Desember 14, 2009

Film Balibo(hong)

Balibo

Berbekal doorprize #KopdarJakarta dari Wetiga saya dan Hanny Purba menuju Salihara untuk menonton film Balibo yang secara resmi dilarang oleh LSF itu.

Film ini fokus pada kisah 5 orang wartawan Australia, Selandia Baru dan Inggris. Mereka adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham dan Toney Steward yang hilang pada saat berusaha mendapatkan berita dari tengah medan perang.

Dalam film diceritakan dialog antara Roger East -wartawan senior Australia yang datang ke Balibo untuk mencari 5 wartawan yang hilang itu- dan Ramos Horta tokoh Fretilin yang mengkoordinir keberangkatan 5 wartawan naas itu ke Balibo.

Horta dalam dialog itu mengungkapkan kekesalannya pada pemerintah Australia dan Amerika yang mendukung Indonesia menyerbu Timor Leste atas alasan politik international mempersempit ruang gerak komunisme. Pemerintah Amerika bahkan mensponsori penyerbuan itu dengan fasilitas peralatan militer.

Kesan yang paling kuat yang muncul ketika saya menonton film ini adalah usaha untuk mendiskreditkan Indonesia dengan fokus pada kisah terbunuhnya 5 orang wartawan asing itu. Padahal apa yang terjadi di Timor Leste kurun waktu itu 74-75 jauh lebih besar dari tewasnya 5 orang wartawan itu saja.

Diakhir film itu menampilkan tulisan korban rakyat Timor akibat invasi Indonesia mencapai 100 ribu jiwa. Sementara kesaksian lain dari korban Fretilin mengatakan kekejaman Fretilin juga mencapai jumlah yang sama, lebih dari 100 ribu jiwa.

Bekas Wali Kota Dili 1986-1999 itu menjelaskan, Fretilin (kelompok separatis Timor Timur yang salah satu pentolannya adalah Xanana Gusmao) telah membunuh sekitar 100 ribu warga Timor Timur pada 1970-an. Namun, pada medio Januari, Presiden Timor Leste Xanana Gusmao menyerahkan laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (CAVR) kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa tanpa meminta masukan dari warga pro-integrasi. Laporan itu berisi pelanggaran HAM TNI pada 1970-an.

Beberapa keganjilan yang saya rasakan pada logika film ini adalah pada inti cerita yakni pembunuhan kelima wartawan itu. Digambarkan ketika pasukan Indonesia memasuki Balibo para wartawan itu bersembunyi disebuah rumah. Yakin mereka tak disakiti salah satu dari mereka nekat keluar rumah yang sudah dikepung itu.

Tampak pimpinan pasukan yang berbusana lebih seperti turis ketimbang tentara itu tanpa tanya ini itu langsung menembak dari jarak sangat dekat dengan pistolnya hingga wartawan yang tanpa senjata dan tangan keatas itu mati tersungkur dengan kepala bolong. Benarkah demikian? atau rekaan itu terlalu jauh?

Menurut kesaksian Gatot Purwanto, salah seorang anggota TNI yang berada disana: pimpinan pasukan adalah Kapten Yunus Yosfiah dan mereka pada saat tidak mengantisipasi adanya wartawan asing di lapangan sehingga pimpinan pasukan belum tahu apa yang akan dilakukan terhadap kelima orang wartawan asing tersebut.

Saya masih agak di bawah (bukit), dekat dengan Pak Yunus (Mayjen Purn. Yunus Yosfiah, saat itu kapten, komandan tim). Kami dilapori ada orang asing tertangkap. Pak Yunus memerintahkan saya untuk melapor ke Pak Dading (Letjen Purn. Dading Kalbuadi, saat itu komandan), yang ada di perbatasan. Kalau tak salah, Pak Dading lalu mengontak Jakarta, menanyakan orang-orang ini mau diapakan.

Menurut kesaksian Gatot belum sempat instruksi dari Jakarta sampai pada mereka situasi sudah berubah dan memaksa mereka untuk melepaskan tembakan.

Situasi serba salah. Kalau ditangkap, nanti ketahuan yang menangkap tentara Indonesia. Kalau mau dieksekusi, juga bagaimana. Pada saat itulah, ketika tentara kita sudah santai, sudah duduk-duduk, mendadak ada tembakan lagi dari arah dekat situ. Mungkin ada yang mau menyelamatkan mereka (lima wartawan itu). Anggota kita langsung memberondong ke sana… pada mati semua itu wartawan.

Keterangan Gatot lebih masuk akal ketimbang penggambaran dalam film tersebut. Mereka adalah tentara yang hanya menembak sesuai perintah kecuali dalam tekanan untuk membela diri sementara penggambaran dalam film tersebut, tentara yang mengeksekusi tidak dalam keadaan tertekan. Jadi jelas pesan yang ingin disampaikan film itu adalah eksekusi yang sesuai perintah.

Kuatnya usaha meyakinkan penonton bahwa pasukan TNI sudah bertindak sesuai dengan perintah adalah dialog antara Roger East dan Ramos Horta ditengah hutan sehabis mereka ditembaki dari atas helikopter tempur TNI. Horta mengatakan kepada East darimana pasukan TNI tahu keberadan mereka berdua ditengah hutan kalau bukan dari pemerintah Australia yang memberikan informasi intelijen kepada pemerintah Indonesia.

Kesan ini penting karena akan menjadi faktor pendukung argumentasi justifikasi tindakan eksekusi dilapangan oleh TNI. Bahkan sejak tahun 2001 telah diungkap data intelijen dalam buku karya Jill Jollife yang berjudul Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five, (kemudian diadaptasi menjadi naskah film Balibo), halaman 312:

Benny Moerdani berpesan kepada Dading Kalbuadi “We can’t have any witness“. Dading menjawab “Don’t worry!

Sedemikian hebatnya data intelijen Australia sehingga hampir semua hal sudah ketahui termasuk keberadaan lima wartawan asing plus seorang wartawan senior Roger East di Balibo. Kesimpulannya semua sesuai perintah dan yang harus menanggung kesalahan adalah mantan petinggi TNI, bahkan Polisi Federal Australia pada Agustus 2009 berencana menyeret mereka ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang.

Dengan mengikuti logika mereka saja tidakkah terasa ada yang ganjil?

Apalagi kalau dilihat dari perspektif yang lain:

Pertama tama pemerintah Australia mendukung invasi tersebut. Artinya bisa jadi pemerintah Australia “berbaik hati” pada pemerintah Indonesia dengan memberikan informasi intelijen. Pemerintah Amerika Serikat saja telah “berbaik hati” memberikan peralatan tempur pada TNI.

Mereka seiya sekata. I’ll take my part, you take your part. Jika demikian ketika ada wartawan Australia tertangkap maka sangat mungkin keputusan pemerintah pusat Indonesia atas wartawan Australia yang tertangkap hidup hidup tersebut adalah mengembalikannya kepada pemerintah Australia setelah segala peralatan medianya dilucuti. Segala kesaksian mereka tanpa bukti rekaman akan tidak kuat.

Setelah dikembalikan, pemerintah Australia tentu akan menjaga “keselamatan” operasi “bersama” tersebut dengan tidak membiarkan para wartawan itu tampil di publik. Singkatnya mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Jadi untuk apa dibunuh? Apalagi dibunuh dengan ilustrasi pada adegan film Balibo tersebut. Tapi kondisi dilapangan sangat berbeda, komunikasi pada saat itu tidak seperti sekarang. Sebelum instruksi datang dari Jakarta tembakan dari arah persembunyian para wartawan itu telah memancing tembakan balasan dari TNI yang menyebabkan mereka tewas semua oleh peluru TNI.

Memang pada saat setelah itu ditemukan sepucuk senjata di ruang persembunyian para wartawan itu. Tapi itu senjata milik siapa? Saya ragu itu miliki para wartawan yang mencoba membela diri. Sementara perkiraan tembakan itu adalah usaha dari Fretilin untuk menyelamatkan para wartawan yang terkepung dari TNI. Tepatkah demikian?

