April 20, 2008

Anugrah Planet Muzik 2008

Pada saat saya buat tulisan ini dibuat acara Anugrah Planet Muzik (APM) masih berlangsung dan disiarkan langsung oleh GlobalTV dengan Sarah Sechan sebagai Host.

Acara yang konon sudah berlangsung selama 8 tahun itu katanya untuk memberi penghargaan kepada para insan musik dari negara-negara berbahasa Melayu supaya musik Nusantara bisa lebih bermartabat di kancah Global. Negara yang berpartisipasi diantaranya Malaysia, Singapura dan Indonesia.

Tapi kenyataan jauh panggang dari api. Hingga detik ini sementara baru ada 3 kategori yang diumumkan pemenangnya, antara lain:

Artis Wanita Baru Terbaik (Best New Female Artiste):

  1. Farah Asyikin - Malaysia (pemenang)
  2. Gita Gutawa - Indonesia
  3. Mila - Malaysia
  4. Rini Wulandari - Indonesia
  5. Ussy Sulistiawati - Indonesia

Artis Lelaki Baru Terbaik (Best New Male Artiste):

  1. Aliff Aziz - Singapura
  2. Diddy - Malaysia
  3. Faizal Tahir - Malaysia (pemenang)
  4. Ihsan - Indonesia
  5. Syed Azmir - Singapura

Duo / Kumpulan Baru Terbaik (Best New Duo / Group):

  1. D’Cinnamons - Indonesia
  2. Matta - Indonesia
  3. Meet Uncle Hussein (pemenang)
  4. Ran - Indonesia
  5. She - Indonesia
  6. The Titans - Indonesia

Dari ketiga kategori itu pemenangnya semua artis Malaysia. Saya mulai bertanya dalam hati tentang kredibilitas APM ini. Apa saja yang jadi poin penilaiannya?

Dari semua pemenang dalam tiga kategori awal ini tidak ada satupun yang saya kenal baik artisnya maupun lagunya. Mungkin mereka lebih dikenal di Malaysia ketimbang di Indonesia.

Padahal artis Indonesia yang ikut masuk nominasi sudah dikenal baik di Malaysia seperti RAN dan BCL.

Saya mulai berpikir APM ini hanya sebuah strategi untuk bisa mengangkat musik Malaysia atau Singapura agar dapat duduk setingkat dengan artis kita diajang penghargaan.

Sungguhpun demikian ternyata tidak cukup efektif karena dari tahun ke tahun pemenang APM tidak serta merta menjadi sukses menembus pasar Indonesia. Sebaliknya artis Indonesia lebih banyak memiliki daya tembus ke pasar Malaysia.

Berikut saya kutipkan dari sebuah media online Malaysia Utusan.com.my yang mencerminkan dugaan saya:

Sejak kali pertama APM dianjurkan pada tahun 2001 di Singapura, saban tahun acara muzik itu tidak terlepas diheret ke kancah kontroversi.

Bukan saja dengan perjalanan anugerah yang dikatakan semakin lama semakin membosankan serta tiada perubahan, malah pemilihan pemenang dan senarai pencalonan juga ada kalanya dipertikaikan sehingga ada yang mengatakan penganjuran APM sekadar melahirkan jaguh kampung sahaja.

Tahun demi tahun, ramai yang sudah mula meragui kredibiliti APM sehingga timbul pertikaian ke mana arah tuju APM dalam memberi ruang kepada artis dari Malaysia, Singapura dan Indonesia untuk menembusi pasaran muzik negara masing-masing.

Sebagai contoh, isu artis Indonesia yang mudah menerobos pasaran Malaysia sudah lama dipertikaikan dan menjadi bahan perbualan hangat sehingga ada artis tempatan yang berasakan sudah tiba masanya pihak-pihak tertentu membuat sesuatu dalam mengurangkan kebanjiran artis Indonesia ini.

Lalu, menerusi penganjuran APM itu sendiri, ramai yang berpendapat, ia platform yang cukup berpengaruh untuk membawa karya artis Malaysia menembusi pasaran muzik Indonesia.

Namun, entah di mana silapnya, tidak ramai artis kita yang berjaya menembusi negara bekas jajahan Belanda itu terutama sekali mereka yang pernah menggenggam trofi APM yang dikatakan sungguh berprestij itu.

Tidak baguskah muzik kita sehingga tidak mampu untuk diterima masuk ke sana?

Adakah dengan kemenangan mereka di APM tidak membawa sebarang erti kepada pemerhati muzik negara serumpun?

Atau APM lebih kepada pengagihan anugerah kepada artis tiga negara serumpun ini dalam menyedapkan hati mereka yang bertanding?

Nama-nama seperti Vince, Dia Fadila, Nikki, Noryn Aziz, Jaclyn Victor dan Sarah Raisuddin (sekadar menyebut beberapa nama), semuanya pernah merangkul gelaran terbaik di APM tetapi dilihat tiada langsung usaha untuk membawa mereka ini ke peringkat lebih jauh.

Kalau dilihat tulisan Shazryn Mohd. Faizal diatas dugaan saya semakin kuat. Selamat deh buat Malaysia yang sudah berhasil memenangkan artisnya di ajang penghargaannya sendiri. Saya kasihan banyak artis Indonesia senior yang diundang dan duduk di bangku penonton, mereka harus menyaksikan semua acara itu sampai selesai… halah, what a torture.

Sekali selamat buat Malaysia, lumayanlah kalah direalitas tapi menang di ajang penghargaan yang dia buat sendiri, selamat selamat selamat.. :-) lanjutkan mimpimu… APM ajang bergengsi? ah sorry to say, bagi saya artis Indonesia gengsi dong ikut APM, ajang yang tidak kredible…

April 18, 2008

Media Kutip Blog

Headline di DetikInetBeberapa bulan yang lalu saya terlibat diskusi dengan Mas Harry Sufehmi tentang dikutipnya tulisan pada Blog oleh Media mainstream di sebuah postingan saya tentang klarifikasi Pak Yusril Ihza Mahendra.

Saya belum pernah lihat media mainstream di Indonesia memuat berita dengan menggunakan Blog sebagai rujukan

Kemudian dibalas oleh Mas Harry:

Setahu saya, sudah lumayan sering mas. On top of my head - munirtaher.wordpress.com malah pernah satu postingnya diminta untuk di publish di koran Haluan, bukan cuma sekedar jadi rujukan.
.
Alhamdulillah. Mudah-mudahan trend ini terus berkembang dengan baik.

Kemudian diskusi berlanjut:

Koran Haluan itu Medan yah? apakah permintaan itu datang langsung dari redaksi koran Haluan?

Saya pernah dimintai keterangan oleh seorang wartawan tentang sebuah tulisan saya, katanya media tempat dia bekerja akan memuat artikel berkenaan dengan topik yang saya muat pada artikel saya tersebut.

Saya tentu tidak berharap nama saya akan dimuat sebagai narasumber, tapi saya cuma berangan angan kapan itu bisa terjadi.

Kapan media berani mengutip dengan mengatakan “…menurut si anu di Blognya… bla bla”, atau untuk lebih tepatnya kapan content Blog kita bisa sekredibel itu.

Kalau untuk diminta postinganya untuk dimuat utuh di media, mungkin agak beda yah. Bukan itu yang saya maksud.

Dijawab lagi oleh Mas Harry:

Mm.. kalau tidak dianggap kredibel, saya kira tidak akan sampai dimuat seperti ini.
Di halaman ini juga bisa dibaca komentar-komentar yang ada, penulis blog tersebut sudah dijadikan rujukan bahkan oleh warga negara asing.

Iseng coba search sebentar, dapat beberapa kutipan sbb :

Pak Kwarta, guru yang arsitek

“Dalam blog-nya, Mutoha menyatakan…”

Kualitas Bangunan Buruk Penyebab Banyak Korban Gempa

Banyak dari mereka yang telah mengenalnya secara virtual

Mungkin yang terbaru, kemarin ini blog saya baru dikutip + wawancara oleh koran Tempo.

Dengan konvergensi & kolaborasi antara kedua media, maka kita jadi bisa menikmati content yang makin beragam, berkualitas, dan bermanfaat.

Kemudian saya tanggapi:

Mas Sufehmi terimakasih atas informasinya tentang para blogger yang contentnya udah dijadikan rujukan oleh media.

