The Raid

foto diambil dari facebooknya yayan ruhiat
Film ini menuai banyak pujian, awal-awal karena sederet penghargaan dari dunia International:

1. Winner (Best Midnight Madness Film – People’s Choice Award) Toronto Film Festival (2011).
2. Official Selection Sundance Film Festival (2012).
3. Official Selection SXSW Film Festival (2012).
4. Winner (Best Action Film) Baliwood (2011).
5. Winner (Best Action Film) INAFF 2011 (Indonesia International Fantastic Film Festival).
6. Official Selection SITGES 2011 (International Fantastic Film Festival).
7. Official Selection Busan International Film Festival 2011.
8. Official Selection Fright Festival 2012.
9. Winner (Best Film – Dublin Film Critics) Dublin Film Festival 2012.
10. Official Selection Glasgow Film Festival 2012.
11. Official Selection Moma ND/NF Film Festival 2012.

Sumber: Yoga Efendi

Lalu pujian dari kesaksian orang orang yang sudah pernah menonton film ini ada di mana mana, di IMDB, Twitter dan Facebook. Itu bukan hanya orang Indonesia loh, kebanyak dari luar negeri karena film ini juga ditayangkan di luar negeri setelah dibeli oleh Sony Picture. Ok saya rasa kalo soal reputasi sudah cukup, tidak usah lebay… mari kita masuk ke review filmnya.

Pertama-tama yang bisa saya sampaikan film ini hanya untuk orang dewasa, hanya orang tua bodoh yang membawa putra-putrinya ikut nonton. Semua adegan action dipertontonkan secara vulgar dan penuh darah, dari gerakan memukul, menendang, membacok, menggorok, menusuk, membanting lawan ke property yang bukan terbuat dari styrofoam dan seterusnya…

Film ini plotnya datar, mungkin sengaja gak dibikin ribet supaya penonton gak perlu susah berpikir dan bisa fokus menikmati actionnya. Saya rasa memang apa yang dijual oleh film ini adalah action silatnya dimana Iko Uwais dan Yayan Ruhiat sebagai koreografer berhasil membuat film ini tidak kalah dengan film-film Kungfu Hongkong atau bahkan film Kungfu yang sudah ada sentuhan Hollywood seperti Crouching Tiger Hidden Dragon. Kalo film-filmnya Stevan Seagal, Jean-Claude Van Damme, Chuck Norris atau Michael Dudikoff lewat lah sama The Raid.

Sutradara Gareth Evans berhasil memaksimalkan kekuatan filmnya pada action hingga menutupi unsur lain dalam film yang sebenarnya kurang bagus seperti dari sisi akting dan dialog. Bahkan dialognya menurut saya yang paling kurang, sebagai contoh diawal film ada adegan Rama sedang sholat kemudian selesai sholat Rama menghampiri istrinya yang sedang hamil tua di tempat tidur hendak pamit berangkat ke misi berbahaya. Selesai ngobrol pamitan Rama bilang “Aku cinta kamu”, lalu istrinya menjawab, “Aku juga cinta kamu”… halah… gak ada dialog kaya gitu di Indonesia, itu hanya ada di Barat, sepertinya memang dialognya terjemahan bahasa Inggris. Pinternya Gareth Evants tidak membuat banyak adegan dialog drama dalam filmnya.

Kemudian dari sisi akting hanya aktor senior Ray Sahetapy yang berhasil mentransformasi kekuatan aktingnya untuk menghidupkan karakter perannya, yang lain butuh action berdarah-darah. Padahal Ray hanya kebagian scene sedikit. Untuk yang muda-muda saya suka komandan pasukan, Joe Taslim dan tukang jagal dengan logat Ambon, Godfred Orindeod. Iko dan Yayan keliatannya lebih mengandalkan aksi laganya untuk membentuk karakter yang diperankan.

Film ini ada sekuelnya, judulnya Berandal, semoga apa yang kurang di film ini bisa diperbaiki di sekuelnya. Selain aksi laga film ini mudah ditebak jalan ceritanya. Jika mau lebih bagus lagi ada baiknya aksi yang dijual tidak dimonopoli oleh aksi silat Iko dkk, tapi bisa diimbangi dengan plot atau cerita seperti film Speed.