Tidakkah Fretilin yang tahu persis aspek pertempuran itu melakukannya justru untuk memancing TNI membalas tembakan yang sudah diperhitungkan akan menewaskan para wartawan tersebut. Tembakan itu arahnya dari persembunyian wartawan, tak mungkin rasanya para wartawan itu menembak dengan hanya menggunakan sepucuk senjata yang ditemukan itu sementara mereka tahu sudah dikepung TNI.

Diawal film ketika Ramos Horta membujuk Roger East untuk mau membantunya menjadi kepala kantor berita resmi Timor Leste, Horta tak menceritakan bahwa dirinyalah yang menempatkan kelima wartawan asing tersebut di Balibo, saya kira ini adalah suatu tanda upaya untuk menutupi perannya pada insiden tersebut kepada Roger hingga ia bersedia bergabung.

Horta dan kru film Balibo (Vivanews.com)

Sementara ketika pemutaran perdana film Balibo ini di Australia, Ramos Horta yang mendapat anugerah hadiah nobel perdamaian itu justru memberi komentar yang sama sekali tidak mencerminkan semangat pembawa perdamaian dengan melontarkan pernyataan yang sangat provokatif.

Mereka tidak hanya dieksekusi. Dari yang saya ingat saat itu, salah satunya disiksa secara sangat sangat brutal.

Padahal begitu perihnya pengorbanan di kedua belah pihak hingga ada kesepakatan politik antara kedua negara Indonesia dan Timor Leste untuk menutup luka lama ini dan menatap kedepan bersama.

Semua itu tak ada artinya bagi Horta. Dia sangat terlatih mempermainkan sentimen pihak pihak yang berseteru. Bahkan bisa jadi film Balibo ini, film yang menjadikan Horta sebagai tokoh sentral dan seolah olah tak ada tokoh lain yang berperan dalam kemerdekaan Timor Leste, bahkan Xanana Gusmao pun tak dikisahkan dalam film ini. Mirip propaganda film G30S/PKI.

Desember 9, 2009

Koin Keadilan

Perkembangan kasus Prita Mulyasari memicu solidaritas masyarakat secara spontan. Solidaritas dalam bentuk pengumpulan uang receh yang disimbolisasikan dengan “koin keadilan”. Posko (pos koin) penampungan koin muncul dimana mana hampir di seluruh Indonesia. Ganti rugi yang ditetapkan oleh pengadilan yang mencapai jumlah 204 juta rupiah menjadi target konkret pengumpulan, sementara target wacana adalah simbolisasi perlawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan yang menindas.

Adanya dua target ini sering kali memicu perbedaan cara pandang, terutama dari orang orang yang memiliki pola pikir yang berbeda. Perbedaan ini sering dikumandangkan di social media seperti Twitter, blog ataupun Facebook. Semula ini hal yang tidak terlalu mengganggu, dinamika yang sangat lumrah di arena social media.

meeting di wetiga

Namun rupanya pengaruh social media ini sudah lebih kuat dari apa yang saya kira. Cara pandang yang berbeda ini mengalami penguatan disana sini hingga ke media mainstream. Malam itu (7 Des) di Wetiga kami sedang meeting bersama beberapa blogger lain diantaranya Ndoro Kakung, Enda Nasution, Paman Tyo, Ndaru dan hadir juga praktisi hukum Ari Juliano. Pada kesempatan meeting itu hadir beberapa wartawan dari berbagai media mainstream.

Kebetulan saya sempat diwawancara wartawan RCTI untuk Seputar Indonesia (Dady Suryadi) perihal layanan website Paypal yang diprovide oleh CyberGL untuk berpartisipasi dalam memenuhi target konkret ganti rugi 204 juta.

wartawan RCTI

Semula saya mempersiapkan diri untuk berbagai pertanyaan yang sifatnya teknis tentang payment gateway Paypal.com yang kami gunakan. Tapi agak sedikit diluar dugaan pertanyaan juga menyinggung soal perbedaan cara pandang diatas. Sejak dari mewawancara Ndoro Kakung banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul seputar: kenapa Prita didukung habis habisan? kenapa koin? harus koinkah? kalau melebihi target bagaimana? bagaimana kalau tuntutan batal? Pertanyaan pertanyaan tersebut persis seperti apa yang beredar di social media.

Kalau kita bisa memandang hal ini dari dua persepsi tentang target diatas maka mungkin tidak perlu ada perdebatan seperti ini. Bagaimana saya melihat gerakan Koin Keadilan ini bisa saya tuliskan disini dan semoga bisa menjawab beberapa pertanyaan yang krusial.

Pertama tama tentang perbedaan antara target wacana dan target konkret. Ketika kita ingin mewujudkan sesuatu yang konkret maka biasanya dimulai dari wacana. Ketika kita sudah terlatih untuk mewujudkan wacana menjadi hal yang konkret maka wacana seperti tidak terasa, seperti orang bernafas, kita tak sadar bahwa kita sudah bernafas setiap saat yang membuat kita hidup dan mampu berbuat hal hal yang konkret.

Tapi ketika berwacana saja kita “tersengal-sengal” maka hal konkret apa yang bisa kita wujudkan? Untuk melancarkan berwacana dalam kondisi yang “tersengal-sengal” sering kali dibutuhkan “alat” bantu berupa “simbol”. Jaman dahulu wacana tentang keadilan disimbolkan dengan “Ratu Adil”.

Ratu dalam bahasa Jawa artinya Raja. Tempat tinggal Raja disebut ke-Ratu-an (keraton). Simbol “Ratu Adil” artinya penguasa yang adil. Tapi apakah penguasa yang adil tersebut konkretnya berupa Raja? ternyata tidak. Inilah bedanya. Simbol digunakan untuk berwacana sedangkan konkretnya tidak secara harfiah diterjemahkan sesuai textnya.

Pemilihan simbol diambil dari pola pikir masyarakatnya. Jaman dahulu simbol kekuasaan adalah Raja. Maka munculah konsep “Ratu Adil”. Konsep ini bukan untuk melanggengkan sistem kerajaan, tapi justru ingin keluar dari segala macam bentuk ketidakadilan dengan meminjam pola pikir masyarakatnya. Jadi simbol bisa muncul sedemikian rupa hingga bisa mengecoh akal sehat dari orang yang memiliki pola pikir yang berbeda.

Bila terjadi “miskonsepsi” bisa berakibat pada wacana yang hanya tinggal wacana dan tidak kunjung menjadi hal yang konkret. Kita tentu tak ingin terjebak pada situasi seperti ini. Banyak hal yang merefleksikan hal ini sekarang. Seperti misalnya hal tentang nasionalisme, tentang pelestarian budaya, tentang solidaritas dan berbagai hal yang terasa lebih banyak wacananya ketimbang hal konkretnya.

Mengkonkretkan wacana memang bukan hal yang mudah. Butuh latihan dan konsistensi dalam wacana itu sendiri. Bahkan pada tingkat negara ada legislatif yang berwacana (membuat undang undang) dan ada eksekutif yang mengkonkretkannya (menjalankan undang undang) dimana dalam prosesnya perlu pengawasan dan evaluasi.

Jika proses “pengkonkretisasian” itu dirasa tidak berhasil maka rakyat akan mencari jalannya sendiri. Contoh ekstrem dalam sejarah adalah reformasi sebagai wacana tahun 1998 dimana rakyat bersatu “mengkonkretkan” keadilan politik di negeri ini, walaupun wacana reformasi belum tuntas hingga kini.

Apa yang terjadi pada kasus Prita adalah gejala yang sama. Koin muncul sebagai simbol perlawanan rakyat kecil pada kekuasaan yang menindas. Tapi secara konkret tentu tidak harus harfiah berupa “koin”. Ada tujuan konkret dimana angkanya adalah 204 juta rupiah. Sedangkan tujuan wacana adalah perlawanan atas ketidakadilan dimana simbol keberhasilannya adalah pembebasan Prita dari segala tuntutan hukum.