Kelihatannya memang kredibilitas tidak harus dibangun secara offline. Saya gembira mendapati fenomena ini. Saya ingin lebih jauh lagi mengetahui bagaimana kredibilitas content blog dibangun dalam hubungannya dengan reputasi pribadi secara offline.

Republika merujuk Mas Rovicky dengan “Seorang anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia…”

Bagaimana Mas Rovicky dikenal oleh Republika?

Apakah Mas Rovicky sudah dikenal sebagai anggota Ikatan Ahli terlebih dahulu atau dikenal sebagai blogger terlebih dahulu?

Terus untuk Pak Munir Taher (salut saya pada beliau, lahir thn 31, mungkin beliau blogger tertua yah?), melihat usianya, jangan jangan Pak Munir ini sudah dikenal luas (tokoh masyarakat) oleh media sehingga sering dijadikan rujukan?

Untuk Enda Nasution saya rasa mungkin harus diberi pengecualian. Beliau itu kan bapak Blogger jadi orang media kalau menyangkut per Blog an mesti merujuk Enda.

Yang mungkin mendekati fenomena yang saya maksud adalah Mas Mutoha dan Pak Kwarta.

Beliau berdua kelihatannya dirujuk karena tulisan dalam Blog mereka.

Untuk mas Sufehmi sendiri punya reputasi di dunia opensource. Mungkin mirip Pak Budi Rahardjo. Jadi sudah punya reputasi dan blog menjadi media penyelancar saja.

Saya ingin lihat blogger yang membangun reputasinya didunia media dari ngeblog.

Mungkin tidak ada yang murni bisa begitu yah, sebab ketika tulisan dalam blog kita menarik perhatian maka mereka akan mencari tahu tentang reputasi dan mempertanyakan kredibilitas.

Katakanlah Mas Rovicky dikenal dari Blognya, tapi apakah dia bakal dijadikan narasumber kalau bukan ahli geologi?

Yang ingin saya lihat media jangan hapus identitas blogger ketika mengutip seorang blogger. Aneh gak sih keinginan saya?

Jawaban Mas Harry cukup menyemangati:

Yang Munir Taher itu setahu saya orang biasa. Baru “melejit” setelah beliau punya blog. “Success story” yang cukup menarik ) apalagi ketika kita menilik umur beliau.

Untuk mas Sufehmi sendiri punya reputasi di dunia opensource.

Mm.. kalau ini kok rasanya sih menurut saya belum. Bisa mas buktikan sendiri dengan melihat aktivitas saya di komunitas opensource Indonesia - saya kira saya baru mulai aktif sekitar tahun 2006, karena saya baru pindah dari Inggris tahun 2005.

Nah, kebetulan saya doyan menulis berbagai hal seputar opensource di blog saya. Jadilah yunior ini dikira pakar ) padahal sih, masih banyak sekali yang jauh lebih ahli di bidang teknis daripada saya. Honestly.

Saya ingin lihat blogger yang membangun reputasinya didunia media dari ngeblog.

Silahkan bisa baca posting saya yang satu ini :
Blogging to your success.

Moga bisa menjadi masukan yang bermanfaat.

Yang ingin saya lihat media jangan hapus identitas blogger ketika mengutip seorang blogger. Aneh gak sih keinginan saya?

Sama sekali tidak. Cuma, kalau saat ini masih belum, saya pikir tidak apa. Karena kadang masih ada yang menganggap bahwa blog (new media) & media konvensional adalah sesuatu yang saling bertolak belakang, tidak bisa berjalan beriringan.

Idealnya, blog & media konvensional bisa saling melengkapi. Mungkin masih perlu waktu beberapa lama lagi sebelum bisa terwujud di Indonesia.

Sementara itu, ya, mari kita nge blog saja dulu…. )

DetikInet HeadlineDiskusi itu membekas dihati hingga suatu saat saya bertemu beliau di sebuah acara dan reportase saya tentang acara itu ternyata dikutip oleh Media (DetikInet.com),  walaupun bukan media cetak tapi bagi saya cukup mewakili media mainstream.

Saya bersukur doa saya dijawab dengan cara yang sangat tidak saya duga. Mimpi saya diatas terjadi pada diri saya sendiri. Sebuah Blog dikutip dan diberi rujukan.

Senang tapi saya punya kebiasaan mencurigai sebuah kesenangan. Ternyata fenomena diatas sangat spesifik, sebuah acara Blog dan Blogger dikutip media, tentu mengambil referensi dari Blogger seperti saya adalah lumrah.

Kondisi sekarang adalah seseorang yang sudah punya nama secara non-blog bisa bikin headline hanya dengan sebuah sms, sedangkan Blogger seperti saya harus membuat satu tulisan artikel panjang lebar, itupun hanya jadi counter atau pelengkap berita headline tadi.

Rupanya memang kredilitas sebuah tulisan tidak hanya dari isi tapi juga dari identitas si penulis. Wartawan akan berani mengutip tulisan dari penulis yang identitasnya yang jelas.

Pada kutipan tersebut ditulis Blog Wibisono Sastrodiwiryo dan bukan Blog Budayawan Muda. Mereka lebih nyaman mengutip nama orang dari pada nama julukan atau nama Blog.

Mimpi saya kedepan semoga Blog lebih banyak lagi dikutip tidak hanya untuk seputar masalah Blog tapi juga masalah umum yang lain. Duh.. dasar manusia tak pernah puas diberi kenikmatan…

Kalau saya kenang kenang, hampir semua mimpi saya sebenarnya dijawab oleh NYA tapi dengan cara yang misterius. Saya lagi dag dig dug nih, soalnya ada sebuah mimpi yang kayanya gak mungkin terwujud tapi kok perkembangannya kearah sana terlihat pesat.. hehe semoga, Amien.

April 16, 2008

Selamat Buat Dede Yusuf

Dede YusufWalaupun belum menang secara resmi tapi Dede Yusuf Efendi yang ikut pilkada Jabar sebagai cawagub sudah diatas angin dengan menang quick count. Berikut berita dari MetroTV Breaking News:

Hasil perhitungan cepat atau quick count Lembaga Survei Indonesia, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Ahmad Heryawan-Dede Yusuf memenangkan Pilkada Jawa Barat. Pasangan ini memperoleh sekitar 39,46 persen suara. Sedangkan pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim mendapatkan 35,46 persen suara. Sementara pasangan Danny Setyawan-Iwan Ridwan Sulandjana memperoleh 25,08 persen.

Bukannya saya tidak suka pada Agum Gumelar tapi yang tua mohon beri kesempatan pada yang muda. Mas Dede masih muda dan banyak harapan yang digantungkan pada kaum muda sekarang ini. Kami sebagai generasi muda ingin tahu seperti apa sih kalau generasi muda yang belum pernah terkontaminasi birokrasi -korupsi  beri kesempatan memimpin.

Sekali lagi selamat dan semoga berhasil… :-)

April 15, 2008

Ketahanan Negosiasi

Dalam negosiasi kerap kali pelaku mendapat tekanan dari berbagai pihak. Umumnya dari pihak luar tapi tidak jarang juga dari pihak internal sendiri. Berbagai macam kepentingan dapat dimobilisasi dalam bentuk tekanan.

Seorang negosiator yang ulung dapat mengatasi berbagai macam tekanan untuk terwujudnya kemenangan dalam negosiasi. Kadang tak perlu mengalahkan lawan tapi kemenangan bersama (win-win solution) adalah hal yang sulit diraih.

Seorang manajer perusahaan dituntut mampu bernegosiasi dengan menggunakan berbagai macam teknik. Salah satu tekniknya adalah Higher Authority untuk mengunci penawaran. Itulah yang dilakukan oleh Menkominfo ketika bertemu dengan para Blogger tempo hari.

Foto Pak Nuh dari DetikPak Nuh mengatakan bahwa ini instruksi Presiden, dengan demikian menutup ruang diskusi negosiasi. Tekanan dari dalam berupa kecaman atas pemblokiran YouTube dan teori teori yang dikemukakan beberapa Blogger bahwa YouTube tidak akan menyerah.

Pak Nuh tetap pada keputusannya, sebuah ketahanan dalam bernegosiasi. Bukti pada Wikipedia yang tak mau menutup halamannya tak membuatnya bergeming. Ketika ada pertanyaan sampai kapan, Pak Nuh menjawab sampai YouTube  menghapus film itu. Semua pihak pesimis YouTube akan memenuhi permintaan Menkominfo.