Tinggalkan komentar

Filed under sinema

Strategi Turunkan Nurdin Halid

ada pikiran yang saya pikir cukup radikal dari @monethamrin tentang strategi menurunkan nurdin halid

  1. Ayo beli pen laser, hujani pemain Malaysia dgn laser. Resiko cuma 2; Indonesia menang atau PSSI diskor FIFA |alias #Nurdinturun
  2. Skenario melengserkan Nurdin ssh dilakukan dgn cara “halal” krn anggota sdh berada dibawah ketiak NH dan NB plus NB yg satunya lagi.
  3. Dorong saja agar PSSI kena skor FIFA, yg bisa menjadi alasan pemerintah utk membekukan PSSI.
  4. Kemudian dorong pembentukan asosiasi sepakbola baru yg berdasarkan keanggotaan klub, bukan pengda PSSI.
  5. PSSI dibubarkan toh nggak apa apa kan? Masa organisasi sdh busuk dipertahankan?
  6. Mengganti Nurdin Halid tdk bisa dr luar PSSI, hrs dr anggota. Atau bubarkan saja PSSI, bentuk yg asosiasi sepakbola yg baru.
  7. Jadi saya kira kampanye yg tepat bukan #turunkanNurdin tp #bubarkanPSSI. Yg busuk didalam bukan hanya Nurdin Halid.
  8. Sekian lama PSSI cq pengda-pengda PSSI dan klub anggota menghabiskan miliaran Rupiah uang rakyat dr APBD #bubarkanPSSI
  9. Nggak bisa, mekanisme internal yg hrs mengganti, krnnya susah krn sdh terlanjur busuk #bubarkanPSSI
  10. Beda Mas, aturan FIFA mengikat PSSI @sigitprasetio: Kalo pemimpin yg korup, apa negara yg bubar? #bubarkanPSSI
  11. Beberapa kali diupayakan mengganti Nurdin Halid melalui mekanisme PSSI selalu gagal. Negara tdk bisa campur tangan mengganti pengurus.
  12. Sangsinya #bubarkanPSSI @benhan: +1 RT @rahung: Mending yg dilaporin ke FIFA “Sepakbola kami diurus koruptor
  13. Membubarkan PSSI berarti membasmi kutu2 busuk yg ada didlmnya “@SharpButSoft @eremoeis #BubarkanPSSI gitu aja kok repot?”
  14. Lobby NH di FIFA jg kuat @ria_yani wkt NH disuruh turun katanya PSSI tidak wajib mengikuti semua kata FIFA @sigitprasetio #bubarkanPSSI”
  15. Dibuat aturan dia tdk bisa ikut lagi :)) basisnya klub, bkn pengda @sigitprasetio @ria_yani #bubarkanPSSI”
  16. Soal kebobrokan PSSI dan kongkalingkong antara pengurus dgn bandar judi sdh jd rahasia umum sejak lama, ingat #sepakbolagajah
  17. Manipulasi keuangan daerah dgn kedok pos anggaran utk PSSI di tingkat lokal pun sering terjadi.
  18. PSSI hanyalah alat, untuk mencapai tjn kejayaan timnas Indonesia. Jika alat tsb tlh impoten dan mandul, ganti dgn yg baru aja
  19. Hrs diakui PSSI ditingkat nasional maupun daerah bisa menjadi alat efektif memobilisasi massa, mesin politik.
  20. Karenanya, jumlah uang 2,5 Milliar rupiah atau ditambah 3 Milliar Rp lagi saat menang di final, adalah kecil bagi sebuah pencitraan politik
  21. Tdk heran juga jika “mesin politik” ini akan tetap dipertahankan oleh yg mendapat keuntungan darinya. #bubarkanPSSI
  22. Membubarkan PSSI sekaligus berbuah turunnya Nurdin. Dan membubarkan sarang busuk yg tdk pernah melahirkan timnas handal
  23. Pertanyaan kunci adalah bagaimana membubarkan PSSI? Ada dilema, statuta FIFA melarang pemerintah campur tangan.
  24. Pernah denger: jka ada klub yg tdk stju dgn PSSI, klub lgsg degradasi. cth: persebaya
  25. NH turun, jika PSSI tdk bubar penggantinya sama saja “@bentarabumi: @wimar @benhan untuk skrg opsi yg paling mungkin
  26. Nurdin Halid hanyalah pion, mengganti atau menurunkan Nurdin tdk akan menyelesaikan kebusukan didalam PSSI.

well… what do you say?

5 Komentar

Filed under politik

Jakarta Lawyer’s Club: Penegakan Hukum Terhadap Aksi Kekerasan

Jakarta Lawyer’s Club minggu lalu membahas soal Penegakan Hukum Terhadap Aksi Kekerasan, terjadi beda pendapat:

Imam Prasodjo: segregasi sosial menyebabkan konflik mudah tersulut diperparah dengan penegak hukum yang lemah, kunci utama adalah menekan segregasi sosial disusul penegakan hukum

Karni Ilyas: tak masalah ada segregasi sosial selama hukum ditegakkan maka tak akan ada yang berani berkonflik, dengan contoh di Kanada kunci utamanya adalah penegakan hukum.

