Mas Jenderal

Menjelang sebuah operasi militer di markas besar sebuah batalion infantri tampak tentara tentara sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Hari mulai gelap dan para perwira mulai mengkristal, kelihatannya akan ada briefing tak resmi dari Mas Jendral. Hanya ada satu perwira tinggi berpangkat Mayjen yaitu orang nomor satu di batalion itu yang akrab di panggil Mas Jendral. Kemudian ada beberapa orang perwira menengah berpangkat kolonel, sisanya adalah perwira muda dan para prajurit.

Sebenarnya operasi ini adalah operasi rutin dan tidak terlalu menegangkan, terlihat dari gerak gerik para perwira menengah yang cukup santai dan tidak ada kesan genting diwajah mereka. Apalagi melihat pembawaan Mas Jendral orang nomor satu yang tenang dan berwibawa seolah menjadi jaminan keberhasilan operasi rutin kali ini. Namun tidak demikian bagi sebagian perwira muda dan prajurit karena ini adalah operasi pertama mereka.

Mas Jendral tahu betul psikologi perwira muda dan prajurit yang masih hijau ini, mereka perlu support mental untuk menghadapi semua ketegangan yang akan mereka hadapi sebentar lagi. Seorang perwira muda yang baru lulus akademi mendapat tugas untuk melaporkan semua kegiatan akhir dari persiapan operasi. Dengan cekatan perwira muda berpangkat Letnan ini berlari ke arah Mas Jendral yang sedang duduk bersama perwira menengah lainnya membahas startegi operasi kali ini.

Derap kaki Letnan menghentikan pembicaraan dan segera terdengar suara Mas Jendral,

“Bagaimana…?”

Letnan menjawab:

“Lapor… semua persiapan telah rampung, siap menunggu perintah untuk diberangkatkan”

Mas Jendral: “OK, berangkatkan satu persatu seperti biasa”

Letnan: “Siap… laksanakan”

Kemudian Letnan balik badan dan berlari kembali ke tempatnya disusul oleh deru suara mobil truk pengangkut peralatan tempur dan logistik yang sedang diberangkatkan. Dari gazebo markas besar Mas Jendral dan perwira lainnya memperhatikan satu persatu truk tersebut berlalu. Sampai truk terakhir yang mengangkut ransum makanan akan segera berlalu tiba tiba seorang Kolonel berteriak, “STOP…, ini truk ransum kan?”

Letnan menjawab: “Siap… benar ini truk ransum.”

Kolonel:

“OK kalau begitu keluarkan beberapa bungkus makanan buat makan terakhir sebelum berangkat”.

Mas Jendral: “Ah benar… kau tahu saja kalo aku lapar”, celetuk Mas Jendral.

Letnan: “Siap… berapa bungkus Pak?”

Kolonel: “Siapa yang mau?”

Kemudian Kolonel menghitung perwira yang duduk di gazebo itu.

Para perwirapun sibuk memilih menu ransum.

“Aku tongkol saja yah…, Mas tongkol yah? ya yaaa aku tongkol…, aku ayam ajalah”

Kolonel: “OK semua 5 orang, 3 tongkol dan 2 ayam.”

Letnan: “Siap, 5 bungkus.”

Mas Jendral: “Tunggu dulu.. kau sendiri bagaimana”, sergah Mas Jendral sambil menunjuk Letnan.

Letnan: “Siap, saya sudah makan tadi di Mess”

Mas Jendral: “Ohhh… makan di Mess? …baiklah”, sambil tersenyum dan melanjutkan gumamanya, “Makan itu tak harus pada saat lapar Letnan…”

Kolonel: “Ah biar saja Mas dia sedang belajar disiplin”.

Sambil tersenyum simpul Mas Jendral menanggapi “Yah boleh boleh saja tapi makan yang paling nikmat itu adalah makan di medan operasi seperti sekarang ini.”

Sambil menghidangkan 5 bungkus ransum, dalam hati Letnan menyesal menolak ajakan Mas Jendral.

Terlihat para perwira itu sibuk membuka bungkusan ransum dengan nafsu makan yang kian menjadi-jadi. Kolonel bahkan tidak mencuci tangannya dan langsung saja melahap makanan yang memang nikmat karena masih hangat itu. Tapi rupanya Mas Jendral menanti sendok yang sedang diambil oleh ajudannya. Melihat Kolonel sudah menikmati ransum dengan nikmatnya Mas Jendral menjadi gelisah dan tak sabar menunggu sendoknya.

“Sendoknya mana nih…”, teriaknya sambil memegang bungkusan ransum.

Tiba tiba terjadi sesuatu dan terdengar teriakan Mas Jendral yang cukup keras

“WHADUUHHH…..”, teriakan itu menghentak semua orang yang ada di dekat situ. Bahkan ada seorang prajurit yang ditugaskan mengamankan secara reflek mengokang senapan M-16 yang disandangnya. Si Letnan bahkan sempat meraih pistol genggamnya walaupun tak sampai di cabut dari sarungnya setelah sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Rupanya Mas Jendral begitu mendapat sendok dari ajudannya langsung ingin segera menyantap ikan tongkol kesukaanya tapi karena lapar dan grasa-grusu ikan tongkol yang sangat diminatinya itu terjatuh dari bungkus ransum yang ia pegang. Sementara ia sadar bahwa ia tak akan dapat gantinya karena truk pembawa ransum sudah diberangkatkan.

Dengan wajah yang sangat gusar dan penuh harap Mas Jendral berkata “Wadhhuhh.. gimana ini.. gak ada lagi yah???”. Melihat keadaan ini reaksi para perwira yang lainpun beragam, si Mayor segera dengan buru buru melahap tongkolnya supaya tidak diminta oleh Mas Jendral, walaupun tentu saja Mas Jendral tidak akan sampai hati memintanya.

Tapi wajahnya sangat memelas dan ingin diberi solusi sampai akhirnya Kolonel yang cuek itu dengan spontan mengatakan “Tukar punyamu dengan punyaku”.

Mas Jendral: “haahhh..? maksudmu? tapi yang ini sudah jatuh…”

Kolonel: “ga papa, aku memang suka makan yang sudah jatuh..”

Mas Jendral: “ahhh.. kau bisa ajahhh, tak usahlah”.

Disini harga diri Mas Jendral dipertaruhkan, mau ambil gak enak sama perwira yang lain, mau tidak diambil harus memakan tongkol yang sudah jatuh dan kotor kena tanah.

Dalam hati Mas Jendral berkata “Aku kan tentara yang mau perang masa tongkol jatuh ajah gusar, tapi kenapa perwira yang lain tidak ada yang spontan memberi tongkolnya kepadaku? bagaimana kalau nanti di medan perang? wadhuuhh gawat nih…, mereka memang harus di gembleng lagi rupanya…”

Si Letnan yang tadinya menyesal menolak ajakan Mas Jendral sekarang malah mensukurinya karena jika ia menerima tawaran Mas Jendral untuk ikut makan maka dia juga akan terjebak dalam dilema tadi, sebab dia bayangkan jika dia juga memegang bungkusan ransum itu maka dia juga tak akan rela menyerahkan satu satunya tongkol yang siap di santap itu.

Akhirnya Mas Jendral tetap melahap tongkol yang sudah jatuh tadi dan segera memimpin operasi dengan sukses. Hidup Jendral.

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s