Hingga akhirnya Google dalam hal ini pemilik YouTube merespon dengan sebuah tawaran. Depkominfo menerima tawaran itu yang walau tidak memenuhi tuntutan teknis semula namun telah memenuhi tuntunan politis dan psikologis.

Inilah negosiasi, bahkan seorang Presiden sebenarnya bisa menggunakan gambit Higher Authority asalkan tahu caranya. Sebentar lagi saya harus menghadap ke Manajer sebuah divisi perusahaan client tempat saya bekerja sebagai konsultan. Desas desus mengatakan mereka ingin menawar harga, pilihannya tak usah buka ruang diskusi negosiasi atau temui tapi harus menghadapi tekanan. Wish me luck.

April 14, 2008

MetroTV e-Lifestyle: Onno W Purbo

MetroTV e-LifestyleAtas saran Mas Koen yang udah mulai bosen sama berita Mas Roy, saya coba posting selingan. Kali ini acara di Metro TV, e-Lifestyle yang diasuh oleh beliau…

(hah.. dia lagi… ampyunnnn)… sabar sabar, bukan beliau kok yang jadi hostnya kali ini, tapi host baru namanya Ferry (padahal saya lebih suka Meutia Hafidz).

Kali ini topiknya adalah “Pemblokiran Situs di Internet”. Narasumbernya seorang pakar betulan (bukan gadungan), Bpk Onno W. Purbo dan Bpk Son Kuswadi Edmon Makarim (Staff ahli Menkominfo).

Diskusinya tidak terlalu menarik karena yang dibahas hal hal yang umum saja. Bahwa pemblokiran lebih efektif dilevel grassroot dengan Parental Control. Semakin keatas semakin kurang efektifitasnya.

Kang Onno juga mengatakan bahwa pengguna Internet itu paling sebel kalo didikte, kita harus hati hati kalo Play God kata Kang Onno.

Pak Son Edmon kemudian memberi pandangan dari segi hukum, bahwa ada dua unsur yang harus dipenuhi untuk bisa dihukum yaitu unsur “sengaja” dan dengan “hak”.

Kang Onno W PurboContoh yang diberikan tidak terlalu akurat saya rasa, males saya mengquotenya disini karena tidak berminat.

Ada satu kata dari Pak Son Edmon yang saya ingat muncul lagi dari pertemuan antara Blogger dengan Menkominfo kemarin, kata itu adalah Xenophobia. Avianto paling sebel sama kata itu.

Kapan kapan ketemu dialog terbuka antara Pak Son Edmon dan Avianto… hahaha.. kata “dialog terbuka” jadi ngetop sekarang gara gara… tuh kan kepleset ke dia lagi.

Udah ah… ntar mbahas dia lagi Mas Koen dan Bli Anton protes lagi ntar…

eh.. Kang Onno mirip Taufik Savalas yak…? hush… :-)

Pada sesi tanya jawab dengan penelopon, ada yang tanya pada Kang Onno, mungkin gak untuk memfilter dari konten yang bukan teks tapi dari image processing. Kang Onno bilang itu sulit, lebih mudah pakai teks tapi ada kesulitan menentukan konteksnya.

Menurut saya lupakan filter konten image maupun teks, paling feasible pakai sistem blacklist URL yang disubmit oleh user dan diapprove oleh komite, loh kok jadi serius…? ok nyantai lagi.

Ngomong ngomong soal image processing, kita memang krisis pakar, eh bukan kita sih tapi para wartawan, khususnya wartawan infotainment. Untuk itu bisa kita munculkan pakar pakar yang sudah ada untuk dapat dirujuk oleh wartawan kalo butuh narasumber yang kompeten.

Ariya HidayatSelain Kang Onno berikut adalah beberapa pakar yang bisa dirujuk oleh wartawan: Bpk Andi S Budiman dan Bpk Ariya Hidayat. Ada lagi yang lain ? bisa diberi masukan!

April 13, 2008

Eko Juniarto vs Roy Suryo

Isu isu yang muncul dimedia masa sebelum dialog terbuka adalah isu tentang Blogger Negatif (Enda, Priyadi dan Eko), Hacker=Blogger, dll. Headline dimedia antara lain:

Foto dari KompasSebelum dialog berlangsung Roy sempat bertemu dengan Enda Nasution dan kelihatannya terjadi semacam saling pengertian. Dari pertemuan itu tercium jurus Roy selanjutnya yaitu PERS salah mengutip pernyataannya. Kemudian Enda tak disebut sebut lagi sebagai Blogger Negatif.

Kemudian dialog berlangsung dan seperti dugaan sebelumnya Roy mengatakan semua itu adalah pelintiran PERS alias tidak benar dia mengatakan demikian.

Kemudian pemberitaan dimedia masa adalah:”Roy Suryo: Hak Saya untuk Tidak Ngeblog“.

Saya sebagai pribadi ingin sekali memaafkan yang telah lalu. Baiklah kalau memang itu dilimpahkan pada kesalahan PERS (mungkin para wartawan gak bisa terima ini), tapi saya ingin berprasangka baik pada Mas Roy untuk menerima itu sebagai alasan untuk memulai babak baru.

Saya hargai kebesaran hati Mas Roy dengan mengatakan tak usah kutip saya, kutip saja Blog. Sayapun akan beranggapan itu bukan suatu arogansi tapi memang sebuah niat yang tulus.

Waktu dialog berlangsung ada kutipan dari postingan belumnya:

Kemudian Roy mengatakan semua itu berawal dari dua orang Blogger yang tidak ia ketahui sebabnya selalu saja menyerang dirinya secara pribadi, dua orang Blogger tersebut adalah Priyadi dan Eko Juniarto.

Kemudian bertanya pada penonton apakah Priyadi dan Eko ada diantara penonton. Memang sangat disayangkan mereka tidak bisa hadir karena harinya tidak mendukung, mereka harus bekerja hari jumat.

Setelah dialog usai kemudian muncul headline di DetikInet.com: “Roy Suryo esalkan Hanya Sedikit Blogger Vokal Datang Berdialog“.

Baiklah Mas Roy, itu semua saya artikan sebagai niat yang tulus untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas. Kelihatannya Mas Eko juga memiliki niat yang sama melalui komentarnya pada postingan saya terdahulu. Mas Eko mengatakan:

kalau memang berniat mengajak saya diskusi, silakan beliau buat janji, nanti saya sesuaikan dengan jadwal saya.

Saya anggap ini sebuah langkah maju. Kita tahu akar permasalahan ada disini. Setelah Mas Enda bertemu Mas Roy, mas Enda tak lagi disebut sebagai Blogger Negatif. Sekarang diharapkan jika memang pertemuan antara Mas Roy dan Mas Eko bisa berlangsung maka banyak sekali perubahan persepsi dari sisi Mas Roy bisa diubah.

Mas Roy bilang tidak tahu alasannya kenapa Mas Eko selalu menyerang pribadi Mas Roy. Mas Eko punya argumentasi sendiri bahwa apa yang dikomentari oleh Mas Eko bukan hal hal pribadi tapi hal hal yang bersifat teknis dari pernyataan Mas Roy ke media yang dianggap tidak akurat.

Sekarang, daripada nanti dikemudian hari Mas Roy kumat lagi menyerang Blogger dan bikin heboh maka sebaiknya Mas Roy selesaikan dulu masalah Mas Roy dengan Mas Eko.

Undangan dari Mas Eko dan penyesalan dari Mas Roy tak bisa bertemu Mas Eko didialog kemarin bisa ditindak lanjuti dengan dialog antara Roy Suryo dan Eko Juniarto.

Kali ini tak usah dibesar-besarkan, nanti orang bosan baca berita tentang Mas Roy. Kali ini sifatnya lebih intern walaupun isu isu yang dibahas nanti mungkin saja isu yang sudah melegenda itu.

Seperti kata Mas Eko, silahkan Mas Roy atur waktunya, tempat kami sediakan. Tetap dengan semangat membangun IT lebih maju. Bagaimana Mas Roy? Saya tak mau lihat dikemudian hari Mas Roy bikin blunder lagi soal Blog dan Blogger ini Mas, capek…

April 11, 2008

Roy Suryo: Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia

Dialog terbuka antara Blogger dan Roy Suryo akhirnya digelar di ruang teater Budi Luhur dengan kapasitas 250 orang penuh. Kebanyakan penonton rupanya dari kalangan mahasiswa BL sendiri. Tidak banyak wajah wajah familiar yang bisa saya kenali.