Kalau kita bisa melihat dari dua sisi ini maka tak perlu bingung ketika misalnya terjadi penarikan tuntutan oleh RS OMNI atas Prita. Sebab apa yang terjadi adalah keberhasilan wacana perlawanan terhadap ketidakadilan dimana koin sebagai simbol telah berfungsi dengan sangat baik sebagai “alat” dari wacana perlawanan tersebut. Simbol koin berhasil menggerakan hati masyarakat dari berbagai lapisan untuk berbuat konkret mengumpulkan rupiah demi mendukung wacana perlawanan atas ketidakadilan.

Sedangkan hasil konkret bernilai ratusan jutaan rupiah (dalam bentuk koin maupun uang kertas) tidak akan kehilangan makna karena wacananya adalah melawan ketidakadilan dan bukan membantu Prita secara pribadi tapi membantu Prita yang dalam hal ini telah menjelma menjadi simbol.

Jadi bila ada yang mempertanyakan kenapa Prita didukung habis habisan karena Prita telah menjelma menjadi simbol. Lalu kenapa Prita bisa muncul sebagai simbol dan kenapa nenek Minah atau korban Lapindo kurang berhasil berfungsi sebagai simbol?

Simbol perlu diartikulasikan. Jaman perang kemerdekaan pidato para orator menjadi media artikulasi simbol simbol perlawanan. Kini kita berada pada era informasi. Lebih tepatnya era social media. Dimana media mainstream tidak bisa lagi seperti dulu menjadi satu satunya rujukan informasi bagi publik.

Era social media mengubah sama sekali bagaimana kita mendapatkan informasi secara lebih cepat, lebih transparan dan lebih akurat. Dengan karakteristik seperti itu tidak heran informasi pertama kepada publik tentang bom Kuningan ditemukan di Twitter. Bahkan CNN kalah cepat dengan Twitter dalam memberitakan konflik pemilu di Iran.

Berbagai wacana perlawanan atas ketidakadilan ditemukan di Facebook seperti misalnya dukungan kepada Bibit-Chandra yang menembus angka satu juta pendukung. Media mainstream memantau social media untuk tidak jarang dikutip dan dijadikan berita pada medianya.

Ketika kasus Prita, terjadi kehebohan di social media melebihi kehebohan kasus manapun sebelumnya yang disusul dengan pemberitaan di media mainstream. Kedua media ini saling menguatkan, ketika media mainstream memberitakan perkembangan kasusnya maka di social media ramai membahasnya. Sebaliknya media mainstream juga memantau perkembangan pendukung Prita di social media.

Kenapa kasus Prita lebih menarik perhatian komunitas online adalah karena kasusnya berkenaan dengan aktifitas yang dilakukan oleh komunitas online sehari hari, yaitu email. Komunitas online merasa terancam dengan apa yang terjadi pada Prita bisa terjadi pula pada mereka. Inilah sebab pembahasan Prita di social media lebih intens dibanding kasus yang lain. Prita menjadi simbol perlawanan mereka.

Lalu apa yang akan terjadi pada kasus kasus ketidakadilan yang lain? Akankah kasus lain mendapat perhatian yang sama seperti kasus Prita? Keberhasilan target wacana akan menjadi preseden baik dan melatih bagaimana mengkonkretkan rasa solidaritas.

Hasil konkret rupiah yang berhasil terkumpul dari berbagai lapisan dan berbagai bentuk (koin, uang kertas, check dan paypal) telah mencapai 500 juta lebih. Ini akan menguatkan rasa percaya diri masyarakat bahwa kita bisa mengubah wacana menjadi hal yang konkret. Walau beberapa sumbangan dalam jumlah besar baru muncul setelah gerakan koin terlihat lebih konkret.

Skeptisisme yang pernah muncul sebelumnya tentang berbagai gerakan berbasis solidaritas atau nasionalisme seperti gerakan #IndonesiaUnite akan terkikis dan semakin mengarah pada kemampuan melakukan gerakan yang menghasilkan sesuatu yang lebih konkret. Semua gerakan itu akan menjadi ajang latihan konkretisasi wacana yang merupakan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat yang lebih berdaya adalah jawaban dari apa yang dituntut pada ketidakadilan ditengah masyarakat kita dan bangsa kita. Maju terus Indonesia.

Agustus 21, 2009

Klaim Tari Pendet: Inferioritas Malaysia

Beberapa postingan dalam blog saya boleh dibilang “abadi”. Artinya tidak pernah surut pembaca (dilihat dari trafic stat) dan komentar, selalu saja ada yang memberikan komentar. Diantaranya adalah Fenomena Kangen Band dan Prisa The Cute Devil.

Selain kategori musik, yang juga termasuk “abadi” adalah postingan tentang Malaysia. Biasanya postingan tentang Malaysia kembali ramai dicari dan dikomentari pada saat situasi hubungan antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas. Sekarang ini terjadi lagi.

Media gencar memberitakan perihal tari Pendet Bali yang diklaim oleh Malaysia. Seperti biasa berita ini mengundang reaksi yang keras dari masyarakat Indonesia. Saya sendiri juga merasa geram untuk yang kesekian kalinya setelah Angklung, Reog Ponorogo, Wayang Kulit dan banyak lagi yang lain yang tidak sempat saya tulis di blog.

Wayang dan Keris sudah menjadi World Heritage yang diakui dari Indonesia tapi toh tetap saja tidak menyurutkan aksi Malaysia. Bahkan sekarang Tari Pedet yang sudah sangat terkenal berasal dari Bali itu pun digasaknya. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan geleng geleng kepala.

Sebelum saya ikut komentar keras seperti pada postingan saya sebelumnya tentang Malaysia, saya ingin lebih jernih kali ini. Melihat tingkah pemerintah Malaysia yang bebal menurut saya sudah tidak masuk akal. Apakah mereka terlalu bodoh mengklaim tari Pendet yang sudah terkenal dari Bali sebagai budaya mereka? Pasti ada penjelasanya.

Radhar Panda Dahana

Sebagai pembanding saya ingin tahu bagaimana reaksi sementara sebagian budayawan tentang hal ini maka saya coba kutip Republika, Rabu (19/8), yang memuat pendapat dari Radhar Panca Dahana tentang klaim Malaysia atas tari Pendet Bali.

Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. “Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli,” ujarnya.

Untuk dapat menjadi jernih marilah kita kesampingkan terlebih dahulu kemarahan terhadap Malaysia. Mas Radhar memposisikan kita sebagai bangsa yang terluka dan malu. Saya tidak ingin berada dalam posisi itu dalam melihat masalah ini. Saya ingin berada diluar untuk dapat melihat dari perspektif yang berbeda, bukan dari perspektif orang yang marah. Apakah benar ini sebuah kecolongan? Apakah kita perlu merasa terluka dan malu?

“Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya,” katanya.

Mencoba memahami kutipan dari Republika itu: dikatakan Malaysia pintar menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan sementara kita tidak, kita lebih perduli pada olahraga dan program lainnya. Lantas kita yang seharusnya lebih menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil.

Apakah itu yang disebut dengan menghargai kebudayaan? Jika kita sudah menggunakan kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil maka itu sudah disebut menghargai kebudayaan? Bukankah selama ini itu yang sudah dan sedang terjadi di Bali, bahkan perkembangannya sudah mengarah ke arah komersialisasi kebudayaan yang mulai eksesif dan dikhawatirkan oleh banyak pihak akan merubah Bali sama sekali. Sebut saja pembangunan properti untuk keperluan pariwisata yang kurang mengindahkan aspek harmonisasi landscape kebudayaan setempat.