Erlangga Masdiana: tak masalah segregasi sosial asalkan terjadi dialog antara kelompok dan hukum ditegakkan.

Menanggapi Karni, pikiran Karni ini terlalu idealis, menurut saya dengan kondisi penegak hukum seperti sekarang maka masyarakat yang tersegregasi secara sosial akan memperberat kerja mereka. Solusinya tekan segregasi sosial sambil berbarengan dengan perbaikan penegakan hukum.

Menanggapi Erlangga, pembaruan sosial sudah built-in dialog didalamnya, membina dialog pada masyarakat yang tersegrasi secara sosial tidak efektif karena butuh effort terpisah, tidak alamiah.

Kerja penegak hukum akan jauh lebih mudah pada masyarakat yang membaur, konflik akan bisa diredam karena dialog alamiah bisa tercipta dari perkenalan antara elemen kelompok lain dalam satu lingkungan.

Menurut Imam Prasodjo pembauran bisa dirancang sedemikian rupa dalam bentuk kebijakan pemerintah, misalnya pada perumahan, tempat ibadah, tempat kerja, sekolah, kampus, pasar, penamaan, dan banyak lagi yang selama ini belum diatur.

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan komentar

Filed under sosial, televisi

Inception

Pernahkah anda bermimpi, dalam tidur tentunya? Pernah suatu kali ayah saya bermimpi sedang berkelahi melawan mahluk buas dan bengis. Pertarungan itu begitu seru sehingga ayah berteriak teriak sambil tidur. Ibu kemudian membangunkan ayah dengan menepuk pundaknya dan seketika ayah terbangun sambil dengan sigap menangkis tepukan dipundaknya.

Ternyata dalam mimpi itu ayah sudah terdesak oleh mahluk buas itu yang akan mengigit pundaknya. Begitu mahluk dalam mimpi itu menggigit maka rasanya benar benar nyata dan ternyata itu adalah tepukan pada pundak yang dilakukan oleh Ibu.

Ayah menceritakan mimpinya itu cukup lama. Jalan ceritanya cukup panjang sebelum digigit di pundak. Bagaimana mungkin bisa sesuai timing cerita dalam mimpi itu dengan momen tepukan di pundak. Kemungkinan yang bisa saya bayangkan adalah ketika pundak ayah ditepuk informasi tepukan dikirim ke otak dan oleh otak kemudian dibuatkan skenario tersebut. Berarti otak dapat membuat sebuah skenario cerita mimpi yang cukup panjang dalam waktu yang sangat singkat.

Inception

Ternyata pikiran saya itu seperti mendapat pembenaran dalam film Inception. Dalam film ini dikatakan bahwa satu menit bermimpi sama dengan 10 menit dalam alam mimpi. Kemudian juga dalam film Inception ini mimpi dapat bertingkat tingkat. Orang dalam sebuah mimpi dapat bermimpi lagi dan tentunya berlaku juga hukum relatifitas waktu seperti diatas.

Dengan sebuah teknologi dan melalui pelatihan dari ahlinya seorang dapat berbagi mimpi (shared). Artinya kita bisa masuk ke mimpi orang lain ketika sama sama tertidur dengan bantuan sebuah alat canggih.

Ketika kita masuk ke mimpi seseorang maka kita akan melihat dan mengetahui hal hal yang ada dalam pikiran orang tersebut. Kemampuan inilah yang digunakan untuk menggali informasi rahasia yang sudah terkubur jauh didalam hati. Bahkan kemampuan masuk ke alam mimpi ini dapat digunakan untuk menanamkan doktrin tertentu yang akan terbawa terus hingga orang tersebut tersadar dari alam mimpinya.

Sutradara: Christopher Nolan

Ini yang terjadi pada Cobb -diperankan oleh Leonardo DiCaprio- ketika ia untuk pertama kali mencoba kemampuan tersebut pada istrinya sendiri, Mallorie -diperankan oleh Marion Cottilard- yang berakibat pada kematiannya. Cobb kemudian menyadari bahwa tekniknya berhasil namun harus kehilangan istrinya dan harus menghadapi tuduhan pembunuhan. Cobb menghilang dari kejaran hukum dan bertemu seseorang yang berminat menggunakan keahlian Cobb tersebut untuk kepentingan pribadinya dengan imbalan Cobb akan mendapatkan kembali hidupnya bersama anak anaknya dan pembersihan namanya dari segala tuduhan.

