra untuk sastra

    Hey, mari sini duduk denganku
    kan kubantai lidahmu dengan lidahku
    kan kucoret mukamu dengan tinta merahku
    kan kukeluarkan isi kerangka kepalamu
    kan kuganti dengan isi kerangka kepalaku

    tiap detik kalian berusaha untuk cuci otakku
    dengan deterjen “sastra unTUK sastramu”
    maaf kawan, kalian mencuci otak yang salah,
    otakku sudah kulumuri dengan anti-deterjenmu
    “sastra unTUK sastramu telah habis
    imperialisme budayamu akan kami kikis
    sampai kalian tak mampu lagi TUK meringis.

    (Komunitas Pencri Api)

  44. hahahahaha…seru … bertambah lagi satu ilmu hari ini…. kalau Ku dan Mu ga cuman buat tuhan…. salam kenal semuanya…

  45. anto

    WS, si “Budayawan Muda” yang adiluhung, ahli tafsir, ahli-ahli(an)….

    Good job, bro.
    Anda memang hebat…

    Defense(mu) apik, seapik dgn logika bahasa(mu) yang apik ketimbang sy,

    Sy (yg) mengikuti komentar2mu (pembelaan) di atas, nampak ‘flowchart’nya apik, pastilah sistem yg akan jadi dibuat kelak outputnya mantap abis….

    Mantap ^_
    (ketahuan klo sy bodoh)

    • Agung

      Kasian nian kau bung anto teriak-teriak sendiri,
      ga ada yang denger…
      Dari atas sampe habis ku baca tak ada satu pun perduli sama kau teman…

  46. Ir.Yanto

    enerji bang saut besar sekali, suka estemeje? apa sastrawan sebagai beliau harus seperti elang begitu? saya yakin bang saut punya teman, bahkan banyak teman. Aku pikir si bang termasuk orang yang tekanan darahnya tak terpengaruh ucapan dan kata-kata. datar saja ketika meledak dari kewajaran dan sopan santun. bukankah yang meledak juga sebuah kewajaran? Sebab marah bukan marah, jijik tidak selalu jijik. santun tak berarti tak jorok. aduh. hidup big bang bang saut ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s