Kalau yang dimaksud dengan menghargai kebudayaan adalah menggunakannya untuk kepentingan komersil terutama pariwisata seperti yang dilakukan Malaysia maka menurut hemat saya, kita bukannya tidak menghargai, bahkan kita sudah “terlalu” menghargai.

Menurut saya menghargai sesuatu adalah pertama tama dengan pengakuan, penggunaan manfaatnya dan pelestariannya. Pengakuan akan menjadi identitas dan bila diterjemahkan dalam bahasa teknis adalah dengan pendataan dan peresmian yang minim dilakukan pada bangsa kita. Penggunaan manfaat seperti pariwisata untuk manfaat ekonomi, kesenian untuk manfaat hiburan, teknologi untuk manfaat kesejahteraan dan bahkan kebudayaan bisa digunakan untuk manfaat politik.

Tapi seluruh penggunaan manfaat itu tidak boleh merusak pelestarian kebudayaan itu sendiri. Jadi kebudayaan juga harus dilestarikan, dijaga orisinalitasnya, dirawat eksistensinya di masyarakat, diberikan ruang untuk hidup. Ketiga aspek penghargaan ini saling terkait satu sama lain. Mereka bisa terdapat dalam sebuah sikap. Jika digunakan maka bisa terjadi sekaligus pelestarian. Tapi bisa juga hanya salah satu saja dari aspek diatas, misalnya hanya memanfaatkan saja tanpa mau melestrasikan, atau hanya mengakui saja tanpa mau menggunakan manfaatnya. Untuk dapat disebut menghargai menurut hemat saya harus mengandung tiga aspek diatas.

Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. “Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita,” tandasnya.

Apa yang dikutip Republika diatas adalah suatu bentuk usaha penggunaan manfaat sebagai upaya pengakuan dan pelestarian yang diharapkan mampu mencegah kita dari “kecolongan” lagi. Tapi harapan itu kelihatannya masih sumir. Kenapa demikian? Untuk tahu jawabannya kita mesti pahami duduk persoalannya.

Pertama perlu dipahami apa yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia. Malaysia menggunakan kebudayaan Indonesia untuk mengambil manfaat ekonomi pariwisata. Kemudian masyarakat Indonesia lebih menyuarakan keberatannya atas pengakuan. Ini dua hal yang berbeda. Penggunaan manfaat tidak otomatis menjadi pengakuan jika tidak disertai suatu pernyataan resmi seperti mengusahakan hak paten misalnya. Pernahkah kita dengar pernyataan resmi dari pemerintah Malaysia tentang klaim Tari Pendet ini?

Kata klaim pada tari Pendet sejauh ini saya lihat hanya ada di media, entahlah untuk tujuan apa media melakukan itu tapi masyarakat menjadi percaya bahwa Malaysia melakukan klaim. Lantas mulai muncul suara yang mengatakan semua ini akibat kita yang kurang menghargai kebudayaan kita sendiri.

Lantas kalau kita sudah menghargai kebudayaan kita maka apakah Malaysia tidak akan melakukan itu lagi? Saya skeptis. Saya kira Malaysia hanya mau dan bisa menggunakan manfaatnya, saya kira juga mereka tidak akan mampu melestarikan apalagi mengakuinya. Untuk melestarikan itu berat, kebudayaan itu harus hidup dalam epistimologi masyarakatnya. Ketika kebudayaan itu lestari dalam sebuah masyarakat maka akan memperoleh pengakuan.

Sekarang siapa yang mau percaya tari Pendet yang sarat dengan ornamen Bali itu adalah kebudayaan Malaysia? Hanya orang bodoh yang akan percaya.

Lalu kenapa Malaysia jalan terus? Seperti yang saya katakan diatas, Malaysia bukan mau mengklaim, karena memang tidak bisa, tapi hanya mampu menggunakan manfaatnya. Kalau sudah begini saya rasa kita tidak perlu merasa kecolongan. Pakailah sesukamu. Tapi kita perlu jengah, kita yang melestarikan tapi orang lain yang mengambil manfaat. Sebenarnya tidak keberatan juga, cuma karena Malaysia ini tengil jadi banyak yang marah. Kenapa tengil?

Menjadi menarik melihat kenapa Malaysia begitu. Semua ini akibat dari konsep Malaysia is a Truly Asia. Malaysia terdiri dari mayoritas tiga bangsa antara lain bangsa Melayu, bangsa Cina dan bangsa India. Jadi tidak ada bangsa Malaysia. Mereka merasa, atau pemerintahnya merasa bahwa Malaysia adalah miniatur dari berbagai bangsa bangsa di Asia karena itu berhak menyandang “gelar” Truly Asia. Dalam usahanya mewujudkan Truly Asia mereka mengumpulkan produk kebudayaan dari berbagai bangsa bangsa di Asia ini sebagai mosaik.

Jadi sebaik apapun kita mampu menghargai dengan melestarikan kebudayaan kita sendiri, itu tidak akan menghentikan usaha Malaysia dalam “mencuri” kebudayaan Indonesia. Mereka sedang membangun identitas berdasarkan konsep Truly Asia. Apakah ini konsep yang brilian? Saya rasa ini konsep yang kontra produktif buat Malaysia. Alih alih mendapat pengakuan tapi justru menuai kontroversi yang bermuara pada citra negatif.

Pencitraan Truly Asia itu sendiri hanya dipermukaan yang bersifat artificial. Sementara di dalam Malaysia sendiri tidak pernah terjadi pembauran kebudayaan antara tiga bangsa besar tadi. Konsep Truly Asia muncul sebagai akibat dari sindrom inferioritas yang dalam beberapa kasus dapat menjadi sebaliknya.

Saya ingin ambil contoh dalam sejarah. Alexander The Great adalah pahlawan bangsa Yunani yang diakui oleh dunia. Kekaisaranya membentang dari Eropa hingga Asia. Melalui Alexander kebudayaan Yunani memberi pengaruh yang kuat pada berbagai kebudayaan besar dunia.

Tapi tahukah bahwa Alexander mengalami kompleks inferioritas dalam dirinya? Kala itu orang Yunani yang dianggap sebenar benarnya adalah orang Athena. Sementara Alexander bukan orang Athena tapi orang Macedonia yang lahir dan besar di kota kecil bernama Pella di pinggiran Yunani.

Selama masa kecil dan remajanya Alexander terobsesi untuk menjadi orang Yunani yang sebenar benarnya dengan membaca buku buku karya penulis Athena (Illiad karya Homerus), berguru pada cendikiawan Athena (Aristoteles) dan bermimpi menjadi pahlawan Athena (Achilles).

Rasa bangga yang tak terkira ketika Alexander membebaskan Athena dari tekanan Sparta membuat inferioritasnya berbalik menjadi superioritas untuk menaklukan Eropa mulai Persia hingga Asia barat (India). Pembuktian bahwa dirinya mewarisi kebudayaan Yunani yang Agung.

Psikologi inferioritas yang kurang lebih mirip terjadi pada pemerintah Malaysia. Ingin menjadi lebih besar dari kebudayaan Indonesia dengan menggunakan label Truly Asia. Untuk menjadi besar butuh figur besar seperti Alexander pada bangsa Yunani, atau figur seperti Bung Karno pada bangsa Indonesia. Malaysia tak memiliki itu dan Truly Asia hanya akan menjadi label. Kasihan. Kalau mereka bijak dan berjiwa besar, Truly Asia tak usah dilanjutkan tapi diubah, seperti apa? Bukan urusan saya.

Kita tak perlu malu, terluka atau merasa kecolongan. Sedekahkan saja. Namun demikian penghargaan pada kebudayaan kita harus tetap ditingkatkan, terutama pada pelestarian. Hidupkan kesenian, perdalam budi pekerti, kuasai teknologi dan kita akan hidup dalam kebudayaan yang luhur.

Update 24 Agustus 2009

Sudah selesai, mereka menyesal katanya, setelah ngeles bilang itu kerjaan swasta.