Cobb sangat mencintai istrinya dan anak anaknya. Ia ingin hidup normal dan mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut. Tapi Cobb butuh tim untuk bekerja dan merekrut mahasiswa berbakat dalam bidang arsitektur karena Cobb harus mendesign mimpi yang rumit.

Tim telah terbentuk dan mereka harus terjun ke mimpi hingga kedalaman tiga tingkat bersama korban yang ingin mereka korek informasinya. Pada mimpi tingkat ketiga munculah Mallorie yang memang dalam alam mimpi Cobb selalu muncul walaupun dalam alam nyata Mal sudah meninggal. Serunya film ini adalah pada pergulatan pada relatifitas waktu antara mimpi yang bertingkat tingkat.

Jika seseorang terbunuh dalam alam mimpi maka orang tersebut akan terbangun ke alam nyata. Jika mimpi tersebut bertingkat maka ia akan terbangun pada tingkat diatasnya. Namun pada operasi ini tidak sesederhana itu karena ada tambahan obat bius yang digunakan sehingga jika terbunuh maka orang tersebut tidak akan segera terbangun pada mimpi ditingkat diatasnya namun akan terjatuh pada area mimpi tak bertuan, tak memiliki koneksi dan tak memiliki design. Area ini bernama Limbo.

Teknik untuk mengetahui apakah sedang berada dalam mimpi atau alam nyata Cobb menggunakan semacam gasing yang diputar. Jika gasing tersebut berhenti berputar maka artinya alam nyata, namun jika gasing tersebut tidak berhenti berputar maka artinya sedang berada dalam alam mimpi.

Diakhir cerita mirip film Leonardo sebelumnya Shutter Island yang menyisakan teka teki apakah akhir cerita Cobb telah benar-benar kembali ke alam nyata atau tetap berada dialam mimpi. Saya punya analisi tapi silahkan nonton dulu filmnya baru kita diskusi. Film ini lebih bagus dibanding Shutter Island karena ada Marion Cottilard peraih Oscar aktris terbaik 2007, saya nonton filmnya: Public Enemies dan Nine. Kalimat terakhir saya itu spoiler, jangan dianggep.. :-)

6 Komentar

Filed under sinema

Shutter Island

Ted and Chuck

Sinopsis:

Seorang pasien gila bernama Rachel Solano yang sangat berbahaya telah menghilang dari sebuah rumah sakit jiwa khusus. Rumah sakit jiwa tersebut khusus merawat pasien sakit jiwa yang paling berbahaya hingga ditempatkan di sebuah pulau terpencil bernama Shutter Island. Pemerintah Amerika mengirimkan seorang agen federal kawakan bernama Teddy Daniels untuk menyelidiki peristiwa tersebut.

Ted ditemani seorang agen muda bernama Chuck Aule. Ted sebenarnya memiliki misi pribadi ke pulau tersebut untuk mencari seorang penjahat yang telah membunuh istrinya. Penjahat tersebut bernama Andrew Laeddis yang diyakini oleh Ted dikirim ke Shutter Island karena profil kejahatan Laeddis yang karakteristiknya seperti kejahatan penjahat dengan gangguan jiwa.

Ketika Ted tiba di pulau Shutter Island, Ted mencium aktifitas illegal yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Jiwa terhadap para pasiennya. Begitu tertutupnya pihak Rumah Sakit Jiwa akan akses pada catatan para pasien dan pegawai membuat Ted memutuskan menghentikan penyelidikan Rachel Solano dan memberikan laporan kepada pemerintah federal untuk melakukan penyelidikan lebih dalam tentang Rumah Sakit Jiwa tersebut.

Satu satunya akses ke dan dari pulau Shutter Island adalah kapal fery yang tak bisa segera datang karena cuaca buruk. Ted tak bisa kembali dan memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan. Indikasi praktek ilegal semakin kuat ketika Ted bertemu dengan Rachel Solano pasien yang dilaporkan hilang tersebut.