Salah satunya adalah Wazeen dan Caplang yang pernah komen di Blog saya. Semula saya pikir Caplang itu nama minyak angin tapi ternyata memang kupingnya caplang… hehe.. hush.

AbimanyuRiyogartaAbimanyu Panca Kusuma seorang praktisi IT dan juga Blogger bertindak sebagai moderator. Riyogarta sebagai pembicara Blogger sejak awal memberitahu bahwa dia hanya mewakili pribadi dirinya dan tidak mengatasnamakan komunitas Blogger. Setuju.

Sebelum acara dibuka panitia mempersilakan Rektor Universitas Budi Luhur, Prof Ronny Nitibaskara, untuk memberi sambutan yang panjang dan membosankan. Maklum Pak Rektor ini Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, jadi sambutannya panjang lebar seperti kuliah saja.

Beliau juga menyampaikan pesan salah satu mahasiswa bimbinganya yang katanya musuhnya Roy Suryo dan sedang menyelesaikan program doktornya untuk bidang Cyber Crime. Roy bilang kenal betul siapa Petrus dan mereka katanya berteman sekaligus bermusuhan (kok bisa yah?)

Setelah Pak Rektor selesai memberi sambutan, kemudian moderator Abimanyu memulai acara dengan perkenalan yang bertele-tele. Memang ada humor sedikit disana sini yang membuat penonton tertawa tapi sesunguhnya kami sudah tidak sabar menunggu acara dialog dimulai.

Roy Suryo dipersilahkan oleh moderator untuk memulai dan Roy menceritakan kenapa ia bersedia hadir, tak usah saya ceritakan detailnya karena rada retorik, terkecuali cerita tentang peran Mas Wicaksono sebagai penghubung diawal awal antara dirinya dan Riyogarta.

Dia juga maunya Mas Wicak ini yang jadi moderator tapi rupanya Ndoro Kakung ini jam 9 pagi belum bangun katanya. Roy bilang Mas Wicak itu guyon, tapi kalo orang yang gak ngerti guyonnya maka akan dibilang sombong, “kok untuk acara penting gini jam 9 belum bangun”, ungkap Roy memberi contoh ekspresi orang yang gak ngerti guyonnya Mas Wicak. Mungkin Roy mau protes sama Mas Wicak tapi dengan cara seperti itu.

Kemudian dialog dimulai dengan penjelasan dari Riyogarta tentang topik dialog semula bukanlah “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia”, judul topik tersebut adalah pilihan dari Roy Suryo. Kemudian Riyo melanjutkan dengan membuka slide situs detikINET yang memuat:

Siapa ‘mereka‘ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008).

Riyo kemudian mempertanyakan apa masuk dari pernyataan tersebut, siapa yang dimaksud dengan “mereka”, kata Riyo.

Dimulai dengan cengar cengir yang khas, Roy kemudian menjawab bahwa sebuah media sering kali membutuhkan headline yang Eye Catching. Sehingga apa yang dia lakukan itu semata mata adalah sebuah teknik komunikasi. Itu intinya, kemudian ia melanjutkan dengan penjelasan yang panjang lebar dan berputar putar tentang hal hal yang menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan pertanyaanya.

Demikian seterusnya pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan dijawab dengan teknik yang sama, berputar putar yang sering kali diakhir putaran tidak menjawab pertanyaannya. Saya jadi geretan. Diperparah lagi oleh moderator yang menurut saya terlalu banyak mengambil waktu untuk menjelaskan sejarah media di Internet. Mohon maaf Mas Abim tapi ini suatu perasaan subyektif saja, siapa tahu yang lain malah seneng :-)

Ada satu poin penting yang disampaikan oleh Abimanyu disini yaitu ketika paparannya sampai pada Blog dimana Abimanyu mempertanyakan seberapa besar jumlah Blogger Negatif tersebut. Tapi itu bukan untuk dijawab Roy. Abim melanjutkan kembali paparannya hingga selesai.

Diskusi berlanjut lagi. Secara umum argumentasi dasar Roy adalah pers yang salah dalam mengutip pernyataanya. Salah satu contohnya pernyataan tentang Blogger tukang tipu. Penjelasan Roy sebenarnya panjang lebar tentang Blogger dan tidak semuanya jelek, cuma diakhir pernyataan dia memang bilang ada Blogger yang jadi tukang tipu. Nah lantas media mengutip hanya bagian akhirnya saja, sehingga mengundang reaksi dari para Blogger.

Ketika disanggah oleh Riyo bahwa wartawan sekelas Kompas dan Tempo kecil kemungkinannya untuk salah mengutip. Roy mengatakan bahwa ia orang yang apa adanya, jika A dia katakan A, jika B dia katakan B, dan dia bertanggung jawab dengan semua pernyataanya itu.

Riyo menyanggah lagi dengan mengatakan, aneh kalau salah kutip terjadi secara massal, biasanya kalau cuma satu media salah dan yang lain benar ada kemungkinan salah kutip yang satu itu.

Seperti biasa Roy melanjutkan dengan panjang lebar tentang sulitnya membuat pernyataan didepan wartawan agar mudah dikutip dan jelas. Dia tak bisa berbuat apa apa kalau memang wartawannya salah mengutip, contohnya dia diwawancara tentang teknik Flagging yang oleh wartawan keliru di kutip menjadi tenik Flaring. Kalau sudah begitu salah siapa katanya?

Dalam penjelasannya yang panjang lebar tersebut kemudian Roy sampai pada pembahasan mengenai keberadaan Blogger Negatif. Roy mengatakan adalah benar Blog itu sebuah media yang sangat bermanfaat tapi juga bisa berbahaya bila penulis Blognya tidak bertanggung jawab dengan tulisannya yang menjelek jelekan orang lain.

Kemudian Riyo mempertanyakan apakah Roy alergi dengan yang namanya Anonymous. Roy tersenyum manis lantas bilang itu kan menurut Mas Riyo saja. Seperti biasa Roy tak menjawab pertanyaan itu.

Sebelum sesi tanya jawab Riyo mempersembahkan hadiah berupa sebuah account blog dengan domain roy.suryo.info. Riyo kemudian membujuk Roy untuk mau menggunakan account blog itu untuk nulis bagaimana menjadi Blogger Positif atau paling tidak membuat klarifikasi atas semua pelintiran media atas dirinya.

Roy yang sejak tadi sudah memberi wejangan falsafah tentang menghargai pilihan orang lain dalam memilih media, kini berdiplomasi dengan mengatakan bahwa bagaimana dia memutuskan, itu soal pilihan tanpa mengatakan ya atau tidak.

Riyo kemudian menyergah dengan mengatakan Roy tidak usah banyak alasan, Roy telah memberi label Blogger Negatif sekarang tolong beri kami contoh bagaimana menjadi Blogger yang Positif. Diskusi menjadi memanas yang ujung ujungnya dilerai oleh moderator.

Kemudian sesi dilanjutkan dengan pertanyaan dari penonton. Pertanyaan demi pertanyaan dari anak Binus yang teleconference dan dari anak Budi Luhur. Kemudian ada satu pertanyaan yang membuat Roy mulai bernada suara agak tinggi.

BannerPertanyaan dari seorang Blogger bernama Syam yang mempertanyakan sikap Roy yang seolah olah kini mengkambing hitamkan PERS. Disaat yang sama Riyo membuka slide yang berisi postingan Blognya Ndoro Kakung yang ada Banner dengan tulisan “Jangan Kutip Roy Suryo Daripada Dibilang Salah Kutip“.

Roy mengatakan no problem buat dia wartawan gak mau ngutip dia. Roy malah bilang kalau memang begitu para wartawan sebaiknya mengutip Blog. Saya gak usah dikutip gak papa katanya. “Biarlah masyarakat yang mengakreditasi Blog Blog itu mana yang layak dikutip dan mana yang tidak”, lanjut Roy.

Menanggapi pertanyaan JaFF seorang wartawan yang menyampaikan keluhan Mas Koencoro di pertemuan Depkominfo kemarin bahwa label Blog itu negatif telah merusak citra Blogger sehingga ketika Mas Koen masuk kede desa, dipesantren pesantren mereka menolak materi Blogging karena menurut Roy Suryo, Blog itu adalah hal yang negatif.

Roy kemudian menjawab bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita memperkenalkan IT kepada para penduduk di desa desa, seperti biasa dia kemudian cerita panjang lebar tentang pengalamannya masuk pesantren, gereja dan wihara memperkenalkan IT.