Kata mas KuncoroSo, let’s simply forgive it and forget it. See you next theft, neighbour :)

Agustus 14, 2009

#merdeka

Agustus 8, 2009

Public Enemies

Adegan awal dari film ini memperlihatkan barisan berseragam tahanan yang mengingatkan saya pada seragam gerombolan Si Berat di komik Donal Bebek. Belang belang hitam putih. Berbagai resensi film ini menceritakan tentang kisah perampok legendaris John Dillinger yang menjadi musuh nomor satu di Amerika Serikat pada tahun 30an.

Public Enemies The Movie

John Dillinger
Ini film diangkat dari kisah nyata. Profil John Dillinger ini memang luar biasa. Masa itu adalah masa krisis ekonomi berkepanjangan di AS. Headline di koran koran terkemuka didominasi oleh berita kebangkrutan, pengangguran kian bertambah dan kejahatan semakin merajalela. Pemerintah kian dituntut segera mengembalikan keadaan.

Johnny Depp as Dillinger

Pada situasi seperti itulah muncul seorang penjahat perampok bank yang pada awalnya menjadi headline karena aksinya membobol penjara untuk membebaskan teman teman gangnya. Aksi perampokan yang mereka lakukan dikemas dengan sedemikian rupa hingga mereka mendapat simpati publik.

Johnny Depp in action

Masyarakat yang tertekan oleh situasi ekonomi yang buruk butuh seorang “pahlawan”. Dillinger kerap menjadi headline berita karena merampok bank dengan pesan bahwa mereka tidak merampok uang nasabah tapi merampok uang bank… apa bedanya? Tapi itulah waktu itu. Masyarakat terpesona dan menganggap Dillinger sebagai Robin Hood. Dillinger dikenal dengan julukan The Jackrabbit karena aksinya dalam merampok bank yang loncat dari satu meja teller/kasir ke meja lainnya pada saat merampok.

John Dillinger

Ini tentu sangat meresahkan pemerintah AS pada waktu itu. Apalagi berkali kali pemerintah AS di permalukan oleh keberhasilan Dillinger yang berkali kali ditangkap tapi berkali kali pula dapat meloloskan diri dan melanjutkan aksi perampokkan bank yang total jumlahnya mencapai puluhan bank di seluruh AS.

Dillinger juga menciptakan trend dan modus baru dalam perampokan bank. Dillinger adalah perampok yang lari dari satu negara bagian ke negara bagian lain untuk merampok sehingga menyulitkan polisi negara bagian yang memburunya karena pada waktu itu koordinasi antar polisi negara bagian belum menemukan mekanismenya untuk menangkap penjahat lintas batas negara bagian.

Kalau anda nonton film ini maka akan terlihat bagaimana polisi jaman dulu di AS itu lugu, culun dan cupu. Dillinger dengan mudah mengelabui mereka semua dan ketika tertangkappun masih bisa mengejek melalui media yang kesempatan wawancaranya bagaikan konferensi pers dan diijinkan sendiri oleh polisi.

Federal Bureau of Investigation (FBI)
Sebelum bernama FBI badan ini bernama Bureau of Investigation dan hanya terdiri dari tim kecil detektif. John Edgar Hoover sang direktur yang setelah keberhasilannya menangkap Dillinger lantas mengubah nama Bureau of Investigation menjadi Federal Bureau of Investigation karena peran dan kekuasaannya diperluas untuk menangani kejahatan lintas negara bagian.

Johnny Depp and Marion Cotillard

Berawal dari pengalamannya memburu, menangkap dan membunuh perampok sekelas Dillinger, FBI berkembang menjadi sebuah badan dengan kemampuan intelijen yang canggih dan ilmiah. FBI memiliki database sidik jari paling lengkap dan berbagai data profil para penjahat.

Marion Cotillard

Marion Cotillard

Penonton film ini biasanya lebih terpesona pada aksi sang perampok legendaris, apalagi ada bumbu kisah cinta antara Dillinger dan Billie Frechette yang cantik (diperankan oleh Marion Cotillard). Kalau nonton (lagi) film ini maka sebenarnya bisa disimak dari sisi sejarah bagaimana FBI dimasa masa awal dan membandingkannya dengan FBI sekarang yang sudah sangat canggih dan menjadi andalan AS dalam memerangi kejahatan dan melindungi warganya.

Kalau belum nonton, bagaimana akhir kisah Dillinger dan FBI? Apakah Dillinger mati tertembak seperti Dr Azhari atau tertangkap dan dihukum mati? Lebih baik nonton filmnya…

Noordin M Top dan Densus 88

Malam ini di Twitter yang sedang terseok karena serangan DDoS saya masih sempat membaca tweet Pak Nukman tentang baku tembak antara Densus 88 dan gerombolan teroris yang diduga diantaranya terdapat Noordin M Top, penjahat teroris yang sangat diburu itu.

Densus 88 sebelumnya telah menembak mati Dr Azahari rekan Noordin M Top yang lolos. Malam ini sedang terjadi pengepungan, sudah 4 orang tertangkap tapi identitas Noordin M Top belum di konfirmasi Densus 88.

Akankah Densus 88 dapat berkembang menjadi seperti FBI? Besar harapan kita tentunya tidak saja Densus 88 ini bisa menangkap Noordin M Top kelak tapi juga bisa berkembang menjadi sebuah badan yang punya kemampuan seperti FBI.

Apa yang dibutuhkan Densus 88 untuk bisa seperti itu? Sebagai perbandingan FBI punya pemimpin seperti John Edgar Hoover yang boleh dikatakan memimpin FBI seumur hidupnya sejak 1935 hingga 1972. Hoover memimpin FBI hingga 6 masa jabatan Presiden AS. Setelah Hoover meninggal masa jabatan direktur FBI dibatasi hingga maksimal 10 tahun saja. Mungkin Densus 88 tidak harus begitu tapi leadership menjadi isu penting. Semoga Densus 88 bisa menangkap Noordin M Top malam ini dan menjadi tonggak awal keberhasilan yang lebih besar dikemudian hari… seperti FBI.

Juli 19, 2009

Teori Konspirasi Bom Marriot 2

Pagi 17 Juli, jam sembilanan saya terbangun oleh telephone dari sepupu di Bali yang menanyakan perihal bom di hotel Marriot Kuningan Jakarta. Saya kaget dan langsung online dan di twitter telah ramai tweet tentang bom ini.

Sejak awal saya bertanya-tanya siapa pelaku pemboman kali ini. Hubungan AS dan Timur Tengah tidak sedang memanas, bahkan cenderung lebih baik sejak Obama terpilih menjadi Presiden.

Hotel J.W Marriot adalah hotel yang penjagaan keamanannya sangat ketat karena sudah pernah dibom sebelumnya. Perlu strategi dan perencanaan yang sangat matang untuk meledakan bom kembali disana.

Noordin M Top adalah teroris yang diduga menjadi dalang dari pemboman ini oleh beberapa pengamat seperti Sidney Jones. Opini Sidney Jones ini akan menggiring spekulasi kearah dalangnya adalah M Top semata dan tidak terkait jaringan sebelumnya yaitu JI.

Pelaku teknis bom bunuh diri dilapangan memiliki ciri yang sama dengan jaringan M Top. Tapi apakah ini murni design dari M Top sendiri? Dengan melihat bagaimana kondisi jaringan M Top sekarang yang sudah tidak seperti dulu lagi ketika Dr Azhari dan Imam Samudra masih hidup, saya meragukan mereka sendiri bisa melakukan semua ini.

Faktor faktor seperti tingkat kesulitan yang tinggi untuk melakukan pemboman kembali di Marriot, kondisi jaringan M Top yang sudah tidak seperti dulu lagi, kondisi politik di Timur Tengah yang tidak sedang memanas, membuat saya mensinyalir bahwa pelakunya tidak dalam format seperti yang dituduhkan oleh Sidney Jones.