Ted peluk istri dalam halusinasi

Terjebak di pulau yang sedang dilanda badai dan angin topan, Ted yang veteran Perang Dunia II itu harus berjuang tidak hanya untuk keluar dari pulau tapi juga harus berjuang menyelamatkan kewarasannya karena pihak Rumah Sakit Jiwa telah memberinya obat obatan yang membuatnya berhalusinasi akan masa lalunya ketika perang. Wujud almarhum istri yang sangat dicintainya selalu muncul dan berdialog dengannya membuat pergulatan emosi yang sangat kuat. Semua teka-teki, kejanggalan, keanehan dan kerancuan antara kenyataan dan halusinasi membuat Ted mulai tidak yakin dengan kewarasannya…

Leonardo DiCaprio

Leonardo memerankan Teddy Daniels dengan karakter yang kuat antara Ted sebagai agen federal dan Ted sebagai orang yang bimbang. Bahkan untuk film film sebelumnya Leonardo tak tampil seperti di film ini. Leonardo pada Titanic terlalu pop, terlalu jagoan pada The Gangs of New York. Pada film Catch Me If You Can menurut saya justru Tom Hanks rekan main Leonardo yang lebih berhasil membangun karakter.

Pada film ini akting Leonardo membuat kita terbawa pada cara pandang seorang agen federal yang cerdas tapi kemudian sama sekali tak terduga ada karakter kerapuhan jiwa sang agen handal itu. Tidak berlebih kalau saya katakan akting Leonardo kali ini adalah yang paling berbeda kalau dikatakan akting yang terbaik mungkin akan dianggap spoiler.

Martin Scorsese

Leonardo dan sutradara Martin Scorsese telah bekerja sama untuk yang keempat kalinya dalam film. Tentu semakin sering mereka bekerjasama semakin terjalin chemistry yang menghasilkan karya yang lebih baik. Kerja bareng mereka di film The Aviator menghasilkan beberapa nominasi Oscar. Jangan kaget bila kerjasama mereka kali ini akan masuk nominasi lagi pada Academy Award 2010. Menurut saya Martin berhasil membawa naskah berdasarkan novel karya Dennis Lehane yang sudah penuh dengan dialog dalam plot yang berliku kedalam visual yang artistik menegangkan.

Poster

Adegan Ted berdialog dengan Rachel dalam goa dekat mercusuar sangat artistik menurut saya. Kemudian adegan Ted masuk ke lorong di bangsal yang gelap untuk mencari Laeddis membuat penonton fX Platinum XXI tempat saya menonton beberapa kali menjerit -terutama wanita- ketika Ted menyalakan korek api. Mungkin itu sebab poster filmnya dipilih adegan Leonardo sedang memegang korek api.

Review

Menonton film ini saya teringat sebuah pertunjukan teater Koma dari naskah karya Evalds Flisar dengan tema exploitasi pasien gangguan jiwa. Tema ini sangat menarik untuk dibuatkan permainan plot yang tak terduga untuk menghasilkan kisah thriller. Dalam cerita yang berjudul “Kenapa Leonardo” tersebut dikisahkan sebuah klinik syaraf dan kejiwaan yang melakukan eksperimen terhadap pasiennya untuk menciptakan manusia super. Persis seperti apa yang dilakukan di Shutter Island.

Film ini bukan untuk yang mencari sekedar hiburan pelepas penat diakhir pekan. Film ini butuh konsentrasi untuk dipahami plotnya. Mengira ngira siapa berperan sebagai siapa. Menduga duga siapa pelaku kejahatan dalam teka teki yang tersamar. Juga butuh jantung yang sehat dan tentu saja akal yang waras sebab bisa jadi anda akan berdebat sengit dengan partner anda menonton tentang siapa sebenarnya yang nyata… “kewarasan” anda akan diuji dalam perdebatan itu nanti :-)

20 Komentar

Filed under sinema

Java Jazz Festival 2010 Hari Pertama

JavaJazz

Pukul 17 saya masih di Mampang, padahal JJF sudah mulai dari jam 16. Macet membuat saya baru dapet parkir di JIExpo Kemayoran pukul 20. Calo bertebaran di mana mana menawarkan tiket dengan agresif kalo gak bisa dibilang maksa. Sadar saya sudah tak mungkin lagi nonton RAN maka saya langsung ke John Legend. Selepas itu baru deh ngelencer kemana mana… cuci mata…

Dari satu panggung ke panggung lain. Menarik diperhatikan bahwa event ini adalah festival dan bukan konser yang fokus pada panggung. Ada banyak panggung yang bisa dipilih, saking banyaknya bisa bingung.

Karena banyak pilihan tentukan dulu panggung mana dan jam berapa. Apalagi misalnya jika anda membawa pasangan, lebih baik sepakat dulu daripada karena gak enak ama pasangan akhirnya ngalah nonton di panggung yang tidak diinginkan.