***

Pertanyaan demi pertanyaan oleh penonton, jawaban demi jawaban oleh Roy, celetukan demi celetukan oleh Riyo dan paparan tentang Blog adalah sebuah pohon dari Abimanyu membuat saya mulai bosan dan merasa dialog ini tidak mengraha ke arahyang diinginkan semula.

Waktu mulai mendekati setengah dua belas, mau jumatan tapi Roy bilang mau sampai Adzan jug agak papa katanay dia mau ladeni terus dan senang bisa bertemu seperti sekarang ini. Dia juga cerita bahwa pernah bac di Blog ada orang yang rela potong kepala kalau Roy mau hadir dicara ini. Dengan bangga Roy bilang buktinya sekarang saya hadir.

Dialog Terbuka

Kemudian acara selesai, Riyo dam Roy bersalaman, penonton berfoto foto ria, wartawan mewawancarai. Roy keluar ruangan dengan senyum lebar diwajah, Riyo terlihat agak murung walaupun banyak yang memberi selamat atas terselenggaranya acara itu. Kata kunci yang sempat dilontarkan Roy adalah marilah sama sama kita mencerdaskan masyarakat.

Saya ingin sekali mengajukan pertanyaan sendiri tapi tidak ada kesempatan. Beruntung setelah sholat jumat saya diajak Riyo untuk makan siang di Rektorat. Ternyata Roy Suryo juga ikut makan disana sebelum berangkat ke KPPU.

Karena makan satu meja saya mengambil kesempatan itu untuk mengajukan pertanyaan pertanyaan yang tadi ingin saya sampaikan. Tapi memang momentnya tidak tepat karena kami semua sedang menyantap makan siang.

Tapi kelihatannya Roy mau meladeni setiap ada pertanyaan yang diajukan kepada dirinya oleh siapa saja yang hadir sambil makan. Disela sela itulah saya coba mengklarifikasi beberapa persoalan, antara lain:

Apakah Mas Roy akan menggunakan account dari Riyo untuk menjadikan Blog sebagai media klarifikasi pada media yang suka memelintir atau salah kutip?

Roy menjawab bahwa itu adalah pilihan, dia telah menyediakan media lain yaitu email dan sms. Roy bilang bahwa ia senantiasa membalas sms dari berbagai pihak yang ingin klarifikasi.

Apakah Mas Roy tidak merasa repot harus menjawab berkali kali suatu permasalahan yang sama dengan cara itu, sebab jika Mas Roy punya Blog maka itu cukup dilakukan sekali saja.

Kembali lagi ini soal pilihan, kemudian Roy menyantap nasinya dengan lahap.

Pada saat digedung tadi Roy sempat cerita tentang Blogger Negatif sebagai reaksi dari postingan di Blog yang mencerca dirinya sedemikian hingga para komentator ikut mencerca dengan kata kata kasar. Kemudian Roy mengatakan semua itu berawal dari dua orang Blogger yang tidak ia ketahui sebabnya selalu saja menyerang dirinya secara pribadi, dua orang Blogger tersebut adalah Priyadi dan Eko Juniarto.

Tapi saya tidak ingin frontal dan ingin memulai dari soal cerita Mas Koen yang mengalami kesulitan memasyarakatkan Blog karena ada stigma negatif yang disebarluaskan oleh Roy. Roy menjawab singkat bahwa itu aneh.

Kemudian saya ajukan pertanyaan:

Apakah Mas Roy menganggap cerita dari Mas Koen sebagai suatu yang tidak akurat, artinya Mas Roy mempertanyakan akurasi dari cerita Mas Koen itu?

Roy lalu menelan nasi yang sedang dikunyahnya lalu menerangkanb bahwa tidak demikian maksudnya dan menjawab yang persis sama seperti digedung tadi yang mengatakan bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita menjelaskan soal IT. Saya pikir permasalahan yang dialami oleh Mas Koen agak beda, yaitu soal stigma negatif Blogger dan bukan soal IT. Lantas saya kejar dengan pertanyaan,

…tapi kan citra Blog adalah negatif itu datang dari Mas Roy…

Belum selesai saya tanya, sudah dijawab, tapi itu kan pelintiran media. Kemudian Roy menjelaskan tentang kalau media memang tidak mau kutip dia yah gak papa, silahkan kutip yang lain. Lantas saya jawab:

Wah itu kok kesannya ingin menunjukan power bahwa bagaimanapun media nanti pasti akan balik kepada Mas Roy lagi…

Roy cuma tersenyum lalu bilang, ” itu kan menurut Mas aja toh?”.

Saya ingin sekali masuk ke pembahasan Priyadi dan Eko tapi ada wartawan yang kebetulan sedang ikut makan di ruang itu dan mengajuakn pertanyaan. Roy sambil makan menjawab pertanyaan wartawan itu.

Ada hal menarik dari Roy yang dikemukakan oleh Prof Ronny yang guru besar Kriminologi itu sebelum meninggalkan ruangan. Beliau mengatakan suatu fenomena dengan bahasa akademis, “Labeling Theori: Stigmanisasi”, (bener gak sih nulisnya?)

Teori itu punya premis bahwa seseorang yang terstigma dimata masyarakat akan cenderung menjadi begitu seterusnya. Jadi kadung sudah kepalang basah maka itu akan diteruskan. Saya gak tahu soal itu tapi ini menarik.

Semua kekisruhan ini berawal dari perseteruan antara Roy dengan (Eko dan Priyadi). Karena Eko dan Priyadi adalah Blogger dan dalam komunitas Blogger ada pengikut maka tercipta sebuah komunitas yang sepaham. Kesaksian Roy yang bilang bahwa banyak Blogger lantas ikut ikutan mencerca dirinya tanpa tahu bahwa apa yang dibacanya itu belum tentu benar, karena perlu klarifikasi.

Karena itulah Roy menuduh Priyadi dan Eko sebagai biang Blogger Negatif, karena menyebarkan paham yang mencerca dirinya. Kalau demikian maka persoalannya mulai bisa diisolasi. Akarnya adalah Blogger yang dianggap mencerca dirinya yang lantas diikuti oleh yang lain yang tidak minta klarifikasi tentang kebenarannya kepada dirinya.

Roy lantas mengangkat isu Blogger Negatif ini ke permukaan, tak sadar akan dampaknya secara luas. Jadi ini persoalan dirinya dengan beberapa orang Blogger yang tidak sepaham dengan dirinya. Dengan memilih judul topik “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia“, dapat dengan mudah dibaca.

Judul itu ingin mengesankan ada apa dengan Blogger Indonesia sehinga perlu dibuat menjadi Positif. Saya rasa Roy Suryo harus memaparkan data yang lebih masuk akal untuk dapat meyakinkan publik bahwa Blogger Indonesia sudah sedemikian negatifnya sehingga memang harus dibuat Positif. Memang ada Blog yang tidak berkualitas dan hanya omong kosong tapi apa perlu dibuat dikotomi Positif Negatif.

Terus terang cara cara seperti ini adalah metode politik yang dalam sejarahnya terbukti dipakai untuk melakukan pembersihan lawan politik. Dulu ada cap PKI untuk memberantas orang orang yang tidak bersesuaian dengan Orde Baru, orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan PKI bisa saja diberi cap PKI untuk dapat punya alasan menyingkirkannya.

Mungkin Roy tidak sadar telah melakukannya, karena itu saya meminta kepada Mas Roy untuk tidak lagi melakukan dikotomi Positif Negatif. Juga buat teman teman PERS untuk tidak mengutip istilah istilah yang membuat dikotomi itu menjadi termasyarakatkan.

Saya berpandangan akar masalahnya adalah perseteruan antara Roy vs Priyadi dan Eko. Karena itu dialog yang baru saja terjadi itu seperti tidak efektif untuk waktu yang lama. Nanti dikemudian hari akan ada friksi lagi, karena akar permasalahnya tidak dituntaskan.

Karena akar permasalahan adalah Roy vs Priyadi dan Eko maka saya mengusulkan untuk diadakan dialog yang diantara mereka. Riyogarta telah melakukan perannya semaksimal mungkin yang bisa ia lakukan. Tapi karena Riyo bukan bagian dari akar masalah maka sasaran yang bisa dicapai masih dipermukaan.