Lalu apa? Melihat timing dari pemboman ini patut dapat diduga motifnya adalah politik. Cuma saja mesti hati hati untuk tidak terplot oleh pidato SBY beberapa jam setelah bom.

Banyak pihak yang sangat berkepentingan dengan siapa yang akan jadi Presiden RI nanti. Lawan politik SBY tentu saja berkepentingan tapi apakah mereka pelaku pemboman? Sebagian orang melihat SBY melalui pidatonya seperti ingin menyiratkan kearah situ.

Siapa Presiden RI dikemudian hari akan menentukan nasib kepentingan kepentingan banyak pihak di Indonesia. Indonesia adalah negara yang strategis tidak saja dalam kawasan Asia tapi juga dunia.

Sejak kampanye pilpres isu kepentingan kepentingan ini sudah menyeruak. Mulai dari isu neoliberal yang didaulat sebagai wakil kepentingan asing di Indonesia. Tidak berlebihan juga kalau saya katakan asing sangatlah ingin presiden terpilih nanti dapat mengakomodasi kepentingan mereka. Entah kepentingan ekonomi maupun politik.

Konstalasi kekuatan capres terbagi dua: SBY-Boediono lawan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Jika SBY mengusung visi yang lebih pro investasi asing maka lawan politiknya pasti akan sebaliknya. Para investor asing tentu tak mau bukan SBY yang terpilih. Tapi mereka tidak mau ikut campur urusan politik dalam negeri seperti mencurangi pilpres misalnya. Mereka juga mau melihat Indonesia menjadi negara yang demokratis.

Melihat perkembangan perhitungan suara yang mengarah kepada kemenangan SBY maka mereka bisa berbesar hati. Tapi surut lagi setelah melihat gelagat bahwa hasil pilpres ini bisa di gugat melalu MK jika cukup bukti bahwa pilpres tidak beres. Bukti yang paling krusial untuk dapat menggugat pilpres adalah DPT yang kacau balau. Jika bukti bukti itu dapat meyakinkan MK maka pilpres dapat diangap tidak sah dan harus diulang. Kacau balau kalau begini.

Melakukan intervensi seperti di Irak/Iran akan merusak Indonesia sebagai negara yang sudah mengarah ke demokrasi. Usaha yang dilakukan oleh Mega-Prabowo untuk menggugat pilpres melalui MK sangat mengkhawatirkan pihak yang ingin melihat SBY-Boediono segera dilantik.

Melihat bagaimana kondisi sosial-politik di Indonesia dimana keadaan keamanan yang pernah cacat oleh peristiwa pemboman teroris sangat mungkin dilakukan pengalihan perhatian melalui operasi intelijen dengan modus terorisme.

Operasi intelijen dengan modus terorisme ini akan memberikan dampak politik yang sempurna antara lain:

  • Tidak memiliki dampak merusak sendi sendi demokrasi Indonesia secara langsung karena masyarakat percaya yang salah adalah teroris.
  • Proses gugatan pilpres ke MK oleh Mega-Prabowo menjadi terganggu karena Prabowo memiliki profil masa lalu yang dapat di mis-identifikasi sebagai pelaku pemboman.

Seperti layaknya operasi intelijen, pelaku selalu dari komunitas lokal yang gampang diperalat. Golongan garis keras yang fanatik sangat mudah diperalat untuk kepentingan ini. MOSAD melakukannya di Palestina terhadap HAMAS yang dikemudian hari berbalik merepotkan mereka. CIA melakukannya di Afganistan melalui Osama bin Laden untuk memerangi Rusia yang dikemudian hari juga berbalik menghantam Amerika.

Sementara itu para pengamat Barat akan terus memberikan pencitraan dimedia bahwa ini murni terorisme dengan kondisi yang sangat spesifik dan cenderung dipaksakan. Ditambah lagi CIA sekarang sedang membentuk sebuah komisi yang akan membantu mengungkap siapa pelaku peledakan bom aneh kali ini.

Bisa ditebak hasilnya siapa…

Ini juga bisa menjadi bukti kenapa M Top tidak tertangkap. Karena dibutuhkan sosok seperti M Top pada situasi yang seperti ini. Konsep jangan dilumpuhkan dan cukup dilemahkan saja sudah teruji sejak jaman VOC dimana oara Ketju merajalela di kerajaan Mataram.

Cuma saja hasilnya tidak pernah sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya…

Mei 24, 2009

blog.cybergl.co.id

Fasilkom MTI UI

Fasilkom MTI UI

Sudah satu tahun belakangan saya jarang update di blog ini. Itu karena saya disibukan dengan perkuliahan (selain sibuk facebookan juga). Apalagi sekarang memasuki masa tesis. Saya bakal jarang blogging disini dan lebih sering aktif posting di blog saya yang satu lagi: blog.cybergl.co.id, itupun blogging yang terkait dengan tesis.

Bagi yang berminat bidang TI mungkin bisa ikuti tulisan saya di sana. Semoga tamat kuliah bisa lebih aktif lagi disini. Hidup blogging…

April 23, 2009

Kandidat Cawapres SBY

Kemenangan Demokrat pada pemilu 2009 “melambungkan” SBY pada tingkat percaya diri yang luar biasa. Hingga mengeluarkan 5 kriteria bagi siapa yang ingin menjadi cawapresnya. Banyak yang mau tentu saja melihat kemungkinan menang SBY sangat besar. Terutama bila tidak ada perubahan konstelasi politik yang radikal.

Dari kriteria tersebut tersirat bahwa SBY tak menginginkan JK karena ada kriteria tidak boleh ketua umum partai. Banyak tokoh lain yang ramai dipergunjingkan sebagai kandidat cawapres mendampingi SBY. Masing masing oleh pers dan bloggers diulas dengan pandangannya, berikut adalah versi saya.

Akbar Tanjung

AT menjadi sering disebut media pasca “perceraian” Golkar dan PD. Dikatakan AT berpeluang besar sebagai pembawa suara para pemilih Golkar. Berikut dari tulisan Asep Mulyana:

Saya yakin Demokrat tidak menolak Golkar. Mereka hanya menolak aspirasi elit-elit Golkar pro-JK yang ngotot menyandingkan kembali JK dengan SBY. Tentu Demokrat tak akan mengabaikan Golkar. Suara yang besar (14 persen) dan mesin partai yang masih terjaga adalah modal sosial Golkar yang menggiurkan bagi SBY dan Demokrat. Bagaimana mendapatkan semua itu? Tak ada cara lain bagi SBY dan Demokrat kecuali merekrut kader Golkar yang punya akar kuat di Golkar. Siapa lagi kalau bukan Akbar Tanjung!

Memang benar suara Golkar tidak bisa diabaikan tapi AT sekarang ini tidak memiliki pengaruh yang legitimate di dalam tubuh Golkar. Adapun suara suara dalam Golkar yang menjagokan AT hanya karena ingin menawarkan tokoh alternatif kepada SBY setelah JK ditolak. Mereka berpikir SBY sangat berpeluang terpilih dan Golkar sudah terbiasa menjadi bagian dari pemerintah dan enggan menjadi opisisi.

Bagaimana peluang AT sebenarnya. Perlu diingatkan bahwa posisi AT sekarang tidak sama dengan posisi JK dulu. Dulu suara Golkar terpecah dan banyak memilih SBY-JK karena mereka bersimpati pada JK yang memainkan peran “teraniaya” setelah keluar dari konvensi Golkar. AT sekarang tidak memiliki itu. Hal yang teringat ketika orang menyebut nama AT adalah kasus Bulogate.

Berdasarkan 5 kriteria yang diberikan oleh SBY, ada beberapa poin yang membuat saya yakin SBY tak akan memilih AT. Pertama soal kesetiaan. Masih teringat bagaimana AT membuat konvensi yang berujung pada mundurnya JK dan Sultan dalam konvensi tersebut. SBY tak mau mengambil resiko dengan reputasi seperti itu.