Karakteristik panggung ternyata berbeda beda. Ada yang dengan kursi nonton di studio TV, ada yang lesehan dan bahkan ada yang berdiri. Ada yang membebaskan pengunjung keluar masuk, ada yang tidak. Saya lebih suka panggung yang lesehan ketimbang pake kursi. Lebih santai dan memang menurut saya sebaiknya demikian Jazz di nikmati.

Panggung yang membebaskan pengunjung keluar masuk lebih tepat dari pada yang diatur. Pada panggung Indra Lesmana, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan, Matez, Dewa Budjana dkk pengunjung dibebaskan keluar masuk Hall. Memang penuh tapi tertib, penonton tahu sendiri bahwa penuh gak mungkin bisa dipaksakan.

Beda dengan panggung Ecoutez yang dibatasi. Karena kami mau nonton Sandy Sondoro yang sesinya setelah Ecoutez dipanggung yang sama maka kami antri. Tapi tidak diperbolehkan masuk. Hanya diperbolehkan masuk sedikit demi sedikit, sudah 45 menit antri dan antrian belum juga mendekat ke pintu padahal sesi Sandy sudah lewat setengah jam.

Apa yang terjadi? Selidik punya selidik ternyata penonton Ecoutez pada sesi sebelumnya tidak mau keluar Hall, mereka lanjut nonton Sandy. Sebenarnya tidak masalah, asal antrian diluar diberi tahu duduk persoalannya. Seandaianya kami dibiarkan saja masuk maka pastilah bisa dipahami bahwa Hall sudah penuh dan bisa memutuskan untuk ke panggung yang lain. Apa yang terjadi adalah kami mengira ada penundaan show dari Sandy Sondoro sehingga antrian sabar menanti. Dengan kecewa kehinglangn waktu 45 menit maka kami putuskan untuk makan dulu. Gak jadi nonton Sandy Sondoro.

Karakteristik pengunjung juga beragam, tidak hanya menengah ke atas. Tapi mereka semua antusias. Apakah mereka semua benar benar penikmat Jazz betulan? Saya tidak terlalu yakin sama seperti diri saya sendiri yang hanya menikmati Jazz setelah terjadi “sinkretisme” dengan genre lain terutama POP.

Tapi paling tidak tujuan saya datang ke festival jazz ini adalah justru untuk tahu lebih banyak tentang Jazz yang Jazz, bukan POP yang Jazzy. Rata rata pengunjung lebih memenuhi panggung yang Jazzy ketimbang yang Jazz. What the hell. Dari pada pusing dengan semua itu saya nikmati saja “pemandangan” yang ada.

Sheila Madjid jadi pilihan terakhir sebelum pulang. Hall penuh, dibuka dengan Warna Warna, penonton yang semula lesehan jadi berdiri semua. Sheila sempat tanya “who grew up with my music here…”, spontan saya angkat tangan loncat loncat diikuti banya penonton yang lain. Tapi kemudian Sheila lanjut sambil terkekeh: “you must be arround 34 or above.. yeah…”. Banyak yang lantas menurunkan tangannya termasuk saya… hehehe…

Sheila: “i will make you feel young with 80’s age song”. Menikmati lagu lagu Sheila dengan irama Jazz mengisi kekosongan, apparently she was right about it. Setelah single yang tunggu tunggu “Aku Cinta Padamu” selesai saya cabut…

Sekarang mau kesana lagi, kali ini bawa kamera… ciao…

1 Komentar

Filed under musik

Film Balibo(hong)

Balibo

Berbekal doorprize #KopdarJakarta dari Wetiga saya dan Hanny Purba menuju Salihara untuk menonton film Balibo yang secara resmi dilarang oleh LSF itu.

Film ini fokus pada kisah 5 orang wartawan Australia, Selandia Baru dan Inggris. Mereka adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham dan Toney Steward yang hilang pada saat berusaha mendapatkan berita dari tengah medan perang.

Dalam film diceritakan dialog antara Roger East -wartawan senior Australia yang datang ke Balibo untuk mencari 5 wartawan yang hilang itu- dan Ramos Horta tokoh Fretilin yang mengkoordinir keberangkatan 5 wartawan naas itu ke Balibo.

Horta dalam dialog itu mengungkapkan kekesalannya pada pemerintah Australia dan Amerika yang mendukung Indonesia menyerbu Timor Leste atas alasan politik international mempersempit ruang gerak komunisme. Pemerintah Amerika bahkan mensponsori penyerbuan itu dengan fasilitas peralatan militer.