Klarifikasi tentang Blogger=Hacker, Blogger Negatif, Pelintiran Media dll, itu semua hanyalah akibat, bukan sebab. Mungkin dengan dialog hari ini bisa sedikit diredam tapi lain waktu akan muncul lagi masalah yang lain. Kalau bisa terselenggara dialog diantara mereka (Roy vs Priyadi dan Eko) maka saya rasa banyak masalah yang bisa terselesaikan.

Saya yakin Roy bersedia membuka diri untuk berdialog dengan Priyadi dan Eko. Saya yakin itu setelah bertemu dengannya. Saya juga yakin banyak pihak yang ingin melihat itu terjadi dan bersedia membantu.

Setelah menyelesaikan makan siangnya dengan lahap Roy Suryo lantas berangkat dengan senyum lebar diwajahnya. Tinggal saya, Riyo dan Mas Abimanyu yang melanjutkan obrolan seputar e-Commerce.

April 8, 2008

Dibalik Sikap Pak Nuh Tentang YouTube

YouTubePada pertemuan dengan Menkominfo kemarin terungkap beberapa hal yang penting menyangkut pemblokiran situs YouTube.

Pak Nuh memberi tahu bahwa perintah blokir itu datang langsung dari Presiden dan ketika ditanya oleh Mas Wicaksono apakah ada kemungkinan dibuka kembali, Pak Nuh menjawab tidak, sampai YouTube menghapus video Fitna itu.

Kenapa pemerintah sampai sebegitunya?

Beberapa dari teman teman yang hadir seperti Priyadi dan Jim Geovedi sudah memberikan masukannya bahwa secara teknis pemblokiran ini tidak efektif.

Kemudian Pak Nuh menanggapi bahwa apakah karena tidak efektif lantas kita biarkan. Saya menangkap kesan dari jawaban itu bahwa Pak Nuh enggan membahas aspek teknis dari pemblokiran itu, berarti ada aspek lain yang lebih menjadi pertimbangan.

Kalau dikatakan pemerintah ingin melindungi rakyat dari rasa tersinggung karena menonton film itu saya rasa tidak tepat karena prosentase pengguna Internet di Indonesia masih kecil dibanding rakyat keseluruhan yang 220 juta lebih.

Jadi kami pengguna Internet dianggap minoritas sehingga layak dikorbankan?

Tunggu dulu, diblokirnya situs YouTube memiliki implikasi sosial. Orang jadi penasaran dan mengcopy film tersebut dalam media lain seperti CD atau file yang bisa ditransfer lewat HP.

Kalau sudah begini masalahnya jadi lain. Disebuah milis malah saya mendapati ada email yang bertanya, “Sudah nonton Fitna?”. Perilaku ini memang jadi kecenderungan. Apa apa yang dilarang maka akan diburu. Orang jadi penasaran.

Apakah pemerintah aware dengan ini? Melihat perintah pemblokiran datang langsung dari Presiden maka patut dapat diduga bahwa pemblokiran ini karena alasan alasan politis. Film Fitna menghina agama dan sudah mendapat kecaman dari pemerintah Belanda sendiri dan juga dari SekJen PBB.

Mayoritas rakyat Indonesia adalah umat Islam. Pemerintah tentu dituntut untuk merepresentasikan sikap sebagai pemerintah dari negara dengan pendudukan beragama Islam terbesar didunia. Apa kata dunia jika Indonesia tidak bersikap protes terhadap pemuatan Film tersebut oleh YouTube.

Kira kira demikianlah pertimbangan politik luar negeri Presiden SBY ketika membuat keputusan pemblokiran YouTube. Soal yang lain jadi nomor dua. Apakah itu tentang bahaya transfer film Fitna ke media lain yang justru akan menyebar dengan cara yang lebih luas, atau apakah itu tentang pengguna Internet yang butuh akses ke YouTube akan terganggu, atau apakah itu terjadi kesalahan implementasi perintah blokir sehingga yang terblokir bukan hanya YouTube tapi juga situs penting lain seperti Multiply dan Rapidshare. Semua jadi nomor dua.

Adalah aspek politik luar negeri yang menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan ini. Mengenai aspek lain jadi nomor dua. Dari diskusi kemarin terlihat bahwa Pak Nuh tidak dapat membuka diskusi lebih dalam tentang pemblokiran ini, seolah olah itu harga mati.

Bisa dipahami karena beliau hanya seorang menteri yang harus take order dari Bos besar, Presiden SBY. Pemerintahan SBY dengan ini lebih mementingkan citra pemerintahannya ketimbang memperhatikan kebutuhan dan rakyatnya dari segala golongan.

Saya yakin banyak dari pengguna Internet Indonesia yang hanya sedikit prosentasenya itu yang tidak berminat menonton film jelek yang tak berkualitas itu. Hanya sedikit yang menonton atas dasar penasaran saja.

Setidaknya itu yang diungkapkan oleh Riyogarta pada saat diberi kesempatan oleh Pak Nuh untuk berbicara. Jadi sekarang kunci bukan di Pak Nuh tapi di Presiden SBY. Rasanya kok mustahil Presiden SBY mau mengundang kami ke istana untuk dengar pendapat seperti yang dilakukan oleh Pak Nuh. Citra lebih penting, apalagi mau 2009, begitu mungkin pertimbangannya.

Kita disini tinggal bengong. Bagi saya yang tidak terlalu butuh akses ke YouTube dan Multiply mungkin tidak terlalu merasakannya, apalagi saya pakai Speedy yang berani tidak manut perintah Menkominfo. Tapi bagi teman teman lain yang butuh tentu akan sangat menderita.

Bersabarlah teman teman, badai pasti berlalu. Cuma kapan…? Melihat kenyataan ini saya merenung betapa lemahnya kedaulatan TIK negara kita ini. Tak ada alternatif lain yang bisa diberi oleh anak bangsa. Mohammad DAMT dimilis nyeletuk yang menurut saya berisi poin penting.

MDAMT bilang kini saatnya mengembangkan konten lokal lebih giat lagi, memang ada layartancap.com tapi apakah server cukup kuat? Mari kita coba. Kita tak bisa begini terus, didepan sana akan banyak sekali problem yang tak bisa dipecahkan kalau kita tidak berdaulat.

Pemerintah akan hampir pasti lebih mementingkan aspek politik ketimbang yang lainnya. Bosen mikirin pemerintah mari kita perkuat TIK Indonesia sehingga kita bisa menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.

April 8, 2008

Pertemuan di Depkominfo

Baru pulang dari pertemuan tadi, capek…
Cuma mau kasih laporan singkat:

Poin poin penting yang dibahas:

  • Blogger adalah bagian dari keluarga Kominfo dan ICT Indonesia
  • Surat Pak Nuh untuk pemblokiran kepada ISP hanya ditujukan untuk YouTube dan bukan untuk Multiply, Rapidshare atau yang lainnya.
  • Aparat yang mau menindak harus ada persetujuan dan laporan kepada pengadilan negeri setempat.
  • Protes keras dari komunitas Multuply Indonesia akan ditindak lanjuti.
  • Roy Suryo mau dijawil Pak Menteri karena menjelek jelekan Blogger.
  • Depkominfo meminta masukan dari komunitas Hacker & Blogger terutama masalah teknis filtering.

Selebihnya secara detail tunggu postingan selanjutnya… capek dah malem mau tidur dulu.

Terakhir jangan lupa besok pagi jam 6 nonton JakTV, ada liputannya, kebetulan sempet diwawancara tau deh ditayangin apa engga, makanya besok bangun pagi.

Huaahhh.. ngantuk… zzzzzzzz

April 7, 2008

Pentingnya Pengendalian Situs Porno

Diskusi dalam sebuah milis menjadi sengit sejak thread tentang pemblokiran situs porno oleh pemerintah diposting. Jika itu milis dari komunitas yang memiliki perspektif yang sama, maka bisa dilihat arah diskusinya searah.

Tapi yang seru adalah bila milis tersebut memiliki anggota dengan perspektif yang berbeda. Diskusi jadi kacau balau. Seseorang dengan latar belakang teknis sedang asik membahas bagaimana metode sensor tapi disanggah oleh yang lain dengan mengatakn tidak setuju sensor karena urusan moral bukan urusan pemerintah.

Ada yang mengkhawatirkan pelaksanaan UUITE akan menyimpang jauh dan dijadikan alasan aparat untuk bertindak represif pada rakyat. Kebanyakan pendapat yang menentang rata rata emosional. Diantara sekian banyak pendapat yang menentang tersebut ada juga yang memiliki argumentasi yang berdasar.