Kedua soal chemistry. SBY dan AT tak pernah bekerja dalam satu tim yang solid. Walaupun masih harus dibuktikan apakah mereka bisa cocok atau tidak tapi trauma ketidak cocokan chemistry bersama JK membuat SBY tak mau bertaruh soal chemistry ini.

Satu hal yang mesti diingat, siapa cawapres SBY bukan ditentukan oleh rampimnas Golkar tapi oleh SBY tentunya. Rampimnas Golkar boleh mengusung siapa saja tapi kalau SBY menolak maka itu tidak akan terjadi.

Hidayat Nur Wahid

Setelah PKS memutuskan untuk tidak mengajukan cawapresnya maka selesailah sudah harapan orang orang untuk melihat HNW sebagai cawapres SBY.

Mengenai cawapres, PKS menyerahkan sepenuhnya ke SBY. Mereka tak akan ikut campur. Power sharing antara keduanya akan diwujudkan dalam kabinet, bukan di pucuk pimpinan RI 2.

“PKS menyerahkan sepenuhnya dan tidak ingin mengusik hak Pak SBY sebagai capres untuk memilih siapa cawapresnya. Apalagi Pak SBY sudah punya 5 kriteria,” kata Mahfudz.

Soetrisno Bachir

SB sebagai ketua umum parpol tentu sudah tidak memenuhi kriteria SBY. Adapun disebutnya nama SB sebagai cawapres dari PAN selain Hatta Rajasa menurut hemat saya hanya untuk kesantunan politik melihat SB sebagai ketua umum dan untuk menjaga agar PAN tidak pecah.

Hal lain yang saya lihat SB tidak akan dipilih oleh SBY sebagai cawapres adalah dua kriteria lain yakni loyalitas dan chemistry. Setelah SB didukung oleh Amien Rais sebagai ketua umum PAN kemudian SB mempromosikan dirinya sebagai capres yang menimbulkan friksi di tubuh PAN. Dari sisi chemistry SB belum pernah satu tim kerja bersama SBY. Kelihatannya sulit sekali memenuhi kriteria yang satu ini.

Sri Sultan HB X

Menurut kriteria SBY mungkin Sultan dapat memenuhi hampir semuanya walaupun tidak dengan sangat meyakinkan. Tapi satu hal yang jelas Sultan adalah kader Golkar. Ketegangan antara Demokrat dan Golkar sudah sampai ke akar rumput.

Namun jika SBY tetap memilih cawapres dari Partai Golkar, kemungkinan besar akan menimbulkan gejolak di tingkat daerah. Hal ini disebabkan, beberapa DPD masih terpecah dukungannya untuk berpisah dengan Demokrat atau tidak.

Namun yang paling penting disini adalah apakah Sultan bersedia menjadi cawapres SBY melihat deklarasi Sultan sejak awal adalah capres. Diperparah lagi ada wacana Sultan akan dicapreskan oleh PDIP.

Sri Mulyani

SM memenuhi banyak kriteria SBY. Bukan ketua partai dan memiliki kapabilitas yang kuat dalam bidang ekonomi. Tapi selain kelebihan itu SM juga memiliki kelemahan. SBY prefer cawapres yang memiliki dukungan partai. SM dari PDIP tapi dapat dipastikan tidak akan mendapat endorse dari Megawati jika SM menjadi cawapres SBY.

Satu hal yang kelihatannya juga menjadi ganjalan adalah masalah chemistry. Kita tahu SM seorang yang kuat dalam berprinsip dan keras dalam sikap. Sikap ini pernah menjadi “sandungan” ketika SM pasang badan untuk menentang kebijakan SBY dalam kasus “Membela Bakrie“.

Setelah tahu dirinya dimarahi Presiden SBY, Sri Mulyani berinisiatif untuk menemui Kepala Negara dan sekaligus untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB).

Namun, Presiden SBY rupanya tak mau memenuhi permintaan Sri Mulyani, dan bahkan Kepala Negara tunduk dengan keinginan Sri untuk membuka suspensi BUMI ketimbang ia ditinggal salah satu menteri andalannya itu. (Inilah.com)

Suatu sikap tegas dan berani SM, namun secara chemistry ini tidak terlalu bagus sehingga banyak pihak yang menilai SM akan lebih efektif bila berada dalam kabinet saja.

Hatta Rajasa

Dulu ketika terjadi guncangan di dalam tubuh PAN, HR mendapat tuduhan sebagai orang yang berusaha menggembosi PAN dari dalam, tapi Amien Rais mengatakan bahwa membayangkan HR menggembosi PAN dari dalam sama dengan membayangkan matahari terbit dari barat. Suatu citra akan loyalitas yang terus dibawa hingga masuk ke kabinet SBY.

SBY sendiri juga sudah merasakan dan melihat sendiri kepiawaian HR dalam menjaga keutuhan koalisi di tengah dinamika politik. Masih teringat konflik antara SBY dan Amien Rais hingga SBY mengadakan konferensi pers yang geram, disana HR tampil menjadi mediator kedua belah pihak. SBY tentu terkesan dengan peran HR tersebut.

HR menunjukan tingkat chemistry yang terbaik diantara semua kandidat diatas. Berbagai macam posisi menteri telah ditempati oleh HR bersama SBY dan kelihatannya SBY terkesan dengan loyalitas HR. Seolah olah kriteria itu dibuat hanya untuk HR.

Menurut saya SBY akan memilih HR sebagai cawapresnya kalau dilihat dari kecocokan kriteria. Sedangkan dilihat dari perhitungan politik HR memiliki kelebihan dibanding SM. HR didukung PAN dan Amien Rais.

Dukungan PAN memang tidak terlalu besar tapi dukungan ini bisa memberi pengaruh pada partai lain seperti PKS dan PPP dan bahkan PKB untuk ikut memberikan berkoalisi mendukung pasangan SBY-Hatta. Kita masih belum melihat siapa lawan SBY-Hatta yang paling potensial. Golkar telah mengusung JK tapi ini belum harga mati karena serentetan loby dari PDIP masih terus dilakukan.

Siapa lawan ideal SBY-Hatta? Tunggu postingan saya selanjutnya…

http://www.facebook.com/pages/Say-Yes-For-SBY-HATTA/69163018278

April 21, 2009

Catatan Penjurian Speedy Blogging Competition 2008

Menjadi juri lomba blog untuk kesekian kalinya memaksa saya menyaksikan dinamika blogging di Indonesia dari waktu ke waktu. Speedy Blogging Competition 2008 (SBC) adalah lomba blog paling akhir yang saya ikuti sebagai juri.

Berdasarkan beberapa kegiatan lomba blog itu saya coba membuat penggambaran tentang bagaimana kondisi blogosphere saat ini dan apa peran lomba blog sampai sejauh ini.

Kondisi per-blog-an di Indonesia saya bagi menjadi dua, internal dan eksternal. Internal menggambarkan kondisi para blogger itu sendiri, kemudian eksternal adalah kondisi lingkungan yang mempengaruhi kondisi internal.

Pertama untuk kondisi internal. Sebelumnya bersama mas Budi Putra dalam event serupa oleh Telkom juga di Senayan tanggal 23 November 2008. Pada event tersebut sungguh saya mendapati kondisi yang sangat menyedihkan. Pertama, dari puluhan peserta hanya sekitar 20% yang menulis tulisannya sendiri, sisanya copy paste.

Dari sisanya blog yang valid tersebut hanya sebagian kecil yang tulisannya mirip blog, sisanya lebih mirip tugas menulis dari majalah sekolah. Maklum pesertanya anak sekolah. Mas Budi berkomentar lomba blog itu bukan lomba menulis artikel, gaya bahasa blog itu lebih informal, enak dibaca dan inspired, apalagi untuk anak sekolah.