Kesan yang paling kuat yang muncul ketika saya menonton film ini adalah usaha untuk mendiskreditkan Indonesia dengan fokus pada kisah terbunuhnya 5 orang wartawan asing itu. Padahal apa yang terjadi di Timor Leste kurun waktu itu 74-75 jauh lebih besar dari tewasnya 5 orang wartawan itu saja.

Diakhir film itu menampilkan tulisan korban rakyat Timor akibat invasi Indonesia mencapai 100 ribu jiwa. Sementara kesaksian lain dari korban Fretilin mengatakan kekejaman Fretilin juga mencapai jumlah yang sama, lebih dari 100 ribu jiwa.

Bekas Wali Kota Dili 1986-1999 itu menjelaskan, Fretilin (kelompok separatis Timor Timur yang salah satu pentolannya adalah Xanana Gusmao) telah membunuh sekitar 100 ribu warga Timor Timur pada 1970-an. Namun, pada medio Januari, Presiden Timor Leste Xanana Gusmao menyerahkan laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (CAVR) kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa tanpa meminta masukan dari warga pro-integrasi. Laporan itu berisi pelanggaran HAM TNI pada 1970-an.

Beberapa keganjilan yang saya rasakan pada logika film ini adalah pada inti cerita yakni pembunuhan kelima wartawan itu. Digambarkan ketika pasukan Indonesia memasuki Balibo para wartawan itu bersembunyi disebuah rumah. Yakin mereka tak disakiti salah satu dari mereka nekat keluar rumah yang sudah dikepung itu.

Tampak pimpinan pasukan yang berbusana lebih seperti turis ketimbang tentara itu tanpa tanya ini itu langsung menembak dari jarak sangat dekat dengan pistolnya hingga wartawan yang tanpa senjata dan tangan keatas itu mati tersungkur dengan kepala bolong. Benarkah demikian? atau rekaan itu terlalu jauh?

Menurut kesaksian Gatot Purwanto, salah seorang anggota TNI yang berada disana: pimpinan pasukan adalah Kapten Yunus Yosfiah dan mereka pada saat tidak mengantisipasi adanya wartawan asing di lapangan sehingga pimpinan pasukan belum tahu apa yang akan dilakukan terhadap kelima orang wartawan asing tersebut.

Saya masih agak di bawah (bukit), dekat dengan Pak Yunus (Mayjen Purn. Yunus Yosfiah, saat itu kapten, komandan tim). Kami dilapori ada orang asing tertangkap. Pak Yunus memerintahkan saya untuk melapor ke Pak Dading (Letjen Purn. Dading Kalbuadi, saat itu komandan), yang ada di perbatasan. Kalau tak salah, Pak Dading lalu mengontak Jakarta, menanyakan orang-orang ini mau diapakan.

Menurut kesaksian Gatot belum sempat instruksi dari Jakarta sampai pada mereka situasi sudah berubah dan memaksa mereka untuk melepaskan tembakan.

Situasi serba salah. Kalau ditangkap, nanti ketahuan yang menangkap tentara Indonesia. Kalau mau dieksekusi, juga bagaimana. Pada saat itulah, ketika tentara kita sudah santai, sudah duduk-duduk, mendadak ada tembakan lagi dari arah dekat situ. Mungkin ada yang mau menyelamatkan mereka (lima wartawan itu). Anggota kita langsung memberondong ke sana… pada mati semua itu wartawan.

Keterangan Gatot lebih masuk akal ketimbang penggambaran dalam film tersebut. Mereka adalah tentara yang hanya menembak sesuai perintah kecuali dalam tekanan untuk membela diri sementara penggambaran dalam film tersebut, tentara yang mengeksekusi tidak dalam keadaan tertekan. Jadi jelas pesan yang ingin disampaikan film itu adalah eksekusi yang sesuai perintah.

Kuatnya usaha meyakinkan penonton bahwa pasukan TNI sudah bertindak sesuai dengan perintah adalah dialog antara Roger East dan Ramos Horta ditengah hutan sehabis mereka ditembaki dari atas helikopter tempur TNI. Horta mengatakan kepada East darimana pasukan TNI tahu keberadan mereka berdua ditengah hutan kalau bukan dari pemerintah Australia yang memberikan informasi intelijen kepada pemerintah Indonesia.

Kesan ini penting karena akan menjadi faktor pendukung argumentasi justifikasi tindakan eksekusi dilapangan oleh TNI. Bahkan sejak tahun 2001 telah diungkap data intelijen dalam buku karya Jill Jollife yang berjudul Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five, (kemudian diadaptasi menjadi naskah film Balibo), halaman 312:

Benny Moerdani berpesan kepada Dading Kalbuadi “We can’t have any witness“. Dading menjawab “Don’t worry!