Tapi diskusi yang keroyokan semacam itu sering kali tidak menghasilkan kesimpulan apa apa. Karena masing masing tidak membahas aspek yang sama. Orang sedang membahas teknologi sensor direcoki oleh yang tidak setuju penyensoran. Tentu itu beda aspek.

Idealnya untuk diskusi tentang teknologi sensor diikuti oleh orang orang yang setuju dengan ide penyensoran tersebut, untuk orang yang tidak setuju untuk apa membahas teknologinya.

Tentu setuju atau tidak setuju tidaklah hitam putih, ada yang setuju tapi diikuti oleh kondisi kondisi. Misalnya setuju dengan ide sensor tapi dengan syarat pelaksanaannya harus transparan dan bisa dikontrol oleh masyarakat.

Tampilnya Menkominfo di berbagai media untuk menjelaskan duduk perkara UUITE yang tidak sekedar mengurusi pornografi rupanya belum cukup menenangkan keadaan.

Salah satu media dimana Menkominfo tampil sebagai narasumber adalah acara TV Perspektif Wimar. Dalam acara itu selain Menkominfo, Pak Budi Rahardjo pakar network security dari ITB juga sempat berdialog lewat telephone.

Dalam dialog di acara tersebut boleh dikatakan tidak ada yang sepaham dengan Menkominfo Pak Nuh. Bung Wimar, Wulan Guritno dan Pak Budi berada pada pihak yang berseberangan dengan Pak Nuh.

Memang terjadi dialog tapi tidak tuntas walaupun ada beberapa poin dari Bung Wimar yang telah dijawab oleh Pak Nuh. Menarik ulasan Pak Budi sebagai orang yang menolak sensor dengan argumentasi yang memiliki dasar.

Banyak pandangan tentang sensor terutama yang tidak setuju. Diantara pandangan pandangan tersebut saya jelas tidak sependapat dengan orang yang berpandangan bahwa pornografi bukan suatu masalah.

Ini bukan soal moralitas tapi soal dampak sosial yang mungkin timbul akibat pornografi. Saya yakin orang orang yang berminat pada pornografi bukanlah orang yang tidak bermoral.

Pornografi perlu dikendalikan untuk meredam dampak negatif yang merugikan masyarakat akibat kegandrungan akan pornografi.

Sebelumnya saya ingin mengungkapkan fakta bahwa pornografi memiliki dua sisi yakni sisi positif dan sekaligus sisi negatif. Positif bila terkendali dan negatif bila tidak terkendali dan menjadi eksesif, bahkan bisa menjadi obsesif. Disinilah timbul masalah itu.

Jika pornografi diakses oleh kalangan terbatas dengan cara yang terkendali maka kecenderungan untuk menjadi eksesif bisa diminimalkan. Pornografi memiliki kencederungan untuk menjadi eksesif lebih besar dari sex.

Aktifitas menikmati sex dan aktifitas menikmati pornografi memiliki karakteristik psikologi yang berbeda. Kegiatan Sex bersama pasangan memiliki pola yang lebih bisa memberikan resolusi (kepuasan sexual) sedangkan pornografi cenderung bertahan pada tingkat stimulasi dan jarang sekali berlanjut hingga resolusi.

Itulah sebab kecenderungan untuk menjadi addict pada pornografi lebih besar ketimbang addict pada Sex. Faktor lain adalah pornografi mudah didapat dimana saja. Orang tak perlu pergi kekamar mandi atau check in ke hotel untuk melihat porn. Cukup dimeja kerja dikantor tanpa diketahui oleh rekan kerja disebelahnya. Tentu Sex tak bisa dilakukan dimeja kerja tanpa ketahuan rekan disebelah meja.

Jika seseorang telah addict maka akan menjadi eksesif. Pada tingkat eksesif ini sudah banyak dampak merugikan yang bisa ditimbulkan. Mulai dari pemborosan bandwidth kantor, menurunnya produktifitas karyawan (sebagian besar karyawan dipecat karena mengakses situs porno pada jam kerja di kantor), hingga pada kecenderungan ketahap selanjutnya yaitu obsesif.

Sebagai gambaran seberapa besar perilaku eksesif ini pada masyarakat penikmat pornografi bisa dilihat dari kegiatan bisnis pornografi yang saya ambil dari situsnya Romi Satrio Wahono.

Total pendapatan pertahun industri pornografi di dunia adalah sekitar 97 miliar USD, ini setara dengan total pendapatan perusahaan besar di Amerika yaitu: Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo!, Apple, Netflix and EarthLink.

Saya lanjutkan. Jika perilaku eksesif telah lebih maju lagi menjadi obsesif maka yang terjadi adalah kehancuran. Seperti seorang pecandu narkoba yang sakau. Jika tak mendapatkannya akan berusaha dengan segala cara, bahkan tindakan kriminal. Jika sudah sampai pada tahap ini maka kemerosotan moral tak perlu diperdebatkan lagi.

Berdasarkan argumentasi diatas saya berbeda pendapat dengan Bung Wimar yang mengatakan bahwa pornografi tidak usah dibatasi. Sayang beliau tidak sempat mengemukakan argumentasinya karena keterbatasan waktu. Karena pornografi yang bebas membawa masalah maka harus diredam dan dikendalikan agar tidak menjadi eksesif apalagi obsesif.

***

Bagi orang orang yang tidak sependapat dengan argumentasi diatas mungkin tidak perlu melanjutkan membaca karena selanjutnya saya akan membahas bagaimana cara mengendalikan situs porno, tentu tidak bermanfaat bagi orang yang tidak setuju.

Foto dari Blognya Pak BudiBagi yang setuju tentu juga memiliki beragam perspektif. Salah satunya adalah Pak Budi Rahardjo. Pak Budi setuju bahwa pornografi itu bermasalah tapi tidak setuju dengan metode sensor yang dipakai untuk mengendalikannya.

Untuk itu saya ingin membuka dialog imaginer dengan orang orang yang menentang sensor dan sebagai model saya akan gunakan pandangan dari Pak Budi sebagai lawan dialog.

Pak Budi mengatakan ketimbang melakukan sensor maka lebih baik ditempuh cara lain yaitu dengan meningkatkan konten positif, berikut kutipannya dari acara Perspektif Wimar:

“Kalau kita mau membuat Internet lebih sehat harusnya kita lebih banyak membuat konten yang positif sehingga konten yang negatif ini akan menjadi minoritas justru”.

Saya memiliki pandangan yang berbeda dengan Pak Budi. Apakah benar konten positif bisa membuat pornografi menjadi minoritas? Belum lagi kemampuan pembuat konten anak negeri yang masih seperti sekarang ini tentu tak bisa banyak berharap. Kalau kita sudah mampu membuat konten yang baik, apakah tidak terjadi justru akan membuat mereka membangun konten yang negatif karena tidak dilarang?

Saya ingin ambil contoh negara yang telah mampu membuat begitu banyak konten dengan baik, Amerika Serikat. Apakah situs pornografi di Amerika lantas menjadi minoritas? Begitu banyak konten positif di Amerika tapi situs porno tak urung menjadi minoritas disana. Amerika justru menjadi penyumbang situs porno terbesar di dunia dengan prosentase 89% situs porno disumbangkan oleh Amerika.

Lihat saja penghasilan bisnis pornografi yang mengalahkan gabungan penghasilan perusahaan-perusahaan besar. Berdasarkan ini saya tidak sependapat dengan Pak Budi bahwa konten positif itu akan dengan sendirinya membuat situs pornografi menjadi minoritas.

Kemudian tentang himbauan Pak Budi pada Pak Nuh untuk lebih fokus pada pengembangan kreatifitas IT ketimbang sensor situs porno. Saya berpendapat justru dilengkapinya UUITE dengan pasal kesusilaan adalah untuk menjaga kreatifitas tetap pada jalur yang positif.

Bayangkan jika anak anak kita di daerah telah pandai membuat konten maka minat mereka pada pornografi akan menjadi bahan eksperiman yang sangat menyenangkan. Dengan karakteristik psikologi pornografi seperti yang saya paparkan diatas bukan tidak mungkin mereka lantas akan menjadi eksesif dan selanjutnya.

Tentu saya tak perlu menjelaskan pada Pak Budi apa sesungguhnya yang ingin dicapai melalui disahkannya UUITE.