Bisa dipahami karena event tersebut hanya sehari dan kriteria penilaian yang dinilai hanyalah tulisan pada saat lomba. Kesimpulannya kita tidak bisa “memotret” kondisi internal yang sebenarnya melalui sebuah event sehari.

Kita butuh event yang lebih panjang rentang waktunya. SBC adalah sebuah event punya rentang waktu penyelenggaraan yang saya pikir cukup untuk memotret kondisi internal dari sisi waktu. Selain dari sisi waktu ada lagi faktor lain yang perlu diperhatikan, yaitu tema lomba.

Sebelum saya membahas rentang waktu dan tema blogging saya akan perkenalkan dulu event SBC ini. Speedy Blogging Competition 2008 dilaksanakan dari tanggal 22 Nov 2008 sampai dengan 31 Jan 2009 dengan ketentuan para peserta harus memiliki account Speedy dan harus memuat postingannya di mesin blog yang disediakan oleh SBC yaitu di: http://lomba.blog.telkomspeedy.com

Dengan waktu yang cukup lama akan bisa kita lihat konsistensi menulis dari para peserta. SBC ini diikuti oleh 100 blogger. Kurang dari 50% dari 100 blogger tersebut yang menulis lebih dari 5 tulisan selama kurun waktu 3 bulan tersebut. Sedihnya banyak juga yang hanya satu postingan: Hello World.

Kemudian dari sisanya disaring lagi dengan melakukan pengujian orisinalitas konten. Hasilnya adalah hanya 35 blog yang berhasil memenuhi syarat. Hal yang membuat saya sedih adalah banyak diantara blogger itu yang sebenarnya punya kemampuan menulis yang baik tapi lantas harus didiskualifikasi hanya karena ada salah satu postingannya yang copy-paste tanpa menyebut sumbernya.

Hal seperti ini tidak dapat diterima dan harus didiskualifikasi. Sayang sekali. Sebenarnya copy-paste tidak masalah selama kita menyertakan alamat sumber dari tulisan aslinya. Tapi rupanya banyak diantara mereka tidak mengerti akan hal itu.

Dewan Juri SBC

Setelah menilai 35 blog bersama 3 juri yang lain: Riyogarta, Kuncoro Wastuwibowo dan Regina Lenggo, kami mendapat beberapa kesan. Tema yang diusung pada event ini tidak memberikan keleluasan bagi para blogger untuk mengembangkan tulisan.

Bagi para blogger yang jam terbangnya belum banyak akan terjebak pada pendefinisian tema. Sedangkan bagi para blogger yang sudah memiliki jam terbang menulis yang tinggi akan mengeksplorasi tema sehingga tulisannya menjadi terlalu fokus. Tapi memang ada yang tidak sesuai tema dan menurut opini saya pribadi justru blogger ini punya keberanian dalam mengekspresikan kebebasan menulis dalam blog.

Sebab menurut saya tujuan dari diadakan lomba blog adalah untuk merangsang pertumbuhan blogger baru yang handal, bukan untuk ajang promosi produk tertentu. Kalau blogger sudah tidak punya keberanian dalam mengekspresikan tulisannya dalam blog maka tujuannya sudah gagal.

Ditetapkannya tema tertentu yang mungkin kurang fleksibel telah membuat para blogger tidak menulis secara spontan dari keinginannya. Peran tema menurut saya menjadi faktor yang penting dalam memotret kondisi internal.

Kondisi Internal

Melihat event SBC ini dapat saya katakan kondisi para peserta SBC adalah hanya 35% yang benar benar tahu bagaimana menulis blog dan dari 35% itu tidak tersalurkan dengan baik hasrat menulisnya karena mereka harus menyesuaikan blog mereka dengan prasyarat lomba yang ketat.

Banyak diantara mereka yang telah memiliki blog utama dan kemudian memindahkan isi blog mereka ke blog resmi untuk lomba. Maka hasilnya adalah dua blog yang sama persis isinya. Ini bukan tujuan dari lomba. Jadi sebaiknya tidak perlu mensyaratkan lokasi blog tertentu untuk lomba, biarkan mereka menggunakan existing blog mereka masing masing.

Kondisi Eksternal

Ramainya Facebook dan Plurk memang sangat berpengaruh pada semangat menulis para blogger. Lomba diharapkan menggugah kembali semangat menulis itu. Cuma jika salah dalam menentukan tema maka tidak akan memberikan cukup motivasi.

Tema yang diusung sebaiknya yang current affair, jika peserta lombanya adalah peserta umum. Tema yang lebih spesifik bisa dipakai jika peserta lomba di ambil dari komunitas bidang tertentu.

Tema current affair sudah terbukti ampuh dalam meningkatkan gairah blogging. Salah satu contohnya adalah Politikana.com. Portal blog politik ini sangat meriah justru ditengah tengah perkiraan blog akan mati akibat munculnya Facebook. Politikana.com mengusung tema politik yang sekarang memang sedang menjadi current affair.

Peran Lomba Blog

Lomba blog dengan tujuan menjaring penulis penulis baru yang berbakat hendaknya memiliki prasyarat teknis yang tidak terlalu mengikat dan memiliki tema yang menarik, sesuai dengan komunitasnya. Hadiah lomba sesungguhnya tidak memberikan efek terbesar dalam hal mencapai tujuan diadakannya lomba blog.

Ide menempatkan mereka dalam satu domain sebenarnya bukan ide buruk selama servernya nyaman dan sekali lagi temanya jelas dan memotivasi kenapa mereka mau bergabung disitu. Contoh mengelompokkan domain berdasarkan tema adalah pada Asia Blogging Network.

Sangat disayangkan jika dari satu lomba ke lomba yang lain ternyata tidak memiliki sinergi. Lomba blog masih relevan, dengan strategi yang baik suatu saat akan tercipta komunitas yang solid. Baik dari para bloggernya itu sendiri maupun dari para pembaca tulisan tulisan mereka sehingga bisa tercipta jaringan seperti Asia Blogging Network atau Politikana.

Maret 25, 2009

Saykoji Online

Baru sekali denger langsung suka sama nih lagu. Salut buat Syakoji, dulu gak terlalu hirau sama Saykoji sekarang coba simak sendiri lagunya, judulnya Online, lagunya IT banget :-)

Liriknya:

siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line

verse 1:
tidur telat bangun pagi pagi
nyalain komputer online lagi
bukan mau ngetik kerjaan
e-mail tugas diserahkan

tapi malah buka facebook
padahal face masih ngantuk
beler kayak orang mabuk
pala naik turun ngangguk-ngangguk

sambil ngedownload empitri
colok i pod usb kiri
ngecekin postingan forum
apa ada balesannye? belum

biar belum sikat gigi belum mandi
tapi kalo belum on line paling anti
liat friendster myspace, youtube
me and him, everybody you too

cerse 2:
nah udah mandi siap berangkat
langsung cabut takut terlambat
tak lupa flash disk gantung di leher
malah lupa sepatu jadi nyeker

flashdisk isinya bokep atau lagu
kalau ada kerjaanpun gue ragu
kalo emang berani coba pada ngaku
cek isi foldernya satu satu

di kantor online pakai proxy
walau diblok server bisa dilolosi
namanya udah ketagihan internet
produktifitaspun kepepet

jam kerja malah chatting ym
ngobrol online sama ehehem
atasan lewat langsung klik data
pura pura kerja di depan mata

bridge:
makan siangpun aku cari sinyal wifi
mengapa ku kecanduan oh why why
kadang terasa bagai tak berdaya
ingin ku berubah.. eh ada e-mail dah dulu ya

verse 3:
cek e-mail spam semua
email benerannya cuma dua
yang satu email lama
yang satu forwardan yang sama

ngarep komentar buka friendster
loading, gue tinggal beser
pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server

ya udah download lagu
bajakan gratis gak pake ragu
saykoji satu album
setengah jam bisa rampung

sore sore bosen hambar
ide nakal cari cari gambar
download video dengan sabar
ketahuan pacar digampa