Sedemikian hebatnya data intelijen Australia sehingga hampir semua hal sudah ketahui termasuk keberadaan lima wartawan asing plus seorang wartawan senior Roger East di Balibo. Kesimpulannya semua sesuai perintah dan yang harus menanggung kesalahan adalah mantan petinggi TNI, bahkan Polisi Federal Australia pada Agustus 2009 berencana menyeret mereka ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang.

Dengan mengikuti logika mereka saja tidakkah terasa ada yang ganjil?

Apalagi kalau dilihat dari perspektif yang lain:

Pertama tama pemerintah Australia mendukung invasi tersebut. Artinya bisa jadi pemerintah Australia “berbaik hati” pada pemerintah Indonesia dengan memberikan informasi intelijen. Pemerintah Amerika Serikat saja telah “berbaik hati” memberikan peralatan tempur pada TNI.

Mereka seiya sekata. I’ll take my part, you take your part. Jika demikian ketika ada wartawan Australia tertangkap maka sangat mungkin keputusan pemerintah pusat Indonesia atas wartawan Australia yang tertangkap hidup hidup tersebut adalah mengembalikannya kepada pemerintah Australia setelah segala peralatan medianya dilucuti. Segala kesaksian mereka tanpa bukti rekaman akan tidak kuat.

Setelah dikembalikan, pemerintah Australia tentu akan menjaga “keselamatan” operasi “bersama” tersebut dengan tidak membiarkan para wartawan itu tampil di publik. Singkatnya mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Jadi untuk apa dibunuh? Apalagi dibunuh dengan ilustrasi pada adegan film Balibo tersebut. Tapi kondisi dilapangan sangat berbeda, komunikasi pada saat itu tidak seperti sekarang. Sebelum instruksi datang dari Jakarta tembakan dari arah persembunyian para wartawan itu telah memancing tembakan balasan dari TNI yang menyebabkan mereka tewas semua oleh peluru TNI.

Memang pada saat setelah itu ditemukan sepucuk senjata di ruang persembunyian para wartawan itu. Tapi itu senjata milik siapa? Saya ragu itu miliki para wartawan yang mencoba membela diri. Sementara perkiraan tembakan itu adalah usaha dari Fretilin untuk menyelamatkan para wartawan yang terkepung dari TNI. Tepatkah demikian?

Tidakkah Fretilin yang tahu persis aspek pertempuran itu melakukannya justru untuk memancing TNI membalas tembakan yang sudah diperhitungkan akan menewaskan para wartawan tersebut. Tembakan itu arahnya dari persembunyian wartawan, tak mungkin rasanya para wartawan itu menembak dengan hanya menggunakan sepucuk senjata yang ditemukan itu sementara mereka tahu sudah dikepung TNI.

Diawal film ketika Ramos Horta membujuk Roger East untuk mau membantunya menjadi kepala kantor berita resmi Timor Leste, Horta tak menceritakan bahwa dirinyalah yang menempatkan kelima wartawan asing tersebut di Balibo, saya kira ini adalah suatu tanda upaya untuk menutupi perannya pada insiden tersebut kepada Roger hingga ia bersedia bergabung.

Horta dan kru film Balibo (Vivanews.com)

Sementara ketika pemutaran perdana film Balibo ini di Australia, Ramos Horta yang mendapat anugerah hadiah nobel perdamaian itu justru memberi komentar yang sama sekali tidak mencerminkan semangat pembawa perdamaian dengan melontarkan pernyataan yang sangat provokatif.

Mereka tidak hanya dieksekusi. Dari yang saya ingat saat itu, salah satunya disiksa secara sangat sangat brutal.

Padahal begitu perihnya pengorbanan di kedua belah pihak hingga ada kesepakatan politik antara kedua negara Indonesia dan Timor Leste untuk menutup luka lama ini dan menatap kedepan bersama.

Semua itu tak ada artinya bagi Horta. Dia sangat terlatih mempermainkan sentimen pihak pihak yang berseteru. Bahkan bisa jadi film Balibo ini, film yang menjadikan Horta sebagai tokoh sentral dan seolah olah tak ada tokoh lain yang berperan dalam kemerdekaan Timor Leste, bahkan Xanana Gusmao pun tak dikisahkan dalam film ini. Mirip propaganda film G30S/PKI.

17 Komentar

Filed under politik