Kemudian teori lain yang dikemukakan oleh Pak Budi adalah metode untuk menangkal pornografi. Beliau berpendapat metode yang dipilih untuk menangkal pornografi adalah sbb, quote dari Blognya:

Yang pertama adalah edukasi dan pembinaan moral. Ini harus dilakukan di semua lini; rumah, sekolah, dan masyarakat. Tujuannya adalah adanya tekanan moral bahwa melihat situs porno itu adalah salah, memalukan, tidak bermoral, dan sejenisnya.

Saya ingin menanggapi dengan mengambil analogi sebuah sistem, untuk lebih mudah dipahami berhubung beliau pakar security system :-). Langkah yang diambil oleh Pak Budi merupakan langkah proteksi pada individu, walaupun itu dilakukan disemua lini mulai dari rumah tangga hinga sekolah tapi tetap saja sasarannya adalah individu dan bukan pada sistem.

Jika ini berhasil maka sempurnalah proteksi itu. Tak ada yang bisa menembus. Tapi to be realistic, dalam sebuah sistem entah itu masyarakat atau sistem jaringan komputer kenyataannya tak ada sistem yang benar benar bisa secure hanya dengan memproteksi individu.

Kondisi ideal tak pernah bisa ditemui, apalagi tahu sendiri kondisi masyarakat kita sekarang. Saya akan ambil contoh sebuah sistem jaringan komputer.

Saya masih ingat kuliah Pak Budi tentang security disebuah seminar. Waktu itu Pak Budi bilang sistem pengamanan yang baik itu yang bagaimana sih? Kata Pak Budi melanjutkan bahwa sistem yang baik adalah yang acceptable.

Bisa saja kita kunci komputer kita di gudang tanpa jatringan tapi itu sangat tidak nyaman dan masih bisa dibobol maling kalau satpamnya lengah. Kemudian kalau kita sambungkan PC kita ke jaringan juga akan rentan serangan dari luar.

Jadi sistem pengamanan yang baik adalah yang acceptable. Kita perlu tersambung ke jaringan untuk bekerja tapi juga perlu aman, karena itu langkah langkah pengamanan harus disesuaikan dengan resiko.

Kalau kita pakai teori Pak Budi tentang menangkal pornografi dengan analogi menangkal serangan pada jaringan maka bisa saya analogikan langkah edukasi dan pembinaan moral adalah langkah membina pengguna jaringan untuk berhati dalam melakukan perkejaan didalam jaringan.

Kemudian melengkapi semua PC yang tersambung ke jaringan dengan antivirus terbaru yang selalu update. Tentu Pak Budi paham betul bahwa itu saja ternyata tidak cukup, perlu Firewall yang menjaga dipintu gerbang masuk sebelum diakses oleh pengguna jaringan.

Kalau hanya mengandalkan pengaman pada PC individual maka itu akan sangat mudah ditembus, karena kondisi dilapangan tidak selalu ideal. Ada PC yang sudah pakai Vista tapi ada juga yang masih pakai XP bahkan masih ada yang Win 98 mungkin.

Dari sisi pengguna juga demikian ada yang aware dengan security ada yang ceroboh. Karena itu perlu ada sistem pengaman yang lain yang tidak individual tapi sistemik seperti dalam jaringan perlu Firewall.

Dalam masyarakat pengguna Internet, sensor adalah sistem pengamanan yang bukan individu. Dengan hanya mengandalkan sistem pengaman individu celah untuk masuk masih sangat besar. Berikut ada kutipan dari Mas Romi:

Perlu diingat bahwa produsen situs pornografi di dunia sangat mahir menerapkan berbagai teknik internet marketing, Search Engine Optimization (SEO) dan berbagai taktik untuk menyebarkan produk yang mereka buat.

Salah satu yang membuat pornografi susah dicegah adalah akibat jebakan akses tidak sengaja. Produsen pornografi di dunia bisa menggunakan berbagai taktik di bawah untuk mengantarkan pengguna Internet ke situs pornografi:

  • Kesalahan tulis keyword: shareware vs. sharware
  • Keyword biasa: toys, boys, pets, etc
  • Kedekatan nama domain: whitehouse.com, coffeebeansupply.com, teenagershideout.com, clothingcatalog.com, watersports.com
  • Penggunaan nama brand: Disney, Nintendo, Barbie, Levis, etc
  • Email spam: 30% spam adalah pornografi

Dengan demikian pada masyarakat dengan kondisi kesadaran proteksi diri yang masih sangat beragam itu jelas dibutuhkan sistem pengamanan lain yang lebih diatas tingkat, semacam Firewall pada sistem jaringan komputer.

Pak Budi juga mengusulkan sistem proxy untuk anak anak yang bebas pornografi. Ide yang bagus namun tetap itu masih pada lapis network yang belum berperan secara global.

Semakin kebawah lapisan semakin sulit untuk dimonitor. Lapis lapis yang dikemukakan oleh Pak Nuh adalah pertama / paling bawah lapis individu. Cara Pak Budi dengan membina moral adalah aplikasi pada lapis ini.

Lapis kedua adalah lapis network. Usul Pak Budi tentang Proxy bebas porn adalah aplikasi pada lapis network.

Bagaimana jika warnet warnet yang sering dikunjungi anak anak lantas emoh memasang proxy itu, dan kecenderungan ini akan besar karena berkaitan dengan income warnet.

Lapis paling tinggi adalah lapis ISP sebagai pintu gerbang koneksi internet. Sensor situs porno oleh pemerintah adalah aplikasi pada lapis ini.

Kenapa Pak Budi tidak setuju pada pengamanan lapis terkahir ini saya tidak tahu. Tapi yang jelas Pak Budi pernah bilang bahwa salah satu kebanggan beliau dengan Internet Indonesia adalah karena tidak pernah disensor sejak jaman Pak Harto.

Sama Pak, saya juga bangga dengan hal itu. Saya masih ingat dulu tahun 98, kala reformasi bergulir. Belum banyak yang bisa mengakses Internet. Jangankan anak SMP, mahasiswa saja jarang yang punya akses ini.

Saya beruntung waktu itu masih mahasiswa tapi karena saya sudah bekerja di sebuah ISP maka saya bisa akses Internet leluasa. Waktu itu saya ingat membina sebuah forum yang namanya “Forum Civitas Akademika, Anti Status Quo, Pro Reformasi”… hehehe jadi nostalgia.

Dalam situs itu ada link ke situs lain diantaranya ke situsnya Priyadi dan Pak Budi Rahardjo sendiri. Disitulah saya pertama kali dengar nama Pak Budi dari atasan saya Pak Bob Hardian, mungkin Pak Budi kenal karena masih sama sama di IDNIC?

Romantisme kebanggaan itu tak akan pernah hilang. Tapi waktu itu peran ICT di masyarakat masih minim sekali. Sekarang sudah sangat berbeda. Dulu anak anak SMP tak kenal warnet, sekarang hampir ditiap sudut jalan ada warnet.

Bahkan anak SD sudah mulai kenal Google. Perkembangan inilah yang saya rasa harus disikapi tanpa kehilangan kebanggaan itu. Kalau alasan Pak Budi bahwa usaha sensor itu tak akan efektif maka itu tentu harus dibuktikan.

Atau kalau khawatir praktik sensor itu akan menyimpang dari tujuan semula maka mari sama sama kita awasi. Beri usulan pada Depkominfo tentang metode sensor yang kita anggap sesuai.

Sampai disini saya berharap para pembaca bisa memahami cara saya memandang sesnor ini. Pada prisipnya setuju cuma tinggal bagaimana metode sensor yang memenuhi semau aspek. Tidak berpotensi menjadi represif seperti yang ditakutkan banyak kalangan.

Sebagai rangkuman, dalam kenyataan masyakarat seperti sekarang ini sensor menurut saya adalah suatu teknik proteksi dilapis paling tinggi yang mampu membatasi akses situs porno dengan sangat sigfinikan, ketimbang proteksi pada level yang lebih rendah.

Tentu semua usaha disemua lapis adalah positif tapi lapis paling atas tetap dibutuhkan guna menyongsong booming pemanfaatan ICT sebagai akibat disahkannya UUITE.

Semoga dialog imaginer diatas bisa dimengerti dengan hati yang tenang. Mohon maaf Pak Budi kalau ada perbedaan tapi saya tetap hormat. Bagaimana usulan saya tentang metode sensor? Insyallah saya akan hadir di diskusi dengan Pak Nuh di Depkominfo dan memberi usulan. Tunggu postingan saya selanjutnya.

Next Page »